
"Jangan lakukan ini! Ini adalah rumahku dan kalian tidak berhak untuk menyentuh barang-barangku sama sekali!" teriak Helen penuh emosi pada semua lelaki yang mendatangi rumahnya hanya untuk menagih utang yang keluarga mereka miliki.
Plakk!
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipinya. Tubuh lemahnya terhempas keras ke arah tanah begitu hantaman keras itu menyentuh wajahnya.
"Mama!" Erland menghampiri ibunya yang tersungkur di tanah. Ia berjongkok guna membantu Helen bangun. "Kau sudah keterlaluan! Berani sekali kau menyakiti ibuku," bentak Erland. Ia mendelik menatap penuh emosi pada lelaki yang baru saja menampar Helen.
"Dengar! Keluargamu memiliki banyak sekali utang pada tuan kami, dan apa yang kau miliki di sini, sekarang sudah beralih menjadi milik tuan kami, jadi kami berhak untuk melakukan apapun. Sekarang bayar semua utangmu!" pekik lelaki itu penuh emosi.
"Kami akan melunasi semuanya, tapi berikan kami waktu untuk mengumpulkan semua uangnya!"
"Omong kosong! Tuan kami sudah memberikan banyak kesempatan pada kalian, tapi yang kalian lakukan terus mengulur waktu dan tak kunjung melunasi semuanya. Sekarang adalah tenggat waktunya, dan kalau kalian tidak membayar semuanya sekarang juga. Kalian harus angkat kaki dari rumah ini!"
__ADS_1
Helen mengepalkan tangannya mendengar ucapan pria itu. Matanya berkaca-kaca dengan pipi merah yang masih terasa sakit, ia berusaha menguatkan diri.
Ia bangun dari posisinya, menatap tajam lelaki yang baru saja berucap.
"Ini rumahku dan kalian tidak berhak untuk merebutnya tanpa izin dariku!" Helen akan mempertahankan satu-satunya harta yang ia miliki.
"Tidak lagi! Seperti apa yang tertulis pada perjanjian, kalau kalian tidak bisa melunasi semuanya. Maka kalian harus membayarnya dengan rumah, lalu membayar sisanya! Sekarang angkat kaki dari rumah ini." Pria itu menegaskan.
"Tidak! Kalian tidak boleh melakukan itu!" Helen menahan beberapa anak buahnya dengan bantuan Erland. Tapi hempasan kuat dari mereka membuat tubuh keduanya jatuh di tanah.
Brakk!
__ADS_1
Beberapa anak buahnya yang lain segera bergerak memegangi keduanya. Erland dan Helen terus meronta berusaha membebaskan diri mereka dari cengkraman, apapun yang terjadi mereka harus menghentikan orang-orang itu mengeluarkan mereka dari rumah.
"Hentikan! Lepaskan aku! Kalian tidak bisa melakukan ini!" Tangis bercampur amarah mendominasi dirinya. Ia terus mengguncang tubuhnya berusaha melepaskan diri. Tubuhnya yang kacau, semakin berantakan saat ia terus meronta.
Para tetangga yang tinggal di dekat rumahnya hanya diam dan menonton pertunjukan drama gratis yang tersaji dihadapan mereka. Sesekali di antara mereka berbisik membicarakan Helen dan Erland, lalu beberapa diantaranya hanya menatap ke arah mereka penuh rasa iba.
Tak lama, pemandangan mereka beralih pada sebuah taksi yang baru saja tiba.
Aphrodite melangkah keluar dari dalam taksi saat melihat kegaduhan yang terjadi di rumahnya.
"Mama! Erland!" Aphrodite berlari menghampiri mereka dengan raut wajah cemas.
Atensi semua orang beralih pada wanita cantik yang baru saja keluar dari dalam taksi itu.
__ADS_1
"Dite…" Helen melepaskan dirinya, ia segera menghampiri Aphrodite yang baru saja tiba.
...***...