
...***...
Aphrodite membuka kedua matanya secara perlahan saat dirasanya cahaya matahari yang menembus masuk memasuki kamar tidurnya amat menyilaukan.
"Pagi," sapa pria yang kini terduduk di tepi ranjangnya seraya tersenyum manis ke arahnya. Aphrodite mengerjap kan kedua matanya beberapa kali, berusaha memperjelas pandangan matanya. Dan begitu terkejutnya ia saat menyadari ada seorang pria yang masuk dalam kamarnya.
"Kyaaa!! Apa yang kau—" pekiknya keras seraya bangun dari posisinya. Fransisco yang mendengar pekikan nya sampai terkejut.
"Tenanglah, ini aku," ujar Fransisco menenangkan. Aphrodite terdiam seketika. Otaknya baru saja mencerna semuanya dan ia baru ingat kalau statusnya bukan lagi lajang.
"Oh, maafkan aku. Aku masih belum terbiasa," gumamnya sembari menundukkan kepalanya. Menyembunyikan wajahnya yang bersemu malu dengan tingkahnya sendiri. Sebelah tangannya pura-pura memijat keningnya, sebagai alibi agar Fransisco tidak terlalu melihat wajahnya.
"Haha, tidak apa-apa. Aku mengerti ini adalah hal baru bagimu," tutur Fransisco terkekeh menanggapi Aphrodite yang tadi begitu terkejut saat di sapa olehnya.
"Ya, terima kasih kau sudah mau menger…" Aphrodite memalingkan wajahnya cepat. Ia baru sadar Fransisco sejak tadi terduduk sambil bertelanjang dada. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kau kenapa?" Fransisco menatapnya dengan raut wajah bingung.
"T-tidak, aku tidak apa-apa," sahut Aphrodite menggelengkan kepalanya pelan tanpa menoleh.
"Kenapa kau berbicara dengan menatap ke sana?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin."
"Huh?" Fransisco tak mengerti dengan perkataan wanita itu barusan.
"Omong-omong kau akan mandi?"
"Huh? Oh, aku baru saja selesai mandi dan aku ingin berganti pakaian. Tapi tiba-tiba tadi ada… tunggu." Fransisco mengerti alasannya. Ia mengulum senyum saat menyadari alasan kenapa Aphrodite memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kau memalingkan wajahmu karena kau malu?" Ujar Fransisco.
"H-huh? Tidak, haha… sudah aku bilang aku memang ingin melihat ke arah sini saja."
"Tidak usah mengelak, aku tahu pasti wajahmu sekarang sedang bersemu, kan?"
"T-tidak! Siapa bilang. Kau ini mengada-ada saja," elak Aphrodite lagi, masih membantah. Fransisco beranjak bangun. Berjalan secara perlahan menghampiri Aphrodite kemudian berdiri tepat di hadapannya.
__ADS_1
"Kalau begitu kenapa kau memalingkan wajahmu ke arah lain, dan tidak memandang ke arahku ketika aku berbicara? Kau tahu? Itu kurang sopan," ucap Fransisco. Aphrodite terkejut saat secara tiba-tiba Fransisco berdiri di hadapannya.
"Astaga, kenapa kau berdiri di sana." Aphrodite mengalihkan pandangannya ke arah lain, saat Fransisco tiba-tiba berdiri di hadapannya. Membuat tubuh pria itu yang hanya berbalutkan handuk yang menutupi pinggangnya itu terlihat dengan sangat jelas.
"Lihat aku," kata Fransisco membuat Aphrodite terkejut dengan ucapannya.
"U-untuk apa?"
"Lihat aku, lihat kemari." Fransisco memegangi kedua pundak Aphrodite, berusaha membuat wanita itu menatap ke arahnya.
"Aku tidak mau," sahutnya.
"Dengarkan aku." Fransisco memegangi wajah Aphrodite dengan kedua tangannya, memintanya untuk memandang pada dirinya. "Kau harus membiasakan diri, karena bagaimanapun sekarang kita sudah menjadi suami istri, dan kau akan melihat—"
"Sstttttt…" Aphrodite lebih dulu memotong, menempelkan jadi telunjuknya tepat di bibir Fransisco. Ia tidak ingin mendengar semua kalimat itu secara utuh, karena ia tahu kemana arah dari pembicaraan Fransisco. "Aku tidak ingin mendengar kelanjutannya," kata Aphrodite.
Fransisco mengulum senyum, ia yakin saat ini Aphrodite sedang memikirkan hal yang bukan-bukan. Tapi… ya, ia tidak ingin meluruskan pemikiran wanita itu. Biarlah Aphrodite memikirkan apa yang sekarang hinggap dalam benaknya.
"Aku akan berusaha," ujar Aphrodite lagi seraya menghela napas.
"Aku senang mendengarnya," jawab Fransisco. Aphrodite tersenyum tipis sebagai responnya. "Sekarang lebih baik kau bangun dan cuci wajahmu, setelah itu kita makan. Bertha sudah menyiapkan sarapan untuk kita."
"Oh ya, aku hampir lupa memberitahumu. Hari ini rencananya aku ingin mengajakmu pergi ke tempat-tempat lain."
"Huh? Pergi?"
"Iya. Kita akan pergi setelah sarapan."
"Tapi, aku kan harus belajar memasak dengan Bertha. Apakah tidak lebih baik kita tinggal dulu di rumah? Lagipula kita juga kan sudah banyak menghabiskan waktu jalan-jalan kemarin, apakah kau tidak lelah?"
"Selama denganmu aku tidak lelah. Tapi, memangnya kau tidak ingin pergi kemana-mana?"
"Mungkin untuk hari ini tidak, karena setelah kemarin… aku masih lelah."
"Ng… baiklah, kalau begitu bagaimana jika sorenya?"
"Sorenya?"
__ADS_1
"Iya. Kau bisa belajar memasak hingga jam tiga sore, setelah itu kita pergi. Bagaimana?"
"O-oke… aku rasa tidak masalah, asalkan kau memberikan waktu aku untuk belajar."
"Baiklah, kalau begitu jam tiga sore. Ya? Sementara menunggumu belajar, mungkin aku akan bermain golf."
"Iya. Kalau begitu sampai nanti." Aphrodite beranjak dari sana. Berjalan menghampiri kamar mandi untuk mencuci wajahnya sebelum ia turun dan sarapan bersama dengan Fransisco di ruang makan. Sementara Aphrodite mencuci wajahnya, beda halnya dengan Fransisco yang kini berjalan menghampiri lemari pakaiannya. Mencari pakaian untuk ia kenakan.
...*...
"Yummy… ini benar-benar sangat enak. Kalian benar-benar hebat dalam memasak." Puji Aphrodite pada Bertha dan timnya yang saat ini tengah berdiri di belakang meja mereka.
"Senang mendengarnya kalau anda memang menyukainya nona," sahut Bertha seraya tersenyum.
"Hari ini pokoknya kalian harus membantu aku untuk belajar memasak makanan seenak ini!"
"Baik nona," jawab Bertha lagi. Aphrodite kembali fokus pada sarapan yang tengah di nikmati olehnya. Sedangkan Fransisco sekarang hanya tersenyum memandangi Aphrodite yang tampak amat senang menikmati hidangan sarapannya yang telah di buatkan oleh Bertha.
"Sepertinya kau sangat menyukai makanan yang di buatkan Bertha," tutur Fransisco. Aphrodite mendongak menatap dirinya.
"Tentu saja, ini sangat enak. Memangnya kau tidak berpikir begitu?"
"Memang makanannya enak, tapi lidahku sudah terbiasa menikmatinya. Jadi aku merasa biasa saja."
"Ah ya… kau pasti sudah bosan menikmati makanannya kan?"
"Ng… tidak juga, hanya saja mungkin lebih masuk ke dalam kata 'terbiasa' di bandingkan 'bosan' karena keduanya memiliki makna yang berbeda."
"Ah begitu…" Aphrodite menanggapi.
"Iya. Oh, dan kau tahu? Bertha bisa memasak seenak ini karena dulu pernah belajar memasak di Italia."
"Benarkah?"
"Iya, saat itu aku masih kecil. Dan Bertha masih muda, karena dia adalah orang yang di percaya oleh mama untuk menjaga mansion ini, maka mama memberikan bantuan padanya. Membiayai semua biaya sekolah memasaknya di Italia, dan setelah lulus dia di percaya untuk menjaga mansion ini dan mengurusnya, memastikan semuanya tetap bersih dan aman."
"Begitu rupanya."
__ADS_1
"Ya, maka tidak heran setiap makanan yang di buat olehnya begitu enak di lidah dan membuat kita sangat menikmatinya."
...***...