
...***...
"Ini." Jordan menyodorkan segelas teh hangat pada Aphrodite yang kini terduduk di salah satu bangku kosong yang ada di kafetaria kantornya.
"Huh? Kenapa kau mengajakku kemari? Ini masih jam kerja, Jordan. Kalau atasan kita tahu. Bisa-bisa beliau marah, dan kita bisa di pecat." Aphrodite panik.
Jordan tersenyum mendengar ucapan Aphrodite. "Kau tidak perlu cemas, lagipula beliau tidak ada di sini 'kan? Jadi kita aman."
"Tapi tetap saja! Kalau beliau melihat kita, bisa-bisa kita terkena masalah. Aku tidak ingin di pecat apalagi aku baru bekerja beberapa Minggu di sini."
"Lebih baik sekarang kau minum dan tenangkan dirimu. Semuanya akan baik-baik saja, beliau tidak akan memecat pegawainya. Beliau itu adalah pemimpin yang baik hati dan ramah."
"Huh, benarkah?" Aphrodite menaikkan sebelah alisnya.
"Iya."
"Darimana kau tahu? Kau pernah bertemu dengan beliau?"
"Sering. Setiap hari aku bertemu dengannya dimana-mana. Jadi aku sudah tahu betul bagaimana sifatnya, kau tidak usah cemas."
"Setiap hari? Jadi… kau ini bekerja sebagai siapa nya? Sekertaris? Asisten nya? Atau…?" Aphrodite menatapnya dengan raut wajah penasaran.
"Haha… kau ini banyak sekali bertanya. Sudahlah lebih baik kau minum, teh manis hangat akan membuatmu lebih baik. Itu bisa membuat pikiranmu lebih tenang."
"H-huh? Baiklah…" Aphrodite meraih gelas di hadapannya lalu meneguknya perlahan.
Jordan terdiam memandangi wajah Aphrodite yang kini jaraknya sangat dekat dengannya. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik wanita itu.
"Semakin aku perhatikan… sifat dan cara bicaramu, semakin aku merasa kalau kau benar-benar mirip dengannya…" pikir Jordan menatap Aphrodite nyaris tak berkedip.
Aphrodite masih menikmati teh manis hangat yang tadi di berikan Jordan, sementara itu; otaknya masih di penuhi dengan berbagai pertanyaan yang tiba-tiba saja muncul mengenai apa yang baru saja ia bahas bersama dengan Jordan.
Merasa setiap pergerakannya tengah di awasi oleh kedua pasang mata pria di sampingnya, Aphrodite lalu menoleh ke arahnya.
"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" Aphrodite menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Tidak ada."
"Oh ya, omong-omong aku harus kembali bekerja. Kau juga pasti harus kembali bekerja 'kan?"
"Ya…"
"Kalau begitu aku pergi dulu, terima kasih atas teh manis nya. Ini bekerja, sekarang aku sudah merasa tenang juga." Aphrodite beranjak dari tempat duduknya.
"Ya, syukurlah."
"Lain kali aku akan membayar kebaikan mu ini. Sampai jumpa."
"Akan aku tunggu."
Aphrodite melangkah pergi dari ruang kafetaria meninggalkan Jordan seorang diri yang kini tengah memandangi Aphrodite yang kini berjalan semakin jauh dari tempatnya berada saat ini.
"Ternyata dia belum tahu kalau aku yang memimpin di perusahaan ini?" Jordan tersenyum simpul ketika otaknya di ingatkan kembali mengenai pertanyaan konyol yang di ajukan oleh Aphrodite pada dirinya.
...*...
"Kau baik-baik saja kan?" Tanya Fransisco pada Aphrodite yang baru saja membangunkan nya.
Aphrodite terkekeh menanggapi pertanyaan Fransisco yang terus berulang semenjak mereka pulang kemarin sore.
"Aku baik-baik saja Frans. Sampai kapan kau akan terus bertanya keadaan ku? Seharian kemarin saja kau sudah bertanya berkali-kali dari mulai aku pulang sampai kita tiba di rumah, kau terus saja bertanya."
"Aku hanya ingin memastikan, wajahmu kemarin sempat pucat. Aku khawatir kau sakit."
"Aku baik-baik saja. Kalau kau tidak percaya, kau bisa cek sendiri suhu tubuhku." Aphrodite meraih tangan Fransisco dan menempelkan punggung tangannya di keningnya.
"Bagaimana?" Tanya Aphrodite.
"Ternyata kau baik-baik saja."
"Sudah aku bilang. Maka dari itu jangan terlalu cemas. Lagipula kalau aku sakit, aku pasti akan bicara kalau aku sakit. Tapi sekarang ini aku baik-baik saja."
"Syukurlah. Aku senang mendengarnya."
"Sekarang ayo bangun, kita harus berangkat bekerja. Ini sudah hampir siang."
"Baiklah." Fransisco beranjak bangun dari tempat pembaringannya, sementara itu Aphrodite yang telah berpakaian rapi; kini berjalan menghampiri tirai yang menutupi kamarnya. Menyibak tirai tersebut dan membiarkan cahaya matahari menembus masuk ke dalam kamar mereka, menerangi setiap sudut kamarnya dengan cahaya mentari pagi yang begitu cerah.
Fransisco meraih piyama tidurnya dan membawanya ke tempat cucian kotor, menaruh baju itu bersama dengan pakaiannya yang lain. Setelah itu mandi dan bersiap sebelum berangkat ke kantor bersamaan dengan Aphrodite.
Aphrodite melangkah turun dari kamarnya dan menunggu Fransisco di ruang makan, ia telah memasak berbagai masakan yang kini telah ia tata rapi di atas meja dan siap untuk di santap.
__ADS_1
...*...
Aphrodite mengunci pintu apartemen nya, berjalan bersama dengan Fransisco menyusuri koridor agar bisa tiba di depan pintu lift. Tiba di dalam lift, bergegas ia masuk dan menekan tombol bernomor yang tersedia di sana.
Aphrodite dan Fransisco berdiri berdampingan di sana. "Oh ya, siang ini sepertinya aku tidak akan bisa makan siang bersama mu," kata Fransisco.
"Kenapa? Kau memiliki acara lain?"
"Ada meeting yang harus aku lakukan dengan klien ku siang ini, dan mereka meminta ku untuk bertemu mereka di salah satu restoran yang mereka tentukan. Restorannya cukup jauh, maka dari itu aku sepertinya tidak akan bisa makan siang bersama dengan mu."
"Begitu. Ya sudah tidak apa-apa, aku bisa makan siang di kantor hari ini. Aku akan makan di kafetaria bersama teman-teman ku yang lain."
"Aku benar-benar minta maaf."
"Tidak perlu meminta maaf, lagipula aku mengerti." Aphrodite tersenyum ke arahnya.
Tak lama, pintu lift terbuka membuat perhatian mereka tersita. Keduanya berjalan keluar dari dalam lift dan berjalan menuju basemen untuk mengeluarkan mobil, setelah itu berangkat ke kantor bersama; seperti hari-hari sebelumnya.
...*...
"Aku lapar. Kira-kira, apa menu di kafetaria hari ini, ya?" Tina memonolog, ia kini beranjak bangun dari tempat duduknya. Berjalan menuju arah keluar dari ruang divisi nya berada hendak pergi ke kafetaria untuk menikmati jam makan siangnya.
"Tina." Aphrodite memanggil namanya begitu wanita itu nyaris saja keluar dari dalam ruangannya. Ia menoleh menatap perempuan yang baru saja memanggil namanya itu.
Aphrodite melangkah menghampiri Tina yang kini memandangi dirinya. "Ada apa?" Tanyanya dengan raut wajah bingung.
"Kau akan makan siang?"
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Bagus. Aku juga ingin makan siang, kalau begitu ayo pergi bersama." Aphrodite mengalungkan tangan nya pada tangan Tina lalu menariknya keluar dari dalam ruang divisinya. Tina menatap Aphrodite dengan raut wajah yang semakin bingung, ia memperhatikan Aphrodite dengan seksama.
"A-ada apa dengan mu siang ini?" Tanyanya terbata.
"Maksudmu?" Aphrodite balik bertanya.
"Tidak biasanya kau makan bersama denganku? Bukankah biasanya kau makan di luar kantor? Tapi kenapa tiba-tiba kau mengajak ku untuk makan bersama? Ada apa? Apakah ada sesuatu yang kau inginkan dariku?"
"Kau ini, jangan berpikir begitu. Aku mengajakmu untuk makan siang bersama karena aku ingin, lagipula semenjak kita kenal. Kita belum pernah makan bersama 'kan?"
"Oh, ya… kau benar juga," gumam Tina membenarkan. "Tapi… tetap saja aneh," ujarnya seraya memperhatikan nya.
"Apakah hari ini kau tidak akan makan di luar?"
"Tidak."
"Kenapa? Apakah pacar mu itu tidak menjemput mu kemari untuk makan siang bersama nya?"
"Dia bukan pacarku," tutur Aphrodite yang lalu mempercepat langkah kakinya.
"Huh?" Tina menaikkan sebelah alisnya bingung. "Kalau dia bukan pacarnya, lalu kenapa dia selalu datang dan menjemputnya untuk makan siang bersama?"
"Tina!" Aphrodite sedikit berteriak memanggilnya. Tina menoleh ke arah datangnya suara mendapati Aphrodite yang kini jaraknya sudah sangat jauh dari tempatnya berdiri.
"Huh?"
"Cepatlah."
"Ah… iya." Tina bergegas berlari menghampiri Aphrodite yang jaraknya sudah sangat amat jauh dari tempatnya berada saat ini.
...*...
Jordan menghentikan aktivitas nya yang sejak tadi terus fokus pada pekerjaan nya. Ia mengucek kedua matanya yang terasa lelah perlahan.
"Mataku sudah mulai lelah," gumamnya pelan. Ia beralih pandang pada jam yang kini melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam itu sudah menunjukkan waktunya istirahat makan siang.
"Lebih baik aku makan siang dulu, setelah itu kembali bekerja." Jordan menutup beberapa berkas yang ada di hadapannya. Menumpuk semua berkas itu menjadi satu dan menaruhnya di tepi meja, pria itu lantas beranjak bangun dari tempat duduknya. Berjalan keluar dari dalam ruangannya.
"Kau belum istirahat?" Kata Jordan begitu mendapati sekertaris nya yang kini masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Huh? Oh, saya baru saja akan pergi pak."
"Baguslah. Lebih baik istirahat dulu, setelah itu kembali bekerja. Kau tidak boleh sampai mengabaikan perutmu yang mulai kosong."
"Iya."
"Kalau begitu saya duluan."
"Baik." Sekertaris nya itu tersenyum ke arahnya. Ia beranjak bangun dari tempat duduknya dan mulai membereskan meja kerjanya, setelah selesai wanita itu lantas pergi menuju lift agar bisa tiba di kafetaria dan menikmati waktu makan siangnya di sana.
...*...
__ADS_1
Jordan memutuskan untuk turun dengan menggunakan tangga saat lift di lantai nya itu sedang di pakai. Ia berjalan menyusuri beberapa koridor agar bisa turun ke lantai dasar.
Perhatiannya tiba-tiba saja tersita begitu ia melewati salah satu divisi tak jauh dari lantai kantornya berada. Ia menangkap sosok dua orang wanita yang berjalan beriringan bersama, salah satu di antaranya adalah seseorang yang ia kenal.
Jordan mempercepat langkahnya menghampiri wanita yang tidak lain adalah Aphrodite dan Tina yang hendak pergi ke kafetaria.
"Aphrodite." Panggilnya membuat langkah Tina dan Aphrodite beralih pada suara yang baru saja mereka dengar. Aphrodite berbalik; kedua matanya memandang ke arah Jordan yang kini menghampiri dirinya.
"Jordan," ujarnya seraya tersenyum ke arahnya.
"Dia siapa? Kau kenal dengannya?" Tanya Tina menatap Aphrodite dengan raut wajah bingung.
"Dia adalah salah satu kenalanku," gumamnya.
"Dia tampan…" bisik Tina sedikit mendekatkan wajahnya ke arah telinga Aphrodite. Aphrodite hanya menggapai perkataan Tina dengan seulas senyum.
Jordan menghentikan langkahnya di hadapan Tina dan Aphrodite. "Kalian akan makan siang?" Ujarnya begitu tiba di hadapan mereka.
"Ya. Kami baru saja akan pergi ke kafetaria untuk makan bersama."
"Oh, begitu rupanya."
"Memangnya ada apa?"
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Berdua saja… boleh kan?"
Jordan menoleh ke arah Tina yang berdiri di samping Aphrodite. "K-kalau begitu aku pergi duluan." Tina salah tingkah ketika Jordan secara tiba-tiba menampakkan senyuman di wajah tampannya.
Aphrodite menoleh ke arahnya. "Kalau begitu sampai jumpa di sana," ujar Aphrodite pada Tina yang hanya tersenyum seraya mengangguk-angguk kan kepalanya lantas pergi meninggalkan Aphrodite dan Jordan berdua di tempatnya saat ini.
"Jadi… apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Aphrodite pada Jordan begitu Tina sudah benar-benar hilang dari pandangan mereka dan hanya meninggalkan mereka berdua saja.
"Aku ingin menagih ucapan mu kemarin."
"Huh? Yang mana?"
"Kau bilang, kau akan membayar kebaikan ku karena sudah memberikan mu teh manis hangat waktu itu. Ingat?"
"Oh… ya, aku ingat. Haha…" Aphrodite terkekeh pelan.
"Jadi, bagaimana kalau sebagai gantinya kau mentraktir ku makan siang bersama di luar?"
"Boleh… tapi, bagaimana dengan Tina?"
"Hubungi saja temanmu itu dan bilang kalau kau memiliki urusan dengan ku."
"Tapi, aku sudah…"
"Ayo pergi." Jordan meraih tangan Aphrodite dan menarik pergi dari sana.
"T-tunggu, aku harus memberitahu teman ku dulu."
"Kalau begitu hubungi lah. Kau bisa menghubungi nya sambil kau berjalan 'kan?" Ujar Jordan.
Aphrodite berjalan sedikit terseret di belakang sana karena langkah Jordan yang terlalu besar dan tergesa-gesa.
...*...
Tina terdiam di tempatnya. Ia terus celingukan mencari keberadaan Aphrodite yang tak kunjung tiba juga padahal sudah hampir cukup lama dirinya menunggu Aphrodite di ruang kafetaria.
Tina sudah duduk sejak tadi di salah satu meja yang ada, hidangan yang telah ia pilih sudah tersaji di hadapannya.
"Astaga, Aphrodite dimana ya? Kenapa dia tidak kunjung tiba juga?" Tina memonolog.
"Apa aku hubungi saja?" Tina meraih ponselnya hendak menghubungi Aphrodite yang tak kunjung datang setelah mereka berpisah beberapa saat yang lalu di perjalanan menuju kafetaria.
Belum sempat ia menghubungi Aphrodite, sebuah pesan lebih dulu menyita perhatiannya. Ia lupa kalau ponselnya tengah berada dalam mode silent yang membuat setiap pesan masuk sama sekali tidak terdengar suara notifikasi nya.
"Astaga, aku lupa kalau ponsel ku dalam mode silent. Pantas saja pesan dari Aphrodite tidak aku dengar." Tina menekan bilah notifikasi pesan dari Aphrodite, ia kemudian membaca pesan dari teman satu kantornya itu dan hanya bisa menghela napas ketika temannya itu lagi-lagi tidak makan siang bersama dengannya.
"Huft~" Tina menghela napas panjang.
"Lagi-lagi aku makan siang sendiri," tuturnya yang lantas mematikan ponselnya dan menaruh benda pipih berbentuk persegi panjang itu di atas meja dalam posisi layar menyentuh permukaan meja. Ia lantas mulai di sibukkan memakan semua hidangan makan siang kafetaria siang ini.
Sementara Tina makan seorang diri, beda halnya dengan Aphrodite yang saat ini baru saja tiba di luar gedung kantornya setelah menghabiskan beberapa saat berjalan menuruni tangga agar bisa tiba di lantai dasar.
"Jadi kita akan makan siang di mana?" Tanya Aphrodite.
"Kita makan di restoran dekat sini saja," sahut Jordan seraya menuntun Aphrodite. Berjalan bersama dengannya menyusuri trotoar yang di lalui oleh beberapa pejalan kaki di sekitarnya.
...***...
__ADS_1