
...***...
Fransisco memarkirkan mobilnya tepat di depan pekarangan rumah Aphrodite. Ia lantas mematikan mesin mobilnya begitu tiba di sana. Gerbang depan rumahnya masih belum di tutup, karena Helen tampaknya tahu kalau mereka berdua akan pulang terlambat malam ini.
Setelah melewati beberapa perdebatan kecil sebelum keluar, akhirnya Fransisco sepakat untuk membiarkan Aphrodite keluar dari dalam mobil tanpa ia harus membukakan pintunya lebih dulu.
Aphrodite lalu keluar bersamaan dengan Fransisco di sana. Ia berjalan menghampiri Aphrodite yang kini berdiri di dekat mobilnya.
"Sekali lagi terima kasih untuk malam ini," tutur Aphrodite padanya. Walaupun rasa cintanya masih belum muncul untuk Fransisco, tapi setidaknya rasa terima kasihnya tidak akan hilang. Apalagi hari ini, Fransisco telah membuatnya tersenyum dan bisa melupakan setiap memori yang sempat muncul dalam benaknya kala ia mencoba gaun pengantinnya.
Sepertinya dengan sikap Fransisco yang seperti ini, secara perlahan akan membuat Aphrodite bisa melupakan sosok Xavier yang telah mengkhianati nya dan lebih memilih menikah dengan wanita lain.
"Tidak, aku yang terima kasih karena kau sudah mau menghabiskan waktu bersama denganku," sahut Fransisco seraya tersenyum simpul pada Aphrodite.
"Rasanya ini adalah malam terindah bagiku, walaupun tanpa gemerlap cahaya bintang di langit. Tapi rasanya lebih indah dan lebih istimewa dibandingkan malam berbintang manapun yang pernah aku lalui," sambungnya.
Aphrodite hanya diam, ia bingung harus merespon bagaimana. Karena pintu hatinya masih belum terbuka sedikit pun untuk membiarkan nama Fransisco masuk dan mengukir di dalamnya. Hatinya masih terkunci oleh nama Xavier yang bahkan kuncinya sudah tidak akan pernah ia dapatkan lagi.
"Baiklah, berhubung ini sudah malam. Aku pulang," kata Fransisco akhirnya setelah tidak ada jawaban dari Aphrodite.
"Iya. Hati-hati di jalan."
"Jika Tante Helen masih bangun, sampaikan salam ku padanya."
"Akan aku sampaikan."
"Kalau begitu selamat malam, dan… semoga tidurmu nyenyak." Fransisco beranjak dari tempatnya berdiri saat ini, melangkah menghampiri pintu mobilnya di sana.
Aphrodite hanya diam sembari memandang ke arahnya. Fransisco terdiam sejenak di depan pintu mobilnya. Tersenyum ke arah Aphrodite seraya melambaikan tangannya.
__ADS_1
Aphrodite balas tersenyum tipis, sebelah tangannya lantas terangkat membalas lambaian tangan dari Fransisco.
Detik berikutnya dilihatnya mobil milik Fransisco itu mulai beranjak dari tempatnya, melaju keluar dari pekarangan rumahnya kemudian menghilang di balik pintu pagar rumahnya yang masih terbuka.
"Huft~" Aphrodite menghela napasnya pelan. Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan baginya. Tapi walaupun begitu, ini juga hari yang menyenangkan karena ada banyak hal yang membuatnya bisa melupakan segala hal yang berkaitan dengan Xavier. Jujur saja semenjak mencoba gaun pengantinnya, otaknya terus di hantui oleh bayang-bayang kejadian menyakitkan yang ia alami. Tapi untungnya, Fransisco memiliki cara yang membuat mood nya kembali membaik dalam seketika dan tindakannya berhasil membuat Aphrodite lupa akan ingatan menyakitkan itu.
Fokus Aphrodite beralih saat mengingat kalau pintu gerbang rumahnya masih belum ia tutup. Aphrodite berjalan menghampiri pintu di sana, lantas menutupnya rapat agar tidak ada orang yang bisa masuk tanpa izin.
Selesai menutup pintu gerbang rumahnya, Aphrodite kemudian melangkah masuk menuju rumahnya yang masih belum terkunci.
...*...
Hari berganti. Sang mentari pagi, baru saja beranjak naik menuju singgasananya, menyapa dunia dengan senyumannya yang menghangatkan alam semesta dan seisinya.
Aphrodite membuka kedua matanya secara perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah keadaan kamarnya yang masih tampak gelap tanpa penerangan sama sekali. Tirai dalam kamarnya masih tertutup, dan terlihat tirai nya itu tampak menyala kala sang surya berusaha menerobos masuk ke dalam kamarnya.
Rasanya lebih nyaman. Apalagi setelah rasa lelah yang ia rasakan seharian kemarin, kini terbalaskan dengan istirahat yang cukup dan memuaskan.
"Ahhh… jam berapa sekarang?" Aphrodite mengedarkan pandangannya, mencari benda pipih berbentuk persegi panjang yang tidak lain adalah ponselnya. Hendak melihat jam yang ada di sana, karena jam dinding satu-satu di dalam kamar tersebut mati. Yang lebih sialnya lagi, ia selalu lupa saat hendak membeli baterai baru untuk jamnya.
Tangannya perlahan bergerak, meraba meja nakas dekat ranjang tidurnya, dan begitu permukaan kulitnya bersentuhan dengan benda yang di carinya. Ia segera meraihnya.
Aphrodite terdiam sesaat. Matanya mengerjap beberapa kali, berusaha untuk memastikan bahwa apa yang di lihatnya itu benar. Detik berikutnya ia baru tersadar. Matanya membulat sempurna, terbelalak saat menyadari jam itu telah menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Oh astaga!" Ujarnya panik. Bergegas Aphrodite bangkit dari tempat pembaringannya. Menaruh ponselnya di atas meja nakas dekat tempat tidur kembali, lantas mengikat rambutnya satu ke belakang.
Pagi ini seharusnya ia datang ke gedung tempat ia akan melangsungkan pernikahan nya nanti. Memastikan semuanya dan mengecek ulang bersama dengan Fanny dan Helen. Tapi ini sudah lewat dari jam janjian mereka bertemu. Aphrodite sangat tidak enak harus datang sesiang ini.
TOK! TOK! TOK!
__ADS_1
Pintu kamarnya tiba-tiba saja di ketuk dari arah luar. Hal itu refleks membuatnya berhenti sembari menoleh ke arah datangnya suara.
"Aph, apakah kau sudah bangun?" Teriak Helen dari balik pintu kamarnya.
"Ah, ya. Ma? Ada apa?" Sahut Aphrodite dari dalam.
"Akhirnya kau bangun juga. Mama sampai khawatir kau pingsan di dalam sana."
"Tidak, aku baik-baik saja."
"Syukurlah. Oh ya, omong-omong kau sudah mencuci wajahmu? Kalau sudah, bisakah kau keluar? Kau harus melihat ini!"
"Aku belum mencuci wajahku, memangnya apa yang harus aku lihat?"
"Undangan pernikahan mu dengan Frans. Ini sangat bagus dan mewah, aku yakin kau akan terkejut melihat undangan ini!" Teriak Helen yang suaranya terdengar sumringah pagi ini.
"Benarkah? Undangannya sudah datang?" Tanya Aphrodite sedikit malas.
"Iya. Jadi cepatlah keluar dan lihat sendiri. Ini benar-benar luar biasa," teriak Helen di balik pintu sana.
"Aku akan keluar sebentar lagi. Setelah aku mencuci wajah ku, aku akan segera keluar."
"Baiklah. Kalau begitu mama tunggu kau keluar ya."
"Ya. Baiklah," jawab Aphrodite. Di dengarnya Helen beranjak dari tempatnya berada saat ini. Melangkah meninggalkan pintu kamarnya.
Detik berikutnya, Aphrodite segera menghampiri kamar mandinya yang berada tidak jauh dari kamarnya. Ia hendak mencuci wajah nya, setelah itu. Ia harus mengecek undangan yang di dapat Helen. Sisanya ia harus pergi ke gedung tempat dimana ia akan melangsungkan pernikahan dengan Fransisco.
Selesai mencuci wajahnya, Aphrodite lantas membereskan tempat tidurnya. Setelah itu, melangkah keluar dari dalam kamarnya untuk bertemu dengan Helen yang sejak tadi tengah menunggunya di ruang tengah.
__ADS_1
...***...