
...***...
Jordan termenung di kursi kebesarannya di ruang kerjanya. Raganya di sana, akan tetapi pikirannya kini tengah melanglang buana mengobrak-abrik dan memporak-porandakan seluruh pikirannya. Mencari setiap kepingan ingatan dari memori yang pernah dialaminya.
Tatapan matanya sayu, ia melamun nyaris tak berkedip. Memandang kosong ke arah meja kaca yang kini ia pergunakan sebagai penyangga sebelah tangannya yang menopang dagu.
"Oh, astaga. Maafkan aku," tuturnya cepat. Aphrodite panik bukan main, bergegas ia menutup minumannya. Mengubek isi tasnya, hendak mengeluarkan tisu guna membantu pria itu. "Aku tidak, melihatmu barusan," ujar Aphrodite.
"Huh? Oh, tidak apa-apa, ini bukan salahmu. Lagipula aku juga yang salah karena membuatmu terkejut," kata Jordan.
"Sekali lagi aku minta maaf. Biar aku bantu untuk mengelapnya." Aphrodite mengelap jaket yang kini basah akibat kecerobohannya.
"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri," tolak Jordan berusaha untuk menghentikan Aphrodite.
"Biarkan aku membantumu, aku benar-benar tidak enak karena sudah membuat pakaianmu basah." Aphrodite bersikeras.
"Sungguh tidak apa-apa, lagipula ini juga salahku karena sudah mengejutkanmu."
"Ta-tapi—"
"Sudah aku bilang, biar aku saja." Jordan mencengkeram pergelangan tangan Aphrodite untuk membuatnya berhenti.
Ingatan itu kembali terlintas di benaknya. Memori pertemuan pertamanya dengan Aphrodite beberapa waktu lalu di bandara setelah kepulangannya dari perjalanan bisnisnya.
"Cara bicaranya, gaya berpakaiannya, dan penampilannya benar-benar membuatku ingat padamu…" Jordan membatin, otak dan pikirannya saat ini masih di penuhi dengan memori lama yang tiba-tiba saja berputar kembali di ingatannya, membuat bayang-bayang sosok wanita itu kembali terukir jelas di hayalnya.
"Kira-kira dimana kau berada saat ini? Bagaimana kabarmu? Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau hidup dengan layak? Aku ingin bertemu lagi dengan mu… apakah takdir akan mempertemukan kita lagi?"
__ADS_1
Jordan mengalihkan perhatiannya. Ia beranjak perlahan dari tempat duduknya, menghampiri brankas miliknya, menekan tombol guna membuka kunci brankasnya lantas meraih sebuah figura yang tergeletak di dalam sana. Ia terdiam memandangi sosok dalam gambar di tangannya, seorang wanita cantik tengah berfoto di sampingnya.
...*...
"Aku pulang," ujar Fransisco seraya mendorong pintu rumahnya ke dalam seraya melangkah masuk ke dalam rumahnya. Ia menutup pintunya lagi, atensinya beralih ketika tidak ada jawaban sama sekali dari Aphrodite yang entah berada dimana.
"Kenapa sepi sekali? Kemana Aphrodite? Apakah dia sedang beristirahat?" Fransisco memonolog, ia melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, ia pulang tepat waktu. Rasanya mustahil kalau Aphrodite sudah istirahat jam segini.
"Dite?" Fransisco beranjak menyusuri ruang tamu, berlanjut ke ruang tenang yang masih kosong hingga akhirnya perhatiannya tersita oleh aroma harum yang di ciumnya dari arah dapur.
Fransisco melangkah menghampiri dapur, tiba di ambang pintu ruang makan dirinya melihat Aphrodite yang tampak tengah asik menggelar konser solo sambil berdiri di depan kompor yang dalam keadaan menyala. Wanita itu tengah memasak sambil menyanyikan sebuah lagu.
Fransisco terkekeh pelan, ia tidak berniat untuk menyita perhatian Aphrodite dan membiarkan wanita itu melanjutkan nyanyian merdunya.
Fransisco menaruh tas kerjanya di salah satu kursi yang kosong, ia lalu berjalan perlahan menghampiri Aphrodite memeluknya dari arah belakang seraya menenggerkan kepalanya di bahu Aphrodite.
Aphrodite yang tengah asik memasak itu sontak kaget, ia nyaris berteriak tapi Fransisco lebih dulu memotong suaranya yang hampir keluar.
Aphrodite terdiam tak bersua, ia hanya tersenyum tipis sebelum kemudian menyelesaikan kegiatannya memasak. Setelah selesai, Aphrodite lalu mematikan api di kompornya.
"Aku sudah menyiapkan makan malam, lebih baik sekarang kita makan. Setelah itu akan aku siapkan air hangat untukmu berendam. Berendam dengan air hangat akan membuatmu lebih segar, air hangat juga bisa membuat lelahmu sirna." Aphrodite melirik Fransisco yang kini mendongak beradu pandang dengannya. Fransisco tersenyum simpul memandangi Aphrodite.
"Ya, baiklah."
Fransisco beranjak menghampiri kursi lantas duduk di tempat biasanya duduk. Sementara itu Aphrodite bergerak meraih piring dan memindahkan masakan yang baru saja ia selesaikan itu ke atas piring.
Aphrodite menaruhnya di atas meja, sejurus kemudian mereka berdua mulai fokus untuk makan malam bersama.
__ADS_1
...*...
"Berjanjilah kau tidak akan pernah meninggalkan ku, dan berjanjilah kau akan tetap bersamaku menghadapi semuanya. Termasuk berjuang bersama mendapatkan restu kedua orang tuaku." Jordan menggenggam kedua tangan wanita itu erat, kedua matanya menatap penuh harap pada wanita cantik yang kini tengah duduk di hadapannya. Mereka beradu pandang untuk waktu yang cukup lama.
Perlahan wanita itu tersenyum menatapnya dengan tatapan hangat yang selalu membuat Jordan merasa nyaman.
"Aku berjanji," kata wanita itu lembut. "Tapi kau juga harus berjanji, apapun yang terjadi… kau tidak akan pernah melepaskan genggaman tanganku dan akan selalu berjuang bersama hingga titik terakhir. Apapun rintangan yang menghadang kita nantinya serta apapun yang menerjang hubungan kita. Kau akan senantiasa menghadapinya sekuat tenaga."
"Aku berjanji." Jordan mencium punggung tangan wanita itu penuh kemesraan.
Ingatan mengenai wanita di foto itu kembali terlintas di benaknya membuat Jordan merasa seakan-akan kejadian yang baru saja terlintas di benaknya itu baru saja terjadi kemarin. Jordan mengusap lembut figura berisi gambar wanita itu.
"Aku merindukanmu…" gumam Jordan pelan seraya menatap gambar wanita itu lekat. Entah kenapa sejak makan siang dan sejak ia melihat sosok Aphrodite di seberang jalan, di saat itu juga harinya berubah kacau. Pikirannya jadi tiba-tiba di penuhi oleh sosok wanita yang pernah singgah di hidupnya.
"Pak?" Seorang wanita yang tak lain adalah sekertaris nya itu mengetuk pelan pintu kaca ruang kerja Jordan.
Jordan beralih fokus pada sekertaris nya yang berdiri di ambang pintu seraya menatap ke arahnya. Wanita itu melangkah seiring dengan Jordan yang menoleh ke arahnya.
"Ini sudah hampir larut malam, pekerjaan saya hari ini sudah selesai," ujarnya memberitahukan.
"Kalau begitu kau boleh pulang lebih dulu. Saya masih memiliki beberapa pekerjaan yang belum selesai. Jadi mungkin sebentar lagi saya pulang."
"Tapi… bahaya kalau anda pulang sendiri, apalagi anda pasti kelelahan. Kalau terlalu larut anda bisa mengantuk."
"Saya bisa mengatasinya, kau tenang saja."
"Kalau begitu apa perlu saya carikan supir untuk mengantarkan anda pulang?"
__ADS_1
"Tidak perlu. Terima kasih sebelumnya, tapi saya benar-benar bisa mengatasinya. Jadi kau pulang saja dan selamat beristirahat. Terima kasih untuk kerja kerasmu hari ini, sampai jumpa besok." Jordan memasukkan kembali figura ditangannya pada brankas lantas melangkah menuju meja kerjanya.
...***...