Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Twins 16 - What are you thinking?


__ADS_3

"Habis mau bagaimana lagi? Aku selalu pulang malam karena banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan."


"Kalau begitu mandilah dengan air hangat agar kau bisa lebih rileks. Dengan begitu lelahmu akan meluap."


"Akan aku ingat. Bagaimana denganmu? Kenapa kau belum tidur sampai jam segini? Apakah ada hal yang sedang kau kerjakan?"


"Tidak ada. Aku hanya duduk saja. Aku tidak bisa tidur."


"Kenapa kau tidak bisa tidur? Apakah ada yang sedang kau pikirkan?"


Aphrodite terdiam mendengar pertanyaan dari Vier. Ia tidak tahu harus menjawab apa, pasalnya Aphrodite tidak ingin membuat Xavier cemas akan dirinya.


"Dite, sayang? Kau masih di sana 'kan?" Xavier memanggilnya membuat Aphrodite seketika tersadar dari lamunannya.


"Ah? Ya, aku masih di sini."


"Kenapa malah melamun? Pasti ada yang sedang kau pikirkan 'kan? Kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, cerita padaku. Jangan menghadapi semuanya sendiri, aku tidak ingin kau terbebani karena harus menghadapi setiap masalahmu sendiri. Ada aku di sini yang akan selalu mendengarkan setiap curahan hatimu. Jadi jangan pernah memendam semuanya sendiri."


Aphrodite makin terdiam. Kali ini perkataan Vier seakan menusuk tepat ke ulu hatinya. Aphrodite bodoh karena tak bisa berbicara jujur mengenai apa yang terjadi dan ia alami selama ini pada Vier. Terlebih mengenai kehamilannya yang masih ia tutupi rapat-rapat termasuk dari Vier sendiri.


Aku ingin sekali berbicara yang jujurnya padamu. Tapi aku tidak ingin menambah beban di hidupmu. Kau juga masih memiliki masalahmu sendiri, dan aku tidak ingin membuatmu semakin merasa terbebani. Aku akan menceritakan semuanya saat waktunya benar-benar tepat, batin Aphrodite.

__ADS_1



"Dite? Astaga, apakah kau sudah tidur?" Vier membuatnya tersadar dari lamunannya.


"Huh? Oh, aku belum tidur."


"Lalu kenapa kau diam saja? Kenapa kau tidak menjawab? Kau sedang apa sebenarnya sampai-sampai mengabaikan ucapanku?"


"Aku tidak sedang apa-apa."


"Sungguh? Kalau begitu tunjukkan padaku. Aku ingin melihatmu." Vier mengubah panggilan suaranya menjadi panggilan video yang dalam sekejap membuat Aphrodite dapat melihat Vier yang masih dalam keadaan bertelanjang dada.


"Sudah aku bilang aku sedang duduk." Aphrodite tersenyum simpul.


"Lalu kenapa kau diam saja? Ada yang coba kau sembunyikan dariku?"


"Tidak. Aku tidak menyembunyikan apa-apa. Omong-omong kau belum berpakaian?" Aphrodite mengalihkan pembicaraan. Berusaha menghindar dari pertanyaan Vier.


"Oh, ya. Selesai mandi, aku langsung menghubungimu."


"Kenapa kau tidak berpakaian dulu?"

__ADS_1


"Karena aku sangat merindukanmu. Saking rindunya, aku jadi tidak bisa menahan keinginan ku untuk mendengar suaramu." Vier tersenyum menggoda Aphrodite. Wajah wanita itu seketika berubah merona mendengar ucapannya.


"Kita baru saja bertemu tadi. Apa secepat itu kau merindukanku?"


"Memangnya kau tidak merindukanku?"


"Huh? Tentu saja aku merindukanmu…" Aphrodite hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Vier.


"Omong-omong kau dimana? Itu seperti bukan di kamarmu?" tanya Xavier yang menyadari Aphrodite tidak berada di dalam kamarnya.


"Aku sedang menginap di rumah Jenia."


"Begitu rupanya. Pantas saja kau tidak terlihat seperti di rumah."


"Ya, memang tidak."


"Tapi… kenapa kau menginap di rumah Jenia? Apakah jangan-jangan, kau bertengkar dengan ibumu, dan apa jangan-jangan ini yang membuatmu tidak bisa tidur?" Xavier mengira-ngira.


"Eh?"


...***...

__ADS_1


__ADS_2