
...***...
Fransisco menutup sambungan telponnya sepihak begitu ia selesai berbicara dengan sekertaris nya di seberang sana. Aphrodite masih diam memandangi Fransisco yang baru saja selesai berbicara dengan sekertarisnya.
"Ada apa?" Tanyanya dengan raut wajah penasaran.
"Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa ia kerjakan sendiri, maka dari itu dia menghubungiku. Dia bilang kalau dia sudah mengirimkan pekerjaannya lewat email dan aku hanya perlu mengeceknya."
"Begitu rupanya, kalau begitu sebentar. Biar aku bantu kau mengecek nya." Aphrodite beralih pandang pada layar laptop di dalam dekapannya, ia lantas membuka email masuk yang di dapatnya. "Ada. Ini dia." Aphrodite menatap isi email nya.
"Sekarang biar aku saja yang membantu mu mengerjakan semua ini. Kau hanya perlu mengarahkan aku saja dan memberitahu apa yang harus aku lakukan dengan ini, sekalian aku juga ingin belajar mengenai pekerjaan yang kau kerjakan," kata Aphrodite berniat untuk membantu.
"Baiklah, aku akan mengarahkan mu," tutur Fransisco tak keberatan. Ia lantas mengarahkan Aphrodite untuk mengerjakan pekerjaan kantornya, memberikan penjelasan seraya sesekali bergurau dengannya.
Aphrodite mengerjakan semuanya dengan baik, ia mulai mengerti secara perlahan mengenai pekerjaan kantor yang setiap harinya di kerjakan oleh suaminya itu. Setelah mengerjakan semuanya, ia pikir ini cukup menyenangkan. Walaupun pekerjaannya cukup tricky dan cukup menguras otaknya, tapi ia menyukainya. Apalagi ketika Fransisco menjelaskannya dengan sangat rinci guna membantunya lebih mengerti dan lebih mudah memahami apa yang harus di kerjakan olehnya.
...*...
CLICK!
Email berisi pekerjaan itu telah selesai dan telah ia kirimkan pada sekertaris Fransisco yang kini berada di kantor menangani semua pekerjaan Fransisco.
Setelah selesai mengerjakan pekerjaan nya, Fransisco segera menelpon sekertarisnya memberitahukan kalau ia sudah mengirimkan kembali tugasnya dan meminta ia untuk mengeceknya.
Aphrodite menutup laptop di hadapannya, mengucek perlahan kedua matanya yang terasa lelah karena terlalu lama menatap layar laptop nya.
Fransisco menoleh ke arahnya. "Kau kenapa?" Tanyanya. Aphrodite mendongak menatap ke arahnya.
"Tidak apa-apa, mataku hanya sedikit lelah. Oh ya, omong-omong sebentar lagi sudah waktunya makan siang. Aku akan turun sebentar dan mengecek bahan-bahan makanan di kulkas setelah itu memasak untuk kita makan siang." Aphrodite beranjak bangun menaruh laptop di tangannya ke atas nakas dekat ranjang tidurnya.
"Kalau begitu, aku ikut."
"Tapi kau harus berbaring di sini agar cepat sembuh."
"Aku bosan terus di dalam kamar. Aku ingin keluar dari kamar."
"Baiklah, kalau begitu aku akan membawamu ke ruang tengah. Kau duduk di sana dan menonton televisi, oke?"
"Kau berbicara seakan-akan aku ini anak kecil." Fransisco terkekeh mendengar kalimat yang baru saja di terlontar dari bibir Aphrodite. "Aku ingin duduk di ruang makan saja dan melihat kau memasak, melihat wajah istriku lebih menarik di bandingkan menonton acara televisi."
"Baiklah, terserah kau saja," ujar Aphrodite menyetujui. Ia lantas membantu Fransisco untuk bangun, menggandengnya keluar dari dalam kamar, menuruni tangga hingga akhirnya tiba di ruang makan.
Tiba di ruang makan, Fransisco lantas duduk di salah satu kursi yang ada sementara Aphrodite kini berjalan menghampiri kulkas untuk melihat bahan-bahan makanan yang ada sebelum ia memasak.
...*...
TUK!
Aphrodite menaruh masakan terakhir buatannya yang telah ia pindahkan ke dalam sebuah piring ke atas meja yang kini sudah di isinya dengan beberapa makanan yang telah di buatnya.
"Baiklah, sekarang kita makan," ujar Aphrodite seraya meraih piring Fransisco lalu mengisi piringnya dengan nasi dan beberapa lauk pauk yang ada.
"Terima kasih," tutur Fransisco.
"Ya, sama-sama." Aphrodite kemudian mengisi piringnya sendiri dengan nasi dan beberapa lauk pauk yang telah di buatnya. Sejurus kemudian mereka mulai di sibukkan makan bersama di sana. Fransisco tampak menikmati makanan yang di buatkan oleh Aphrodite.
...*...
Hari berganti, ini adalah ketiga harinya semenjak Fransisco sakit dan memutuskan untuk beristirahat di rumah. Sementara itu Aphrodite senantiasa membantunya dalam mengerjakan pekerjaan yang tidak bisa di kerjakan oleh sekertaris nya di kantor.
Aphrodite saat ini baru saja selesai makan siang dan baru saja selesai mengerjakan beberapa tugas kantor Fransisco yang di kirimkan oleh sekertaris nya di kantor.
__ADS_1
Aphrodite terus menggeser layar browser yang kini tampak di hadapannya, mencari pekerjaan yang sekiranya cocok dengan dirinya. Sebenarnya ia sudah menemukan beberapa lowongan pekerjaan, tapi ia juga tidak bisa hanya terpaku pada satu lowongan saja. Maka dari itu ia mencari lowongan pekerjaan lain dan nantinya ia akan memilih salah satu di antara lowongan pekerjaan itu yang nantinya akan ia kirimi CV kerja miliknya.
Sementara Aphrodite sibuk mencari pekerjaan di internet, beda halnya dengan Fransisco yang kini tengah tertidur setelah selesai meminum obat yang di berikan oleh dokter.
"Huft~" Aphrodite menghela napasnya panjang, ia kini mulai merasa bosan karena berusaha terlalu keras.
Aphrodite merebahkan kepalanya pada meja yang kini di tempati olehnya. "Kalau aku kembali bekerja di kantor lama ku, pasti akan sangat memakan waktu di perjalanan karena jaraknya yang sangat jauh. Sebenarnya enak bekerja di sana karena semua orang sudah kenal baik denganku, di tambah lagi ada Jenia yang senantiasa menemaniku dalam segala hal," gumamnya pelan seraya memandangi layar keyboard laptop di hadapannya.
"Mungkin aku akan mencari pekerjaan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah saja, dengan begitu aku bisa menghemat waktu di perjalanan dan agar aku tidak membuat Frans cemas karena takut aku kelelahan."
"Sepertinya aku harus cek lokasi beberapa lowongan pekerjaan yang tadi aku pilih." Aphrodite duduk tegap dan ia mulai kembali di sibukkan dengan mengecek ulang beberapa pekerjaan yang ia dapatkan. Memastikan kalau beberapa pekerjaan yang telah ia pilih itu lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya saat ini agar dengan begitu ia bisa menghemat waktu di perjalanan pulang.
"Ini dia…" Aphrodite menemukan satu lowongan pekerjaan yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempatnya tinggal.
"Sebentar… ini alamatnya, dekat kantor nya Frans?" Aphrodite memperbesar tulisan alamat kantor itu berada. Ia lantas bergegas membuka peta untuk mengecek dan memastikan kalau memang benar lokasi kantor tersebut berada di dekat kantor Fransisco.
"Benar. Kantornya dekat dengan kantor Frans berada, hanya beda beberapa blok saja. Tapi jaraknya dekat."
"Kalau begitu aku akan mengirimkan CV kerjaku ke sini secepatnya sebelum waktunya habis," tuturnya. Aphrodite bergegas mengirimkan CV kerja miliknya lewat email dengan begitu ia bisa duduk tenang dan menunggu panggilan untuk interview.
"Sekarang aku hanya tinggal menunggu panggilan interview," gumamnya seraya tersenyum simpul lantas menutup laptop di hadapannya.
...*...
Sekertaris nya itu mengetuk perlahan pintu kaca ruangannya, baru detik berikutnya ia melangkah masuk dan berjalan menghampiri meja kerjanya dengan sebuah file di tangannya yang telah di balut rapi dengan map berwana biru.
Atensi Jordan beralih pada wanita itu, mendongak menatap sosoknya yang kini berdiri tepat di hadapan.
"Ini yang bapak minta kemarin. HRD sudah mengirimkan salinan semua data-data yang di kirimkan oleh para pelamar," ujarnya seraya menyodorkan file di tangannya ke arah Jordan yang kini terduduk di meja kerjanya. Ia lantas menaruhnya di atas meja yang langsung di ambil oleh Jordan. Pria itu membuka satu persatu informasi yang telah di susun oleh pihak HRD di kantornya.
"Apakah sudah semuanya?"
"Iya pak, dan jumlah pelamar sudah memenuhi kuota siang ini jadi HRD resmi menutup dan menarik kembali lowongan pekerjaannya."
"Betul."
"Kalau begitu terima kasih, sekarang kau boleh kembali bekerja. Kalau pekerjaan mu sudah selesai kau boleh pulang."
"Baik. Saya permisi pak." Sekertaris nya itu beranjak pergi dari tempatnya berada saat ini. Meninggalkan Jordan seorang diri yang kini tengah memandangi setiap salinan data yang di berikan oleh HRD nya.
Ia membaca satu persatu data calon pegawai nya nanti, membaca pengalaman serta hal-hal kecil lainnya yang tertera di setiap informasi yang ada.
Setelah cukup lama ia membaca dan melihat satu persatu foto berisi gambar calon pegawainya, perhatiannya tersita oleh salah satu pelamar yang berada di antara tengah-tengah lembar dokumen di tangannya.
"Tunggu, dia…" Jordan terdiam, ia lantas memperhatikan lebih jelas sosok wanita yang berada dalam lembar data informasi yang kini di pegang nya.
"Kau…" Jordan menunjuknya sementara Aphrodite tampak bingung dengannya, ia menatap Jordan dengan raut wajah yang sulit untuk di artikan.
"Tidak aku sangka kita akan bertemu lagi," ujarnya seraya tersenyum membuat kening Aphrodite berkerut tak mengerti dengan maksud dari Jordan.
"Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanyanya.
"Kau lupa denganku?"
"Huh?"
"Kita pernah bertemu, kau ingat? Saat di bandara, dan juga saat di kantor. Waktu itu kau buru-buru dan tidak sengaja menabrak ku di depan pintu masuk, ingat?" Jordan berusaha mengingatkan sementara Aphrodite terdiam berusaha mengingat, tak lama raut wajahnya berubah.
"Oh, ya. Aku ingat," ujarnya seraya tersenyum ke arahnya.
"Aku senang ternyata kau masih ingat denganku."
__ADS_1
"Maaf sebelumnya karena aku tidak terlalu ingat denganmu, haha…" Aphrodite terkekeh pelan.
"Tidak apa-apa," ujarnya santai. "Omong-omong sedang apa kau di luar sini? Apakah kau sedang menunggu seseorang? Atau kau baru saja akan masuk untuk makan siang?"
"Oh, aku baru saja selesai makan siang dan sekarang aku mau pulang."
"Begitu rupanya, dengan siapa? Kau sedang menunggu pacarmu?"
"Huh? Tidak, bukan." Aphrodite menggelengkan kepalanya pelan.
"Begitu, omong-omong kita belum saling kenal. Namaku Jordan." Jordan menyodorkan tangannya.
"Aphrodite," balasnya seraya menjabat tangan Jordan.
Setelah melihat siapa yang baru saja mengirimkan CV kerja ke kantornya, Jordan tiba-tiba teringat akan kejadian beberapa waktu lalu ketika dirinya di pertmukan lagi dengan Aphrodite.
Jordan terdiam memandangi fotonya, entah sudah yang ke berapa kali dirinya kembali di pertemukan dengan Aphrodite dalam ketidak sengaja seperti ini.
"Entah apa yang tengah di rencanakan oleh takdir sampai-sampai kita terus di pertemukan seperti ini," gumamnya memandangi foto wanita itu di kertas yang di pegangnya.
Jordan melepaskan CV nya, memisahkannya dari yang lain setelah itu kembali fokus mencari beberapa CV calon pegawai yang nantinya akan ia kirim panggilan interview kerja di kantornya. Ia memisahkan beberapa yang di anggapnya layak ia interview secara langsung, dan sisanya ia akan serahkan pada HRD di kantornya.
Jordan menutup berkas di tangannya begitu ia selesai memisahkan beberapa isi di dalamnya dari yang lain. Pria itu menaruh beberapa lembar CV yang akan di interview olehnya nanti sementara sisanya ia simpan ke dalam map dan ia taruh di atas mejanya.
Sejurus kemudian setelah membereskan mejanya, Jordan lantas beranjak bangun dari tempat duduknya. Meraih jas miliknya lalu melenggang pergi meninggalkan ruang kerjanya, berjalan keluar kantor untuk pulang ke rumahnya dan beristirahat. Mempersiapkan dirinya untuk bekerja besok pagi.
...*...
Aphrodite menempelkan punggung tangannya di kening Fransisco yang kini terbaring di tempat tidurnya.
"Panas tubuhmu sudah semakin turun, lebih baik di bandingkan tadi pagi," ujar Aphrodite.
"Aku juga sudah merasa lebih baik."
"Tapi untuk memastikannya akan aku cek suhu tubuh mu dengan termometer." Aphrodite beranjak bangun dari tempat duduknya, mengambil termometer untuk mengecek ulang suhu tubuhnya dan memastikan kalau tubuhnya memang sudah kembali normal.
"Suhunya semakin turun. Mungkin besok pagi, suhu tubuhmu akan kembali normal."
"Syukurlah, dengan begitu aku bisa kembali bekerja."
"Tapi kalau kau masih sakit, lebih baik kau tetap di rumah dan beristirahat. Aku akan membantumu mengerjakan tugas kantormu seperti tadi."
"Tidak apa-apa, aku yakin besok aku sudah benar-benar sembuh dan biaa kembali bekerja. Sekarang saja aku sudah merasa lebih baik."
"Omong-omong ini sudah waktunya makan malam. Ayo kita turun ke bawah dan makan malam, kau pasti sudah lapar kan? Apalagi setelah makan siang tadi kau langsung tidur selepas minum obat."
"Aku sudah tidak sabar untuk makan makanan yang telah kau buat."
"Kalau begitu ayo." Aphrodite beranjak bangun, membantu Fransisco bangun lantas berjalan bersama menuju arah ruang dapur yang terletak di lantai satu apartemen yang mereka tinggali.
Tiba di ruang makan, Fransisco dan Aphrodite duduk di kursi kosong yang tersedia di sana.
"Melihat semua ini membuatku semakin lapar," ucap Fransisco seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling menatap satu persatu hidangan makan malam di sana yang telah di buatkan oleh Aphrodite. Setiap aroma yang di cium inderanya berhasil membuat nafsu makannya naik, apalagi setelah beberapa hari ia tidak selera untuk makan, sekarang ia yakin kalau setiap makanan yang masuk ke dalam mulutnya pasti akan terasa enak seperti sebelum ia jatuh sakit dan apa yang masuk ke dalam mulutnya terasa hambar.
Aphrodite mengambilkan nasi beserta lauk pauknya untuk Fransisco setelah itu menyodorkan kembali piring yang telah di isinya pada Fransisco.
"Makanlah," ujarnya seraya tersenyum simpul.
"Akan aku habiskan semuanya." Fransisco tersenyum simpul, ia sudah tidak sabar untuk memakan semua hidangan yang kini tersaji di atas piringnya. Bersanding dengan nasi dan beberapa lauk lainnya'.
Aphrodite beralih mengambil nasi untuk diri nya, sejurus berikutnya mereka mulai di sibukkan melahap makanan mereka masing-masing.
__ADS_1
...***...