
...***...
Aphrodite merebahkan tubuhnya di atas sofa di ruang tengah, menghadap ke arah televisi yang kini dalam keadaan menyala. Bosan. Itulah yang saat ini ia rasakan, tidak ada hal lain yang dapat ia lakukan setelah menyelesaikan semua tugasnya di rumah. Ingin pergi keluar tapi tidak memiliki tujuan dan teman untuk diajaknya mengobrol, di tambah lagi Helen—mamanya saat ini sedang sibuk menikmati liburan keluar kota dengan Erland, sementara Fanny sekarang sudah mulai kembali sibuk dengan urusannya, walaupun masih di Indonesia tapi ia tidak ingin mengganggunya.
Aphrodite menengadahkan kepalanya, sungguh ia bosan bukan main apalagi rumahnya kini hanya di huni oleh dirinya sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Gumamnya pelan sembari memandangi langit-langit ruang tengahnya. Fokus Aphrodite beralih pada jam di dinding, ia mengubah posisi duduknya agar bisa lebih jelas mengecek pukul berapa sekarang ini.
"Oh astaga, ternyata sudah hampir waktunya makan siang. Kalau begitu aku harus siap-siap untuk memasak, setelah itu secepatnya pergi ke kantor Frans untuk mengirimkan makan siangnya. Dia pasti menunggu aku datang," tuturnya menolong. Aphrodite bergegas bangun dari tempat duduknya, melangkah menuju ruang dapur untuk menyiapkan makan siang untuk Fransisco sesuai permintaannya.
...*...
Detak jam dinding mendominasi di seluruh ruangan yang ditempatinya. Tidak ada suara lain yang terdengar kecuali suara keyboard yang sesekali di ketik dan suara yang amat pelan dari jam yang berdetak setiap detiknya.
Jordan, walaupun baru saja pulang dari luar negeri bukan hambatan baginya untuk kembali fokus pada pekerjaan kantornya. Pria itu bahkan seperti robot yang nyaris tak kenal lelah dalam bekerja. Baru juga ia kembali dari luar negeri dan pulang dengan di sambut segunung pekerjaan dan dokumen yang harus ia cek, tapi dalam waktu kurang dari dua Minggu, ia sudah bisa menangani semuanya secara bersamaan dan menyelesaikannya tepat waktu.
TOK! TOK! TOK!
Pintu ruang kerjanya di ketuk perlahan oleh wanita yang menjadi sekertaris nya itu. Jordan beralih pandang dari komputernya pada wanita yang kini berdiri di depan pintu ruangannya. Wanita itu mendorong pintu ruangannya perlahan lantas melangkah masuk dengan sebuah dokumen di tangannya.
"Ini dokumen yang tadi bapak minta," ujar wanita itu yang kemudian menyodorkan dokumen di tangannya tepat di hadapan Jordan.
"Ya, terima kasih." Jordan membuka dokumen tersebut.
"Kalau begitu saya permisi." Ia berbalik siap untuk melangkah pergi dari ruangan Jordan.
"Oh, ya. Tunggu."
"Hm? Ada lagi yang bisa saya bantu pak?" Ia berbalik menatap Jordan yang kini memandang ke arahnya.
"Aku hanya ingin tanya mengenai persiapan meeting siang ini, bagaimana? Apakah kau sudah memilih tempatnya?"
__ADS_1
"Meeting? Oh… barangkali bapak lupa kalau meeting hari ini di cancel dan meeting-nya di re-schedule jadi besok."
"Benarkah?"
"Betul. Jadi hari ini tidak ada jadwal meeting."
"Begitu ya. Kalau begitu terima kasih sudah mengingatkan ku."
"Bukan masalah pak. Lalu apakah ada hal lain yang bapak butuhkan?"
"Tidak."
"Kalau begitu saya bisa pergi sekarang?"
"Ya. Silahkan."
"Baik. Saya permisi."
"Akhir-akhir karena terlalu fokus pada pekerjaanku, aku jadi melupakan beberapa hal." Jordan memijat pelan pelipisnya, ia lantas berusaha untuk kembali fokus pada pekerjaannya tapi tidak bisa, apalagi kepalanya sudah mulai terasa pening akibat banyaknya pekerjaan yang menumpuk dan menunggu untuk ia selesaikan.
Atensinya beralih pada jam tangannya. "Sudah waktunya makan siang," gumamnya pelan begitu mendapati jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan waktunya istirahat makan siang.
"Sepertinya lebih baik aku makan siang dulu, baru setelah itu lanjut kembali bekerja. Aku tidak mungkin bisa bekerja dalam keadaan kepalaku pusing seperti saat ini." Jordan menutup dokumen yang baru di terimanya dari sekretarisnya, menaruh benda itu ke sisi lain meja kerjanya dan menumpuknya bersama dengan beberapa dokumen lain. Setelah selesai, Jordan lalu memutuskan untuk pergi keluar guna menghibur diri dan meredakan sedikit stres dan tegang akibat pekerjaan kantornya yang menumpuk.
Jordan memutuskan makan diluar kantor, ia hendak makan di salah satu restoran yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat dimana kantornya berada. Dengan sedikit berjalan kaki, akhirnya ia tiba di lampu merah. Menunggu sebentar agar dirinya bisa menyeberang dan sampai di restoran yang ditujunya.
...*...
Aphrodite menghentikan taksi yang ditumpanginya tepat di depan kantor Fransisco. Setelah membayar ongkos taksi dengan beberapa lembar uang, ia lalu beranjak masuk untuk menemui Fransisco.
"Ini adalah pertama kalinya aku datang kemari, tidak aku sangka ternyata kantornya cukup nyaman," gumamnya pelan seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Bunyi ‘ting!’ di dengarnya begitu lift yang ditumpanginya itu tiba di lantai yang ditujunya.
__ADS_1
Aphrodite melangkah keluar dari dalam lift, berpapasan dengan beberapa karyawan yang dalam seketika beralih fokus pada dirinya yang tiba dengan pakaian non-formal. Beberapa di antara mereka berbisik membicarakan dirinya, tapi bagi Aphrodite itu wajar dan bukan hal yang aneh.
Ia menghentikan langkah kakinya begitu tiba di tempat yang ditujunya.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang wanita yang tampaknya adalah sekertaris Fransisco bertanya padanya.
"Saya kemari ingin bertemu dengan pak Fransisco, apakah beliau ada?" Tanya Aphrodite formal.
"Saat ini beliau sedang sibuk dan tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan siapapun karena sebentar lagi beliau ada meeting yang harus di hadiri, kalau boleh tahu ada keperluan apa ya?"
"Oh… begitu rupanya. Kalau begitu saya titip ini saja. Tolong berikan padanya." Aphrodite menyodorkan tas berisi makan siang ditangannya pada wanita itu.
"Baiklah."
"Terima kasih. Kalau begitu saya pamit pergi dulu." Aphrodite beranjak pergi dari sana.
Wanita itu diam termangu di tempatnya menatap kepergian aphrodite yang kini terus melangkah hingga sosoknya hilang di belokan koridor.
"Yang barusan itu siapa, ya? Dan apa hubungannya dengan pak direktur?" Wanita itu bergumam pelan, ia mengerutkan alisnya bingung.
Sementara itu, Aphrodite terus melangkah hingga tiba di depan pintu lift dan bertemu dengan seorang pria berjas rapih yang keluar dari dalam lift.
"Kau…" Aphrodite menunjuk pria yang baru saja keluar itu. Ia tahu dia, mereka pernah bertemu sebelumnya walau hanya sekali tapi Aphrodite dapat dengan jelas mengingat wajahnya. Pria itu sedikit membungkuk memberikan hormat ke arahnya. "Kalau tidak salah kita pernah bertemu sebelumnya 'kan?" Tanya Aphrodite memastikan.
"Benar. Saya adalah asisten pribadi tuan Fransisco."
"Oh…"
"Omong-omong apakah anda akan pulang? Perlu saya antar?"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
__ADS_1
...***...