Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
I can't sleep


__ADS_3

...***...


BLAM!


Fransisco menutup pintu kamarnya pelan. Pria itu tampak tenang, beda halnya dengan Aphrodite yang saat ini tampak amat gugup. Ini bisa dibilang adalah malam pertamanya dengan Fransisco setelah mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Maksudnya malam pertama mereka tidur di ruangan yang sama.


Aphrodite terdiam di sana. Ia menelan ludahnya susah payah, jantungnya berdegup kencang, entah bagaimana ia harus berbicara pada Fransisco. Pasalnya ia belum siap untuk segala hal yang setiap pengantin baru lakukan di malam pertama mereka.


Aphrodite meremat baju tidurnya, ia benar-benar gugup saat ini.


"Kenapa kau berdiri saja?" Tanya Fransisco yang dalam sekejap mengejutkan dirinya.


"A-ah? Ya?" Ujarnya panik, ia spontan berbalik ke arah Fransisco yang kini berdiri di belakangnya, menatap Aphrodite dengan raut wajah bingung.


"Kenapa kau begitu terkejut?"


"A-ah itu…" Aphrodite terdiam, ia masih berusaha untuk menenangkan dirinya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Fransisco yang kini mengubah mimik wajahnya cemas.


"Frans… ada yang ingin aku bicarakan denganmu sebelum tidur," gumam Aphrodite pelan. Ia menundukkan kepalanya.


"Apa? Katakan saja."


"A-aku…" Aphrodite terbata, tangannya semakin getol meremat baju tidurnya, membuat baju itu kusut.


"Kenapa? Apakah kau sakit? Apa perlu aku panggilkan dokter untuk memeriksa mu?" Fransisco menaruh punggung tangannya pada kening Aphrodite, memastikan suhu tubuhnya normal.


"T-tidak. Aku tidak sakit." Aphrodite menggeleng cepat.


"Lalu apa?" Fransisco semakin tak mengerti.


"A-aku… belum siap untuk melakukannya denganmu," ujarnya berbicara dengan kalimat akhirnya yang ia percepat. Fransisco tertegun saat Aphrodite berbicara dengan sangat cepat nyaris tak dapat ia mengerti dengan jelas. Tapi untungnya ia paham setiap kata yang baru saja terlontar dari bibirnya.

__ADS_1


Fransisco tersenyum mendengar apa yang baru saja di dengarnya. Aphrodite melirik Fransisco lewat ujung bulu mata lentiknya. Ia kemudian mendongakkan kepalanya saat mendengar suara Fransisco terkekeh di hadapannya.


Aphrodite memandanginya dengan raut wajah bingung. "K-kenapa kau terkekeh?" Tanya Aphrodite sembari mengerutkan keningnya.


"Aku pikir apa yang ingin kau bicarakan denganku," ujar Fransisco seraya mengulum senyum.


"K-kau tidak marah atau kecewa padaku?" Tanya Aphrodite bingung.


"Tidak." Fransisco menggelengkan kepalanya membuat Aphrodite semakin bingung dibuatnya. Seharusnya saat ini reaksi Fransisco adalah marah dan kecewa padanya, tapi ini semua di luar dugaannya. "Kau tahu kenapa aku tidak marah?"


Aphrodite menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Ia tidak mengerti alasan mengapa Fransisco tidak marah padanya.


"Karena aku tahu, ini masih berat bagimu dan kau belum bisa sepenuhnya menerima semua ini. Jadi aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya. Dan aku akan bersabar untuk menunggu mu sampai benar-benar siap." Fransisco menatap lekat manik mata Aphrodite. Beradu pandang dengannya.


Aphrodite menundukkan kepalanya, tidak berani untuk beradu pandang lebih lama dengan Fransisco.


"Lagipula… aku tidak ingin kau melakukan semua itu hanya karena kau ingin memenuhi tugasmu dan menjalankan peranmu dengan baik sebagai seorang istri. Tapi aku ingin kau melakukannya karena kau memang benar-benar cinta padaku."


Aphrodite semakin merasa tidak enak. Hatinya mencelos saat lagi-lagi sikap Fransisco berhasil membuatnya merasa bersalah atas sikapnya pada pria yang bahkan senantiasa memperlakukan dirinya dengan sangat baik.


"Maaf…" gumam Aphrodite pelan. Hanya kata itu yang mampu terlontar dari bibirnya.


"Kau tidak perlu meminta maaf. Sekarang lebih baik kau tidur. Oh ya, kalau kau merasa tidak nyaman tidur satu ranjang denganku malam ini, aku bisa tidur di sofa."


"A-ah tidak perlu. Kalau kau tidur di sofa, justru malah membuatku semakin merasa bersalah dan merasa tidak enak pada mu," gumam Aphrodite.


"Kenapa kau harus merasa tidak enak? Dan kenapa kau harus merasa bersalah? Aku baik-baik saja."


"Tetap tidak bisa. Apalagi kita baru saja menikah dan tidak baik kalau kita tidur dalam satu ruangan tapi kita tidur terpisah. Setidaknya aku harus bisa membiasakan diri dengan semua itu, karena mulai hari ini dan seterusnya… aku akan tidur satu kamar denganmu," ujar Aphrodite pelan.


"Kalau begitu ayo tidur. Ini sudah malam."


"Ng." Aphrodite menganggukkan kepalanya. Ia kemudian melangkah menghampiri ranjang tidurnya dengan Fransisco mengikutinya dari arah belakang.

__ADS_1


...*...


Waktu berlalu. Jam di dinding telah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun Aphrodite masih tak kunjung dapat memejamkan kedua matanya. Rasanya semakin ia berusaha untuk tertidur semakin sulit pula untuk kedua matanya terpejam.


"Huft~ aku benar-benar tidak bisa tidur," gumam Aphrodite seraya membuka kedua matanya. Ia lantas mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang, menatap langit-langit kamarnya yang kini tampak gelap.


Fokus Aphrodite beralih pada Fransisco yang kini terbaring di sebelahnya. Pria itu tertidur dengan sangat pulas, ia tampak begitu tenang saat dalam keadaan seperti saat ini.


Aphrodite memandanginya lekat. Semakin dalam ia menatap pria itu, semakin besar pula rasa bersalah yang ia rasakan.


Aphrodite beranjak bangun dari ranjang tidurnya setelah ia terus merasa tidak bisa tertidur. Ia berjalan menghampiri pintu menuju beranda kamarnya. Melangkah keluar dan berdiri di balik pagar besi yang ada di sana. Kedua matanya memandang ke arah taman yang letaknya tepat berdekatan dengan kamar mereka.


"Maaf karena aku masih belum bisa menjadi istri yang baik," gumamnya pelan. Amat pelan bagai bisikan. Hanya semilir angin malam yang dapat mendengar suaranya.


"Astaga, apa yang sedang kau lakukan di luar begini?" Suara Fransisco tiba-tiba saja menginterupsi gendang telinganya, membuat Aphrodite terkejut dan spontan menoleh ke arah pria yang kini berdiri di ambang pintu masuk itu.


"A-ah… Frans, aku membangunkan mu?"


"Tidak. Tapi apa yang kau lakukan di luar? Ayo masuk, di sini dingin. Udara malam tidak baik untuk tubuhmu." Fransisco menghampiri Aphrodite, merangkul tubuhnya kemudian menuntunnya masuk ke dalam.


"Aku hanya tidak bisa tidur. Jadi aku mencari udara segar sebentar," gumamnya.


"Jangan terlalu sering keluar malam-malam, udaranya tidak baik," sahut Fransisco yang kemudian menutup pintu menuju beranda kamarnya. Menuntun Aphrodite menuju arah ranjang. "Sekarang kau tidur, ya?" Tuturnya lembut.


"Aku tidak bisa tidur."


"Kalau begitu apakah aku perlu membantumu agar bisa tidur?"


"Caranya?"


"Akan aku nyanyikan sebuah lagu agar kau bisa tidur. Bagaimana?" Tanya Fransisco. Aphrodite terkekeh mendengarkan.


"Haha, memangnya kau bisa bernyanyi?"

__ADS_1


"Kau meremehkan suamimu ini?" Fransisco menatapnya tak percaya.


...***...


__ADS_2