Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
You right


__ADS_3

...***...


"Apakah aku sudah merasa lebih baik, sekarang?" Tanya Jenia pada Aphrodite yang tampaknya kini sudah mulai merasa lebih baik dibandingkan sebelumnya.


"Huft~" Aphrodite menghela napas lagi, berusaha agar merasa lebih tenang. Sejurus kemudian, ia mendongak menatap Jenia di sampingnya. "Iya, aku sudah merasa lebih baik," tuturnya seraya menganggukkan kepalanya. Jenia yang mendengarnya lantas tersenyum senang.


"Aku lega mendengarnya," tutur Jenia. "Sekarang cerita pelan-pelan semuanya padaku, ada apa sebenarnya? Kenapa kau menangis?" Jenia bertanya dengan lembut, ia tahu pasti apa yang tengah di alaminya adalah sesuatu yang berat. Sampai-sampai Aphrodite menangis seperti saat ini. Tidak seperti biasanya ia menangis, apalagi ia menangis karena Xavier yang jelas-jelas tidak pernah membuatnya menangis seperti saat ini.


Jenia masih menunggu respon dari Aphrodite yang kini terdiam dalam lamunannya. Masih sulit untuknya bercerita, bahkan setiap kali mengingat kejadian menyakitkan itu. Hatinya terasa remuk.


"Jika terlalu sulit bagimu bercerita sekarang, tidak apa-apa aku mengerti mungkin hal yang ingin kau bicarakan adalah sesuatu yang sangat sulit untuk kau ceritakan, tapi aku harap kau bisa bercerita ketika kau siap," Jenia mendekap tubuh Aphrodite.


"Tidak, a-aku akan bercerita," ujar Aphrodite lirih.


"Apakah kau yakin kau sanggup?"


"I-iya, karena a-aku yakin."


"Baiklah, akan aku dengarkan."


"Ja-jadi begini…" Aphrodite lantas menjelaskan semua yang terjadi pada Jenia, ia menjelaskan semua yang ia alami pada wanita yang menjadi sahabat kantor sekaligus tempat curhatnya itu. Dan disana Jenia dengan setia mendengarkan setiap cerita Aphrodite dengan sangat tenang, ia menyimaknya baik-baik dan tidak memotong setiap cerita Aphrodite. Jenia menyimpan semua tanyanya diakhir cerita Aphrodite, agar dengan begitu ia bisa mengetahui duduk permasalahan yang tengah di alami oleh Aphrodite.


Mendengar cerita Aphrodite, membuat Jenia sesekali emosi bercampur iba, mengenai apa yang terjadi dengan Aphrodite sahabat nya. Ia kesal, apalagi ketika tahu apa yang telah di lakukan oleh Xavier benar-benar sudah kelewat batas. Berani-beraninya dia menyakiti Aphrodite setelah apa yang selama ini mereka jalin, dan dia meninggalkan Aphrodite begitu saja. Dan yang membuat Jenia geram adalah dengan beraninya Xavier menipu Aphrodite untuk datang ke acara pernikahannya dengan mengatasnamakan pernikahan kakaknya.

__ADS_1


"Kurang ajar! Dimana dia sekarang, biar aku labrak pria brengsek itu sekarang juga!" Ujar Jenia begitu Aphrodite selesai menceritakan semuanya. Rasa kesal mulai merambah dalam dirinya, membuat ia emosi bukan main dan ingin menghajar pria brengsek yang telah melukai wanita yang menjadi sahabat kantornya itu. Jenia beranjak dari tempat duduknya hendak melangkah pergi dari sana dan menghajar Xavier. Namun dengan segera Aphrodite menahannya untuk tidak pergi menemui pria itu. Aphrodite mencengkeram pergelangan tangan Jenia erat agar wanita itu tidak pergi berbuat nekat seperti itu.


"Tidak. Tidak perlu! Jangan lakukan itu. Aku mohon," tutur Aphrodite menahannya.


"Tapi ini tidak bisa dibiarkan! Dia sudah menyakiti perasaanmu Dite! Dan aku tidak mungkin diam saja, mendapati temanku di perlakukan seperti ini! Aku harus menghajarnya, hanya dengan cara begitu dia akan sadar atas perbuatannya!"


"Tidak! Tidak perlu kau lakukan itu. Aku mohon. Aku tidak ingin menarikmu dalam masalah. Yang aku butuhkan hanya kau tetap disini dan temani aku hingga aku merasa lebih baik. Aku mohon," Aphrodite bersikukuh dengan keputusannya.


"Tapi Dite—"


"Aku mohon," ucap Aphrodite penuh harap, menatap Jenia dengan mata berbinarnya penuh harap.


"Huft~" Jenia menghela napas berat ketika melihat Aphrodite yang tampak sangat berharap ia tidak melakukan hal itu. "Baiklah, aku tidak akan melakukannya," finalnya yang berhasil membuat Aphrodite merasa lebih tenang.


"Iya. Tapi ingat! Aku melakukan ini karena kau yang memintaku, bukan berarti aku memaafkan si brengsek itu."


"Iya, tidak apa-apa," Aphrodite masih tersenyum.


"Awas saja jika sampai aku bertemu dengannya. Akan aku hajar dia habis-habisan karena berani-beraninya dia membuat sahabat terbaikku ini menangis," ucap Jenia bersungut-sungut. Disana Aphrodite hanya bisa mengulum senyum. Mendapatkan perhatian dari Jenia seperti ini saja sudah cukup untuk membuat dirinya merasa lebih baik. Setidaknya masih ada bahu untuk menjadi sandarannya saat hatinya hancur karena disakiti. Aphrodite menarik tangan Jenia untuk kembali duduk di sampingnya.


"Duduklah. Saat ini, aku benar-benar sedang membutuhkanmu sebagai sandaranku," gumam Aphrodite. Mendengar hal itu, Jenia tersenyum simpul.


"Bersandarlah sepuasmu," sahut Jenia pada Aphrodite yang kini mulai menyandarkan kepalanya pada bahu Jenia yang duduk tepat di sampingnya. Dalam jarak mereka yang sedekat ini, Aphrodite bisa mencium bau parfum yang di kenakan oleh Jenia. Bau parfumnya yang menyengat menusuk hidungnya yang spontan memicu rasa mualnya, membuat ia ingin muntah.

__ADS_1


Perhatian Jenia seketika beralih saat secara tiba-tiba Aphrodite bersikap seolah-olah orang yang hendak muntah, Jenia yang melihatnya spontan panik.


"Kau kenapa?" Tanya Jenia. Aphrodite bergegas beranjak dari tempat semula ia duduk, ia lantas melangkah menuju semak-semak disana yang kemudian dibantu oleh Jenia untuk membantunya memuntahkannya.


"Hoek…Hoek…" Jenia yang membungkuk dibelakangnya kemudian menepuk-nepuk pundak wanita itu agar ia bisa lebih mudah memuntahkan semuanya. Setelah cukup lama, akhirnya ia berhenti.


"Kau baik-baik saja? Apakah sudah merasa lebih baik?" Tanya Jenia menatap Aphrodite.


"Iya, aku baik-baik saja, dan aku sudah merasa lebih baik. Kau tenang saja," Ucap Aphrodite. Jenia lantas melangkah menghampiri tempat semula ia duduk, Jenia lalu meraih botol mineral yang semula ia berikan pada Aphrodite. Jenia lalu memberikan botol di tangannya pada Aphrodite.


"Minum dulu agar kau merasa lebih baik," Jenia menyodorkan botol ditangannya padanya. Aphrodite lalu meraihnya dan bergegas membuka botolnya.


"Terima kasih," tutur Aphrodite.


"Sebenarnya kau ini kenapa? Kenapa akhir-akhir ini kau sering muntah-muntah, seperti orang yang sedang hamil saja. Apa jangan-jangan kau sudah melakukan sesuatu dengan Xavier?" Ucap Jenia sarkas, namun berhasil membuat Aphrodite terbelalak. Candaan Jenia benar-benar tepat sasaran seakan-akan Jenia tahu mengenai apa yang sebenarnya tengah terjadi.


Aphrodite seketika diam tak bersuara disana, hal itu membuat Jenia yang semula berucap sarkasme seketika terdiam. Ia merasa canggung dalam sekejap.


"A-ah maaf, jika bercandaan ku sudah keterlaluan," gumam Jenia yang kini menundukkan kepalanya, dengan rasa bersalah. Aphrodite mendongak memandangi Jenia dihadapannya.


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Kau hanya berusaha untuk menghiburku," ujar Aphrodite yang kemudian tersenyum simpul demi menutupi apa yang dirasakannya. "Sebenarnya, apa yang kau ucapkan itu benar."


...***...

__ADS_1


__ADS_2