Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Familier place


__ADS_3

...***...


"Kau kenal dengannya?" Tanya wanita itu seraya menunjuk sekretarisnya.


"Ya. Dia adalah sekertaris ku," ujarnya.


"Oh, jadi kau kau adalah atasannya?"


"Iya."


"Baik, dengar! Lain kali ajari sekertaris mu ini untuk berjalan dengan kedua matanya juga," tukasnya kesal.


"Aku benar-benar minta maaf atas kecerobohan dari sekertaris ku, bagaimana kalau sebagai gantinya minuman mu, aku ganti dengan yang baru?"


"Tidak perlu! Aku jadi tidak selera." Carla beranjak bangun dari tempat duduknya, menarik tas tangannya kasar lantas pergi dengan penuh emosi. Ia melangkah masuk ke dalam toilet untuk membersihkan pakaiannya yang ke tumpahan minuman yang di bawa sang pelayan.


Fransisco beralih pandang menatap sekertaris nya yang kini memalingkan wajah begitu ia menoleh. Menundukkan kepalanya tak berani menatapnya secara langsung.


"Maaf pak," gumamnya pelan tapi dapat di dengarnya begitu jelas.


"Sudahlah. Lain kali lebih berhati-hati lagi."


"Baik pak."


"Oh ya, karena saya memiliki janji dengan istri saya. Jadi kau kembali ke kantor lebih dulu saja."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi pak." Wanita itu mengangguk pelan lalu pergi meninggalkan Fransisco yang kini kembali ke meja yang semula di tempatinya, menunggu Aphrodite tiba untuk menikmati makan siang bersama dengannya di restoran tersebut.


...*...

__ADS_1


Aphrodite melangkah keluar dari dalam taksi yang di tumpanginya melenggang menuju arah restoran yang berada tepat di hadapannya itu, tiba di sana ia berjalan masuk dan segera mencari keberadaan Fransisco yang telah menunggunya sejak tadi.


Begitu menemukan sosok yang di carinya, Aphrodite bergegas berjalan menghampiri meja yang kini di tempati Fransisco.


"Kau sudah menunggu lama?" Tanya Aphrodite yang lantas menarik kursi yang ada di hadapannya.


"Tidak juga."


"Omong-omong kenapa kita makan di sini? Restoran ini 'kan letaknya jauh sekali dari kantor mu? Apakah ada sesuatu yang ingin kau makan di restoran ini?" Aphrodite mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mengagumi setiap sudut ruangan serta desain restoran itu. Restoran nya cukup nyaman, dan Aphrodite suka.


Aphrodite beralih pandang, meraih buku menu yang ada di hadapannya dan membukanya membaca serta melihat setiap makanan yang ada di dalam daftar menu.


"Tidak juga. Kebetulan saja aku baru selesai meeting bersama dengan salah satu klien ku, dan aku pikir tempat ini cukup nyaman. Makanan nya juga enak, jadi berpikiran untuk mengajakmu makan di sini karena aku yakin kau pasti suka dengan makanan yang ada di sini."


"Ooh… begitu rupanya."


"Baiklah, mari lihat. Kau ingin pesan apa?" Fransisco meraih satu buku menu dan membacanya, mencari makanan yang hendak di pesannya.


...*...


Jordan keluar dari dalam gedung hotel bersama dengan sekertaris nya. Mereka baru saja menyelesaikan sebuah pertemuannya dengan salah satu klien nya yang berasal dari luar negeri.


Jordan menghentikan langkah kakinya begitu mereka tiba di depan gedung hotel, sementara itu sekertaris nya sibuk mengecek jadwal yang telah di buatnya.


Jordan mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tempatnya berdiri saat benar-benar tidak akan pernah ia lupakan. Tempat yang sampai saat ini masih bisa dengan sangat jelas ia ingat di memori otaknya.


"Huft~" ia menghela napasnya panjang sebelum akhirnya tersenyum memandangi pantulan wajahnya di kaca restoran di hadapannya. "Oh…" ia membenahi sedikit pakaian yang di kenakan olehnya pun rambut panjangnya yang ia ikat satu ke belakang.


"Siap," tuturnya begitu mendapati penampilannya yang sudah benar-benar sempurna. Wanita itu kini siap untuk bekerja. "Semangat!" Ujarnya menyemangati diri sendiri, ia mencengkeram beberapa puluh lembar iklan di tangannya guna mempromosikan restoran tempat bekerjanya yang baru saja buka, untuk mendapatkan banyak pelanggan ia harus membantu melakukan promosi pada para pejalan kaki yang berlalu-lalang di sekitar restoran. Kemarin di acara pembukaan perdananya, mereka berhasil mendapatkan banyak pengunjung sampai-sampai seisi restoran di penuhi dengan orang-orang yang hendak mencoba makanan yang mereka buat.

__ADS_1


Walaupun kemarin adalah pembukaan yang terbilang sukses besar, namun tetap saja atasannya meminta untuk para pegawainya terus berusaha menarik pelanggan agar mereka sudi untuk mampir ke restoran yang baru saja buka itu. Lalu inilah salah satu cara mereka mempromosikan restoran mereka, selain melalui iklan di internet.


"Baiklah, waktunya bekerja." Wanita itu mulai bergerak menyebarkan satu persatu selebaran di tangannya pada para pejalan kaki yang berlalu-lalang di sekitarnya. Tak jarang senyuman terukir di wajahnya, berusaha bersikap ramah pada semua orang yang di temuinya.


"Mampirlah ke restoran kami," tuturnya seraya tersenyum pada salah satu wanita paruh baya yang menerima selebaran yang ia berikan.


Sementara dirinya sibuk dengan selebaran di tangannya, tanpa sadar seorang pria yang baru saja keluar dari dalam hotel tak jauh dari sana sejak tadi tengah memperhatikannya. Senyuman terukir di wajahnya, sementara kedua manik mata indahnya menatap lekat sosok wanita di sana.


Jordan melangkah perlahan, menyeberangi jalan. Menghampiri restoran baru tempat dimana wanita itu bekerja. Ia menghentikan langkahnya sejenak tepat di belakang wanita yang kini sibuk memberikan selebarannya tanpa sadar Jordan kini berdiri di belakangnya. Wanita itu berbalik, ia tersentak kaget begitu mendapati Jordan di hadapannya, ia melompat hampir tersungkur jatuh. Namun dengan sigapnya Jordan menangkap tubuh wanita itu.


Ia terdiam, beradu pandang dengan Jordan yang kini jarak wajahnya hanya beberapa centimeter dari posisinya.


Jordan tersenyum simpul, dari jarak yang sedekat ini. Wanita yang telah ia kagumi sejak lama itu tampak lebih cantik.


"Kau baik-baik saja?" Tanyanya yang entah kenapa membuat wajah wanita itu bersemu. Wanita itu menggeleng pelan, ia bergegas membenahi posisinya.


"A-aku baik-baik saja. Te-terima kasih kerena sudah menolongku, maaf juga karena aku tidak melihatmu," gumamnya sedikit terbata. Wanita itu menundukkan kepalanya tak berani menatap Jordan.


"Bukan masalah," sahut Jordan tenang. Tatapan matanya masih tertuju pada wanita di hadapannya, ia sedikit membungkuk membuatnya terkejut dan spontan sedikit menjauh dari posisinya.


Jordan memperhatikan wanita itu dalam jarak yang sangat amat dekat. Tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibirnya, hal itu berhasil membuat wanita itu bingung.


"A-ada apa? K-kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanyanya gugup.


"Cantik," pujinya yang berhasil membuat wajahnya memerah.


"H-huh?" Ia menautkan kedua alisnya. Namun Jordan bergegas mengalihkan perhatian pada bangunan restoran di hadapannya, restoran yang masih tampak baru.


"Kau bekerja di sini?" Jordan melirik padanya lewat ekor matanya.

__ADS_1


"O-oh… ya, benar," sahutnya. "Ah… kalau kau bersedia, mampirlah sesekali," katanya.


...***...


__ADS_2