
...***...
Mesin mobil yang di tumpangi Fransisco dan Aphrodite tiba-tiba saja mati di tengah perjalanan. Fransisco dan Aphrodite cukup terkejut dengan hal itu.
"Kenapa?" Tanya Aphrodite pada Fransisco yang kini berusaha untuk menghidupkan kembali mesin mobilnya tapi gagal.
"Mobilnya sepertinya mogok," ujar Fransisco yang beralih mengecek tangki bensin.
"Apa? Lalu, bagaimana?"
"Aku akan coba menghubungi asistenku dan memintanya untuk kemari membawa mobilnya."
"Lalu kita bagaimana?"
"Kita pergi dengan jalan kaki saja, lagipula tempatnya sudah tidak terlalu jauh dari sini."
"Baiklah." Aphrodite melepaskan seat belt yang terpasang di tubuhnya.
"Sebelum kau keluar jangan lupa pakai ini." Fransisco menyodorkan mantel hangat miliknya, Aphrodite tersenyum kemudian mengenakannya.
Mereka berdua melangkah keluar meninggalkan mobil dan pergi menuju tempat yang mereka tuju.
Ini adalah hari Sabtu malam Minggu dan di weekend seperti ini, mereka ingin menghabiskan waktu dengan memandangi langit malam serta menikmati keindahan serta ketenangan di tepi danau yang letaknya cukup jauh dari kediaman mereka.
Tiba di sana, tempatnya begitu indah. Walaupun cukup jauh dari keramaian, tapi di sana di penuhi dengan lampu-lampu indah yang menerangi.
Danau itu terletak di dekat taman, tidak terlalu banyak orang malam itu. Hanya ada beberapa pasang kekasih yang tengah menikmati malam indah berbintang, duduk di tepi danau seraya menikmati keindahannya.
Fransisco mengambil duduk di temani yang cukup sepi agar mereka bisa lebih merasa nyaman, ia meminta Aphrodite untuk duduk di sampingnya sementara ia menghubungi asistennya lebih dulu. Tak lama ia kembali dengan membawa kabar buruk.
"Asistenku tidak bisa datang secepatnya, dia memiliki beberapa urusan penting yang membuatnya tidak bisa datang. Mungkin dia akan datang besok."
"Begitu rupanya." Aphrodite menanggapi.
"Maaf karena malam ini berjalan tidak terlalu lancar." Fransisco membelai rambut Aphrodite.
"Tidak apa-apa, semua ini terjadi di luar dugaan kita 'kan? Aku sangat mengerti."
"Ya… kau ada benarnya."
"Omong-omong sepertinya kita harus mencari penginapan atau hotel di dekat ini, karena tidak mungkin kita pulang dengan berjalan kaki apalagi mencari angkutan umum, di tambah lagi jarang sekali ada taksi yang lewat di sekitaran sini karena cukup jarang di kunjungi."
"Jadi kita akan tidur di penginapan atau hotel?"
"Iya, dan kalau tidak salah di dekat-dekat ini ada salah satu penginapan yang cukup nyaman."
"Aku ikut bagaimana baiknya saja." Aphrodite menenggerkan kepalanya di pundak Fransisco.
"Besok pagi baru kita pulang."
"Iya," sahut Aphrodite.
Keduanya terdiam untuk sesaat sebelum kemudian Fransisco memecah keheningan dan mencari topik pembicaraan. Mereka membicarakan banyak hal, mulai dari pemandangan yang indah, langit malam yang penuh di taburi bintang, sampai udara dingin malam yang begitu menusuk hingga ke tulang rusuk mereka kalau keduanya tidak mengenakan mantel hangat guna menghindari udara malam.
Setelah puas menghabiskan waktu di danau, mereka memutuskan untuk mencari penginapan. Tiba di penginapan, mereka segera beristirahat agar bisa bangun dan pulang besok pagi.
...*...
"Frans…" Aphrodite mengguncang lengan Fransisco yang tak mengenakan pakaian itu. "Frans…" Aphrodite mengguncangnya sekali lagi setelah beberapa saat tak ada respon sama sekali, dan baru kedua kalinya pria itu mulai tersadar dari tidurnya.
"Hm…" gumamnya seraya berusaha membuka kedua matanya, ia mengubah posisi tidurnya yang semula menyamping jadi terlentang. Kedua matanya bergerak terbuka secara perlahan. Ia menatap Aphrodite yang kini terduduk di tepi ranjangnya.
"Ada apa?" Tanya Fransisco seraya menguap.
"Bangun, ini sudah hampir siang. Kita harus bersiap dan pulang."
__ADS_1
"Benarkah? Jam berapa ini?" Fransisco menoleh ke arah meja nakas yang ada di sana dan mendapati jam yang tengah di carinya. Jam itu kini menunjukkan pukul delapan lebih dua puluh menit, hampir jam setengah sembilan dan dirinya baru saja bangun.
"Oh astaga. Aku tidur terlalu lelap sampai-sampai aku bangun kesiangan."
"Ayo bangun setelah itu bersiap dan kita pulang," kata Aphrodite.
"Baiklah, aku akan bangun." Fransisco beranjak dari tempat pembaringannya, melangkah menuju kamar mandi yang ada untuk bersiap-siap pulang.
Sementara Fransisco masuk ke dalam kamarnya beda halnya dengan Aphrodite yang kini mulai membereskan tempat tidur di sana setelah itu duduk di tepi ranjang untuk mengecek barang-barang dalam tasnya, memastikan tidak ada barang yang di keluarkan olehnya itu tertinggal di sana.
Perhatiannya Aphrodite tersita oleh secarik kertas yang secara tidak sengaja jatuh dari dalam sana. Aphrodite meraihnya, ia tersenyum simpul saat melihat kertas tersebut. Kertas yang tidak lain adalah kartu nama yang di dapatkan Aphrodite dari Laura saat mereka bertemu untuk yang kedua kalinya secara tidak sengaja.
Fransisco melangkah keluar dari dalam kamar mandi dengan penampilan yang lebih rapi di bandingkan sebelumnya. Pria itu melangkah menghampiri Aphrodite yang terduduk di sana.
"Aku akan menghubungi asistenku lebih dulu dan menanyakan padanya apakah dia sudah membawa mobilku atau belum, setelah itu kita pulang," ujarnya. Aphrodite mengiyakannya, Fransisco meraih ponselnya dan mulai sibuk menghubungi asistennya memastikan pria itu sudah melakukan tugasnya dengan benar atau belum.
Fransisco memutus sambungan telponnya sepihak begitu ia selesai berbicara dengan asistennya.
"Oh ya, ini sudah hampir siang dan kau pasti belum sarapan 'kan? Bagaimana kalau sebelum pulang kita cari makan dulu agar begitu tiba di rumah, kau tidak perlu repot-repot memasak." Kata Fransisco pada Aphrodite.
"Boleh, kalau begitu kita makan di sini saja." Aphrodite menunjukkan kertas di tangannya.
"Huh?" Fransisco meraih kertas itu dan memandanginya. "Ide yang bagus, tempatnya juga tidak terlalu jauh dari sini 'kan?"
"Iya. Jadi kita makan di sana, setelah itu baru kita pulang."
"Kau dapat ini darimana?"
"Beberapa waktu yang lalu aku tidak sengaja bertemu dengan orang yang sempat aku bantu, dan karena dia tidak ingin merasa tidak enak jadi dia memintaku untuk berkunjung ke restoran tempatnya bekerja kapan-kapan, dia bilang aku bisa datang dengan seseorang."
"Baiklah, kalau begitu kita ke sana." Fransisco beranjak bangun dari tempat duduknya dengan di ikuti oleh Aphrodite. Setelah selesai mengecek semua barang-barangnya dan bersiap akhirnya Fransisco dan Aphrodite melakukan check out terlebih dahulu lalu pergi ke restoran yang di maksud.
Jarak yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka menginap berada membuat mereka memutuskan untuk berjalan agar bisa tiba di sana.
Setibanya di restoran yang mereka maksud, mereka langsung masuk. Pemandangan pertama yang mereka lihat saat masuk adalah restoran nyaman dengan dapur terbuka yang membuat setiap pelanggan yang berkunjung bisa melihat secara langsung proses memasak pada koki di restoran itu. Tempatnya cukup ramai di kunjungi, bahkan hanya ada beberapa meja kosong yang tersisa saja di sana.
"Itu dia," ucap Aphrodite seraya menatap Laura yang berdiri di belakang meja dapur.
"Siapa?" Tanya Fransisco yang menatap ke arah yang di lihat Aphrodite.
"Dia orang yang aku temui dan memberikan aku ini." Aphrodite menunjukkan kertas itu lagi.
"Oh…" Fransisco menganggukkan kepalanya.
Laura di sana membungkus pesanan salah satu pelanggan yang berkunjung kemudian memberikan bungkusnya, seraya tersenyum ia menatap ke arah pelanggan yang baru saja keluar lewat pintu. Tapi begitu matanya beradu dengan sosok Aphrodite di ambang pintu berhasil membuat Laura beranjak dari tempatnya berada saat ini.
Wanita itu berjalan menghampiri Aphrodite dengan senyuman. "Hai! Senang akhirnya kau berkunjung juga." Sapanya begitu tiba di hadapan Aphrodite dan Fransisco.
"Karena aku cukup sibuk, aku jadi tidak sempat untuk berkunjung. Tapi karena aku kebetulan sedang berada di sekitar sini, jadi aku memutuskan untuk berkunjung. Omong-omong restoranmu benar-benar nyaman, dan ramai juga ternyata."
"Begitulah. Oh ya, omong-omong ini pacarmu?" Laura menoleh pada Fransisco.
"Ini Fransisco, dan Frans… ini Laura." Aphrodite memperkenalkan, keduanya saling berjabat tangan satu sama lain. "Frans ini suamiku."
"Oh begitu rupanya, kalian sudah menikah."
"Iya."
"Eh ya, silahkan duduk. Akan aku persiapkan makanan untuk kalian secepatnya. Kalian tunggu sebentar, okay." Laura beranjak pergi hendak memasakkan makanan untuk Fransisco dan Aphrodite.
"Ayo." Aphrodite meraih tangan Fransisco dan menariknya untuk duduk di salah satu meja yang berada tak jauh dari letak dimana dapur terbuka itu berada. Jaraknya kira-kira hanya terhalang oleh beberapa kursi yang di isi oleh pengunjung lain.
"Aku tidak tahu kenapa, tapi… setiap kali aku melihatnya, aku langsung ingat padamu." Fransisco menatap Aphrodite yang kini duduk di hadapannya.
"Maksudmu Laura?"
__ADS_1
"Iya. Kalian memiliki beberapa kemiripan, seperti cara bicara, gaya berpenampilan, dan sifat hangatnya juga sama sepertimu…"
"Benarkah?"
"Iya. Mungkin kau tidak menyadarinya, tapi dia benar-benar mirip denganmu."
Aphrodite terdiam memperhatikan sosok Laura, menatapnya lekat dari tempatnya berada. Kalau di pikir-pikir ia juga sempat memikirkan hal yang sama dengan yang sama yang di pikirkan oleh Fransisco, ia juga sempat berpikir kalau dirinya dan Laura memiliki beberapa kemiripan dalam cara berpenampilan, dan gaya bicaranya.
Laura berjalan menghampiri meja yang mereka tempati, menaruh semua makanan yang mereka bawa dengan nampan ke hadapan mereka lalu menghidangkannya di atas meja.
"Ini adalah hidangan terbaik di restoran ini, makanan andalan sekaligus hidangan spesial yang aku buat untuk teman baruku. Ini gratis'." Laura tersenyum, ia lalu mengambil duduk di salah satu kursi yang ada di sana guna meminta pendapat dari Aphrodite dan Fransisco.
"Cobalah, aku ingin tahu pendapatmu mengenai masakan ku," ujarnya.
"Akan aku coba." Aphrodite meraih sendoknya, mencoba makanan itu secara perlahan. Begitu pula dengan Fransisco, ia kini mulai menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya.
Aphrodite terdiam sesaat ketika lidahnya dimanjakan dengan rasa yang begitu luar biasa enaknya.
"Bagaimana?" Tanya Laura yang terdiam memandangi Aphrodite dan Fransisco bergantian.
"Ini enak sekali, benar-benar enak. Rasanya luar biasa, aku suka dengan bumbunya yang sangat pas. Lidahku seraya di manjakan oleh makanan yang kau buat ini." Aphrodite tersenyum ke arahnya, memujinya dengan kehabisan kata-kata untuk menggambarkan rasa enak yang di cicipi lidahnya.
"Benarkah? Kalian menyukainya?"
"Aku sangat menyukainya."
"Syukurlah, aku senang."
"Oh ya, kalau boleh ajarkan aku memasak makanan seperti ini kapan-kapan, boleh 'kan?"
"Tentu saja boleh, aku akan dengan senang hati mengajari kau memasak makanan ini."
"Kalau begitu aku minta nomor ponselmu. Nanti saat senggang, aku akan menelpon mu." Aphrodite menyodorkan ponselnya. Laura meraihnya dan mulai menuliskan nomor ponselnya di telpon Aphrodite setelah itu memberikannya kembali pada pemiliknya.
"Ini," ujarnya.
"Terima kasih."
"Hubungi aku kapan saja, aku akan selalu siap untuk membantumu belajar memasak."
"Oke."
"Baiklah, silahkan menikmati. Aku harus kembali bekerja, kalau senior-senior ku tahu aku malah duduk bersama pengunjung restoran… bisa-bisa dia marah."
"Iya, sekali lagi terima kasih."
"Sama-sama."
Laura beranjak bangun dari tempat duduknya dan melantunkan pergi menuju dapur untuk kembali melayani pembelian. Sepeninggalan Laura, Aphrodite dan Fransisco lalu kembali di sibukkan menikmati hidangan sarapan mereka hingga habis tak tersisa.
Setelah selesai sarapan bersama, mereka lantas pergi dari sana setelah hendak membayar tapi Laura menolaknya.
Aphrodite dan Fransisco berjalan menuju jalan raya yang lebih ramai, namun perhatian keduanya tersita ketika mereka melihat sebuah karnaval yang terletak tak jauh dari jalanan yang mereka lewati.
"Frans, bagaimana kalau kita bermain dulu?" Tanya Aphrodite begitu ia menangkap karnaval di lapangan dekat jalan raya yang di kunjungi oleh banyak sekali orang yang hendak mengisi hari Minggu mereka di sana, menghabiskan waktu bersama dengan pasangan, sahabat dan keluarga.
"Baiklah, ayo," ucapnya setuju. Fransisco menarik tangan Aphrodite masuk ke dalam karnaval itu, membayar tiket masuk dan mencoba setiap permainan yang ada di dalam sana. Mereka mulai dari menaiki komedi putar, berlanjut menaiki kincir ria, lalu berlanjut ke permainan lainnya yang tak kalah menarik di sana, mereka juga tidak lupa untuk bermain beberapa permainan kecil dan mendapatkan beberapa hadiah karena berhasil memenangkan permainan itu. Setelah menghabiskan cukup lama di sana, mereka lalu memutuskan untuk pulang, beranjak dari tempat tersebut dan pergi dengan menaiki taksi kosong yang melintas.
Tiba di rumah, Fransisco dan Aphrodite segera masuk dan merebahkan tubuhnya di sofa yang terletak di ruang tengah. Keduanya berbaring guna menghilangkan penat yang sejak tadi mereka rasakan.
"Tadi itu benar-benar menyenangkan, aku sangat senang karena berhasil memenangkan beberapa permainan setelah itu yang paling aku suka adalah ketika kita menaiki wahana kincir ria dan melihat kota dari tempat setinggi itu. Pemandangannya benar-benar luar biasa indah." Aphrodite tersenyum senang.
"Aku juga senang, apalagi saat aku berhasil membuat beberapa pengunjung di sana melongo karena aku berhasil memenangkan banyak hadiah padahal aku baru pertama kali mencobanya." Fransisco terkekeh.
"Oh ya, kau lihat bagaimana ekspresi mereka? Itu benar-benar lucu, mereka bahkan sampai tidak berkedip saking terkejutnya dengan yang kemampuanmu."
__ADS_1
...***...