
Blam!
Xavier menutup pintu kamar mandinya pelan. Ia baru saja selesai membasuh tubuhnya dari peluh yang menghiasi dirinya.
Masih dengan berbalutkan handuk sepinggang dengan handuk kecil menggantung di antara lehernya, ia menghampiri sofa dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Xavier membuka aplikasi perpesanan, mengecek untuk memastikan tidak ada pesan yang belum dibacanya.
"Dia tidak menghubungiku, apakah dia belum tiba di rumah?" Vier bergumam pelan ketika ia sama sekali tak menemukan pesan dari Aphrodite.
Vier membuka ruang obrolannya dengan Aphrodite. Pembicaraan terakhir yang mereka lakukan adalah saat Aphrodite masih mengerjakan pekerjaannya di kantor dan mengatakan kalau ada masalah yang harus ia hadapi.
Vier berusaha menghiburnya dengan menyemangati wanita yang menjadi kekasihnya itu.
Vier menekan simbol berbentuk gagang telpon di sana yang dalam sekejap mengubah layar tampilan ponselnya menjadi layar panggilan.
Vier menempelkan ponselnya pada telinga kiri sementara telinga kanannya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang menggantung di lehernya.
...*...
__ADS_1
Aphrodite diam termangu di tempatnya terbaring. Usai makan malam, Aphrodite tidur bersama dengan Jenia di kamar wanita itu. Sementara Helen dan Erland tidur di kamar tamu.
Aphrodite tidak bisa tidur. Matanya sama sekali tak bisa terpejam semenjak menit-menit terakhir ia masuk ke dalam kamar.
Sementara Aphrodite terjaga, beda halnya dengan Jenia yang kini sudah berkelana menuju dunia mimpinya. Bertemu dengan sang pangeran pujaan hatinya yang sampai saat ini belum ia temui di dunia nyata.
Aphrodite berbaring terlentang dengan kedua mata menerawang jauh menatap langit-langit kamarnya yang hanya di terangi cahaya lampu tidur yang temaram.
Pikiran Aphrodite penuh. Ia memikirkan cara agar ia bisa melunasi semua utang yang dimiliknya dalam kurun waktu tiga Minggu.
Bagaimana caranya aku bisa menemukan uang sebanyak itu dalam waktu tiga Minggu? pikir Aphrodite. Ia menghela napas. Waktu terus berlalu, dan ia masih belum menemukan ide agar bisa melunasi utang-utangnya. Di sisi lain, Jenia yang terbaring di sampingnya justru tampak begitu tenang.
Aphrodite melirik Jenia yang begitu pulas. Ia menghela napas pelan menatap sahabatnya itu tidur dengan begitu nyamannya.
Drrrtt…
Suara ponselnya yang berbunyi di atas meja nakes dekat ranjang tidurnya itu berbunyi. Aphrodite beralih fokus pada ponselnya yang menyala.
Ia bangun dari posisinya, duduk di ranjang tidurnya.
Aphrodite tersenyum simpul kala nama Xavier tertera di sana. Entah memiliki kemampuan apa, kekasihnya itu selalu ada saat ia membutuhkannya.
__ADS_1
Aphrodite menggeser tombol hijau di sana yang dalam sekejap membuat panggilannya terhubung dengan lelaki di seberang sana.
"Halo?" Aphrodite menjawab panggilannya.
"Apakah kau sudah sampai di rumah?" tanya Vier.
"Ya."
"Kenapa tidak menghubungiku? Kau membuatku cemas saja."
"Maaf, aku lupa untuk menghubungimu."
"Lain kali jangan membuatku cemas. Kalau kau sudah tiba di rumah, jangan lupa hubungi aku."
"Baiklah." Aphrodite tersenyum simpul. Beginilah Vier, selalu perhatian dan mencemaskannya dirinya walau hanya lupa mengabarinya saat ia tiba di rumah.
"Omong-omong kau belum tidur?" Aphrodite mengalihkan pembicaraan.
"Belum. Aku baru saja selesai mandi."
"Jam segini? Astaga, jangan terlalu sering mandi malam-malam. Aku tidak ingin kalau kau sampai sakit."
__ADS_1
"Habis mau bagaimana lagi?"
...***...