
...***...
Paris, Prancis
Bandara Paris—Charles de Gaulle
05:40 Pagi.
Menghabiskan sepanjang malam di dalam pesawat dengan perjalanan selama hampir delapan belas jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di bandara Charles de Gaulle Paris, Prancis pada pukul lima lebih empat puluh menit. Pesawat yang mereka tumpangi landing dengan pendaratan yang mulus hingga mereka tiba dengan selamat sampai tujuan.
Aphrodite dan Fransisco baru saja turun dari pesawat, mengurusi semua barang-barang mereka sambil beristirahat sejenak dan melenturkan tubuh mereka yang sempat kaku, karena terlalu lama duduk di pesawat dalam keadaan tertidur.
"Ini!" Tutur Fransisco seraya menyodorkan sebotol minuman di tangannya ke arah Aphrodite.
"Oh, terima kasih," ujar Aphrodite seraya meraih botol mineral itu kemudian membuka dan meneguknya.
Fransisco duduk tepat di sebelah Aphrodite yang kini tengah duduk sembari mengumpulkan seluruh kesadarannya.
"Kau pasti sangat lelah kan? Apalagi kau tidur kurang nyaman di pesawat tadi."
"Ya, begitulah…" gumam Aphrodite. Ia kemudian menutup kembali botol di tangannya.
"Badanmu pasti pegal-pegal, biar aku pijat sedikit pundak mu agar lebih nyaman."
"Tidak usah, kau juga pasti lelah."
"Tidak apa-apa."
"Sudahlah tidak perlu. Oh ya, omong-omong setelah ini kita kemana?"
"Setelah ini kita akan pergi ke mansion milik mama ku."
__ADS_1
"Mama punya mansion?"
"Iya. Dulu mama sempat tinggal di Paris sebelum menikah. Mama meniti karir pertamanya sebagai model busana salah satu desainer Paris, dan hasil kerja kerasnya itu, ia belikan mansion. Tapi semenjak menikah dengan papa, mama kembali ke Indonesia dan memutuskan untuk tinggal di sana."
"Oh, lalu mansion nya?"
"Semenjak pindah, mama mencari orang yang di percaya olehnya untuk menjaga mansion. Jadi sekarang mansion itu di jaga oleh orang yang di gaji mama."
"Begitu ya. Kau sendiri apakah pernah berkunjung sebelumnya ke mansion mama?"
"Pernah beberapa kali. Tapi itu sudah sangat lama."
"O-oh… jadi sekarang kita akan ke sana?"
"Iya, kita akan ke sana. Oh ya, aku baru ingat kalau aku harus menghubungi mama dan keluarga kita yang lain kalau kita sudah sampai di sini. Sebentar ya." Fransisco mengeluarkan ponselnya.
"Tunggu, memangnya tidak akan menganggu, telpon jam segini? Memangnya di Indonesia jam berapa?"
"Sekarang di Indonesia jam 11 siang. Jadi tidak akan menganggu. Perbedaan waktu antara Indonesia dan Prancis itu 6 jam."
"Kalau begitu aku mau menelpon mama dulu ya."
"Iya," sahut Aphrodite.
Fransisco beranjak dari tempatnya. Melangkah ke tempat yang sedikit tenang agar ia bisa mengobrol dengan nyaman bersama Fanny.
Sementara Fransisco sibuk telpon dengan Fanny, beda halnya dengan Aphrodite yang kini termenung sembari menatap ke sekelilingnya. Bandara pagi ini di hiasi oleh orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya. Sebagian ada yang baru masuk dan sebagian juga ada yang tengah melangkah menuju arah pintu keluar. Ini adalah kali pertamanya melakukan perjalanan ke luar negeri setelah sekian lamanya. Terakhir ia bepergian ke luar negeri bahkan Aphrodite tidak ingat jelasnya pada bulan atau tahun berapa.
"Oh ya, aku juga harus kabari mama dan Erland," gumam Aphrodite yang baru saja ingat kalau ia juga harus mengabari keluarganya.
Aphrodite mengeluarkan ponselnya, namun begitu benda itu ia keluarkan dari dalam tas yang di bawanya, Aphrodite baru sadar kalau ponselnya kehabisan daya dan kini dalam keadaan mati.
__ADS_1
"Seharian kemarin aku lupa mengisi daya ponselku, sekarang bagaimana aku bisa menelpon mama? Oh, nanti saja aku pinjam ponsel Frans," gumam Aphrodite yang kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia kini menatap ke arah Aphrodite yang sedang telponan dengan Fanny.
"Huft~" Aphrodite menghela napas panjang, ia benar-benar lelah hari ini. Apalagi setelah melakukan perjalanan jauh dan tidur semalaman di dalam pesawat dalam keadaan duduk membuat beberapa bagian tubuhnya terasa pegal.
Selesai menelpon, Fransisco lantas berjalan menghampiri Aphrodite yang tengah duduk menunggunya di sana.
"Aku sudah mengabari mama dan keluarga. Dan kebetulan mama Helen dan Erland juga ada di rumah, mereka kemarin menginap. Jadi kau tidak perlu cemas untuk mengabari mama," tutur Fransisco begitu ia tiba di hadapannya.
"Huh? Mama menginap?"
"Iya. Mama meminta maaf karena tidak bisa berbicara denganmu, katanya mama Helen sedang pergi ke rumah mengurusi kepindahan mereka."
"Pindah? Pindah kemana? Kenapa aku tidak tahu mengenai hal ini?"
"Untuk sementara mama Helen akan tinggal di apartemen mama Fanny dengan Erland. Mama Fanny ingin memberikan hadiah untuk keluargamu jadi mama sedang mencari rumah baru untuk mama Helen."
"A-ah… tapi kenapa mama tidak bicara lebih dulu padaku? Kenapa mama tidak mendiskusikan nya denganku lebih dulu?"
"Mama hanya tidak ingin menganggu kita. Jadi mama tidak memberitahukan nya padamu."
"Tapi aku jadi tidak enak karena terlalu banyak merepotkan keluargamu, kau sudah mengurus segala acara pernikahan kita. Membayar semuanya tanpa sepeserpun aku memberikan bantuan finansial, kau bahkan memberikan aku kalung mutiara sebagai hadiah pernikahan nya, lalu tiket Prancis, dan sekarang… rumah? Aku benar-benar merasa tidak enak. Aku bahkan merasa kalau utang ku pada keluargamu justru terasa semakin besar. Apalagi setelah pernikahan ini," gumam Aphrodite seraya menundukkan kepalanya. Aphrodite merasa sangat tidak enak dengan situasi saat ini.
Fransisco berjongkok di hadapannya. Kedua tangannya bergerak meraih tangan Aphrodite dan menggenggam nya. Kedua mata pria itu menatap lekat pada Aphrodite yang kini tertunduk.
"Dengar! Aku tidak ingin kau berkata seperti itu lagi! Itu membuatku sedih dan membuatku seakan-akan tidak menghargai dan menghormati keluargamu karena terlalu mengatur semuanya dan mempersiapkan seorang diri seakan keluarga ku tidak mempercayai keluarga mu," ujar Fransisco membuat Aphrodite mendongak perlahan menatap Fransisco yang kini memandanginya lekat. Aphrodite beradu pandang dengannya.
"Tapi aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku melakukan semua itu karena aku tidak ingin membuatmu terbebani dengan semuanya. Dan aku melakukan semua ini karena aku memang ingin membuatmu bahagia. Itu saja. Satu hal lagi! Kau tidak pernah memiliki utang apapun lagi dengan keluargaku! Jadi jangan pernah merasa kalau utang mu seakan bertambah pada keluarga ku. Kau mengerti?"
"Ta-tapi…"
"Sstttttt…" Fransisco menaruh telunjuknya di depan bibir Aphrodite, menghentikan kalimat yang baru hampir saja akan berloncatan keluar dari bibirnya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin dengar kata tapi. Yang aku ingin dengar darimu adalah kata 'iya, aku mengerti'," tuturnya. Aphrodite termangu, ia diam tak bersuara sementara kedua manik matanya kini semakin dalam memandang lekat kedua mata Fransisco.
...***...