
...***...
"Sepertinya yang kau tahu, aku adalah tulang punggung bagi keluargaku. Jadi tidak heran kalau aku terbiasa dengan semua ini."
"Ya, kau memang tulang punggung bagi keluarga mu. Tapi… itu dulu, sebelum ku menikah denganku dan masih tinggal dengan kedua orang tua mu. Namun sekarang, kau sudah tidak perlu memikirkan itu semua lagi karena kau sudah menjadi istriku. Lagipula mama Helen juga 'kan sekarang tetap mendapatkan biaya dari hasil kerja kerasku. Jadi kau tidak perlu memikirkan itu semua lagi sekarang."
"Iya… tapi karena hal itu aku jadi lebih terbiasa untuk menghabiskan waktu di luar rumah, seperti untuk bekerja atau mengerjakan tugas-tugas kantorku. Makannya aku tidak betah tinggal di rumah saja." Aphrodite menyuapkan makanan yang baru saja di sendoknya.
...*...
Hari berganti. Aphrodite sudah tampak rapi dengan kemeja putih yang kini melekat di tubuhnya berpadu dengan rok pendek berwarna hitam. Ia baru saja selesai mandi dan mengenakan pakaiannya, sepatu high heels sudah terpasang di kaki jenjangnya. Dan ia kini tengah duduk di kursi yang kini menghadap ke arah cermin di meja rias yang ada di hadapannya.
Aphrodite menyisir rambutnya, mengikat rambutnya satu ke belakang. "Selesai," gumamnya seraya tersenyum memandangi dirinya lewat pantulan cermin yang ada di hadapannya.
Sementara Aphrodite sibuk berdandan di depan cermin, beda halnya dengan Fransisco yang baru saja membuka mata. Hal pertama yang menyita perhatiannya adalah sosok Aphrodite yang kini terduduk di depan cermin yang ada di meja riasnya.
Fransisco bangun, terduduk di atas ranjang yang di tempati olehnya. Ia mengucek kedua matanya perlahan berusaha memperjelas penglihatannya sebelum akhirnya ia tersenyum memandangi Aphrodite.
Fransisco bangun dari tempatnya, melangkah menghampiri Aphrodite lantas mengalungkan tangannya di tengkuk Aphrodite dari arah belakang. Aphrodite tersentak kaget mendapati Fransisco yang tiba-tiba saja berada di belakangnya.
"Kau sangat cantik pagi ini," bisik Fransisco di telinganya. Kedua matanya terpejam menikmati aroma khas dari sabun yang di kenakan oleh Aphrodite.
"Kau membuatku terkejut, Frans…" ujar Aphrodite seraya menatapnya lewat pantulan cermin.
Fransisco membuka kedua matanya, balik menatap Aphrodite lewat pantulan cermin di sana. Ia hanya tersenyum simpul memandangi nya.
"Melihat penampilan mu seperti ini, membuatku cemas kau akan di lirik pria lain…" Fransisco beralih menatap Aphrodite secara langsung.
"Walaupun benar, itu tidak akan mungkin terjadi." Aphrodite beradu pandang dengannya, tangannya terangkat menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Ia tersenyum simpul menanggapi lelucon suaminya itu.
"Aku percaya kau tidak akan tergoda pria lain walaupun ada yang lebih baik dariku." Fransisco mendaratkan sebuah kecupan di pipinya.
"Lebih baik sekarang kau mandi. Kau juga harus pergi ke kantor 'kan? Aku sudah siapkan pakaian untuk mu juga."
"Benarkah?"
"Iya, makanan juga sudah siap di bawah. Kita hanya tinggal turun dan sarapan bersama."
"Jam berapa kau bangun?"
"Ng… entah, mungkin jam lima pagi?"
"Sepagi itu?"
"Pekerjaan di rumah juga 'kan cukup banyak, jadi sebelum pergi aku harus pastikan kalau rumahnya benar-benar bersih. Setelah itu kita bisa langsung pergi."
"Wah… ternyata kau ingin menunjukkan kalau kau walaupun nanti harus bekerja, tapi kau tidak akan melupakan tugas mu sebagai istri?"
"Mungkin begitu, haha.…"
"Baiklah, kalau begitu aku akan bersiap."
"Oke. Aku akan menunggumu di lantai bawah, kita sarapan bersama setelah kau selesai bersiap."
"Iya." Fransisco berjalan menghampiri ranjang tidurnya, meraih bajunya yang tergeletak di atas sana lalu membawanya untuk ia taruh di keranjang cucian kotor. Baru berikutnya ia melangkah ke dalam kamar mandi untuk mandi dan bersiap pergi ke kantor. Hari ini adalah hari yang cukup istimewa karena ia tidak akan pergi seorang diri, melainkan bersama dengan Aphrodite yang juga hendak melakukan interview kerja di salah satu perusahaan yang letak kantornya tidak terlalu jauh dari tempat kantornya berada.
...*...
Fransisco menghentikan mesin mobilnya di depan gedung kantor J Company yang jaraknya hanya satu blok dari kantornya.
"Wah… kantornya sama besarnya seperti kantormu," ujar Aphrodite seraya menatap gedung kantor yang ada di hadapannya. Dengan kata J Company yang tertera di atas gedung dengan tulisan yang begitu besar hingga orang-orang dapat melihatnya dengan sangat jelas. J Company adalah sebuah perusahaan yang cukup terkenal, tak kalah terkenal di bandingkan dengan perusahaan milik Fransisco. Tapi kalau di bandingkan dengan perusahaan milik Fransisco, perusahaan J Company kepopulerannya berada sedikit di bawah perusahaan milik Fransisco.
"Ya, memang benar," sahut Fransisco sembari menatap ke arah bangunan yang sama yang di lihat oleh Aphrodite di sampingnya.
Bangunan besar yang tinggi menjulang di udara itu kini di hadiri oleh beberapa orang yang mengenakan pakaian dengan warna yang serupa dengan yang di kenakan oleh Aphrodite. Tampaknya mereka adalah beberapa kandidat yang sama-sama terpilih untuk menghadiri interview yang pemberitahuannya mereka kirimkan lewat email.
"Baiklah, sepertinya aku harus masuk sekarang." Aphrodite menoleh ke arah Fransisco.
"Oke, kalau begitu kita bertemu lagi nanti saat jam makan siang. Kita makan siang bersama di restoran depan kantorku."
"Iya."
Fransisco mencium Aphrodite sebelum akhirnya membiarkan dia untuk masuk ke dalam kantor yang nantinya akan menjadi tempatnya bekerja.
__ADS_1
"Sampai jumpa nanti siang." Aphrodite keluar dari dalam mobil, melambaikan tangannya seraya tersenyum ke arah pria yang kini berstatus suaminya itu.
"Sampai jumpa."
"Kalau begitu pergilah. Kau juga harus kembali ke kantor 'kan? Terima kasih karena sudah mengantarkan aku sampai ke sini."
"Aku akan pergi setelah kau masuk. Jadi masuklah lebih dulu."
"Baiklah. Aku masuk."
"Ya."
Aphrodite melangkah menghampiri pintu masuk, ia sempat berhenti sejenak lalu berbalik ke arah Fransisco yang masih terduduk di kursi pengemudi mobilnya. Ia melambaikan tangannya, sejurus berikutnya Aphrodite melangkah masuk. Menghilang di balik pintu bersamaan dengan beberapa calon pegawai lainnya.
Sepeninggalan Aphrodite, Fransisco baru beranjak pergi meninggalkan tempatnya saat ini. Mengendari mobilnya kembali ke kantornya untuk bekerja.
"Semoga kau di terima," gumam Fransisco pelan sembari terus memperhatikan jalanan yang di lalui nya.
...*...
Aphrodite berjalan bersama dengan para pelamar lain yang kini mengenakan pakaian dengan warna serupa dengannya.
Aphrodite mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sepanjang perjalanan ia tak luput memperhatikan setiap detailnya dari isi dalam gedung kantor nya.
"Kantornya cukup nyaman ternyata," gumam Aphrodite seraya terus berjalan. Saat tengah sibuk mengagumi sekeliling, tanpa sadar seseorang dari arah belakang menabraknya nyaris membuat Aphrodite tersungkur jatuh menabrak beberapa temannya yang lain. Beruntung ia mampu menahan tubuhnya.
Aphrodite menoleh ke arah sosok yang baru saja menabraknya. Di belakang sana ia mendapati seorang wanita dengan kacamata bulat menyangga hidungnya. Ia tersungkur di bawah dalam keadaan tengkurap. Beberapa orang yang lain membiarkannya, seolah tak melihat. Beberapa ada juga yang terkekeh menertawakannya.
Wanita itu hanya bisa tertunduk, kedua tangannya terkepal dan matanya berkaca-kaca nyaris menangis.
Aphrodite yang melihat itu lantas beranjak menghampiri dirinya, berjongkok hendak membantunya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Aphrodite seraya menatapnya. Wanita itu mendongak, beradu pandangan dengan dirinya yang kini berjongkok di hadapannya.
"Ayo aku bantu…" Aphrodite meraih tangan wanita itu dan membantunya berdiri.
"Te-terima kasih…" gumamnya terbata.
"T-tidak, aku tidak apa-apa."
"Syukurlah. Baiklah ayo pergi." Aphrodite menuntun tangannya melangkah bersama dengannya pergi ke tempat yang di tunjukkan oleh beberapa orang yang bertugas di sana.
Tiba di sana, mereka di minta menunggu giliran masing-masing untuk melakukan interview yang terbagi menjadi beberapa sesi dengan jumlah per sesi beberapa orang bersamaan.
Ketika tengah menunggu, mereka tiba-tiba saja di minta untuk berkumpul terpisah sesuai dengan nama yang di panggil oleh beberapa orang yang berdiri di sana. Aphrodite berkumpul bersama dengan perempuan yang tadi jatuh dan menabraknya dari arah belakang. Wanita berkacamata itu tampak gugup bukan main.
"Kau tampak gugup," ujar Aphrodite seraya menoleh ke arah wanita di sampingnya itu.
"H-huh? Oh… ya, aku benar-benar takut tidak di lulus seleksi," gumamnya terbata. Aphrodite dapat melihat dengan jelas perempuan itu gemetar.
"Kau tenang saja. Jangan terlalu di pikirkan, yang terpenting kau harus memberikan yang terbaik untuk interview kali ini. Maka apapun hasilnya nanti kau tidak akan kecewa, dan lagi jangan berpikiran negatif. Kau harus percaya kalau kau akan di terima." Aphrodite berusaha menghiburnya. Perempuan itu terdiam memandangi Aphrodite yang kini memandanginya, ia tak bisa berkata-kata setelah mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari mulutnya.
"Te-terima kasih karena sudah menghiburku," tuturnya seraya tersenyum tipis.
"Bukan masalah. Omong-omong kita belum berkenalan, namaku Aphrodite." Aphrodite menyodorkan tangannya ke arah wanita di sampingnya itu.
"Namaku Tina," ujarnya menjabat tangan Aphrodite.
"Apakah ini adalah kali pertamamu mengikuti interview kerja? Kau tampak sangat gugup."
"Ya… ini adalah yang pertama kalinya. Maka dari itu aku sangat gugup."
"Begitu rupanya."
"Lalu, bagaimana denganmu? Apakah ini yang pertama?"
"Tidak. Aku sudah pernah bekerja sebelumnya."
"Oh… seperti itu."
"Semoga kita bisa di terima dan di tempatkan di divisi yang sama, dengan begitu kita bisa berteman."
"Aku harap juga begitu…"
__ADS_1
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya giliran mereka tiba juga. Aphrodite dan Tina mendapatkan giliran sesi yang bersamaan. Mereka berdua bersama dengan beberapa orang lain melangkah masuk ke dalam ruangan, duduk di kursi kosong yang tersedia di sana. Duduk berhadapan dengan beberapa orang lain yang nantinya akan memberikan beberapa pertanyaan pada mereka.
Aphrodite tertegun begitu mendapati sosok Jordan yang kini terduduk di tengah-tengah di antara beberapa orang lain.
"Silahkan duduk, dan mari kita mulai," ujar salah satu wanita yang terduduk di ujung. Mereka semua lalu duduk, dan mulai melakukan interview nya. Aphrodite dan Jordan sempat beradu pandang serta saling melemparkan senyuman ke arah masing-masing.
...*...
Fransisco meregangkan tubuhnya sejenak berusaha menghilangkan rasa pegal yang kini menyelimuti dirinya. Pria yang kini tengah sibuk dengan layar komputer di hadapannya itu lalu beralih pandang, menatap jam yang kini melingkar di pergelangan tangannya.
"Ini sudah hampir waktunya makan siang, tapi kenapa dia belum kemari ya? Apakah interview nya masih belum selesai?" Gumam Fransisco.
"Aku penasaran apa hasilnya nanti. Walaupun aku yakin Aphrodite pasti berhasil dan di terima untuk bekerja di sana."
"Frans…" panggil Aphrodite dari arah pintu masuk.
Atensi Fransisco beralih ke arah pintu masuk ruangannya. Aphrodite tiba di dalam ruangannya, berjalan menghampiri Fransisco yang kini terduduk di meja kerjanya.
Pria itu beranjak bangun menghampiri Aphrodite, Fransisco merekah kan senyumannya.
"Kau sudah selesai?" Tanyanya. Fransisco menuntun Aphrodite memintanya untuk duduk di sofa yang terdapat di sana.
"Ya, aku baru saja selesai." Aphrodite duduk di samping Fransisco.
"Lalu bagaimana hasilnya? Apakah kau di terima?" Fransisco menatapnya dengan raut wajah penasaran.
"Ya, aku di terima." Aphrodite tersenyum senang.
"Sungguh?"
"Ng. Sungguh." Aphrodite mengangguk.
"Aku senang sekali mendengarnya. Terus kapan kau mulai bekerja?"
"Mulai Minggu depan."
"Wah, itu bagus. Kalau begitu bagaimana kalau sekarang kita keluar untuk makan siang bersama, merayakan di terimanya kau bekerja. Bagaimana?"
"Oke, ayo. Kau juga pasti sudah lapar, kan? Apalagi ini sudah waktunya istirahat makan siang dan kau sepertinya menunggu aku datang kemari untuk memberikan kabar padamu."
"Ya, tentu saja aku menunggumu. Karena aku ingin siang bersamamu."
"Kalau begitu ayo pergi."
"Ayo." Fransisco beranjak bangun dari tempat duduknya bersama dengan Aphrodite. Mereka berdua lantas melangkah keluar kantor bersama, berjalan turun hingga tiba di lantai dasar dan keluar lewat pintu kaca yang tersedia di sana.
Mereka melangkah bersama, menyeberangi jalan untuk bisa tiba di salah satu restoran yang ada di seberang kantor Fransisco.
Aphrodite dan Fransisco memilih salah satu meja yang terletak di sudut ruangan.
"Baiklah, kau ingin pesan apa?" Fransisco meraih buku menu yang ada di hadapannya, melihat satu persatu hidangan yang ada di dalam menu tersebut.
Aphrodite pun di sibukkan mencari hidangan yang hendak di santapnya. Setelah menemukan hidangan yang ia inginkan mereka lantas memanggil pelayan dan memesan. Sejurus berikutnya mereka di sibukkan menunggu hidangan makan siang mereka untuk tiba di meja yang mereka tempati.
"Setelah ini apakah kau akan langsung pulang?" Tanya Fransisco pada Aphrodite yang kini terduduk di kursi yang ada di hadapannya.
"Ya, aku lelah. Jadi aku akan langsung pulang dan beristirahat."
"Kau memang harus istirahat, apalagi kau pasti lelah setelah melakukan interview hari ini."
"Begitulah," sahut Aphrodite. Tak lama pelayan kembali tiba di hadapan mereka dengan nampan berisi hidangan yang telah mereka pesan di tangannya. Pelayan tersebut menaruh hidangan yang mereka pesan di atas meja. Selesai menghidangkan semuanya, ia lantas kembali untuk melakukan pekerjaannya yang lain.
"Omong-omong bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini?"
"Masih menumpuk. Tapi aku bisa mengatasi semuanya, setelah ini aku memiliki beberapa meeting yang harus aku hadiri."
"Benarkah? Tapi kau tidak lupa memakan vitaminmu 'kan? Jangan sampai kau sakit hanya karena terlalu keras bekerja."
"Ya, aku tidak lupa. Kau tenang saja." Fransisco tersenyum.
"Syukurlah. Pokoknya sesibuk apapun kau, jangan lupa vitaminnya!"
...***...
__ADS_1