
...***...
"Omong-omong apakah anda akan pulang? Perlu saya antar?"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Apakah anda yakin tidak ingin saya antar? Bagaimana jika tuan Frans tahu kalau anda bertemu dengan saya, tapi anda tidak saya antar pulang? Beliau bisa marah."
"Tidak akan, kau tenang saja. Lagipula aku tidak bertemu dengan Frans. Aku kemari hanya menitipkan makan siang untuknya."
"Oh, tapi kenapa anda tidak bertemu dengan beliau?"
"Aku tahu dia sibuk, jadi aku tidak ingin mengganggunya. Kalau kau bertemu dengannya jangan bilang kalau kau bertemu denganku, oke?"
"Baiklah."
"Terima kasih, kalau begitu aku duluan."
"Ya…"
Aphrodite beranjak memasuki lift meninggalkan pria itu seorang diri di depan pintu lift. Sejurus kemudian pria itu pergi menuju letak dimana ruang kerja Fransisco berada.
Pria itu menghentikan langkahnya sejenak saat mendapati sekertaris Fransisco yang kini berdiri seraya memandangi tas yang semula dititipkan oleh Aphrodite padanya.
"Kau sedang apa?" Tanyanya yang berhasil membuatnya tersentak kaget dan spontan mendongak ke arahnya.
"Kau membuatku terkejut saja!"
"Apa itu?"
"Oh, ini? Tadi ada seorang perempuan yang kemari dan memintaku untuk memberikan ini pada pak direktur. Sepertinya makan siang, tapi aku tidak tahu siapa wanita tadi."
"Yang tadi itu istrinya."
"Apa? Benarkah?" Ucapnya dengan raut wajah terkejut.
"Iya. Kau tidak kenal karena saat mereka menikah, kau tidak datang 'kan?"
__ADS_1
"Aku tidak datang. Jadi yang tadi itu adalah istri pak direktur?"
"Ya. Omong-omong tuan Frans di dalam?"
"Oh, beliau sudah menunggumu sejak tadi."
"Benarkah? Kalau begitu aku masuk dulu."
"Iya." Ia berbalik siap untuk pergi, sejurus kemudian sosoknya menghilang di balik pintu ruang kerja Fransisco.
...*...
TING!
Pintu lift-nya itu terbuka begitu ia tiba di lantai bawah. Aphrodite melangkah menuju pintu keluar, berjalan di antara beberapa orang karyawan yang berlalu-lalang di sekitarnya.
"Aku benar-benar tidak memiliki tujuan," gumam Aphrodite begitu ia tiba di luar gedung kantor, berdiri di trotoar hendak pulang kembali ke rumahnya.
Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Masih siang. Malam tidak akan datang secepat mengedipkan mata, dan Fransisco akan pulang berjam-jam lagi.
"Kalau aku pulang sekarang, aku hanya akan lebih merasa bosan. Tapi kalau aku pergi, kemana aku harus pergi? Tidak mungkin aku menelpon Jenia dan memintanya untuk menemaniku, ini masih jam kerja. Dia pasti sangat sibuk," gumam Aphrodite pelan.
Detik berikutnya Aphrodite beranjak pergi menuju taman, hendak menghabiskan waktu luangnya dan mengisi hari-hari membosakannya dengan melihat pemandangan taman yang indah.
...*...
Seorang pelayan berjalan menghampiri meja yang kini di tempati oleh Jordan, di tangannya ia membawa nampan berisi makan siang yang semula telah di pesan oleh Jordan.
"Selamat menikmati." Pelayan itu tersenyum ramah begitu ia selesai menaruh semua makanan yang di bawanya ke atas meja tepat di hadapan Jordan.
"Terima kasih," sahut Jordan.
Detik berikutnya pelayan itu beranjak pergi meninggalkan meja yang di tempati Jordan.
Jordan meraih gelas miliknya, meneguk pelan isi minuman miliknya sebelum makan. Sejurus kemudian ia mulai di sibukkan dengan menikmati hidangan makan siangnya.
Ia yang terduduk di dekat pintu keluar, bersebelahan dengan jendela yang mengarah ke jalan membuat Jordan tak bisa lepas menatap jalanan di luar sana seraya menikmati makanannya. Sembari mengunyah ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, atensinya seketika tersita begitu kedua manik mata indahnya menangkap sosok wanita yang tampak familier. Wanita itu baru saja keluar dari dalam gedung kantor yang Jordan tahu perusahaan pemilik gedung itu adalah salah satu perusahaan besar yang sebanding dengan perusahaan miliknya.
__ADS_1
"Tunggu, bukankah wanita itu adalah yang waktu itu di bandara, ya?" Jordan menghentikan aktivitasnya sejenak, menyipitkan kedua matanya berusaha memperjelas penglihatannya pada wanita yang dilihatnya.
"Oh benar, itu dia." Jordan tersenyum simpul.
"Tapi kenapa dia keluar dari dalam kantor itu? Apakah dia bekerja di sana? Tapi di lihat dari pakaian yang ia kenakan, sepertinya dia tidak bekerja di sana. Lagipula tidak mungkin pekerja kantoran memakan pakaian casual seperti itu."
Jordan menatap intens sosok Aphrodite yang berada di seberang jalan itu. Wanita yang sempat ditemuinya di bandara beberapa waktu lalu itu kini tampak mulai beranjak pergi dari sana.
"Tidak aku sangka kalau aku bisa melihatnya lagi," gumamnya pelan.
Jordan memutuskan untuk kembali fokus pada makanannya. Ia terdiam sejenak, entah kenapa melihat sosok Aphrodite membuatnya teringat akan sosok wanita yang dulu pernah hadir dalam hidupnya. Menghiasi dunianya dengan penuh warna, sosoknya terasa mirip dengan Aphrodite.
"Entah kenapa melihatnya membuatku ingat pada dia… mereka tampak mirip." Jordan memonolog.
"Andai saja dulu aku bisa mempertahankannya… mungkin aku tidak akan tersiksa seperti ini…"
...*...
Aphrodite termenung menatap beberapa orang yang tengah menikmati keindahan taman di siang hari. Saat ini dirinya duduk di salah satu kursi taman yang berbahan besi dengan cat putih, kursi itu terletak di bawah pohon rindang besar yang menutupi kepalanya, menghalangi teriknya cahaya matahari.
"Kalau setiap hari aku seperti ini, lama-lama aku akan merasa bosan juga. Apalagi kalau aku tidak memiliki pekerjaan lain." Aphrodite bergumam pelan.
"Aku ingin kembali bekerja. Tapi… bagaimana kalau Frans tidak mengizinkan ku untuk kembali bekerja?"
"Aku rindu waktu bekerjaku dengan Jenia, rindu waktu makan siang bersamanya, serta datang dan pergi ke kantor bersamanya. Rasanya sudah sangat lama aku tidak menikmati semua itu."
Pikiran Aphrodite melayang jauh, menerawang menuju ingatan lamanya ketika ia masih bekerja di salah satu perusahaan, mengingat kembali kebersamaannya dengan Jenia ketika ia di kantor, dan masih banyak lagi hal yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Baginya bekerja bukan hanya untuk mencari uang, tapi juga salah satu bentuk untuk menikmati kebebasannya dan mengisi setiap waktu luangnya.
"Kira-kira bagaimana keadaan kantor sekarang? Apakah Jenia masih sering di sibukkan dengan semua pekerjaannya? Apakah dia masih sama rajinnya seperti saat aku masih bekerja? Bagaimana keadaan teman-teman yang lain? Apakah ada salah satu di antara mereka yang rindu aku bekerja bersama mereka?"
Berbagai pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul memenuhi benaknya, entah kenapa tapi terasa lucu ketika secara tiba-tiba semua pemikiran itu muncul memenuhi otaknya.
Waktu berlalu, setelah menghabiskan waktu cukup lama di taman; Aphrodite lantas memutuskan untuk pulang dan beristirahat.
Ia beranjak pergi dari taman, menghampiri trotoar dan menunggu taksi yang kosong.
__ADS_1
...***...