Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Morning talk


__ADS_3

...***...


TOK! TOK! TOK!


Pintu itu di ketuk perlahan oleh seorang wanita berpakaian maid yang kini tengah berusaha membangunkan sosok pria yang masih terlelap di dalam ruang tidurnya.


"Tuan muda?" Wanita itu memanggilnya. Di tangannya ia memegang gagang telpon rumah tanpa kabel.


Untuk sesaat hening. Tidak ada respon apapun dari balik pintu kayu megah di hadapannya.


TOK! TOK! TOK!


Sekali lagi ia mengetuk, kali ini lebih memakai tenaganya. Ia harus segera memberikan telpon dalam genggaman tangannya itu pada pria yang menjadi anak dari atasannya.


"Tuan muda?!" Ia mengencangkan suaranya, sedikit berteriak agar dapat di dengar oleh sosok di dalam sana. "Tuan?" Lagi. Dan baru setelahnya ia mendapatkan tanggapan dari dalam sana.


"Hm…" hanya itu. Tapi dengan suara yang amat keras, tampaknya pria itu mulai lelah membiarkan dirinya terus berteriak di depan pintu kamarnya.


"Tuan muda, apakah bibi boleh masuk?" Wanita paruh baya itu bertanya hati-hati. Ia tidak ingin membuat mood pria di dalam sana hancur di pagi hari hanya karena dirinya asal bicara.


"Masuk saja," sahutnya dengan suara khas orang yang baru saja bangun tidur.


Wanita itu—Ella, lantas mendorong knop pintu di hadapannya lalu berjalan masuk ke dalam sana.


Tiba di dalam ia dapat melihat tuan muda nya yang masih tergelung di atas ranjang tidurnya dalam keadaan bertelanjang dada, menampakkan tubuh indahnya dalam balutan selimut yang hanya menutupi bagian pusarnya. Pria itu tidur dalam posisi yang benar-benar luar biasa berantakan. Sprei yang setengahnya sudah lepas dari kasur, beberapa bantal yang berjatuhan di lantai, dan selimut yang menjuntai hingga menyentuh lantai di sana.


Kamarnya masih tampak gelap, Ella sendiri belum memiliki rencana untuk membuka tirainya sebelum pria itu bangun dari tempat tidurnya. Bisa di amuk dirinya jika sudah membuka tirai kamarnya lebih dulu sebelum ia bangun, sudah hal biasa yang tidak bisa lepas dari kehidupan seorang Fransisco.


Ella berjalan pelan menghampiri Fransisco yang kini tertidur dalam posisi tengkurap, di posisinya ia memeluk satu bantal besar empuk sebagai penyangga kepalanya.


"Ada apa? Kenapa teriak-teriak?" Tanya Fransisco dengan mata yang masih terpejam.


"Ada telpon dari Bu Helen. Beliau menelpon dan menanyakan tuan muda," tutur Ella yang kemudian menyodorkan gagang telpon di tangannya. Fransisco mendongak untuk sesaat, masih berusaha untuk membuka matanya yang masih sangat amat sulit untuk di bukanya.

__ADS_1


Ia memandangi sejenak gagang telpon yang di berikan oleh Ella pada dirinya.


"Tante Helen?" Ulangnya setelah beberapa saat terdiam berusaha mencerna setiap kalimat yang baru saja di lontarkan wanita paruh baya di hadapannya itu.


"Betul."


"Tapi kenapa Tante menelpon ke rumah? Padahal dia kan memiliki nomorku."


"Oh, mengenai hal itu. Beliau bilang jika telpon tuan tidak bisa di hubungi. Nomornya tidak aktif, maka dari itu beliau menelpon ke rumah."


"Huh? Benarkah?" Fransisco beralih pandang pada ponselnya yang tergeletak para stand holder yang ada di atas meja kecil berlaci yang berada di sisi kanan ranjang tidurnya.


Ia mengulurkan tangannya untuk mengecek, dan begitu tangannya menyentuh ponselnya. Benda pipih berbentuk persegi panjang itu enggan untuk menyala.


"Oh, tampaknya aku lupa untuk mengisi daya ponselnya," gumamnya yang kemudian kembali menaruh benda itu ke tempat semula. Tangannya beralih meraih gagang telpon yang di berikan oleh Ella.


Di tempelkannya benda itu tepat di telinga kirinya. Sembari mengubah posisinya menjadi terlentang ia lantas berkata "halo?" Dengan suara serak khas baru bangun tidur.


Detik berikutnya Ella melenggang pergi dari tempatnya berada saat ini. Melangkah keluar dari dalam kamar Fransisco seraya tak lupa untuk menutup kembali pintu itu.


"Ah, akhirnya kau bisa di hubungi," di seberang sana Helen tampak merasa senang.


"Ya, ada apa Tante? Kenapa Tante menelpon?"


"Tante menelpon karena ada hal penting yang ingin Tante bicarakan padamu."


"Hal penting apa itu?"


"Apakah kau sibuk hari ini?"


"Entahlah, aku belum mengecek jadwal kegiatan ku hari ini. Memangnya kenapa Tante bertanya?"


"Begini… jika kau tidak terlalu sibuk hari ini, Tante ingin kau menyempatkan waktumu seharian ini saja."

__ADS_1


"Huh? Untuk apa?"


"Jalan-jalan dengan Aph," ujar Helen di sana yang spontan membuat Fransisco membuka kedua matanya.


"A-apa Tante?"


"Tante ingin kau mengajak Aph untuk keluar jalan-jalan. Hanya kalian berdua."


"A-aku mau. Dan aku bisa mengosongkan semua jadwalku hari ini. Tapi… apakah Aphrodite akan mau menerima ajakan ku? Di tambah lagi, memangnya Aphrodite tidak bekerja?"


"Selama tiga hari ini, Aphrodite sedang tidak dalam keadaan baik."


"Huh? Maksudnya Tan?"


"Menurut yang Tante dengar dari Jenia, sahabatnya Aphrodite. Aph di tinggal menikah oleh pacarnya, jadi selama beberapa hari ia terus murung dan tidak mau bekerja atau keluar rumah sama sekali."


"Benarkah?"


"Iya, benar. Maka dari itu Tante ingin memintamu untuk mengajaknya jalan-jalan. Buat dia merasa lebih baik dan ini bisa menjadi kesempatan mu untuk mendekati Aph, buat dia luluh padamu dan buat dia melupakan pacarnya itu."


"Aku yakin ini pasti sangat berat baginya. Tapi… tampaknya jalan denganku justru hanya akan membuatnya merasa semakin buruk, apalagi Tante tahu sendiri kan, sejak awal Aphrodite tidak suka dan tidak ingin dekat-dekat denganku. Dan jika aku mengajaknya jalan-jalan, aku takut justru malah membuat mood nya semakin buruk."


"Aih kau ini! Jangan bersikap seperti itu! Kau harus menunjukkan padanya jika tidak ada orang lain yang lebih baik, lebih menyayanginya dan lebih mencintainya di bandingkan dirimu. Kau juga harus tunjukkan padanya jika kau akan selalu ada untuk menemaninya dan menyemangatinya. Tante yakin, perlahan-lahan Aph akan bisa membuka hatinya untukmu. Kau harus tunjukkan perhatian padanya, dengan begitu Aph akan bisa menerimamu," ucap Helen di seberang sana. Fransisco terdiam untuk sesaat membenarkan ucapan Helen. Ini memang kesempatan emas yang tidak boleh ia sia-siakan untuk mendapatkan cinta dari Aphrodite seutuhnya. Dan ini juga adalah kesempatannya untuk bisa membuat Aphrodite mencintainya. Apalagi saat ini Aphrodite sudah bukan milik siapa-siapa lagi, dan ia akan dengan leluasa mendapatkan cinta dari wanita yang sejak dulu di pujanya itu.


"Frans? Halo? Apakah kau masih di sana?" Helen memanggilnya untuk memastikan jika pria itu masih disana.


"Oh ya, aku masih di sini."


"Jadi bagaimana? Kau bisa? Ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh kau sia-siakan!"


"Ya, Tante benar. Kalau begitu baiklah," ujarnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2