Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Painful memory on wedding day


__ADS_3

...***...


Waktu berlalu, hari kian berganti dan jam kian berputar. Semakin cepat, sampai tidak terasa pada akhirnya, hari itu tiba juga. Hari dimana mereka akan resmi mengikat janji sucinya di altar pernikahan.


NT Hotel, adalah hotel elite tempat dimana mereka akan melangsungkan pernikahannya. Fanny menghabiskan uang senilai ratusan jutanya hanya untuk menyewa gedung itu satu hari, uang yang ia habiskan juga bukan hanya untuk itu, melainkan untuk menyewa WO, belum lagi biaya membuat baju pengantin, dan lain sebagainya termasuk mahar pernikahan berupa kalung mutiara south sea pearl. Mutiara seharga ratusan juta perbiji. Dan semua uang tabungannya yang khusus ia tabung untuk Fransisco akhirnya terpakai juga.


Sementara para tamu undangan sudah mulai berdatangan, beda halnya dengan Aphrodite yang kini tengah bersiap di ruang rias pengantin. Wanita itu terduduk di depan cermin meja riasnya dengan mengenakan balutan gaun yang di rancang khusus oleh Fanny.


"Astaga, nona. Bisakah anda berhenti menangis? Make-up nya jadi luntur," tutur wanita yang berprofesi sebagai rias pengantin itu. Wanita itu sudah berkali-kali memoles wajahnya, memperbaiki make-up yang ia kenakan yang terus luntur akibat air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya.


Aphrodite terdiam, ia menundukkan kepalanya. Meremat gaun yang ia kenakan. Rasanya benar-benar sesak, memori itu terus berputar dalam benaknya. Setiap kali ia melihat dirinya dalam balutan gaun pengantin seperti saat ini, membuatnya terus ingat akan kejadian hari itu. Hari dimana dunia asmaranya hancur hanya dalam satu hari.


"Huft~" Aphrodite menghela napasnya panjang, ia berusaha menghilangkan rasa sesak dalam dadanya. Tapi sialnya rasa itu enggan pergi dari dirinya.


CEKLEK!


Pintu masuk itu di buka, menampakkan sosok Jenia yang bayangannya tampak dari pantulan cermin yang ada di hadapan Aphrodite.


"Dite?" Panggil Jenia seraya berjalan menghampiri Aphrodite yang tengah terduduk di sana.


Aphrodite diam tanpa menoleh, sementara wanita yang menjadi rias pengantin itu menoleh pada Jenia yang baru saja tiba.


"Maaf, tapi bisakah kau tinggalkan kami sebentar?" Tanya Jenia pada wanita itu.


"Oh, baik nona. Kalau begitu saya permisi," pamitnya yang lantas beranjak pergi dari dalam ruangan tersebut meninggalkan Aphrodite dan Jenia berdua di dalam sana.


BLAM!


Pintu itu tertutup rapat. Dan di dalamnya kini hanya ada Aphrodite dan Jenia yang saat ini masih berdiri sembari menatap punggung sahabatnya yang terduduk di depan cermin.


"Dite," tuturnya seraya memegang kedua pundak Aphrodite. Berdiri tepat di belakang Aphrodite.


"Lihat, betapa cantiknya sahabatku ini," gumam Jenia seraya tersenyum. Kedua manik matanya menatap Aphrodite lewat pantulan cermin yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Hanya ada satu yang kurang," gumamnya yang kemudian menggeser kursi yang di duduki Aphrodite, membuat kursi itu berhadapan dengan dirinya.


Jenia berjongkok di hadapannya, kemudian menggenggam kedua tangan Aphrodite.


"Kau harus tersenyum. Ini adalah hari bahagia mu," ujarnya pelan seraya tersenyum menatap Aphrodite.


Aphrodite masih diam tanpa menjawab, wajahnya masih berderai air mata. Secara perlahan ia mendongak menatap Jenia di hadapannya.


Jenia beranjak, ia memeluk Aphrodite untuk sedikit menenangkannya. Jenia mengerti ini sulit, dan ia mengerti ini terasa menyakitkan. Jenia mengerti bagaimana rasanya terus di bayangi oleh masa lalu yang begitu menyakitkan.


Aphrodite balas memeluknya erat, inilah yang ia butuhkan saat ini. Sandaran untuknya mengadu, menumpahkan semua perasaan yang ada dalam dadanya.


"Kau kuat. Aku percaya itu, dan aku yakin kau bisa melewatinya," tutur Jenia pelan, tepat di telinga Aphrodite. "Walaupun ini sulit, tapi aku tahu. Perlahan-lahan kau pasti akan bisa melupakan Vier dan menjalani kehidupan mu sebagai istri dari Fransisco."


...*...


BLAM!


Pintu ruang rias itu di tutup pelan olehnya. "Aku harap dia bisa menghadapi traumanya," gumam Jenia. Ia berbalik siap untuk melangkah, namun langkahnya terhenti saat ia secara tiba-tiba di kejutkan oleh sosok Fransisco yang sejak tadi berdiri di depan pintu.


"Akhirnya kau keluar juga. Bagaimana dengan Aphrodite? Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Fransisco cemas. Pria yang kini mengenakan tuxedo itu menatap Jenia, meminta penjelasan Jenia mengenai calon istrinya yang ia dengar tengah menangis di dalam ruang rias pengantin.


"Kau sedang apa di sini? Mempelai pria dilarang masuk kemari!" Tutur Jenia tak mengindahkan pertanyaan dari Fransisco.


"Cepat jawab pertanyaan ku, jangan mengalihkan pembicaraan."


"Aphrodite baik-baik saja."


"Benarkah? Tapi kenapa dia menangis?"


"Darimana kau tahu kalau dia menangis?"


"Mama mendapatkan keluhan dari orang yang mendandaninya, dan dia meminta mama untuk menenangkan Aphrodite. Karena aku cemas, jadi aku bergegas kemari untuk mengecek nya."

__ADS_1


"Begitu rupanya."


"Sekarang apakah dia sudah tenang?"


"Iya. Dia sudah tenang."


"Lalu, kenapa dia menangis? Apakah terjadi sesuatu?" Tanya Fransisco masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Aphrodite.


Jenia terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari Fransisco.


"Aku harap kau mengerti bahwa ini bukanlah hal yang mudah untuk Aphrodite. Dia mengalami trauma akibat kejadian yang ia alami saat di tinggalkan oleh Vier, dulu. Jadi setiap kali ia melihat acara seperti saat ini, selalu membuatnya teringat akan kejadian saat itu. Maka dari itu, mengertilah. Karena ini bukanlah hal yang mudah baginya."


"A-ah… begitu ya." Fransisco menundukkan kepalanya. Ia mengerti sekarang, alasan mengapa Aphrodite menangis.


"Iya. Oh ya, sekarang lebih baik kau kembali bersiap. Bukankah acara intinya sebentar lagi di mulai?"


"Ya. Kau benar. Kalau begitu aku kembali."


"Iya. Aku juga akan kembali ke aula, dan menunggu bersama dengan yang lain."


"Baik," tutur Fransisco.


Detik berikutnya, Jenia lantas beranjak dari tempatnya saat ini. Melangkah pergi meninggalkan Fransisco seorang diri di depan pintu ruang rias Aphrodite.


Sepeninggalan nya Jenia, Fransisco terdiam sejenak. Kedua matanya perlahan mendongak menatap pintu ruang rias pengantin wanita itu.


"Huft~" Fransisco menghela napas panjang.


"Aku harap semuanya berjalan lancar," gumamnya. Detik berikutnya ia berbalik kemudian melangkah pergi meninggalkan tempatnya berada saat ini.


Sementara Fransisco dan Jenia pergi dari sana, beda halnya dengan Aphrodite yang kini sudah mulai tenang. Wanita yang kini duduk berbalutkan gaun pengantin itu saat ini tegah terdiam sembari menatap dirinya lewat pantulan cermin yang ada di hadapannya.


"Apa yang di ucapkan oleh Jenia tadi ada benarnya juga. Aku pasti bisa melewati ini semua, dan aku pasti bisa melupakan semua ingatan menyakitkan ini," batin nya. Kedua tangannya terangkat perlahan menyeka air mata yang semula membasahi kedua pipi nya yang berhiaskan make-up.

__ADS_1


...***...


__ADS_2