
...***...
"Huft~" Aphrodite menghela napas nya panjang. Entah mengapa sejak ia terus mengingat kejadian kemarin dadanya terasa sesak. Dan hal itu membuatnya terus merutuki pilihannya yang memutuskan untuk setuju dengan pernikahan dirinya dan Fransisco.
Aphrodite melangkah menuju arah pintu masuk kantornya yang terbuat dari kaca di sana. Begitu tiba di depan pintu, ia mendorong pintunya cepat dan melangkah masuk.
Tiba di dalam, orang-orang seketika mengalihkan antensi nya pada Aphrodite yang baru saja tiba. Menatap Aphrodite dengan tatapan yang sulit untuk di artikan olehnya.
Aphrodite berusaha untuk bersikap biasa walau rasa penasaran dan tanda tanya terus bermunculan di benaknya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk mengabaikan keadaan di ruang lobi kantornya.
Ia melangkah menghampiri lift di sana, masuk dan berdiri kemudian menekan tombol yang akan langsung mengantarkan nya menuju lantai tempat dimana divisi nya berada.
"Entah kenapa tatapan orang-orang sejak tadi terasa berbeda padaku," batinnya yang kini menundukkan kepala seraya menghela napas panjang untuk yang ke sekian kalinya.
Pintu lift terbuka dan tertutup beberapa kali sebelum Aphrodite tiba di divisi nya. Beberapa orang karyawan lain yang sudah tiba mulai mondar-mandir keluar-masuk ke dalam lift yang di tumpanginya.
TING!
Lift itu lantas berhenti tepat di lantai dimana ia bekerja. Aphrodite melangkahkan kakinya keluar dari dalam sana dan berjalan sedikit menyusuri koridor yang mengarah langsung menuju tempatnya bekerja.
Langkahnya terhenti saat secara tiba-tiba di depan ruang divisi nya, beberapa orang teman satu kantornya berkumpul seraya berbincang di sana. Kerumunan nya cukup untuk menggalangi pintu masuk sampai-sampai dirinya saja bahkan sulit untuk menerobos.
Aphrodite menghampiri mereka dan berdiri di paling belakang. Tapi begitu dirinya tiba, atensi semua orang beralih padanya. Semua teman satu divisi nya menatap ke arah Aphrodite yang baru saja tiba. Tatapannya sama membingungkan nya dengan tatapan orang-orang yang bekerja dibagian lobi.
Aphrodite terpaku di tempatnya, menatap ke arah teman-temannya dengan raut wajah bingung.
"A-ada apa ini?" Tanya Aphrodite sedikit terbata. Ia berusaha untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan semua orang. Dan mengapa semua orang menatap nya seperti itu sejak ia tiba di kantor. Jujur itu benar-benar mengganggu bagi dirinya.
__ADS_1
"Aphrodite, kau di pecat," kata salah satu wanita di sana. Wanita itu memakai baju kemeja berwarna tosca dengan rok di atas lututnya. Hidungnya menyangga kacamata berbentuk bulat yang tampak tebal.
Aphrodite tersentak mendengarnya. Ia tak bisa berkata-kata dibuatnya. Entah kesalahan apa yang telah di perbuat olehnya sampai-sampai ia di pecat. Padahal sejauh ini, selama ia bekerja. Ia merasa tidak pernah membuat kesalahan sedikit pun, tapi kenapa tiba-tiba ia di pecat. Itu benar-benar membuatnya syok.
"A-apa?" Aphrodite terbata. Otaknya masih memproses setiap kalimat yang baru saja terlontar dari mulut wanita itu. Ia masih berusaha mencerna setiap kata nya.
"Aku dengar kau akan menikah." Jenia berjalan menerobos kerumunan itu dan berhenti tepat di depan Aphrodite. Jenia berdiri dengan kardus besar berisi barang-barang kerja milik Aphrodite yang telah di kemas.
Aphrodite terkejut saat mendengar ucapan Jenia. Oh ayolah, siapa yang tidak terkejut tiba-tiba mendapat kabar seperti ini? Dirinya saja bahkan tidak tahu mereka dapat informasi dari siapa. Aphrodite bahkan belum menemui Antonio untuk membicarakan hal ini, dan ia juga belum sepenuhnya merasa yakin dengan keputusan yang di ambilnya.
"A-apa? Siapa bilang?" Tanya Aphrodite bingung.
"Aku dengar calon suamimu adalah seorang CEO dari mitra perusahaan kita ya? Wah kau hebat sekali."
"Bagaimana cara kau bisa dekat dengannya? Aku ingin tahu!"
"Apakah kau memiliki trik untuk membuatnya tertarik denganmu? Jika iya, aku ingin minta tips nya."
"Tunggu! Apa maksud kalian? Aku tidak mengerti sama sekali. Dan apa ini? Kenapa kau mengemasi barang-barang ku Jen?" Ucap Aphrodite yang mulai merasa bingung dengan situasi yang di hadapi olehnya.
"Tadi kepala divisi kemari dan beliau mengumumkan jika kau di pecat. Oh tidak, lebih tepatnya mengundurkan diri. Hanya saja dengan… bantuan dari calon suamimu? Begitu?" Satu temannya di sana menjawab.
"Huh? Maksud mu? Aku benar-benar tidak mengerti. Kapan aku bilang jika aku akan berhenti bekerja? Aku bahkan tidak bilang jika aku akan berhenti."
"Calon suamimu sendiri yang datang kemari dan bilang jika kau harus keluar dari perusahaan ini."
"Huh?" Aphrodite mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Benar. Dan dia memerintahkan aku untuk membereskan semua ini," Jenia menyodorkan barang-barang Aphrodite pada pemiliknya.
"Tunggu. Aku masih tidak mengerti! Dan aku tidak terima di pecat secara tiba-tiba seperti ini!" Aphrodite tampak sedikit kesal di sana. Kini perasaan nya bercampur antara bingung dan kesal.
"Lalu maksud kalian calon suami? Siapa? Aku tidak mengerti?!" Aphrodite masih berusaha mencari jawaban dari pertanyaan yang terus bermunculan di benaknya. Otaknya masih belum terkoneksi sepenuhnya, belum menangkap secara jelas sosok yang di maksud oleh teman-temannya itu.
"Jangan berpura-pura, kami sudah tahu jika calon suamimu adalah—"
"Kau sudah selesai?" Tanya Fransisco yang tiba di sana dan membuat ucapan salah satu teman Aphrodite itu terpotong.
Fokus mereka seketika beralih menatap sosok Fransisco yang baru saja tiba di sana.
Aphrodite menoleh dan begitu terkejutnya ia, saat mendapati Fransisco yang kini berdiri tepat di belakangnya. Pria itu berpakaian rapi, berdiri tegap seraya tersenyum ke arahnya.
"Frans?" Aphrodite tanpa sadar memekik saking terkejutnya. Hal itu membuat teman-temannya yang lain merasa iri dengannya.
"Hai!" Sapa Fransisco yang tiba bersama dengan asisten pribadinya itu. Ia melangkah menghampiri Aphrodite, mengikis jarak di antara mereka. Dan kini dirinya berdiri tepat di sampingnya.
"Sedang apa kau di sini?" Tanya Aphrodite dengan raut wajah bingung.
"Tentu saja untuk menjemput mu. Karena sebentar kali kau akan menjadi istriku," Fransisco semakin merekahkan senyumnya di sana.
"Wah, jadi kalian benar-benar akan menikah ya? Aku benar-benar tidak menyangka," kata Jenia yang membuat fokus Fransisco dan Aphrodite beralih menatapnya.
"J-jen. T-tidak Bu—"
"Iya, benar. Oh, dan kalau tidak salah kau adalah wanita yang waktu itu kan?" Fransisco menyambar cepat di sana, memotong ucapan Aphrodite yang hendak mengelak.
__ADS_1
"Benar. Lama tak jumpa."
...***...