Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Time to say goodbye


__ADS_3

...***...


"…Aku harus merelakan semuanya dan meninggalkannya." Sambungnya dengan nada pelan. "Waktu berjalan begitu cepat, bahkan terlalu cepat. Padahal aku baru saja merasa nyaman, padahal aku baru saja mulai dekat dengan orang-orang dan lingkungan baru disini. Masih banyak hal yang ingin aku pelajari mengenai memasak dari Bertha, masih banyak juga pelajaran bahasa Prancis yang ingin aku habiskan dengan Cammy, aku masih belum puas menghabiskan waktu berbelanja ku dengan Giza, dan aku juga masih belum puas mengerjai Adrien dengan permainan golf ku yang payah, haha…" Aphrodite terkekeh pelan di akhir kalimatnya. Setiap kali ia ingat akan Adrien, setiap kali itu juga dirinya teringat akan seberapa buruknya permainan golf-nya.


"Kau masih belum puas mengerjai Adrien?" Fransisco terkekeh mendengar ucapan dari Aphrodite, membuat istrinya itu mendongak menatap ke arahnya.


"Huh? Bukan begitu maksudku." Wajah Aphrodite bersemu, ia jadi malu sendiri dengan kalimatnya. Ia terkekeh untuk menutupi rasa malunya.


"Ternyata istriku ini cukup menikmati Adrien sebagai mainannya ya, haha…"


"Ah, sudahlah. Jangan membahas ini lagi." Aphrodite berusaha membuat Fransisco berhenti menertawainya.


"Haha, oke-oke. Aku akan berhenti," ujarnya yang kemudian menghentikan kekehannya. "Kalau begitu bagaimana kalau kita turun sekarang?" Fransisco mengalihkan pembicaraannya.


"Baiklah, ayo," sahut Aphrodite sembari menganggukkan kepalanya. Fransisco lantas melangkah dengan sebelah tangannya menggenggam tangan Aphrodite, melenggang menuruni tangga agar bisa tiba di lantai bawah dimana Bertha dan maid serta pelayan lainnya yang sudah menunggu mereka untuk berpamitan. Sementara itu, koper mereka berdua sudah lebih dulu di masukkan ke dalam mobil oleh bantuan Adrien yang sudah siap untuk mengantarkan mereka menuju bandara Charles de Gaulle yang akan mengantarkan mereka pulang kembali ke Indonesia, tanah kelahiran mereka.


Tiba di lantai bawah, mereka sudah di sambut dengan beberapa maid dan pelayan yang kini berdiri di dekat tangga, menyambut mereka dengan senyuman yang tampak hambar. Yang tampak jelas mereka tengah berusaha untuk menyembunyikan kesedihan mereka.


Aphrodite menghentikan langkah kakinya bersamaan dengan Fransisco begitu mereka tiba di bawah. Di sana fokusnya beralih pada Bertha yang berdiri paling dekat dengan tangga. Wanita paruh baya itu tersenyum ke arah mereka, matanya berkaca-kaca menahan tangisnya. Sementara itu, di sampingnya. Cammy dan Giza berdua dengan kedua tangan mereka yang kini meremat keras sapu tangan yang ada dalam genggaman tangan mereka.


"Kami akan sangat merindukan kalian," tutur Bertha seraya menatap Fransisco dan Aphrodite bergantian.

__ADS_1


"Kami juga akan sangat merindukan kalian semua," sahut Fransisco seraya tersenyum hangat kearahnya.


"Tidak bisakah anda tinggal lebih lama disini?" Bertha menatap penuh harap.


"Kami benar-benar harus pergi," tutur Fransisco. Bertha menundukkan kepalanya, sementara itu Aphrodite berjalan menghampiri Bertha. Ia lantas memberikan sebuah pelukan untuk terakhir kalinya.


"Merci pour toutes les leçons que vous m'avez apprises," bisik Aphrodite pelan tepat di telinga Bertha yang kini wajahnya mulai di banjiri dengan air mata yang mengalir membasahi kedua pipinya. Menghiasi wajahnya yang penuh dengan kerutan itu dengan air mata.


(Merci pour toutes les leçons que vous m'avez apprises./ Terima kasih untuk semua pelajaran yang kau berikan padaku.)


"Oui, mademoiselle," sahut Bertha pelan. Bertha melerai pelukannya dengan Aphrodite lantas menatap kedua mata Aphrodite lekat, mata Bertha masih berkaca-kaca namun di bibirnya disana bersikeras menampakkan senyuman di wajahnya.


(Oui, mademoiselle/ iya, nona)


"Senang mendengar anda tidak akan lupa dengan semua pelajaran yang telah saya berikan, karena dengan begitu sama artinya dengan anda tidak akan pernah melupakan saya."


"Iya." Aphrodite merekahkan senyumannya. Fokus Aphrodite beralih pada Giza dan Cammy yang sejak tadi memandangi dirinya dengan kedua mata yang berkaca-kaca berusaha menahan tangis mereka.


Aphrodite merentangkan kedua tangannya lantas memeluk erat tubuh kedua wanita yang telah di anggapnya sebagai sahabatnya sendiri. Tangis Giza dan Cammy sudah tidak dapat mereka bendung lagi. Mereka berdua menangis begitu mereka berpelukan dengan Aphrodite, apalagi saat mereka ingat kalau ini adalah pelukan terakhir yang akan mereka rasakan. Ini juga akan menjadi pertemuan terakhir mereka dengan Aphrodite.


"Thank you for all guys," gumam Aphrodite tepat di telinga keduanya.

__ADS_1


"Your welcome, Mrs," sahut Giza dan Cammy berbarengan. Keduanya berucap lirih seraya mengusap sudut mata mereka yang mulai meneteskan air mata di setiap ujung matanya.


"I will miss you so much, Mrs." Giza bergumam di telinganya.


"Yeah, I too…" Cammy menimpali.


"I know," ujar Aphrodite seraya mengusap pelan punggung keduanya. Berusaha menenangkan mereka yang terus menangis. Aphrodite kemudian melerai pelukannya dengan Cammy dan Giza, menatap keduanya lekat. Kedua tangannya terulur, mengusap air mata yang mengalir di kedua sudut wajah Cammy dan Giza.


"Please, don't forget me," kata Giza.


"I will never forget you guys." Aphrodite merekahkan senyumannya, berusaha menutupi rasa sesak di dadanya karena harus berpisah dengan kedua orang yang telah banyak membantu dan menemaninya selama ia tinggal di Paris. Bukan hanya itu, keduanya juga sudah banyak sekali mengajarkan hal-hal yang belum pernah ia pelajari sebelumnya.


"We too… we will never forget you, Mrs." Cammy menyahut dan Giza menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Cammy disampingnya.


"Baiklah, kalau begitu aku harus pergi sekarang," tutur Aphrodite. Ia lantas melirik pada Fransisco yang sejak tadi setia menunggunya menyelesaikan semua urusannya dengan Bertha, Cammy, Giza, serta maid dan para pelayan yang lain. Setelah selesai berpamitan dengan mereka, Aphrodite dan Fransisco lantas beranjak pergi meninggalkan mansion. Meninggalkan Bertha dan rekan-rekannya yang lain yang kini berdiri di dekat air mancur seraya menangis menatap kepergian Aphrodite dan Fransisco dengan mobil yang di kendarai oleh Adrien yang akan mengantarkan mereka hingga ke bandara. Aphrodite tak bisa lepas menoleh ke belakang, terutama menatap ke arah Giza dan Cammy. Banyak sekali hal yang telah mereka bertiga lalui.


Aphrodite jadi ingat pertemuan pertamanya dengan Giza yang terkesan konyol, ia jadi ingat bagaimana mereka bisa dekat satu sama lain. Begitu pula dengan pertama kali bagaimana ia bisa dekat dengan Cammy saat pertama kali wanita itu membuatkan hidangan enak untuknya. Hidangan pertama yang dibuatkan oleh Cammy yang tidak akan pernah bisa ia lupakan selamanya.


Mobil yang dikendarai oleh Adrien semakin jauh keluar dari dalam mansion, melaju melewati gerbang yang di jaga oleh penjaga disana.


Fransisco yang duduk disampingnya kemudian menggenggam tangannya guna membuatnya sedikit lebih tenang.

__ADS_1


...***...


__ADS_2