Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Painful memories


__ADS_3

...***...


"…Lagipula, secantik apapun wanita lain di dunia ini, bagiku hanya kau satu-satunya wanita cantik yang selalu mengisi hatiku," sambungnya seraya meraih tangan Aphrodite, menggenggamnya kemudian menciumnya penuh kemesraan. Sementara itu, di seberangnya, wajah Aphrodite kini berubah bak tomat siap panen.


"S-sudah! Lebih baik kita makan!" Aphrodite menarik tangannya spontan. Ia gelagapan bukan main. Sedangkan Xavier yang melihatnya hanya tersenyum menanggapi sikap Aphrodite yang tampak menggemaskan di matanya.


"Sayang! Jelek ya? Kalau begitu aku ganti saja ya," Aphrodite berbalik hendak melangkah kembali ke dalam kamar ganti. Namun belum sempat ia melangkah, tangannya sudah lebih dulu dicengkeram oleh Xavier yang spontan membuat langkah kakinya terhenti.


"Tidak!" Ucapnya membuat Aphrodite menoleh ke arahnya, bersamaan dengan itu Xavier menarik tubuhnya, melingkarkan tangannya di pinggang ramping wanita itu, "…Tidak perlu kau ganti," ucapnya begitu jarak mereka benar-benar berdekatan. Aphrodite mendongak; beradu pandang dengan Xavier yang kini menatapnya sangat intens. Jarak wajah mereka benar-benar berdekatan, bahkan dari jaraknya sedekat ini; Aphrodite dapat mencium aroma mint segar yang keluar dari mulut kekasihnya itu.


"…Kau sudah tampak sangat cantik," gumamnya, yang spontan membuat Aphrodite tersipu apalagi dengan tatapan sedekat ini. Benar-benar selalu berhasil membuat jantungnya berdebar lebih kencang dibandingkan sebelumnya.


"B-benarkah?" Aphrodite terbata, ia mulai merasa gugup.


"Iya. Sampai-sampai, aku ingin mencium mu," Xavier hendak mendaratkan sebuah kecupan dibibirnya. Namun dengan cepat Aphrodite menahannya dengan telapak tangannya. Wajahnya yang memerah kini beralih pandang kearah lain, Aphrodite tidak kuat dengan sikap Xavier padanya.


"Jangan mulai! Banyak orang disini," Aphrodite berusaha mengingatkan. Xavier yang mendengarnya lantas terkekeh, tingkah Aphrodite selalu berhasil membuatnya geli.


"Haha, maaf-maaf. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku jika berada dekat denganmu."


"S-sudahlah! A-aku ingin ganti baju!" Ujar Aphrodite seraya mendorong dada bidang pria itu, berusaha membuat jarak diantara mereka.


"Bagus ya," gumam Xavier yang sontak membuat Aphrodite yang tengah melamun menatap gaun pengantin dihadapannya itu terkejut, ia menoleh refleks kearah Xavier yang tidak disadari kapan dirinya tiba.


"A-ah ya, bagus," gumamnya seraya tersenyum kearahnya. Xavier menoleh pada Aphrodite kemudian menatapnya lekat.


"Apakah kau menyukainya?" Tanyanya.

__ADS_1


"Huh? Tentu saja, gaunnya benar-benar indah."


"Kalau begitu, bagaimana jika kau memakai gaun ini ketika kita menikah nanti? Pasti akan sangat cocok denganmu." Xavier menggandeng tangan Aphrodite kemudian menggenggam tangannya erat.


"H-huh? M-menikah?"


"Iya. Bagaimana?"


"I-iya, aku ingin memakai gaun seperti ini untuk pernikahan kita nanti," Aphrodite menatap kembali gaun pengantin dihadapannya. Benar-benar indah.


"Menurutmu, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanya Aphrodite pelan. Sangat pelan, sampai-sampai hanya mereka yang dapat mendengarnya.


"Aku akan membantu keluargamu. Akan aku bantu kau melunasi semua hutang-hutang keluargamu, dan secepatnya kita menikah," jawab Xavier.


"Tapi… aku tidak ingin membuatmu terbebani. Apalagi hutang keluargaku itu jumlahnya tidak sedikit."


"Huh? Tapi kenapa? Padahal kan, aku bisa pergi sendiri dengan menggunakan taksi. Lagipula kau kan pasti akan sangat sibuk menyambut para tamu undangan dan membantu kedua orangtuamu. Akan sangat merepotkan jika kau sendiri yang datang untuk menjemputku."


"Tidak-tidak. Bagaimanapun, aku akan menjemputmu dan kau tidak boleh menolak."


"Tapi Vier—"


"Aku ingin jadi orang pertama yang melihat kecantikanmu saat kau datang keacara pernikahan kakakku. Maka dari itu, aku akan menjemputmu sendiri ke rumah," Xavier tersenyum kearahnya. Oh ayolah, sekarang wajah Aphrodite mulai bersemu oleh perkataannya. Dan melihat wajah Aphrodite yang seperti itu, selalu berhasil mengundang senyumnya. Aphrodite tampak lebih menggemaskan ketika ia tersipu.


"Kau benar-benar menggemaskan," kata Xavier yang berhasil membuat wajah Aphrodite semakin memerah dibuatnya.


"Vier! Berhenti menggodaku!" Aphrodite benar-benar malu. Xavier terkekeh melihat tingkah kekasihnya yang terkesan malu-malu itu.

__ADS_1


"Jika aku tidak mau bagaimana?" Xavier semakin menggodanya.


"Baiklah kalau begitu aku pulang," pamit Xavier ketika mereka sudah tiba di depan rumahnya.


"Iya," sahut Aphrodite seraya tersenyum simpul.


"Apakah kau tidak berencana untuk mencegahku pulang lebih awal?" Tanya Xavier yang tampak kecewa dengan respon Aphrodite. Air muka wanita itu seketika berubah bingung saat mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan Xavier padanya.


"H-huh? Memangnya kenapa aku harus menahan mu agar tidak pulang lebih awal?" Tanya Aphrodite bingung.


"Aih, dasar tidak peka. Padahal kan aku masih ingin bersamamu sebentar lagi, tapi tampaknya kau malah ingin cepat-cepat berpisah denganku. Tapi sadi saat direstoran kau bilang tidak ingin pulang dan masih ingin tetap bersamaku, tapi sekarang kau malah tampak ingin aku cepat-cepat pulang," gumamnya pelan tapi dapat di dengar jelas oleh Aphrodite.


"Haha, aku kira kenapa," Aphrodite terkekeh geli mendapat Xavier berbicara seperti itu. Xavier mendongak menatap dirinya, disana.


"Tentu saja aku perhatian padamu, kau kan pacarku dan sudah seharusnya aku perhatian terhadap mu."


"Terima kasih karena sudah sangat perhatian padaku, aku benar-benar beruntung bisa menjadi pacarmu."


Ingatan demi ingatan itu perlahan hadir dalam pikirannya, membuat rasa sesak di dadanya benar-benar bertambah. Rasanya baru beberapa hari yang lalu mereka masih memiliki hubungan yang baik sebagai sepasang kekasih, rasanya baru kemarin mereka masih saling menelpon dan memberikan kabar, saling merindukan, jalan bersama, bersenang-senang bersama, dan saling menjalin asmaranya. Namun hal yang paling tidak pernah terpikirkan oleh Aphrodite adalah, cintanya akan berakhir kandas seperti saat ini. Pria yang ia cintai pergi meninggalkannya, bahkan menikah dan bersanding dengan wanita lain tepat dihadapannya ketika ia masih berada dalam status ikatan hubungan pacaran mereka.


Hatinya sesak, batinnya menjerit kala rasa itu membelenggunya. Benar-benar menyakitkan, padahal selama ia menjalani kasih dengan Xavier; Aphrodite tidak pernah merasakan sakit seperti ini. Dulu, Xavier selalu bisa membuatnya bahagia, Xavier selalu membuatnya tertawa, ia tidak pernah marah atau pun bertengkar walaupun hanya soal perbedaan pendapat diantarnya. Dulu Aphrodite kira Xavier itu sempurna, orang yang selalu pengertian dan selalu membuatnya berada dalam kenyamanan yang luar biasa.


Namun ia baru sadar, semua itu palsu, semua itu dusta, dan semuanya hanya sandiwara yang ketika semuanya terbongkar, menyisakan rasa pedih dan pahit yang sangat amat mendalam. Perlahan tangannya terkepal, Aphrodite mulai memukul-mukul dadanya sendiri, berusaha untuk meredakan rasa sesak dalam dadanya. Tetapi semua itu sia-sia, karena yang tersakiti adalah hatinya bukan fisiknya. Yang terluka adalah batinnya bukan dirinya.


"ARGGHHH!!!!"


...***...

__ADS_1


__ADS_2