Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
For the first timing forever


__ADS_3

...***...


"Ma femme ne comprend pas le français," jelas Fransisco pada Adrien, berusaha untuk memberikan pengertian padanya.


(Ma femme ne comprend pas le français/ Istriku tidak mengerti bahasa Prancis.)


"Oh, je vois…" gumam Adrien menanggapi seraya mengangguk-angguk kepala nya. Ia lantas beralih pandang pada Aphrodite.


(Oh, je vois…/ Oh, begitu…)


"Sorry for making you uncomfortable earlier," ujar Adrien tiba-tiba, membuat Fransisco dan Aphrodite tertegun di buatnya. Mereka menatap Adrien.


(Sorry for making you uncomfortable earlier./ Maaf sebelumnya membuat anda kurang nyaman.)


"Let me reintroduce myself, my name is Adrien, I am the person madame Fanny trusted to pick up Mrs and Mr Shankara," ucapnya memperkenalkan kembali dirinya dalam bahasa Inggris yang lebih mudah untuk di mengerti oleh Aphrodite.


(Let me reintroduce myself, my name is Adrien, I am the person madame Fanny trusted to pick up Mrs and Mr Shankara,/ izinkan saya kembali memperkenalkan diri, nama saya Adrien, saya adalah orang yang dipercaya madame Fanny untuk menjemput nyonya dan tuan Shankara.)


Aphrodite tersenyum menanggapi perkataan nya. Ia senang Adrien mau mengerti akan dirinya yang tidak mengerti bahasa Prancis dan pria itu mau berusaha berkomunikasi dengannya menggunakan bahasa Inggris. Setidaknya bahasa Inggris lebih ia kuasai di bandingkan bahasa Prancis.


"Nice to meet you Adrien. My name is Aphrodite," ulang Aphrodite membalas ucapannya.


"Nice to meet you too Mrs," sahut Adrien.


"Okay Adrien, can you help me?" Tanya Fransisco mengalihkan pembicaraan. Adrien melirik ke arahnya sekilas kemudian mengalihkan pandangannya pada dua koper di sana.

__ADS_1


"Sure, Mr I will," sahut Adrien yang mengerti akan permintaan dari Fransisco. Pria itu lantas bergerak menghampiri koper mereka dan menyeretnya menghampiri belakang mobil untuk di simpan di dalam bagasi mobil.


"Thank you," kata Fransisco.


"Your welcome Mr," sahut Adrien yang masih terus fokus pada dua koper yang kini tengah di masukkan nya ke dalam bagasi mobil. Sementara itu, Fransisco berjalan menghampiri mobil. Berdiri didepan pintu belakang lantas membuka pintunya, mempersilahkan Aphrodite untuk masuk lebih dulu.


Aphrodite masuk dan duduk di jok belakang, kemudian di ikuti oleh Fransisco yang kini duduk tepat bersebelahan dengan dirinya.


Setelah Fransisco dan Aphrodite duduk dengan tenang di jok belakang dan semua koper telah masuk ke dalam bagasi, Adrien lantas beranjak dari tempatnya menghampiri pintu depan. Duduk di kursi pengemudi dan mulai menjalankan mobilnya pergi dari tempatnya berada saat ini. Melaju meninggalkan bandara Charles de Gaulle tempat dimana mereka transit.


...*...


Adrien mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar. Aphrodite yang semula tampak sangat kelelahan, kini mulai merasa lebih baik. Ia mulai melupakan rasa lelahnya setelah ia melihat pemandangan kota Paris yang begitu indah.


Berbagai gedung pencakar langit berjejer menjulang tinggi, menghiasi sebagian besar pemandangan kota. Tidak jarang juga, Aphrodite melihat sebuah bangunan indah dengan gaya arsitektur yang tampak begitu menarik dan unik. Berbagai bangunan layaknya negara Eropa menghiasi jalan mereka.


Aphrodite jadi ingat akan kenangan saat ia di ajak oleh papanya pergi mengunjungi Belgia dan Swiss, menikmati keindahan di negara tersebut dan pergi mengunjungi beberapa tempat pariwisata di sana. Dan semua itu benar-benar menyenangkan.


Adrien terus fokus pada jalanan yang tengah di tempuhnya sementara Fransisco dan Aphrodite sibuk mengobrol di belakangnya seraya membicarakan banyak hal. Sesekali mereka berdua menunjuk-nunjuk ke arah gedung yang mereka lewati. Fransisco menceritakan banyak pengalamannya selama ia berkunjung ke Prancis beberapa kali.


Aphrodite yang semula merasa canggung dengan situasinya, kini mulai bisa merasa nyaman. Fransisco berhasil membuatnya merasa bahwa mereka masih berada dalam batas yang sama sebagai teman bukan suami istri.


"Ternyata kau memiliki banyak kenangan ya, di sini…" gumam Aphrodite yang kemudian mengalihkan perhatiannya pada Fransisco di sampingnya.


"Iya, begitulah. Di bandingkan negara lain, Paris lebih sering aku kunjungi. Apalagi mama pernah tinggal di sini dan memiliki mansion di sini, hal itu membuatku jadi memiliki banyak kenangan di Prancis."

__ADS_1


"Begitu rupanya."


"Iya. Dan oh ya, tunggu sampai kau tiba di mansion mama. Di sana aku memiliki lebih banyak cerita lagi untuk aku ceritakan padamu."


"Benarkah?"


"Ya. Banyak sekali kejadian lucu yang aku alami dan banyak sekali kenangan yang pernah aku lalui di mansion itu."


"Aku sudah tidak sabar untuk segera tiba," sahut Aphrodite.


"Sebentar lagi, kita juga akan tiba. Mansion nya sangat besar dan megah. Terdapat air mancur dan dua kolam berenang di sana."


"Benarkah?"


"Iya. Kau lihat saja nanti."


"Baiklah," kata Aphrodite. Ia tersenyum, fokusnya kembali beralih ke arah gedung yang di lewatinya di sana. Ia sudah tidak sabar ingin segera tiba di mansion milik Fanny. Setibanya di sana, Aphrodite ingin segera beristirahat. Karena tubuhnya masih terasa pegal akibat posisi tidur yang tidak nyaman saat tertidur di pesawat, tadi malam.


Fransisco terdiam, kedua manik matanya menatap lekat wanita yang kini duduk di sampingnya. Wanita yang kini berstatus sebagai istrinya. Masih seperti mimpi rasanya saat ia sadar bahwa statusnya dan Aphrodite sekarang terikat dalam sebuah janji suci pernikahan. Masih seperti mimpi pula baginya saat kemarin malam ia melangsungkan pernikahan dengan Aphrodite. Wanita yang di cintai dan di kaguminya selama ini. Wanita yang bahkan telah membuatnya enggan untuk melirik wanita lain saking mencintai nya.


Fransisco meraih tangan Aphrodite, lalu menggenggamnya. Hal itu sontak membuat Aphrodite terkejut dan spontan menoleh ke arahnya.


Fransisco hanya tersenyum simpul ke arahnya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Aphrodite terdiam, matanya kini menatap tangan nya yang digenggaman oleh Fransisco. Ini adalah pertama kalinya ia bergandengan tangan dengan pria lain setelah perginya Xavier dari hidupnya.

__ADS_1


"Rasanya masih bagaikan sebuah mimpi saat menyadari bahwa sekarang aku sudah resmi menjadi milik pria lain, bukan lagi milik Vier yang bahkan meninggalkan ku begitu saja tanpa mengatakan kata putus sebelumnya," Aphrodite membatin. Detik berikutnya ia menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak ingin lagi mengingat nama itu, tidak ingin lagi menyebut nama itu. Karena sekarang statusnya telah menjadi istri dari seorang Fransisco Shankara, dan ia tidak berhak mengingat nama itu lagi. Kehidupan mereka telah berbeda sekarang. Ia dan Xavier sudah tidak lagi saling memiliki. Dan satu-satunya hal yang harus ia lakukan saat ini adalah berusaha menerima kenyataan dan menerima Francisco di hidupnya.


...***...


__ADS_2