
...***...
"Kau lapar? Apakah mau aku masakan sesuatu?" Aphrodite balik bertanya.
"Aku bertanya, kau malah bertanya balik." Fransisco tersenyum menanggapi pertanyaan Aphrodite.
"Ahaha… ya, aku hanya memastikan saja. Apakah ingin aku masakan sesuatu?"
"Tidak. Aku tahu kau pasti lelah, maka dari itu aku tanya. Kalau kau lapar biar aku pesankan makanan lewat layanan pesan antar."
"Akan memakan waktu kalau kita memesan makanan," tutur Aphrodite. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Lalu? Apa yang akan kau lakukan? Memasak? Kau itu masih lelah."
"Memasak? Memangnya mama menyiapkan bahan-bahan makanan di kulkas?"
"Ya. Kemarin mama meminta asistennya untuk berbelanja."
"Benarkah?"
"Ng." Fransisco menganggukkan kepalanya.
"Bagus, kalau begitu biar aku cari bahan-bahan makanan yang simpel untuk aku masak," ujar Aphrodite bersemangat. Ia kemudian melangkah menuju arah ruang dapur yang mana terhubung dengan ruang makan di apartemen mereka. Tiba di ruang dapur, Aphrodite membuka pintu kulkas. Ia begitu terkejut begitu melihat isi kulkasnya penuh dengan bahan-bahan makanan yang siap untuk digunakan, selain itu semua bahan masakannya lengkap di sana.
Aphrodite tersenyum simpul, ia mulai mencari ide untuk memasak apa. "Apa yang sebaiknya aku masak?" Gumam Aphrodite.
"Bagaimana kalau memasak makanan instan?" Bisik Fransisco tepat di telinganya membuat Aphrodite tersentak, nyaris berteriak. Ia berbalik spontan menatap Fransisco yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Kau mengejutkanku saja!" Tukasnya kesal, Aphrodite mengusap dadanya. Jantungnya di dalam sana berpacu cepat, ia benar-benar terkejut dengan Fransisco yang tiba-tiba berada di belakangnya.
"Haha, wajahmu menggemaskan ketika kau terkejut." Fransisco terkekeh menanggapi ekspresi wajah Aphrodite yang begitu terkejut saat ia mengejutkannya.
"Itu tidak lucu!" Aphrodite mengubah air mukanya, wajahnya memerah. Ia benar-benar malu karena di tertawai oleh Fransisco.
__ADS_1
"Oh, ayolah. Kau marah padaku?"
"Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya. Sekarang lebih baik kau duduk di meja makan, aku akan memasak untuk makan malam."
"Bagaimana kalau kita makan mie?"
"Mie?"
"Iya. Biar lebih cepat, lagipula memasak mie instan juga simpel kan?"
"Makan mie instan itu tidak baik untuk kesehatan."
"Tapi aku sudah lapar."
"Ng… kau benar, aku juga sudah lapar." Aphrodite bergumam membenarkan ucapan Fransisco.
"Jadi kita makan mie instan saja ya?"
"Tapi tidak ada mie."
"Darimana kau tahu kalau ada mie?" Aphrodite mengerutkan keningnya bingung, ia kemudian membuka satu rak yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Dan begitu ia membukanya, makanan yang mereka cari ada di dalam sana. Bersanding dengan beberapa makanan lain seperti roti tawar yang masih dalam bungkusnya, selai, dan beberapa makanan lain. "Ah, ketemu," gumamnya. Fransisco berhenti seketika dan menoleh ke arahnya. Ia menghampiri Aphrodite. Berdiri tepat di belakangnya seraya tersenyum.
"Kan, sudah aku bilang."
"Darimana kau tahu kalau ada mie instan?" Aphrodite mengulang pertanyaan yang sama.
"Terkadang aku suka makan mie instan ketika sedang dalam keadaan kelaparan tapi ingin yang cepat seperti saat ini. Dan mama juga tahu."
"Oh, begitu rupanya. Berarti bisa di simpulkan kalau kau sering makan mie instan?"
"Tidak juga, aku hanya makan sekitar satu kali dalam dua sampai tiga Minggu. Terkadang mungkin hanya sebulan sekali, karena kau tahu sendiri 'kan kalau aku sibuk bekerja."
"Ah, ya. Kau benar."
__ADS_1
"Baiklah, ayo memasak."
"Oke." Aphrodite berbalik kemudian meraih dua bungkus mie instan yang hendak di masaknya.
"Jangan lupa tambahkan telurnya," ujar Fransisco sembari mengeluarkan dua butir telur dari dalam kulkas.
"Ya, baiklah." Aphrodite meraihnya kemudian menaruhnya bersama dengan dua bungkus mie instan yang kemudian ia letakkan di atas meja. Sementara itu, dirinya mulai di sibukkan menyiapkan air untuk memasaknya.
"Bolehkan aku membantumu?" Tanya Fransisco.
"Boleh, bagaimana kalau kau persiapkan mangkuknya dan siapkan bumbunya, setelah itu biar aku yang urus sisanya."
"Baiklah." Fransisco beranjak menghampiri rak piring, meraih dua mangkuk bersih lengkap dengan sendok, garpu dan tidak lupa juga gelas untuk mereka minum. Setelah semuanya itu, Fransisco kemudian menaruhnya di atas meja. Pria itu mulai di sibukkan membuka dua bungkus mie instan dan mulai mengeluarkan bumbunya, menumpahkan semuanya pada mangkuk bersih yang semula di ambilnya. Sementara itu, Aphrodite saat ini mulai di sibukkan dengan memasak telur untuk hidangan tambahan mereka. Sesudah selesai memasak semuanya dan menghidangkannya, Aphrodite dan Fransisco lalu mulai di sibukkan menyantap hidangan yang telah mereka buat. Menikmati mie instan mereka hingga habis tak tersisa. Selesai menyantap mie, Aphrodite langsung mencuci semua alat makannya yang kotor. Sementara Aphrodite sibuk di dapur, beda halnya dengan Fransisco. Setelah makan, ia memutuskan untuk mengangkat semua koper mereka ke lantai atas, tepat dimana kamar mereka berada. Menaruhnya di dalam sana dan mempersiapkan ranjang tidur mereka.
TUK!
Mangkuk terakhir, dan selesai. Aphrodite kemudian mematikan keran air yang baru saja ia gunakan untuk mencuci semua alat makan yang sempat mereka gunakan.
"Akhirnya selesai," gumam Aphrodite.
"Aku sudah membersihkan ranjangnya," ujar Fransisco yang tiba disana membuat perhatian Aphrodite seketika tersita olehnya.
"Oh, aku juga baru saja selesai mencuci semua mangkuk kotornya."
"Kalau begitu sekarang lebih baik kita naik dan istirahat. Ini sudah malam, kau juga pasti sangat lelah kan?"
"Ng. Kalau begitu aku mau ke kamar mandi dulu untuk menggosok gigiku, mencuci wajah dan kakiku, setelah itu ganti baju dengan baju tidur. Baru setelahnya tidur."
"Baiklah, ayo naik." Fransisco meraih tangan Aphrodite, menuntunnya menuju lantai atas tempat dimana mereka akan beristirahat dari segala kesibukan yang sempat membuat ke duanya kelelahan. Mulai dari persiapan untuk pulang, berjalanan delapan belas jam dalam pesawat terbang, dan tentunya perjalanan dari bandara hingga bisa tiba di apartemen yang mereka tempati saat ini.
Tiba di dalam kamar, Fransisco lebih dulu menghampiri ranjang tidurnya. Pria itu sudah mengganti pakaiannya dengan baju tidur, dia juga sudah melakukan hal wajibnya sebelum tidur; yaitu menggosok gigi, mencuci wajah dan kakinya. Sementara dirinya merebahkan tubuhnya di atas ranjang, beda halnya dengan Aphrodite yang kini baru melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi untuk menggosok giginya, setelahnya ia di sibukkan dengan mengganti pakaiannya dengan baju tidur.
Aphrodite ikut merebahkan tubuhnya di atas ranjang tidur yang sama yang di tempati oleh Fransisco, ke duanya berbaring bersama dengan sebuah bantal guling sebagai pembatas di antara mereka. Untuk urusan yang satu ini, Aphrodite masih kesulitan untuk membiasakan diri berbagai ranjang dengan orang lain.
__ADS_1
...***...