Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Bracelet


__ADS_3

...***...


Jordan terdiam memandangi gelang yang kini berada dalam genggamannya. Apa yang terjadi tadi siang itu bagaikan sebuah mimpi yang menjadi nyata.


Saat ini dirinya tengah berada di dalam kamarnya, duduk di tepi ranjangnya dengan mengenakan piyama tidur seraya memandangi gelang yang di temukan mengait di lengan baju panjang yang ia kenakan.


"Tidak aku sangka kau masih memakai gelang ini, dan kau masih menyimpannya dengan sangat baik," gumam Jordan pelan seraya memandangi gelang itu lekat.


Jordan merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang ia duduki, memandangi langit-langit kamar tidurnya yang kini hanya di terangi oleh cahaya di lampu kamarnya.


"Aku ingin bertemu denganmu lagi," tutur Jordan pelan dengan penuh harap.


...*...


Laura terdiam di lantai seraya bersandar pada dinding yang berada di restorannya, ia terduduk seraya memeluk lututnya.


Ia sudah mencari ke berbagai tempat yang sempat ia kunjungi, mencari gelang yang tadi sempat ia gunakan namun tidak ia temukan di manapun. Laura benar-benar kehilangan gelang yang telah menemaninya selama bertahun-tahun itu, gelang itu hilang begitu saja tepat ketika dirinya di pertemukan dengan Jordan.


"Kau sedang apa? Apakah kau tidak pulang?" Tanya salah satu temannya yang kini tengah berbenah restoran, ia tengah membersihkan restoran yang kini sudah tutup. Tidak ada orang lain selain mereka berdua di dalam sana.


"Aku kehilangan dia…" gumamnya pelan tak menghiraukan ucapan temannya itu.


"Apa maksudmu? Kau kehilangan siapa?" Wanita itu bergegas berjalan menghampiri temannya itu, berjongkok tepat di hadapan temannya.


Laura menenggelamkan kepalanya diantara lipatan kedua tangannya, ia lesu dan benar-benar tidak bertenaga. Ia baru saja kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, sesuatu yang takkan pernah bisa ia relakan bahkan untuk lepas dari genggamannya.


"Laura?" Wanita itu memanggilnya lagi tapi tak ada jawaban dari wanita yang menjadi temannya itu. Laura hanya diam dalam rasa kalutnya.


...*...


Seperti hari-hari Senin sebelumnya, begitulah keadaan saat ini. Tidak ada suara sama sekali selain keyboard yang terdengar mendominasi seluruh ruangan yang kini mereka tempati.


Aphrodite masih sibuk dengan pekerjaannya, ia mengerjakan seluruh pekerjaannya dengan sangat serius tanpa menghiraukan keadaan di sekitarnya.


Waktu makan siang hanya tinggal kurang lebih setengah jam lagi, dan mereka masuk sibuk dengan pekerjaan yang harus mereka kerjakan.


...*...


Jordan terdiam, saat ini tengah duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya. Di tangannya ia masih sibuk memperhatikan gelang yang sejak beberapa hari ini ia bawa kemana-mana. Apalagi ketika pertemuannya dengan Laura berhasil membuatnya semakin kepikiran dengan wanita yang menjadi pujaan hatinya itu.


"Dimana kau bersembunyi sampai saat ini?" Jordan bergumam pelan memperhatikan gelang dalam genggamannya.


Atensinya beralih ketika ponselnya di atas meja itu menyala menampakkan layar panggilan dari mamanya. Jordan meliriknya sekilas, ia sama sekali tidak berniat untuk mengangkat telpon dari mamanya. Ia tak menghiraukan sama sekali ponselnya dan memutuskan untuk mendiamkannya. Ponselnya beberapa kali mati-menyala, mati-menyala, hingga tampak hampir sepuluh panggilan tak terjawab yang masuk pada ponselnya.


"Laura… apakah kau tahu kalau selama ini aku mencari mu dan masih berharap kau akan kembali untukku?"


"Aku jadi penasaran bagaimana perasaanmu padaku…"


Jordan bergumam pelan. Pintu ruangannya di ketuk pelan membuat Jordan tersadar dari lamunannya, ia menoleh ke arah pintu masuk mendapati sekertaris nya yang kini mendorong pintu itu perlahan lalu berjalan menghampiri dirinya.


"Pak, ini beberapa berkas yang harus bapak tanda tangani," ujar wanita itu seraya menyodorkan berkas di tangannya ke arah Jordan yang terduduk di sofa. Pria itu beranjak bangun dari tempatnya, meraih berkas di tangannya; menghampiri meja kerjanya di sana lalu menandatangi berkas tersebut dengan pulpen yang ada.


"Ini." Jordan menyodorkan kembali berkas di tangannya. "Sekarang kau boleh pergi."


"Baik pak." Ia membungkuk sebelum beranjak pergi, langkahnya terhenti saat ia baru saja berjalan satu langkah. Ia menatap Jordan. "Ng… bapak tidak lupa dengan meeting penting hari ini 'kan? Meeting nya hanya beberapa menit lagi sebelum waktu makan siang."


"Meeting?"


"Betul pak."


"Kau tangani saja, saat ini saya sedang kurang enak badan. Dan saya tidak akan bisa fokus mengikuti meeting dalam kondisi tubuh seperti ini." Jordan kembali berjalan ke arah sofa, meraih ponselnya lalu meraih jas kerjanya yang tergantung di kursi kebesarannya dan mengenakannya.


"A-apa pak? Saya?" Wanita itu terkejut, mati. Ia bahkan belum mempersiapkan apa-apa dan meeting nya akan di gelar dalam beberapa menit mendatang.


"Ya. Kau bisa 'kan?"


"Y-ya… tapi pak."


"Bagus. Kalau begitu tolong sampaikan permintaan maaf ku yang tidak bisa hadir mengikuti meeting. Kalau begitu saya permisi, saya membutuhkan udara segar untuk menenangkan diri." Jordan beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut, meninggalkan sekertaris nya seorang diri di dalam ruangannya.


"Ta-tapi pak…" wanita itu terdiam meratapi Jordan yang kini telah menghilang di balik pintu masuk.

__ADS_1


"Aish! Mati aku! Kalau begitu aku hanya memiliki beberapa menit saja sebelum meeting nya di mulai. Aku harus bergegas." Ia beranjak pergi dari dalam sana, hendak menyiapkan segala materi untuk meeting yang harus di tanganinya, menggantikan Jordan di meeting tersebut.


...*...


Jordan melangkah keluar dari dalam kantornya, melenggang menyusuri trotoar untuk bisa tiba di restoran tempat biasa ia makan siang. Tempat itu cukup nyaman untuknya mendapatkan ketenangan dan selalu berhasil membuatnya lebih tenang, merasa lebih nyaman di bandingkan sebelumnya.


Tiba di sana, ia duduk di salah satu meja yang letaknya cukup jauh dari keramaian. Ia segera memesan teh manis dengan aroma yang mampu membuatnya lebih tenang, sejurus kemudian ia hanya diam seraya menatap ke arah jendela. Menatap jalanan yang cukup ramai di hiasi oleh mobil dan pejalan kaki yang berlalu-lalang di sekitarnya.


...*...


Aphrodite meregangkan otot-otot lehernya saat ia merasa ototnya sedikit tenang. Ia kini berdiri dengan sebelah tangan menggenggam segelas air minum yang baru saja di bawanya di pantry.


Saat ini dirinya tengah memfotokopi berkas yang harus ia kirimkan pada Mario sebagai atasannya.


Beberapa lembar kertas keluar dari dalam mesin fotokopi, Aphrodite meraih kertas tersebut; menyusunnya sesuai dengan yang seharusnya.


Setelah di susun dan di gabungkan dalam satu berkas ia lantas membawanya menuju ruang Mario untuk mengirimkan berkas tersebut padanya.


Tiba di depan ruang Mario, ia mengetuk perlahan pintu ruangannya perlahan. Setelah mendapatkan izin untuk masuk, ia lantas mendorong perlahan pintu ruang kerjanya. Berjalan menghampiri meja yang di tempati oleh Mario yang terduduk di sana.


"Pak, ini adalah berkas yang bapak minta," tuturnya seraya menyodorkan berkas itu tepat di hadapan Mario tang terduduk di kursi kebesarannya.


"Baiklah, terima kasih."


"Kalau begitu saya permisi." Aphrodite berbalik siap untuk melangkah tapi Mario lebih dulu menghentikan langkahnya sebelum Aphrodite siap untuk keluar dari dalam ruang kerjanya.


"Aphrodite, tunggu."


"Ya, pak? Ada apa?"


"Kau tidak terlalu sibuk 'kan?"


"Tidak. Memangnya ada apa pak?"


"Tolong antarkan berkas ini pada sekertarisnya pak Jordan." Mario beranjak bangun dari tempat duduknya menyodorkan berkas di atas meja dan memberikannya pada Aphrodite.


"Baiklah pak." Aphrodite meraihnya.


"Sekarang kau boleh pergi."


"Baik pak."


Ia terus melangkah menyusuri koridor menuju ruang kerja Jordan, tapi saat ia berbelok hampir tiba di ruang kerjanya secara tidak sengaja ia berpapasan dengan sekertaris nya.


"Oh, kebetulan kita bertemu di sini. Saya ingin memberikan berkas ini pada anda." Aphrodite menyodorkan berkas di tangannya.


Sekertaris nya Jordan itu menoleh sekilas ke arahnya. "Aku sedang sibuk saat ini, bagaimana kalau langsung kau taruh di atas meja pak Jordan saja? Kebetulan pak Jordan juga sedang keluar jadi ruangannya kosong."


"Baiklah."


"Kalau begitu saya duluan." Wanita itu bergegas beranjak pergi dengan langkah tergesa-gesa, ia masih harus mengumpulkan beberapa materi lain sebelum meeting yang harus ia hadir.


Aphrodite terdiam sejenak memandangi punggung wanita itu yang terus berjalan hingga sosoknya menghilang di balik salah satu belokan yang ada di sana. Detik berikutnya Aphrodite melenggang menuju ruangan Jordan, mengetuk pelan pintu ruangannya lalu masuk dan berjalan menghampiri meja kerjanya yang kosong.


Aphrodite terdiam sejenak sebelum keluar mengagumi isi ruangan yang begitu indah dan nyaman itu.


"Ternyata begini ruang kerja seorang Jordan," gumamnya pelan. Atasnya dalam seketika tersita oleh kehadiran sebuah gelang yang tergeletak di atas meja yang ada di dekat sofa yang ada. Aphrodite mengerutkan keningnya, ia berjalan perlahan menghampiri sofa untuk melihat lebih jelas.


"Gelang?" Aphrodite berdiri di depan meja menatap gelang itu dari arah yang lebih dekat.


"Aku tidak tahu kenapa tapi gelang ini begitu familiar, dimana aku pernah melihatnya, ya?" Aphrodite mengerutkan keningnya. Ia memperhatikan lebih jelas gelang tersebut, itu adalah gelang perempuan.


"Kenapa ada gelang perempuan di sini?" Aphrodite meraih gelangnya dan memperhatikan dari jarak yang lebih dekat.


"Tunggu… gelang ini…"


"Gelang mu bagus," ujar Aphrodite membuat Laura menoleh padanya.


"Oh, ini?"


"Iya. Dimana kau membelinya, aku belum pernah melihat gelang seindah ini. Kau membuatnya sendiri?"

__ADS_1


"Huh? Tidak, ini dari seseorang yang istimewa. Dulu saat kami masih bersama dia memesankan gelang istimewa ini khusus untuk diriku."


"Oh ya? Siapa dia? Apakah dia pacarmu?"


"Ng…" Laura terdiam sejenak, air wajahnya berubah sedikit murung. Ia bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Aphrodite. "Sepertinya tidak penting, aku tidak perlu menjelaskannya. Hubunganku dengannya terlalu rumit."


"Begitu rupanya…"


Ingatan itu kembali terlintas di benaknya. Aphrodite terbelalak, melihat apa yang sekarang berada dalam genggamannya.


"Benar. Ini adalah gelang milik Laura. Aku tidak mungkin salah, apalagi Laura pernah bilang kalau gelang ini hanya ada satu dan itu adalah miliknya. Tapi… kenapa ada di sini?"


Aphrodite terdiam sejenak memandangi mencerna apa yang tengah terjadi saat ini.


Aphrodite bergegas mengeluarkan ponselnya, mencari nomor milik Laura dan mengirimkan foto gelang yang di genggamnya pada wanita yang kini menjadi sahabatnya itu.


...*...


"Selamat datang," sapa Laura ramah pada beberapa pengunjung lain yang baru saja masuk ke dalam restoran tempatnya bekerja. Beberapa temannya segera menghampiri para pengunjung yang kini mengambil duduk di salah satu meja yang kosong di sana. Mereka segera mencatat makanan yang di pesan para pengunjung yang datang.


Laura yang tengah mempersiapkan diri untuk memasak, tiba-tiba saja beralih fokus pada ponselnya begitu benda berbentuk persegi panjang itu berbunyi.


"Pesan?"


Laura segera membuka pesan yang di kirim oleh Aphrodite. Aphrodite mengirimkan gambar gelang miliknya yang hilang.


Aphrodite:


Laura, ini gelang milikmu atau bukan? Aku menemukan ini secara tidak sengaja, dan ini sama persis dengan yang kau gunakan.


Lauda terbelalak dengan yang di lihatnya. Bergegas ia menekan tombol telpon di sana yang dalam seketika mengubah layar perpesanan nya itu menjadi layar panggilan.


"Halo?" Suara Aphrodite di dengarnya dari seberang sana.


"Itu gelang ku. Kau menemukannya dimana? Beberapa waktu yang lalu aku kehilangan gelang ku. Kau ingat saat kita bertemu di supermarket beberapa waktu lalu? Di saat itulah gelang ku hilang entah dimana dan aku tidak bisa menemukannya." Jelas Laura cepat membuat Aphrodite tertegun di seberang sana.


"Jadi, ini milikmu?"


"Iya. Bagaimana kau bisa menemukannya?"


"Itu…"


"Ah itu tidak penting, tapi yang pasti aku ingin gelang itu kembali. Bisakah kita bertemu siang ini juga?"


"T-tentu, bagaimana kalau di jam istirahat ini? Kita bertemu di kantor Frans. Aku akan pergi ke sana siang ini untuk makan siang bersama dengannya."


"Oke. Kirimkan saja lokasinya, aku akan pergi sekarang juga."


"Baiklah aku kirimkan lokasinya sekarang."


"Iya."


"Kalau begitu sampai bertemu."


"Sampai bertemu juga."


Laura segera memutus sambungan telponnya dengan Aphrodite. Ia segera melepaskan apron yang terpasang di tubuhnya, melepaskan topi kokinya dan pergi menuju ruang ganti karyawan untuk mengganti baju kokinya.


"Tolong gantikan aku untuk sebentar saja. Aku harus pergi sebentar, ini penting dan mendesak. Kalau pak manajer datang bilang saja kalau aku memiliki urusan mendadak," ujar Laura pada teman dekatnya itu.


"Oke. Tapi… kau mau kemana?"


"Terima kasih, kalau begitu aku pergi dulu." Laura memeluk sahabatnya sebagai ucapan terima kasih, setelahnya ia bergegas pergi dari sana dengan tergesa-gesa.


Laura keluar dari dalam restoran, berlari menuju jalan raya dan segera mencari taksi kosong yang tengah melaju di sekitarnya.


Begitu menemukan taksi yang kosong, ia segera meminta yang supir untuk mengantarkannya menuju alamat yang telah di kirimkan oleh Aphrodite.


Jantungnya bahkan sampai berdebar mendengar kabar yang di bawa oleh Aphrodite saat wanita itu mengirimkan foto gelang miliknya dan mengatakan kalau ia tidak sengaja menemukan gelang itu.


"Syukurlah gelang itu ketemu, aku benar-benar senang." Laura bergumam pelan seraya tersenyum, ia memeluk ponsel di tangannya yang kini menampakkan foto berisi gambar gelang miliknya yang semula di kirim kan oleh Aphrodite. Sungguh ia tidak akan pernah melupakan kejadian ini dalam hidupnya.

__ADS_1


"Aku berhutang satu kebaikan lagi padanya…" tuturnya pelan. Laura terdiam memandangi foto gelang yang tampil dilayar ponselnya.


...***...


__ADS_2