Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
One step


__ADS_3

***


Jordan terdiam memandangi toko suvenir dihadapannya. "Ternyata dia masih ingat tentang kenangan indah kita," gumamnya pelan seraya tersenyum. Jordan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana yang ia kenakan lalu melangkah masuk untuk melakukan apa yang sudah di instruksikan oleh Aphrodite padanya.  Hal pertama yang ia rasakan saat masuk ke dalam toko itu adalah suasana sama yang tidak akan bisa ia lupakan. Jordan terdiam ditempatnya, ia menoleh ke sekeliling toko dan tampilannya masih tampak sama. Tidak ada yang berubah sedikitpun dari toko yang dulu ia kunjungi dengan Laura saat mereka masih bersama.


"Apa yang kita lakukan di sini?" Tanya Jordan pada Laura begitu mereka tiba di dalam sana. Laura menatap kekasihnya itu seraya tersenyum.


"Aku ingin membeli sesuatu untuk kita pakai bersama. Kita beli barang couple untuk menandai bahwa kita ini pasangan," tuturnya.


"Huh? Aku rasa tidak perlu, lagipula untuk apa?"


"Tapi ingin melakukannya." Laura menarik Jordan pergi. Jordan sedikit terseret dibelakangnya.


"Lihat, bagaimana kalau ini? Mungkin bagus untuk kita pakai bersama?" Laura menunjukkan sebuah gelang sederhana dengan inisial nama di tengahnya. "L untuk Laura, dan J untuk Jordan." Tuturnya.


"Aku tidak bilang kalau aku mau," kata Jordan. Laura mendelik ke arahnya sebal.


"Jadi kau tidak mau? Baiklah, lupakan saja. Ayo keluar." Laura berubah murung, ia menarik tangan Jordan menuju keluar tapi Jordan lebih dulu menahannya.


"Aku hanya bercanda…" ucap Jordan. Laura menoleh ke arah Jordan, pria itu kini tersenyum ke arahnya.


"Kalau begitu ayo kita beli." Laura menarik tangan Jordan ke arah lain toko tersebut dan mencari suvenir yang cocok untuk mereka kenakan.


"Bagaimana kalau ini?" Jordan menunjukkan sebuah gelang sederhana, namun tampak indah dan mewah dengan paduan warnanya. Laura memandangi gelang dalam genggaman Jordan itu. "Indah," gumamnya pelan seraya tersenyum.


"Ini pasti akan sangat cocok untukmu, ayo kita lihat." Jordan mengenakan gelangnya pada Laura. Cantik, gelang itu tampak sangat pas dan cocok untuk Laura. "Lihat? Sudah aku bilang ini cocok untukmu." Jordan tersebut.


"Aku menyukainya." Laura memandangi gelang dalam pergelangan tangannya.


"Kalau begitu kita beli yang ini."


"Ng. Kalau begitu biar aku pilihkan juga untukmu." Laura beralih fokus pada gelang lain yang ada di sana dan memilihkannya untuk Jordan. Setelah menemukan yang cocok, mereka lalu memutuskan untuk pergi ke kasir guna membayarnya.


Mereka berdiri di depan meja kasir sementara pegawai meja kasir itu membungkus barang mereka. "Kalian adalah pasangan yang benar-benar cocok." Pegawai kasir itu berucap seraya tersenyum ke arah mereka. Laura dan Jordan hanya tersenyum menanggapi perkataannya.


Jordan menggelengkan kepalanya pelan berusaha menyadarkan dirinya dari lamunan. Sejak tadi bayangan itu secara tiba-tiba kembali terulang di benaknya membuatnya tanpa sadar melamun dan memperhatikan meja kasir yang di tempati oleh seorang pegawai wanita yang berbeda.


"Sekarang bukan waktunya untuk mengingat-ingat masa lalu, tapi ini saatnya untuk memperbaiki semua itu!" Jordan bergumam, segera ia melangkah mencari keberadaan Laura. Sesekali perhatiannya teralih saat ia menemukan suvenir yang menarik perhatiannya, tanpa sadar dirinya melangkah hingga menemukan Laura yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


"Ternyata… dia di sini," pikirnya saat melihat Laura yang tengah sibuk mencari barang yang hendak dibelinya. Jordan bergerak perlahan pura-pura mencari benda yang ingin di belinya, sesekali ia terus melangkah mengikis jarak diantara mereka hingga jaraknya dengan Laura benar-benar berdekatan satu sama lain.


*


"Seharusnya dia sudah datang." Aphrodite membatin, ia memandangi layar ponselnya yang menunjukkan history call-nya dengan Jordan beberapa saat yang lalu. Aphrodite masih berada di toilet dan menunggu untuk sesaat memastikan mereka memiliki cukup waktu untuk bersama. Aphrodite berdiri di depan wastafel, menatap dirinya lewat pantulan cermin yang ada dihadapannya. "Aku harus di sini untuk beberapa saat hingga dia kembali menghubungiku dan memberitahuku apakah rencana ku ini berhasil atau tidak."


"Aku harap ini berhasil."


*


Laura terus melangkah sembari memperhatikan semua pernak pernik indah yang ada di hadapannya, ia masih kebingungan harus memilih yang mana antara yang satu dengan yang lain. Pasalnya, semuanya tampak indah. Laura beranjak hendak melihat-lihat di sisi lain, tapi saat ia berbalik secara tidak sengaja ia bertabrakan dengan Jordan yang juga berbalik bersamaan dengannya.


"Maaf, aku tidak melihat…" Laura menggantungkan ucapannya saat ia mendongak dan mendapati Jordan yang berdiri tepat dihadapannya. Mereka beradu pandang satu sama lain. "J-jordan…" Laura bergumam pelan, ia terpaku ditempatnya tanpa kata.


"Ingat ucapanku! Jangan buat dia lari darimu karena kau terlihat seakan-akan hendak menanyakan sesuatu padanya. Kau harus tetap tenang dan bersikap biasa, aku yakin… dia tidak akan melarikan diri darimu." Ucapan Aphrodite saat di telpon kembali terngiang di benaknya, membuat Jordan sadar apa yang harus ia lakukan.


"Baiklah, tetap tenang." Pikir Jordan seraya mengatur dirinya.


"Laura? Tidak aku sangka kita akan bertemu di sini." Jordan tersenyum simpul. Laura hanya diam dan menatapnya tak bersua, ia masih terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya. Otaknya masih berusaha keras mencerna setiap kejadian yang tengah terjadi saat ini. "Kau sedang ingin membeli suvenir juga? Dengan siapa kau kemari?" Jordan mengalihkan fokusnya pada suvenir di hadapannya dan berusaha untuk bersikap biasa. Jordan menoleh lagi pada Laura saat ia menyadari tidak ada jawaban sama sekali darinya.


Laura hendak berbalik dan pergi tapi dengan cepat Jordan menahannya dan mencengkram pergelangan tangannya.


"Lalu bagaimana kalau dia melarikan diri dariku lagi seperti saat itu? Aku harus apa?" Tanya Jordan pada Aphrodite di seberang sana.

__ADS_1


"Tahan dia dan katakan…"


"Kau tidak perlu lari, kalau kau merasa tidak nyaman… biar aku yang pergi." Jordan mengikuti setiap instruksi yang diberikan Aphrodite saat mereka telponan.


Laura berhenti seketika saat mendengar ucapan Jordan, ia menoleh ke arah pria itu. Jordan tersenyum tipis sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkannya. Laura masih diam, ia menatap Jordan yang terus melangkah hingga sosoknya hilang diantara beberapa pelanggan lain yang ada.


*


Aphrodite gelisah, ia menatap layar ponselnya berkali-kali; memastikan apakah ada pesan baru dari Jordan atau tidak. "Dia belum menghubungiku," gumam Aphrodite. Tak lama sebuah notifikasi pesan masuk pada ponselnya membuat Aphrodite spontan membukanya.


Jordan:


Aku sudah melakukan semua yang telah kau instruksikan padaku, dan kali ini dia tidak lari dariku. Tampaknya ini berhasil.


Aphrodite tersenyum simpul membaca pesan yang baru dikirimkan oleh Jordan, rencananya berhasil. "Syukurlah semua ini berjalan sesuai rencana yang telah aku buat. Sekarang aku bisa keluar." Aphrodite memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu melangkah keluar dari toilet.


*


"Kau dimana sekarang? Masih di jalan?"


"Tidak, aku sekarang sedang berada di lift. Dan kebetulan lift-nya kosong." Jordan melangkah masuk ke dalam pintu lift yang ada dihadapannya dan segera menekan tombol berangka lima di sana yang dalam segera mengantarkan dirinya menuju tempat dimana Aphrodite dan Laura berada. "Lalu apa rencana mu? Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Jordan seraya menunggu pintu lift itu kembali terbuka.


"Pertama pastikan lebih dulu kau ada di toko tempat kami berada saat ini. Setelah itu kau masuk dan cari dia, kau harus membuat ini semua seolah tidak pernah direncanakan sebelumnya."


"Oke, lalu?"


"Terus mendekat ke arahnya, sampai saat dia sadar nanti. Kau pastikan dia tidak akan lari darimu."


"Apa? Tapi… caranya?"


"Dengarkan aku dan Ingat ucapanku! Jangan buat dia lari darimu karena kau terlihat seakan-akan hendak menanyakan sesuatu padanya. Kau harus tetap tenang dan bersikap biasa, aku yakin… dia tidak akan melarikan diri darimu."


"Baiklah, aku akan mengingatnya. Lalu bagaimana kalau dia melarikan diri dariku lagi seperti saat itu? Aku harus apa?" Tanya Jordan pada Aphrodite di seberang sana.


"Apa? Setelah itu, aku harus pergi? Begitu?"


"Ng." Aphrodite mengiyakan.


"Aku tidak mengerti dengan rencana yang kau buat ini, bagaimana ini bisa berjalan lancar untuk mendekatkan aku dengannya?" Jordan tak mengerti.


"Dengar. Untuk bisa mendekatkan mu lagi dengannya, maka kau harus bergerak halus. Tidak perlu terburu-buru, yang terpenting pastikan dia tidak pergi satu kali saja saat melihatmu. Yang terpenting adalah buat Laura merasa kalau kau tidak akan terus mengejar dan mencaritahu apa yang terjadi padanya beberapa tahun yang lalu. Mengerti?"


"Iya, aku mengerti."


"Jika rencana ini berhasil, segera hubungi aku agar aku bisa cepat keluar dari dalam sini."


"Baiklah." Jordan menutup sambungan telponnya dengan Aphrodite, ia lalu keluar dari dalam lift saat pintu itu kembali terbuka.


Ingatan mengenai apa yang terjadi beberapa menit yang lalu itu kembali terulang di benaknya. Jordan terdiam, setelah selesai mengirimkan pesan pada Aphrodite, ia segera memasukkan ponselnya kembali ke dalam kantong celananya.


Ia terdiam sejenak, tak lama ia beralih fokus pada Aphrodite yang baru saja keluar dari toilet dan tengah berbincang bersama dengan Laura di sana.


Jordan kembali mengalihkan fokusnya dan mulai mencari suvenir untuk dibelinya, ia mengambil dua buah gelang indah kemudian segera membayarnya di meja kasir lalu pergi.


*


Aphrodite dan Laura melangkah keluar dari toko suvenir dan kembali melangkah menuju restoran yang di maksud Laura. Tiba di restoran yang di maksud, mereka segera memesan makanan untuk makan siang mereka. Sesekali mereka mengobrol dan membicarakan hal lucu yang membuat mereka tertawa menghiasi saat-saat menunggu mereka.


Ponselnya berbunyi membuat atensi Aphrodite beralih pada benda pipih itu. Cepat-cepat ia membuka dan membaca pesan yang baru saja masuk pada ponselnya.


Jordan:

__ADS_1


Aku membelikan sesuatu untuk Laura, bisakah kau berikan padanya? Aku akan memberikan padamu barangnya besok di kantor.


Aphrodite segera membalas pesan yang di kirimkan oleh Jordan, ia segera mengiyakan permintaannya setelah itu kembali fokus pada Laura yang tengah menceritakan kejadian lucu yang sempat dialaminya saat di dapur.


*


Jordan menghela napasnya kasar saat ia tiba di dalam mobilnya yang terpakai di tempat parkir yang ada, saat ini ia duduk di salah kursi pengemudi. Kepalanya bertengger pada stir yang ada tepat dihadapannya. "Semoga saja rencana Aphrodite ini berhasil," gumamnya pelan. Ia mengubah posisinya jadi menghadap ke arah kursi samping pengemudi, menatap tepat ke arah dimana paper bag kecil berisi suvenir yang dibelinya itu ia taruh di sana.


"Aku akan berusaha keras agar kau mau kembali denganku dan menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi selama ini."


Perhatiannya tersita saat perutnya yang keroncongan tiba-tiba berbunyi. Jordan segera melajukan mobilnya keluar dari tempat parkir dan pergi dari sana untuk mengisi perutnya.


"Aku hanya tinggal menunggu instruksi dari Aphrodite berikutnya." Jordan memonolog seraya terus mengendarai mobilnya hingga tiba di restoran tempat yang ditujunya.


*


Fransisco menghentikan mobilnya tepat di depan restoran tempat dimana Laura bekerja, ia meminta untuk mereka mengantarkannya ke restoran karena ada urusan yang harus ia selesaikan. Laura menutup pintu mobil dan berdiri sejenak di sana.


"Terima kasih untuk hari ini." Laura tersenyum senang.


"Aku juga terima kasih karena kau sudah mau menghabiskan waktu bersama denganku. Lain kali, bagaimana kalau kita pergi bersama lagi?"


"Ide yang bagus. Kalau begitu aku duluan."


"Ng. Kami juga pulang dulu."


"Apakah kalian tidak ingin mampir dulu?"


"Mungkin lain kali, aku lelah. Fransisco juga pasti lelah setelah berolahraga, ditambah lagi aku harus menyiapkan bahan untuk makan malam."


"Baiklah, kalau begitu hati-hati di jalan."


"Iya. Kami pamit."


Laura menganggukkan kepalanya. Fransisco lalu melajukan mobilnya pulang ke rumah mereka.


"Bagaimana harimu dengan Laura? Kemana saja kalian tadi?" Tanya Fransisco setelah terdiam beberapa saat. Ia menoleh sekilas pada Aphrodite di sampingnya.


"Cukup lelah karena. Kami hanya berkeliling di mall setelah itu makan siang bersama. Oh ya, omong-omong kau sudah makan siang? Kau tidak lupa makan siang karena terlalu asik berolahraga dengan asistenmu kan?" Aphrodite memastikan.


"Aku sudah makan. Asistenku yang mengingatkan."


"Syukurlah aku lega mendengarnya, setidaknya kau tidak lupa untuk makan siang."


"Iya. Malam ini kau akan masak apa?"


"Aku tidak tahu, aku masih belum memiliki rencana. Kau sendiri? Apakah ada yang kau inginkan? Biar aku memasakkannya untukmu."


"Ng… entahlah, semua makanan yang kau buat itu selalu enak. Jadi aku bingung kalau di minta untuk memilih." Fransisco tersenyum memujinya.


"Kau bisa saja, makanan yang di buat Laura justru lebih enak. Apalagi dia itu seorang chef."


"Tapi bagiku makanan yang ku buat lebih enak, karena memiliki bumbu rahasia yang tidak di miliki oleh Laura untukku."


"Apa?" Aphrodite menaikkan sebelah alisnya.


"Cinta."


Aphrodite terkekeh menanggapi ucapan Fransisco barusan. "Kau benar-benar menggelikan, ucapanmu membuatku tertawa." Tuturnya.


"Kenapa? Memang benar 'kan?" Fransisco hanya tersenyum.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan mereka terus membahas banyak hal mengenai apa yang mereka berdua lewati seharian ini, sesekali Aphrodite terkekeh saat mendengar kejadian lucu yang dialami oleh Fransisco saat dirinya tidak ada, pun Fransisco saat mendengar cerita Aphrodite.


***


__ADS_2