Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Speechless


__ADS_3

...***...


"Huft~" Aphrodite menghela napas. Ia lantas membenahi posisi berdirinya menjadi tampak lebih tegap.


"Kau pasti bisa melupakan semua itu Dite! Berhenti memikirkan sesuatu yang membuatmu terkurung dalam masalalu menyakitkan itu! Kau harus bangkit!" Aphrodite menyemangati dirinya sendiri lagi.


"Baiklah, lebih baik sekarang aku keluar dan temui Fransisco," gumam Aphrodite. Ia lantas berbalik. Berjalan dengan kedua tangan mengangkat sedikit gaun yang begitu mewah itu dan dengan langkah pelan, ia menghampiri pintu keluar di sana.


Gaun pengantin yang ia kenakan terasa cukup berat, mungkin karena desain yang di buatnya begitu megah dan penuh dengan hiasan yang membuat gaunnya tampak mewah. Hal itu membuat Aphrodite sedikit kesulitan saat berjalan. Sampai-sampai ia harus berjalan dengan sangat amat pelan.


Di sisi lain. Di luar ruang ganti. Fransisco tengah berdiri di depan cermin besar yang tersedia di sudut lain ruangan itu. Ia berdiri tegap seraya menatap dirinya sendiri sembari tersenyum bangga.


"Perfect!" Gumamnya, kemudian tersenyum pada pantulan cermin yang ada di hadapannya.


"Tuan," manajer butik itu tiba di sana membuat fokus Fransisco beralih menatap ke arahnya.


"Ah, ya? Apakah Aphrodite sudah selesai mengenakan gaun nya?" Tanya Fransisco.


"Sudah tuan. Beliau sedang ada di dalam, mungkin beliau sedikit terkejut karena gaunnya ternyata sangat cocok dengan ukuran tubuhnya. Ia bahkan tidak berhenti bercermin sejak tadi. Tapi mungkin sebentar lagi beliau akan keluar."


"Huh? Benarkah?"


"Benar. Tuan sendiri bagaimana? Apakah pakaian nya pas?"


"Pakaiannya benar-benar pas dan muat di tubuhku. Aku menyukainya. Di tambah lagi kain yang kalian pakai tidak terlalu kaku, jadi membuatku merasa lebih nyaman." Fransisco tersenyum ke arahnya.


"Ah syukurlah jika tuan suka. Oh, dan mengenai kain yang kami gunakan memang sengaja nyonya Fanny sendiri yang memilih dan memesannya. Bahkan beliau sendiri yang mengeceknya kemari untuk memastikan semuanya."


"Oh begitu rupanya."


"Iya. Kalau begitu apakah ada yang perlu saya bantu lagi?"


"Aku rasa tidak."

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi sebentar. Saya harus mengecek keadaan di depan."


"Baiklah," sahut Fransisco. Manajer itu kemudian beranjak pergi meninggalkan tempatnya saat ini, melangkah keluar dari dalam ruangan tersebut dan meninggalkan Fransisco seorang diri yang masih menunggu kehadiran Aphrodite dari dalam ruang gantinya.


Fransisco beralih pandang menatap ke arah dimana pintu ruang ganti itu berada, namun Aphrodite tak kunjung keluar dari dalam sana.


"Dimana Aphrodite? Kenapa dia belum keluar ya?" Fransisco bergumam. Memonolog dengan dirinya sendiri.


DRRTTTT... DRRTTTT...


Ponsel nya di atas meja kaca di sana berbunyi membuatnya seketika menoleh ke arah benda pipih berbentuk persegi panjang itu. Fransisco segera berjalan menghampiri meja tersebut untuk mengambil ponselnya.


Ia terdiam sesaat. Memandang layar ponselnya yang kini menunjukkan sederet nama di depan layar panggilan telponnya.


"Mama?" Gumamnya. Detik berikutnya tangannya bergerak menggeser tombol berwarna hijau di sana yang secara otomatis langsung menghubungkan sambungan telponnya dengan Fanny—mamanya.


"Halo ma?" Sapa Fransisco begitu sambungan telponnya terhubung dengan wanita yang menurut mamanya itu di seberang sana.


"Halo sayang."


"Mama dengar kau datang ke rumah Aphrodite dan mengajaknya pergi untuk mencoba pakaian pengantin kalian ya?"


"Iya. Memangnya kenapa?"


"Oh astaga. Kau ini! Kenapa kau tidak cukup pengertian? Aphrodite itu butuh istirahat, dia sudah bekerja terlalu keras beberapa hari ini karena mambantu mama menyiapkan acara pernikahan kalian. Kenapa kau malah mengajaknya mencoba pakaian pengantin kalian? Memangnya tidak ada hari esok apa?" Fanny di sebelah sana tampak kesal.


"Memangnya salah ma? Lagipula kan pernikahan kita sebentar lagi, dan kita baru sempat mencoba pakaian nya sekarang. Di tambah lagi, aku sudah tidak sabar untuk mencobanya. Aphrodite juga tampaknya tidak keberatan sama sekali. Tapi kenapa mama harus begitu kesal?"


"Ah kau ini. Mama kemarin sudah meminta Aphrodite untuk beristirahat seharian ini agar dia merasa lebih baik. Tapi kau malah mengajaknya keluar. Bagaimana kau ini! Mama kan jadi merasa tidak enak, kesannya jadi mama yang plin-plan."


"Haha. Mama tenang saja. Aphrodite tidak akan berpikiran begitu. Lagipula Tante Helen juga senang begitu mendengar jika aku akan mengajak Aphrodite mencoba pakaian pengantin nya. Bahkan Tante Helen sendiri yang menyuruh Aphrodite untuk segera bersiap begitu aku datang ke rumahnya."


CEKLEK!

__ADS_1


Pintu ruang ganti itu berbunyi. Knop nya bergerak dan secara perlahan mulai terbuka membuat fokus Fransisco yang tengah menelpon itu beralih ke arah suara yang di dengarnya.


Aphrodite melangkah perlahan keluar dari dalam ruang ganti tersebut. Menampakkan dirinya secara pelan di hadapan Fransisco yang tengah berdiri di sana.


Fransisco terpaku di tempatnya. Matanya tak lepas menatap Aphrodite yang kini berjalan menghampirinya. Tangannya yang semula mendekat kan ponsel ke telinga nya, spontan ia turunkan. Kini Fransisco bahkan tak menghiraukan Fanny yang tengah mengomelinya di seberang sana.


"Bagaimana menurut mu?" Tanya Aphrodite begitu ia tiba tepat di hadapannya dan berdiri beberapa meter dari arahnya. Aphrodite menatap Fransisco dengan raut wajah bingung, sementara itu Fransisco menatapnya dengan tatapan intens yang membuatnya merasa kurang nyaman.


Pria itu diam tak berkata-kata saat dirinya terpesona akan kecantikan seorang Aphrodite yang kini berdiri di hadapannya.


"Very perfect," gumamnya pelan seraya tak sadar. Aphrodite yang mendengarnya cukup terkejut dengan respons dari Fransisco. Pria itu bahkan nyaris tak berkedip menatapnya.


"Frans?" Aphrodite memanggilnya berusaha membuat pria itu tersadar dari lamunannya.


"A-ah ya?" Fransisco tertegun. Seketika tersadar dari lamunannya.


"Apakah menurutmu ini bagus?" Ulang Aphrodite.


"Tentu saja. Kau tampak lebih cantik saat mengenakan gaun ini. Aku bahkan sampai tak bisa berkata-kata melihat penampilan mu yang begitu mempesona," tutur Fransisco seraya tersenyum.


"Kau terlalu berlebihan. Menurutku sama saja. Hanya pakaianku saja yang berbeda," sahut Aphrodite datar.


"Tidak. Sungguh, kau benar-benar tampak cantik dengan gaun itu. Aku jadi sudah tidak sabar untuk melihatmu mengenakan gaun ini saat pernikahan kita nanti."


"Ah. Sudahlah. Karena aku sudah mencobanya dan ukurannya sangat pas, sekarang aku ganti baju ya?"


"Huh? Tunggu. Jangan ganti baju dulu, ayo kita berfoto. Akan aku tunjukkan fotonya nanti pada mama. Mama pasti akan sangat senang saat melihat mu mengenakan gaun yang di rancang sendiri olehnya."


"Oh. Baiklah, ayo."


"Ah, ya. Aku hampir lupa. Sebentar, sejak tadi aku sedang menelpon dengan mama."


"Huh? Ah kalau begitu lanjutkan saja dulu menelpon nya. Aku akan menunggu."

__ADS_1


"Kalau begitu sebentar ya," Fransisco mendekatkan kembali ponselnya ke telinga sebelah kirinya. Ia lantas menyelesaikan panggilan telepon nya dengan Fanny.


...***...


__ADS_2