Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Apple


__ADS_3

...***...


Fransisco meraih gelas minumnya dan meneguknya secara perlahan. Tak lama ia kembali melanjutkan aktivitas makan siangnya dengan di temani oleh klien dan asistennya. Mereka berempat duduk di meja yang sama di salah satu restoran yang letaknya cukup jauh dari kantor Fransisco berada.


Sesekali mereka mengobrol membahas mengenai projects yang tengah mereka garap bersama. Sementara itu sekretaris nya yang kini duduk tepat di sampingnya hanya diam tak bersua semenjak bertemu dengan sekertaris klien nya yang ternyata pernah mereka temui di salah satu restoran. Kala itu sekertaris nya tak sengaja menjatuhkan minuman tepat mengenai pakaiannya dan ia marah bukan main sampai membuat seluruh orang di dalam restoran menoleh ke arah mereka.


Sementara itu, Carla. Wanita yang menjadi sekertaris dari klien Fransisco sekaligus tunangan dari seorang Jordan CEO J Company itu kini terdiam memperhatikan sosok Fransisco secara cermat. Sementara mulutnya mengunyah makanan yang baru saja ia lahap, kedua matanya terus saja menatap intens sosok tampan yang duduk tepat di hadapannya itu. Pria itu terus fokus pada makanan yang di lahapnya tanpa peduli dengan sekelilingnya termasuk wanita yang terus memperhatikannya sejak tadi itu.


"Ternyata kalau di perhatian lebih teliti lagi, dia tampan…" pikir nya seraya terus memperhatikan nya, nyaris tak berkedip.


"Tapi kenapa saat pertama kali kita bertemu, aku tidak menyadarinya. Ya? Apakah karena waktu itu aku terlalu marah sampai-sampai aku tidak sadar dengan jelas detail wajahnya?" Batinnya.


Sekertaris Fransisco yang menyadari Carla terus mencuri pandang ke arahnya lalu mengubah air mukanya kesal, ia menatap tajam wanita itu. Tapi sialnya Carla yang di pandangnya sama sekali tak menghiraukan dirinya.


...*...


Aphrodite sejak tadi tak lepas dari bangunan yang di lihatnya. Bangunan kantor Fransisco yang berada tepat berseberangan dengan letak restoran tempatnya menikmati waktu makan siang nya bersama dengan Jordan.


Sementara Aphrodite fokus menatap ke luar jendela, beda halnya dengan Jordan yang kini fokus pada makanannya. Perhatian pria itu beralih pada Aphrodite yang tak kunjung menyuapkan makanan di hadapannya itu ke dalam mulutnya.


"Aphrodite?" Jordan memanggilnya membuat Aphrodite terseret keluar dari dalam lamunannya dan menoleh ke arahnya.


"Huh?"


Jordan meraih gelasnya dan meneguk isi minumannya hingga hanya tersisa seperempat lagi.


"Kenapa kau tidak makan? Apakah kau tidak suka dengan makanannya?"


"Oh, bukan."


"Lalu kenapa? Apakah kau sedang memikirkan sesuatu?"


"Tidak juga. Sudahlah tidak perlu di bahas, lebih baik kita makan saja," ujar Aphrodite yang kemudian memilih fokus pada makanannya.


Jordan kemudian ikut kembali fokus pada makanannya, melahap semuanya hingga habis tak tersisa.


*


"Baiklah, sekali lagi terima kasih untuk waktunya hari ini. Kalau begitu kami permisi." Fransisco menjabat tangan kliennya itu tersenyum ramah seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Ya. Kami juga sangat berterima kasih karena kalian sudah mau jauh-jauh datang kemari untuk menemui kami secara langsung, maaf sebelumnya kalau tempat yang kami pilih terlalu jauh dari kantor anda. Pekerjaan kami di sini terlalu banyak dan tidak bisa kami tinggalkan."


"Tidak apa-apa, bukan masalah."


"Kalau begitu sampai jumpai di lain kesempatan, saya harap kerja sama kita berjalan baik."


"Kami harap juga begitu," sahut Fransisco. Ia lantas beralih menjabat tangan Carla bergantian. Setelah itu beranjak pergi dari sana bersama dengan sekertaris nya hendak pulang kembali ke kantor mereka.


"Pak, wanita itu sejak tadi terus memperhatikan bapak." Adunya pada Fransisco begitu mereka melenggang menghampiri mobil dan duduk di dalam sana.


"Siapa maksudmu?"


"Siapa lagi kalau bukan sekertaris nya pak Nat yang menyebalkan itu."


"Benarkah?" Fransisco menanggapinya dengan santai, ia mengeluarkan ponselnya begitu ia sudah duduk di kursi mobil dengan tenang bersebelahan dengan sekertaris nya.


"Iya. Apakah bapak tidak menyadarinya?"


"Tidak sama sekali. Lagipula untuk apa menghiraukan dia? Jangan membuang-buang waktumu hanya untuk memperhatikan orang lain. Lebih baik fokus pada pekerjaan mu saja, okay?" Fransisco menoleh ke arahnya sejenak kemudian kembali fokus pada ponselnya hendak menghubungi Aphrodite dan menanyakan apakah dia sudah makan siang atau belum.


"Tapi dari tatapannya sepertinya dia menyukai bapak," gumam sekertaris nya itu pelan tapi perkataan nya sama sekali tak diindahkan oleh Fransisco di sampingnya. Detik berikutnya sekertaris nya itu memilih untuk meredakan emosi nya dengan fokus pada layar tablet di tangannya, hendak mengecek kembali jadwal kegiatan yang harus mereka lakukan setelah ini.

__ADS_1


...*...


"Terima kasih karena sudah bersedia makan siang bersama denganku, dan terima kasih karena kau sudah mentraktir ku. Lain kali, aku yang akan mentraktir mu makan siang," ucap Jordan begitu Aphrodite baru saja selesai membayar dan keluar bersamanya dari dalam restoran tersebut.


"Ya, bukan masalah. Sekarang kita impas. Okay?"


"Okay," jawab Jordan.


Mereka berdua kini melangkah di trotoar, berjalan di antara orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka. Langkah kakinya berhenti di lampu merah dan menunggu sejenak hingga mereka bisa menyeberang agar bisa tiba di kantor.


"Baiklah, kalau begitu kita berpisah di sini," ujar Jordan pada Aphrodite begitu mereka tiba di kantor dan menaiki lift yang mengantarkan mereka ke tempat dimana mereka bekerja. Aphrodite keluar dari dalam lift dan berdiri di sana seraya menatap ke arahnya. Ia tersenyum lantas menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Sampai jumpa lagi."


"Sampai jumpa."


Pintu lift kembali tertutup, Jordan melanjutkan perjalanan nya kembali ke ruang kerjanya yang terletak beberapa lantai di atas lantai tempat dimana Aphrodite bekerja.


Aphrodite berjalan menuju divisi nya. Ponselnya yang berbunyi membuat perhatian nya beralih. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong di rok yang di kenakan oleh-nya, mendapati nomor Fransisco yang tertera di sana menampakkan layar panggilan. Aphrodite kemudian mengangkatnya segera, dan memperlambat langkahnya seraya melirik pada jam di tangannya. Masih ada beberapa menit sebelum jam istirahat nya habis.


...*...


Aphrodite tiba di ruangannya mendapati Tina yang kini beranjak bangun dan menghampiri nya begitu sadar ia tiba di sana.


"Kau makan siang di mana?" Tanya Tina begitu ia tiba di dalam.


"Aku makan siang di luar."


"Kau makan siang bersama dengan pria kenalan mu itu?"


"Iya… begitulah. Aku lupa kalau aku memiliki utang dengannya, jadi dia memintaku untuk mentraktir nya makan siang di luar."


"Begitu rupanya…"


"Baiklah. Mungkin lain kali." Tina tersenyum ke arahnya.


Aphrodite berjalan menghampiri meja kerjanya lalu duduk di kubikel nya di ikuti oleh Tina yang ikut duduk di mejanya untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing karena jam istirahat baru saja usai.


...*...


"Kau mau kemana?" Fransisco memperhatikan Aphrodite dari atas sampai bawah, wanita yang menjadi istrinya itu kini mengenakan pakaian rapi seperti hendak pergi ke suatu tempat.


Ini hari Minggu, dan keduanya tengah menikmati waktu akhir pekan mereka dengan quality time-an bersama di rumah tanpa melakukan hal lain selain menikmati indahnya hari dari pagi-pagi mulai dari bangun sampai jam seperti saat ini.


Jam di dinding menunjukkan pukul empat sore dan mereka sejak tadi menikmati berbagai macam film yamg mereka putar di televisi. Tapi setelah beberapa saat, Aphrodite memutuskan untuk bersiap sebelum ia pergi.


"Persediaan makanan di dapur sudah habis. Aku ingin pergi ke supermarket untuk membeli persediaan baru," jawabnya.


"Kalau begitu biar aku ikut denganmu. Aku akan mengantarkan kau pergi dan aku akan membawakan semua barang belanjaan mu, oke?"


"Baiklah. Ayo pergi."


"Tunggu, aku ingin ganti baju lebih dulu setelah itu kita berangkat dengan mobil."


"Cepatlah."


"Tenang saja, aku tidak akan lama." Fransisco beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju lantai atas untuk mengganti pakaiannya sebelum mereka pergi.


...*...


Fransisco dan Aphrodite berjalan keluar dari dalam supermarket setelah hampir setengah jam lamanya mereka menghabiskan waktu untuk membeli semua hal yang mereka butuhkan. Mereka sempat mengecek ulang semua barang yang mereka butuhkan dalam daftar belanjaan yang telah Aphrodite buat. Dan setelah memastikan semuanya telah mereka dapatkan, mereka lalu keluar dari dalam supermarket untuk pulang kembali ke rumah mereka.

__ADS_1


Fransisco membawa semua barang-barang belajar mereka ke dalam mobil. Ada dua kantung plastik putih besar yang sangat berat yang di bawah oleh Fransisco dan ia taruh di jok belakang. Selesai menaruh semuanya, mereka siap untuk pulang.


"Baiklah, apakah ada hal lain yang kau butuhkan?" Tanya Fransisco pada Aphrodite yang kini masih berdiri di dekat mobilnya dan belum masuk ke dalam sana. Wanita itu masih terdiam berkutat dengan note kecil dan pulpen di tangannya, mencoret beberapa barang dari daftar belanjaan nya menyisakan hanya satu hal lagi yang belum ia dapatkan.


"Ada satu hal lagi yang ingin aku beli. Tapi sepertinya aku harus mencarinya di tempat lain."


"Apa itu?"


"Kue. Kau ingat, kue yang kita makan beberapa waktu lalu? Awalnya aku hanya iseng ingin mencobanya dan setelah tahu rasanya begitu enak, aku jadi mau lagi."


"Baiklah, kalau begitu ayo pergi dan membelinya. Di mana kau membelinya?"


"Ng… sepertinya biar aku beli sendiri saja biar lebih cepat. Tempatnya juga tidak terlalu jauh dari sini, jadi lebih baik aku pergi sendiri dan kau tunggu di sini, oke? Aku akan kembali begitu selesai membeli kue yang aku inginkan."


"Kau akan pergi sendiri?"


"Ya."


"Baiklah, aku akan menunggu. Jika itu mau mu."


"Kalau begitu jaga barang belanjaan kita dan jangan kemana-mana, aku akan segera kembali."


"Iya. Kau ini bicara seakan-akan aku ini anak kecil, haha…" Fransisco terkekeh geli menanggapi kalimat Aphrodite.


Detik berikutnya Aphrodite beranjak pergi dari sana, berjalan sebentar lalu berbelok hingga tiba di pertigaan jalan. Ia menyeberangi jalan, melewati beberapa toko yang salah satunya adalah toko buah-buahan.


Ketika tengah berjalan menyusuri toko buah-buahan segar, secara tidak sengaja ia melihat seorang perempuan sebaya nya yang tengah membantu nenek tua membantu memunguti beberapa apel yang jatuh dari tempat jualannya.


Aphrodite menghentikan langkahnya begitu salah satu apel itu menggelinding ke arahnya dan berhenti tepat di hadapannya. Aphrodite berjongkok untuk meraihnya.


Ia terdiam sejenak memandangi wanita itu yang tengah bersusah payah membantu nenek tua tersebut memunguti semua apelnya. Di antara semua orang yang lewat di sana, hanya wanita itu yang mau menolong nenek tua itu dengan sepenuh hati. Beberapa orang di sekeliling merek justru terus melangkah tanpa memperdulikan keduanya.


"Aku harus membantu mereka," gumam Aphrodite yang merasa simpati. Bergegas ia berjalan, membantu meraih semua apel di bawah sana dan membantu perempuan dan nenek tua tersebut.


Perempuan itu tertegun ketika mendapati Aphrodite juga membantunya dengan nenek tersebut.


"Terima kasih karena sudah membantu," ujar perempuan itu pada Aphrodite begitu mereka selesai memunguti semuanya dan menaruh apel-apel itu ke dalam keranjang yang di berikan oleh si nenek.


"Bukan masalah, lagipula tampaknya kalian cukup kesulitan mengambil semua apel itu hanya berdua saja." Aphrodite tersenyum simpul ke arahnya.


"Ya… orang-orang tak peduli dengan keadaan nenek yang sedang kesusahan seperti tadi. Kalau bukan aku atau kau, mungkin tidak akan ada orang lain yang peduli untuk membantunya."


Aphrodite hanya tersenyum menanggapi kalimatnya membenarkan apa yang baru saja terlontar dari bibirnya.


"Terima kasih karena kalian sudah membantu nenek." Si nenek tua berucap membuat atensi keduanya beralih pada nya yang kini tersenyum setelah mengumpulkan semua apelnya dan menaruhnya ke dalam keranjang.


"Bukan masalah, lagipula kami tidak mungkin diam saja melihat ada orang yang tengah kesusahan. Apalagi kalau orang itu adalah nenek." Sahut si perempuan itu seraya tersenyum hangat ke arahnya. Entah kenapa tapi melihat dari penampilan dan gaya bicara perempuan itu membuat Aphrodite merasa seakan tengah bercermin. Cara berpakaiannya serta gaya bicaranya benar-benar terasa mirip dengan dirinya.


"Sebagai ucapan terima kasih, nenek ingin memberikan ini untuk kalian." Si nenek bergegas bergerak mengambil dua kantong plastik dan memasukkan beberapa jenis buah-buahan yang di jualnya ke dalam sana hingga isi kantong plastik itu penuh.


"Kami tidak memerlukan ini nek, kami membantu karena kami ingin. Bukan karena berharap balasan," ujar Aphrodite yang di angguki oleh wanita cantik di sampingnya.


"Betul. Dan lagi, kalau nenek memberikan buah sebanyak ini pada kami; lalu bagaimana dengan jualan nenek?" Wanita itu menimpali.


Si nenek berubah murung, kepalanya tertunduk lesu mendengar ucapan Aphrodite dan wanita di sampingnya itu.


"Kalian juga menolaknya? Apakah karena semua buah-buahan nenek di jual di jalanan jadi kalian juga berpikir kalau buah-buahan ini tidak segar? Sepertinya memang orang-orang zaman sekarang lebih senang membeli buah-buahan di supermarket yang sudah terjamin segalanya. Tidak mungkin mau membeli buah-buahan di pinggir jalan seperti ini," gumamnya. Perkataan si nenek berhasil membuat mereka berdua merasa tidak enak karena sudah menolak.


"B-bukan seperti itu nek…" wanita itu berusaha menjelaskan.


"Kami tidak bermaksud untuk menyinggung nenek. Kami memang membantu atas dasar rasa ikhlas, dan sama sekali tidak mengharapkan balasan."

__ADS_1


"Benar. Maka dari itu kami menolaknya, nek," ujar nya menimpali.


...***...


__ADS_2