
...***...
"Bagaimana?" Tanya Fransisco meminta pendapat atas cokelat yang di pilih olehnya.
Aphrodite terdiam, ia masih terus mengunyah cokelat dalam mulut yang semula di pilihkan oleh Fransisco untuknya.
"Enak," gumamnya seraya terus mengunyah.
"Kalau begitu tidak salah aku memilik cokelat yang ini," Fransisco tersenyum senang.
"Ya, kau benar. Setelah ini kita kemana?" Aphrodite menatapnya.
Saat ini mereka tengah berada di depan pintu masuk toko tadi. Mereka baru saja selesai membeli cokelat dan sekarang mereka akan pergi ke beberapa tempat lain.
"Kita akan berkeliling di mall ini. Ayo!" Fransisco menarik Aphrodite menuju lift di sana. Ia hendak membawanya menuju lantai berikutnya agar mereka bisa tiba di tempat yang mereka tuju.
Fransisco membawa Aphrodite menuju beberapa tempat yang tidak pernah berhenti membuat Aphrodite tertarik.
"Ini sudah hampir waktunya makan siang. Bagaimana jika kita makan dulu?" Tanya Fransisco pada Aphrodite begitu mereka baru selesai berbelanja.
Aphrodite dan Fransisco kini tengah berada di lorong dengan beberapa paper bag di tangannya. Pria itu berhenti seraya melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Jam itu sudah menunjukkan waktu untuk makan siang, dan ia tahu jika Aphrodite pasti lapar. Apalagi setelah mereka berkeliling selama berjam-jam.
"Boleh. Aku juga lapar," sahutnya.
"Baiklah. Kalau begitu ayo pergi. Aku tahu restoran yang enak di sini," Fransisco membawa Aphrodite menuju salah satu restoran favoritnya di mall tersebut.
Selama berjam-jam bersama dengan Aphrodite, tampaknya wanita itu perlahan mulai merasa terhibur dengan segala yang ia lakukan. Terlihat dari sikapnya yang saat ini mulai bisa luluh dan mulai bisa melupakan kesedihannya.
Fransisco membawa Aphrodite menuju restoran Italia. Ia membawa wanita itu masuk dan duduk di meja yang jaraknya cukup jauh dari keramaian.
Kini mereka duduk di sofa empuk dalam keadaan berhadapan, di tangan mereka. Mereka memegang masing-masing buku menu, sementara itu di tepi meja tempat mereka duduk; seorang pelayan berdiri dan menunggu makanan apa yang akan mereka pesan.
__ADS_1
Setelah memesan, sang pelayan segera beranjak pergi dari sana untuk menyiapkan makanan mereka. Dan selanjutnya mereka di sibukkan menunggu hingga pesanan mereka tiba di hadapan mereka.
"Bagaimana menurutmu jalan-jalannya?" Tanya Fransisco yang berusaha untuk memecah keheningan yang sejak tadi terus menyelimuti kebersamaan mereka.
Aphrodite yang semula sibuk memperhatikan sekeliling seketika beralih pandang pada dirinya di sana.
"Ya, cukup menyenangkan," sahutnya dengan suara yang sedikit pelan.
"Apakah kau suka?"
"Lumayan. Setidaknya aku bisa lupa dengan beberapa hal."
Fransisco tersenyum mendengarnya. Ia senang karena rencananya itu berjalan dengan mulus, dan ia senang karena Aphrodite sudah tidak terlalu ketus lagi saat berbicara dengan dirinya.
"Aku senang mendengarnya," kata Fransisco.
"Ya. Dan terima kasih karena sudah membawaku kemari, serta membelikan aku beberapa hal."
"Ya, kau memang memaksa. Tapi apa boleh buat, kau terus saja membawa-bawa nama mama dan adikku," ujar Aphrodite yang sedikit tampak kesal.
"Haha. Karena jika tidak begitu, kau tidak akan mau menerimanya," Fransisco terkekeh. Aphrodite hanya menanggapinya dengan mengedikkan bahu.
Seorang pelayan lantas datang menghampiri meja makan mereka dengan sebuah nampan berisi makanan yang mereka pesan di tangannya.
Pelayan itu menaruh semua hidangan itu ke atas meja, lantas pamit setelah menaruh semuanya dengan susunan yang rapi.
"Mari makan," ucap Fransisco yang lantas meraih sendok dan garpu yang tergeletak di sisi kiri dan kanan piringnya.
Sejurus kemudian mereka mulai di sibukkan dengan menyantap hidangan yang sudah tersedia di hadapan mereka masing-masing. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing. Hanya dentingan sendok dan garpu yang saling beradu yang terdengar di meja makan mereka.
Sampai akhirnya mereka selesai dan menaruh sendok dan garpu di tangan mereka itu ke atas piring di mejanya.
__ADS_1
"Setelah ini, bagaimana jika kita menonton film?" Tanyanya Fransisco yang kemudian meraih tisu di atas mejanya. Mengelap bibirnya yang basah sisa air minumnya.
"Film?" Beo Aphrodite seraya meneguk minumannya.
"Iya. Bagaimana? Kalau tidak salah ada film baru yang sedang banyak di perbincangkan, apakah kau mau menontonnya denganku?"
"Terserah kau saja."
"Baiklah kalau begitu kita menonton. Aku akan urus lebih dulu pembayaran nya," Fransisco memanggil pelayan di sana. Meminta bill untuk makanan yang mereka pesan lantas melakukan pembayaran sesuai dengan jumlah keseluruhan makanan yang telah mereka santap.
Selesai melakukan pembayaran, Fransisco segera mengajak Aphrodite untuk pergi dari sana. Ia membawa wanita itu untuk menonton film yang semula di maksudkan olehnya.
Sebelum menonton, Fransisco membeli dua tiket lebih dulu dan menitipkan barang bawaan mereka di loker penitipan barang.
Tidak lupa juga pria itu membeli camilan untuk mereka sementara menonton di dalam, lengkap dengan minumannya sekalian.
...*...
Helen melirik jam yang tergantung di dinding. Saat ini dirinya sedang berada di ruang televisi, menonton acara televisi kesukaannya saat siang hari.
"Tampaknya Frans berhasil membuat Aph senang. Ia bahkan tidak memberikan kabar apa-apa," gumamnya pelan seraya kembali fokus menonton acara kesukaannya.
Ia hanya seorang diri di dalam rumah, Aphrodite sudah jelas pergi bersama dengan Fransisco, sementara itu Erland. Pria itu saat ini sedang sibuk menutut ilmu di tempat yang di sebutnya sekolah.
Seperti biasa, setelah menyelesaikan semua pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga; Helen selalu menghabiskan waktu istirahatnya untuk duduk terhenyak di kursi berlengannya. Duduk sambil menonton acara kesukaannya seraya di temani secangkir teh, lengkap dengan kue yang di hidangkan di atas piring.
Wanita paruh baya itu duduk dengan bertumpang kaki.
"Ah, aku sudah duga jika ini akan berhasil membuat Aphrodite merasa lebih baik," tuturnya lagi seraya meraih cangkir teh manisnya. Ia lantas meneguk pelan isinya sedikit, lalu kembali menaruhnya di atas meja.
"Setelah ini, aku hanya perlu menyusun rencana agar Aphrodite mau menikah dengan Fransisco. Karena hanya dengan Aphrodite menyetujui akan menikah dengan Fransisco, maka utang-utang yang aku miliki akan lunas dengan sangat mudah. Di tambah lagi, karena Aphrodite saat ini sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun, maka akan lebih besar peluang agar Fransisco bisa masuk secara perlahan-lahan ke dalam hatinya. Membuatnya luluh sampai akhirnya mau menerima Frans sepenuhnya," Helen mengulum senyum membayangkan akan semua rencananya.
__ADS_1
...***...