
...***...
"Iya. Maka dari itu Aphrodite bersikap seperti ini. Aku harap Tante mengerti karena ini tidak mudah baginya, dan aku harap Tante mau memberikan dia ruang untuk menyendiri dan menjernihkan pikirannya," tutur Jenia
"Iya. Tante mengerti," kata Helen. Ia lantas terdiam untuk sesaat di sibukkan dengan pikirannya. "Ini adalah peluang yang bagus agar aku bisa memaksa Aph untuk menikah dengan Frans. Dengan begitu, aku bisa lepas dari utang-utang yang terus menghantuiku ini," batinnya.
"Tante?" Jenia memanggilnya. Membuat Helen seketika tersadar dari lamunannya.
"A-ah ya?" Helen gelagapan menatapnya.
"Apakah tidak ada lagi hal yang ingin Tante bicarakan padaku?" Tanya Jenia.
"Ya, tidak. Tante hanya ingin tahu hal itu saja."
"Kalau begitu apakah aku boleh pulang sekarang?"
"Lho, apakah kau tidak ingin bertemu dengan Aph lebih dulu?" Tanya Helen padanya.
"Sepertinya tidak perlu. Soalnya ini sudah malam dan aku sangat lelah. Aku ingin segera pulang dan beristirahat. Aku titip salam saja pada Aphrodite."
"Oh. Baiklah kalau begitu."
"Aku pamit pulang dulu Tante." Jenia lantas beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Helen seorang diri diruang tamu.
"Iya. Kalau begitu hati-hati di jalan."
"Baik Tante," Jenia bersiap untuk pergi dari sana tapi kemudian Helen menahannya.
"Oh tunggu!" Ucapannya menahan Jenia sebelum pergi semakin jauh. Jenia menoleh ke arah Helen. Menatapnya dengan raut wajah bingung.
"Ada apa lagi Tante?" Tanyanya.
"Jika Tante membutuhkan bantuan darimu lagi, apakah kau mau membantu Tante?"
"Iya. Memangnya kenapa?" Jenia tidak mengerti dengan pertanyaan dari Helen.
"Tidak. Tante hanya bertanya saja," ucap Helen. Jenia mengulum senyum.
__ADS_1
"Tante biasa telpon aku jika Tante membutuhkan bantuan apapun. Aku akan selalu membantu Tante, jika aku bisa."
"Terima kasih."
"Sama-sama Tante. Kalau begitu boleh aku pulang sekarang?"
"Oh ya. Kalau begitu biar Tante antar kau ke depan."
"Boleh," kata Jenia. Ia lantas berjalan bersama menuju arah pintu depan. Setelah berpamitan, Jenia kemudian beranjak pergi dari sana. Ia memutuskan untuk memesan taksi online untuk mengantarkan dirinya pulang kembali ke kontrakan.
Helen terdiam menatap ke arah dimana Jenia menghilang. Ia mengulum senyum, mendengar penjelasan dari Jenia. Membuat dirinya merasa jika ia memiliki kesempatan besar untuk meminta Aphrodite menikah dengan Fransisco.
"Ini bagus. Dengan adanya kejadian ini, semakin besar kesempatan ku untuk membuat Aph menyetujui perjodohannya dengan Frans. Tapi tentunya, walau pun ini tidak mudah. Aku yakin dengan bantuan Frans, maka akan mudah untuk membuat Aph luluh. Aku yakin itu," Helen membatin. Detik berikutnya ia beralih fokus. Ia melangkah masuk ke dalam rumahnya. Mengunci pintu depan agar tidak ada yang masuk.
...*...
Hari berganti. Rasanya masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Hal yang di rasakan oleh Aphrodite adalah kekosongan yang membuatnya benar-benar seakan kehilangan gairah dan tujuan hidupnya. Ia masih belum bisa sepenuhnya melepaskan Xavier. Ia masih belum bisa menghapus ingatan indahnya dengan pria yang sangat di cintai olehnya itu.
TOK! TOK! TOK!
Helen mengetuk pintu kamar Aphrodite. Hendak memintanya untuk keluar dari sarapan bersama dengan dirinya dan Erland yang kini sudah duduk menunggu dirinya keluar.
Untuk sesaat hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari seberang sana. Sampai kemudian Aphrodite menyahut saat dirinya hendak kembali ke ruang makan.
"Iya," sahutnya tidak bertenaga.
"Kalau begitu cepat keluar. Erland sudah menunggu mu di meja makan sejak tadi."
"Iya," lagi-lagi suaranya terdengar tanpa tenaga. Helen beranjak dari tempatnya saat ini. Ia lantas melangkah menuju arah ruang makan, hendak menunggu Aphrodite keluar dan menemuinya di ruang makan.
Tiba di sana, Helen segera duduk di tempat biasa ia duduk. Ia duduk berhadapan dengan Erland yang kini tengah menikmati sarapan paginya sebelum berangkat ke sekolah.
Pria itu makan dengan sangat lahap layaknya orang yang baru makan setelah tiga hari tidak makan.
"Pelan-pelan makannya!" Ujar Helen memperingatkan.
"Ng," gumamnya tanpa menoleh dan sibuk dengan makanannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Aphrodite berjalan menghampiri meja makan yang sudah ada Helen dan Erland di sana. Aphrodite duduk tepat bersebelahan dengan Erland yang masih sibuk dengan makanannya.
"Akhirnya kau datang. Ayo makan," tutur Helen padanya. Aphrodite hanya mengangguk kan kepalanya sebagai jawaban. Dengan malas dan tak bertenaga, dirinya meraih sendok dan garpu yang ada di hadapannya. Ia kemudian memakannya dengan sedikit malas. Sebenarnya ia tidak memiliki selera untuk makan, tapi bagaimana pun juga Aphrodite harus makan demi bayi dalam kandungannya.
Untuk waktu yang lama, hening. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing. Hanya dentingan sendok dan garpu yang saling beradu yang menghiasi jam sarapan pagi mereka.
TUK!
Setelah makan setelah isi piringnya, Aphrodite lantas menaruh sendok dan garpu di tangannya ke atas piring yang ada di hadapannya. Aphrodite menyambar gelas miliknya, meminum isinya untuk mendorong makanan yang tengah di telannya.
Fokus Helen dan Erland di sana lantas beralih pandang pada dirinya. "Kenapa makananmu tidak habis Aph?" Tanya Helen yang kini melihat Aphrodite menaruh gelas di tangannya ke atas meja.
"Aku tidak bernafsu untuk sarapan," sahut Aphrodite yang kemudian beranjak dari tempat duduknya di sana.
"Lho, Aph! Aph!" Helen memanggilnya tapi wanita itu tak menghiraukan panggilannya.
"Sudahlah," Erland mendelik malas. Memasukkan kembali makanan di sendoknya ke dalam mulut.
"Huft~" Helen menghela napas panjang.
"Benar-benar sulit untuk berbicara dengannya," Helen memijat keningnya pelan.
"Dia kan memang seperti itu orangnya," jawab Erland.
"Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk mendekatkan Aph dengan Frans," Helen membatin. Ia lantas meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, mencari nomor pria yang tengah di carinya lantas menekan tombol telpon di sana yang secara otomatis mengalihkan dirinya pada layar panggilan.
"Mama menelpon siapa?" Erland penasaran melirik pada Helen yang kini sibuk dengan kegiatannya.
"Aku ingin menghubungi seseorang yang aku yakin akan bisa membuat Aphrodite merasa lebih baik," sahut Helen.
"Siapa memangnya?"
"Nanti juga kau tahu," ujar Helen yang kembali di sibukkan dengan panggilan telponnya yang tak kunjung di jawab oleh pria di seberang sana.
Bunyi ‘tuuutttt…’ panjang lagi-lagi di dengarnya. Nomor pria itu tidak aktif.
"Astaga kenapa nomornya tidak aktif," Helen berusaha untuk menghubungi nya lagi. Ia tidak akan menyerah begitu saja, apalagi ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh ia sia-sia kan begitu saja. Karena bisa-bisa hilang kesempatannya.
__ADS_1
...***...