Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
After fitting wedding dress


__ADS_3

...***...


"Kau sudah selesai?" Tanya Fransisco begitu Aphrodite tiba di hadapannya dengan pakaian yang telah di gantinya.


"Iya. Kalau begitu, ayo pulang."


"Baiklah. Ayo," Fransisco beranjak bangun dari tempat duduknya. Ia lantas melangkah bersama dengan Aphrodite di sampingnya. Berjalan keluar dari dalam ruangan tersebut dan keluar, meninggalkan butik itu setelah meminta sang manajer untuk mempersiapkan semuanya dan mengirimkan pakaian pengantin mereka tepat waktu.


Tiba di luar, Fransisco dan Aphrodite segera menghampiri mobil miliknya yang telah terparkir rapi sejak awal di sana.


"Berhubung ini sudah siang, dan sudah waktunya makan siang. Bagaimana jika kita mampir ke salah satu restoran lebih dulu?" Tanya Fransisco yang melirik jam di tangannya lantas beralih menatap Aphrodite yang kini berjalan di sampingnya.


"Makan siang?"


"Iya. Bagaimana? Kita makan di restoran dekat dari sini saja."


"Baiklah, aku ikut saja."


"Oke. Kalau begitu ayo cari restoran enak di sekitar sini," Fransisco mempercepat langkah kakinya bersama dengan Aphrodite yang terus berjalan di sampingnya. Tiba di tempat parkir, Fransisco kemudian membuka kan pintu mobilnya untuk Aphrodite lalu mempersilahkannya masuk. Baru setelahnya ia masuk dan duduk di kursi pengemudi.


...*...


"Bagaimana dengan gaunnya? Apakah kau menyukai nya?" Fransisco berusaha memecah keheningan yang sejak awal menyelimuti kebersamaan mereka. Rasanya cukup ambigu saat mereka duduk bersama di atas satu meja tapi tidak ada satupun di antara mereka yang mau membuka mulut dan melontarkan kalimat berupa topik yang dapat mereka bahas untuk menemani waktu makan siang mereka.


Bahkan sejak mereka duduk, Aphrodite saja bahkan lebih memilih untuk fokus pada makanan yang di pesannya.


Aphrodite di hadapannya lantas mendongak, menatap ke arahnya sembari mengunyah makanan yang tengah di nikmati olehnya.


"Gaun nya?"


"Iya. Bagaimana menurutmu?"


"Menurutku bagus, dan cukup nyaman saat aku gunakan. Mama mu benar-benar hebat bisa tahu ukuran tubuhku, bahkan beliau bisa membuat gaun yang pas dengan tubuhku walaupun tidak mengukurnya lebih dulu."


"Sudah aku bilang, mama itu orang yang hebat."


"Ya, aku setuju," tutur Aphrodite seraya tersenyum tipis. Ia lantas memasukkan kembali makanan di sendoknya ke dalam mulut.

__ADS_1


"Oh ya, omong-omong. Bagaimana jika setelah ini kita jalan-jalan?"


"Jalan-jalan?"


"Iya. Bagaimana?"


"Tapi apakah kau tidak akan pergi bekerja? Kau kan seharusnya bekerja di kantor."


"Sudah aku bilang, semua urusan ku di kantor sudah di tangani oleh sekertaris ku. Jadi hari ini aku kosong."


"Begitu ya."


"Iya. Jadi bagaimana? Kau mau? Lagipula kita tidak pernah memiliki waktu untuk bersama, jadi bagaimana kalau kita gunakan saat-saat ini sebagai… ya, anggap saja pendekatan lebih jauh atau mungkin pacaran singkat?"


"Ng…" Aphrodite terdiam sesaat, ia tampak berpikir. Ia menaruh sendok dan garpu yang tengah di genggamnya ke atas piring di hadapannya.


"Baiklah," finalnya setelah terdiam sesaat.


Fransisco tersenyum simpul di sana. Ia sangat senang begitu mendengar ucapan dari Aphrodite.


"Iya," sahut Aphrodite yang kemudian memutuskan kembali fokus pada makanan yang tengah di nikmati olehnya.


Kedua nya lantas mulai di sibukkan dengan menikmati makanan yang telah di pesan mereka.


...*...


Waktu berlalu. Tanpa terasa sudah berjam-jam Aphrodite dan Fransisco menghabiskan waktu bersama di luar.


Selesai makan siang bersama, Fransisco mengajak Aphrodite ke beberapa tempat yang menyenangkan. Sampai tidak terasa mereka sudah menghabiskan banyak waktu bersama seharian ini.


"Bagaimana menurutmu dengan film yang kita tonton tadi?" Tanya Fransisco begitu mereka selesai menonton film di bioskop. Mereka menonton beberapa film berbeda, dan yang terakhir adalah film yang di pilih secara langsung oleh Aphrodite.


Keduanya kini melangkah keluar dari dalam bioskop. Fransisco menatap Aphrodite yang tampaknya sudah mulai merasa nyaman dengan kebersamaan mereka. Wanita itu sejak tadi tampak lebih ceria dan tak henti tersenyum.


"Bagus. Sangat bagus. Karena film tadi adalah film yang benar-benar ingin aku tonton akhir-akhir ini. Tapi karena terlalu sibuk, aku bahkan sampai tidak memiliki waktu untuk pergi ke bioskop dan menonton filmnya. Padahal beberapa hari yang lalu, Jenia menghubungi ku dan mengajakku untuk menonton film bersama dengannya."


"Benarkah?"

__ADS_1


"Iya. Tapi karena aku sibuk dengan persiapan pernikahan kita, aku jadi tidak bisa pergi dengannya."


"Tapi setidaknya kau masih bisa menontonnya kan? Bersamaku. Walaupun kau tidak pergi dengan temanmu, tapi kau sudah pergi denganku kan?"


"Iya, benar. Dan terima kasih karena sudah mengajakku menonton film yang aku inginkan."


"Tidak perlu berterima kasih, ini sudah menjadi keinginan ku sejak dulu. Membuatmu bahagia, melihatmu tersenyum, dan membuatmu senang seperti saat ini, adalah impianku sejak dulu."


Aphrodite tertegun, ia menatap Fransisco dengan raut wajah terkejut. Entah mengapa aura yang menyelimuti kebersamaan mereka terasa berbeda. Apalagi saat Fransisco menatapnya lekat seperti saat ini. Tatapan matanya benar-benar meneduhkan.


"Awalnya aku pikir itu hanya akan menjadi mimpiku saja. Tapi tidak aku sangka kalau hal itu akan benar-benar terjadi. Bahkan sebentar lagi, kau akan menjadi istriku. Rasanya seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan." Fransisco merekah kan senyumannya.


"Terima kasih karena sudah mewujudkan semua mimpiku itu, dengan kau ada di sampingku seperti saat ini. Itu benar-benar membuatku senang." Fransisco semakin merekahkan senyumnya. Ia benar-benar bahagia hari ini. Rasanya hari ini adalah hari paling bahagia dan paling istimewa dalam hidupnya, melebihi hari ulang tahunnya sendiri.


"Sama-sama. Terima kasih juga karena hari ini kau sudah membuatku merasa senang," Aphrodite balas tersenyum.


"Sudah menjadi kewajiban dariku. Oh, tampaknya kita bermain terlalu lama. Sampai-sampai tanpa sadar sudah malam."


"Huh? Benarkah?" Aphrodite melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Ah, ya. Kau benar. Ini sudah malam."


"Bagaimana kalau sebelum pulang kita makan malam lebih dulu?"


"Boleh, kebetulan aku juga lapar."


"Kalau begitu ayo pergi," Fransisco meraih pergelangan tangan Aphrodite. Menggenggam nya erat seraya tersenyum.


Aphrodite terdiam, ia terkejut saat secara tiba-tiba Fransisco menggenggam tangannya.


Ia menundukkan kepalanya menatap ke arah tangan nya yang di cengkeram oleh Fransisco.


"Ayo," ucap Fransisco lagi yang berhasil membuat Aphrodite terkejut kemudian mendongak menatap ke arahnya.


"A-ah, ya. Ayo," tuturnya terbata. Fransisco kemudian menarik tangan Aphrodite, berjalan di depan dengan sebelah tangan nya menuntun Aphrodite menuju pintu keluar di sana.


Tiba di luar, Fransisco segera berjalan menghampiri mobil nya yang sudah terparkir di lokasi parkir yang tersedia didepan sana. Mereka lantas masuk dan duduk dengan tenang di dalam mobil sampai mobilnya melaju pergi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2