Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Go to airport


__ADS_3

...***...


Aphrodite melangkah keluar dari NT hotel bersama dengan Fransisco yang berjalan dengan menggandeng tangannya.


Mereka melangkah menghampiri satu mobil yang telah di hias di sana dengan seorang supir yang tengah menanti mereka datang sejak tadi.


Fransisco mempersilahkan Aphrodite masuk lebih dulu. Sebelum masuk, Aphrodite terdiam. Kedua manik matanya menatap Jenia, yang kini berdiri bersama dengan Helen, Erland, Aiden, Fanny dan Antonio di pintu masuk. Mereka melambaikan tangannya ke arah Aphrodite seraya tersenyum.


Aphrodite balas tersenyum tipis, ia lantas beralih pandang. Mengangkat gaunnya dengan di bantu Fransisco agar ia bisa masuk dan duduk di dalam sana. Aphrodite melangkah masuk, duduk di jok belakang dengan tenang. Selanjutnya di susul oleh Fransisco yang ikut duduk di jok belakang bersebelahan dengannya.


Supir yang semula berdiri di depan pintu mobil itu kemudian menutup pintunya rapat setelah memastikan mereka telah masuk dan duduk dengan tenang di dalam sana. Sang supir berjalan mengitari bagian depan mobil lalu masuk dan duduk tepat di jok pengemudi dan mulai menyalakan mesin mobilnya.


Perlahan sang supir melajukan mobilnya menjauh dari tempat semula berada. Beranjak pergi meninggalkan semua orang yang tersisa disana.


...*...


"Ng… Frans," Aphrodite bergumam. Ia memandangi Fransisco di sampingnya membuat Fransisco menoleh ke arahnya yang baru saja memanggil namanya.


"Huh? Ada apa?" Tanya Fransisco lembut.


"Kita akan kemana?"


"Sekarang kita akan ke apartemen ku, setelah itu kita ganti baju dan langsung terbang untuk berbulan madu."


"H-huh? Kemana?" Tanya Aphrodite dengan raut wajah penasaran.


"Kau akan tahu setelah kita tiba di bandara."


"Tapi… bagaimana dengan paspor dan tiketnya?"


"Semuanya sudah di siapkan mama."


"Benarkah?"


"Iya."


"Oh… begitu rupanya," gumam Aphrodite.


Sejurus kemudian kebersamaan mereka di selimuti dengan keheningan. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir mereka masing-masing, sampai mereka berdua tiba di depan gedung apartemen milik Fransisco.


Fransisco keluar lebih dulu, bergerak cepat membukakan pintu untuk Aphrodite dan membantunya untuk keluar dari dalam mobil. Setelah keduanya keluar, Fransisco lalu menutup pintu mobil tersebut.

__ADS_1


"Kau tunggu sebentar di sini," tutur Fransisco pada sang supir yang mengantarkan mereka.


"Baik tuan," sahut si supir seraya menganggukkan kepalanya.


Fransisco beralih menatap Aphrodite yang kini diam terpaku di tempatnya sembari mendongak menatap bangunan apartemen yang ada di hadapannya.


Fransisco berdiri di sampingnya seraya menatap ke arah yang di tatap oleh Aphrodite.


"Mulai hari ini dan seterusnya, ini akan menjadi rumahmu juga," gumam Fransisco. Berbicara tepat di telinga Aphrodite.


Aphrodite menoleh ke arahnya. "Ini apartemen mu?"


"Iya dulu. Tapi sekarang, ini bukan lagi milikku. Melainkan menjadi milik kita."


Aphrodite tertegun. Ia menatap Fransisco intens.


"Baiklah, ayo masuk. Kau pasti penasaran bagaimana isi di dalamnya kan?" Fransisco meraih tangan Aphrodite lantas menggenggamnya.


Aphrodite dan Fransisco kemudian beranjak memasuki gedung apartemen. Sebagai suami yang baik, Fransisco membantu Aphrodite untuk berjalan. Membantunya menaikkan gaun yang di kenakan olehnya.


Mereka berdua berjalan menghampiri lift yang ada di sana. Masuk dan duduk di dalam sana kemudian menekan tombol lantai dimana apartemen milik Fransisco berada.


TING!


Tiba di depan pintu apartemen nya, Fransisco membuka kan pintu untuk Aphrodite.


Aphrodite diam terpaku di tempatnya saat melihat bagian dalam apartemen Fransisco. Di dalam sana tampak begitu rapi dan nyaman, di dalamnya sudah lengkap dengan perabotan rumah yang sudah tertata begitu rapi.


"Ayo masuk. Di dalam, mama sudah membelikan banyak pakaian untukmu dengan di bantu mama Helen, mama Fanny juga sudah mempersiapkan pakaian dan barang-barang yang harus kau bawa ke dalam koper. Jadi kita hanya perlu ganti baju, setelah itu berangkat."


"Ah, begitu… baiklah," tutur Aphrodite. Ia lantas melangkah bersama dengan Fransisco memasuki ruang apartemen nya.


Fransisco membawa Aphrodite ke arah kamar dan memintanya untuk segera berganti pakaian. Sementara itu, Fransisco pamit untuk memasukkan semua barang-barang nya ke dalam mobil di bawah.


Setelah berganti pakaian dan semua koper mereka sudah berada dalam bagasi mobil, Fransisco dan Aphrodite kemudian duduk di dalam mobil di jok belakang. Sang supir melajukan mobilnya meninggalkan bangunan apartemen tersebut. Ia mengendarainya menuju arah bandara.


Tiba di bandara, supir tersebut mengeluarkan koper-koper milik Aphrodite dan Fransisco kemudian begitu selesai ia pergi setelah melihat kedua pasangan pengantin baru itu masuk ke dalam bandara.


"Ini," Fransisco menyodorkan paspor dan tiket pesawatnya yang terselip di antara beberapa lembar disana. Aphrodite menatap tiket tersebut.


"Prancis?" Gumam Aphrodite membaca tulisan yang tertera disana. Ia tampak terkejut saat melihat nama negara itu yang tertulis di tiketnya. Aphrodite mendongak menatap Fransisco di sampingnya, pria itu tersenyum menanggapi reaksi Aphrodite.

__ADS_1


"Kita akan ke Prancis?" Tanya Aphrodite memastikan.


"Iya. Kita akan ke sana."


"Ah… begitu rupanya."


"Apakah kau senang?"


"Ng… ya, aku senang," tutur Aphrodite seraya tersenyum simpul ke arahnya. Sementara di dalam hatinya ia merasakan sesuatu yang berbeda. Sebuah perasaan yang sangat amat sulit untuk ia gambarkan, bahkan ia sendiri bingung perasaan apa yang sebenarnya ada dalam dirinya saat ini.


Fransisco dan Aphrodite terus melangkah. Mereka masuk ke dalam pesawat yang di jadwalkan akan terbang dalam beberapa saat lagi.


Di dalam sana, Fransisco dan Aphrodite duduk di dekat jendela. Keduanya duduk tenang sembari sesekali mengobrol, membicarakan topik kecil untuk memecah keheningan di antara mereka.


Aphrodite berusaha membiasakan dirinya dengan situasi bersama dengan Fransisco ini. Karena bagaimanapun juga, mulai hari ini dan seterusnya. Ia akan hidup bersama dengan pria itu untuk waktu yang lama.


Pesawat yang mereka tumpangi akhirnya take off, beranjak pergi dari bandara semula. Melayang di udara, terbang menuju ke tempat yang mereka tuju.


"Omong-omong kau sudah pernah ke Prancis sebelumnya?" Tanya Fransisco mengalihkan topik pembicaraan.


"Tidak. Tapi aku pernah ke negara lain," sahut Aphrodite seraya memandang ke arahnya.


"Benarkah? Kau pernah kemana?"


"Aku pernah mengunjungi Belgia dan Swiss saat papa masih hidup."


"Oh, benarkah?"


"Iya. Tapi… itu sudah sangat lama, jauh sebelum aku bertemu dan kenal dengan mu."


"Ng… begitu rupanya."


"Iya. Dan setelah mama ku meninggal, lalu papa menikah lagi… aku sudah tidak pernah di ajaknya jalan-jalan lagi."


"Kenapa?"


"Papa terlalu sibuk mengurus pekerjaannya dan membagi kasih sayangnya dengan istri dan anak barunya."


"Apakah kau pernah merasa iri terhadap mereka?"


"Tidak sama sekali. Karena aku ikut bahagia, kalau papa bahagia."

__ADS_1


...***...


__ADS_2