Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Dining room


__ADS_3

...***...


"Kalian sedang apa di sini? Cepat kembali!" Bertha mengusir Cammy dan semua crew nya yang lain.


"O-oh, baik madame." Cammy menyahut. Ia lantas berbalik dan pergi bersama dengan yang lainnya. Menyisakan Aphrodite, Fransisco, dan Bertha bertiga disana.


"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Bertha memastikan.


"Kami tidak apa-apa," sahut Aphrodite seraya tersenyum ke arahnya.


"Apakah anda yakin nona? Anda tidak terluka kan?" Cemas Bertha, ia berjalan menghampiri Aphrodite menatap dari atas sampai bawah untuk memastikan semuanya.


"Aku benar-benar tidak apa-apa. Terima kasih karena telah mencemaskan aku," ujarnya.


"Oh ya, lalu apa yang kau lakukan? Kau mau kemana sebenarnya?" Tanya Fransisco yang kemudian kembali menatap ke arah Aphrodite.


"O-oh itu, aku ingin mencari minum tapi aku tidak bisa menemukan ruang makan atau dapur. Dan aku malah tersesat, mungkin karena mansion ini terlalu besar," balas Aphrodite.


"Huft~ lalu kenapa kau tidak membangunkan ku?"


"Aku hanya tidak ingin mengganggu tidurmu. Tampaknya kau sangat kelelahan sampai-sampai kau tidur begitu pulas. Maka dari itu aku tidak berani mengganggumu."


"Astaga, padahal kau bangunkan saja aku. Bagaimana kalau tadi itu benar-benar ada pencuri lalu mereka melakukan hal yang tidak-tidak padamu huh? Jangan membuat aku cemas. Apalagi kau kan tidak terlalu kenal Paris."


"Maaf kalau aku membuatmu cemas. Tapi ucapan mu itu tidak masuk akal. Lagipula pencuri mana yang mau beraksi di pagi-pagi seperti ini?"


"Ya, itu kalau misalkan."


"Sudahlah jangan terlalu cemas. Lagipula aku tidak apa-apa, dan pencuri juga tidak akan kan? Kau tidak perlu terlalu cemas."


Fransisco menghela napasnya panjang. Ia kalah setiap kali berdebat dengan Aphrodite. Apalagi Fransisco tidak bisa marah pada Aphrodite, sama sekali tidak bisa. Wanita itu terlalu di cintai olehnya.


Bertha yang melihat Fransisco tampak cemas dengan Aphrodite lantas terkekeh mendengarnya. Walaupun ia tidak mengerti dengan apa yang tengah mereka bicarakan, tapi Bertha dapat melihat bagaimana sayangnya Fransisco terhadap Aphrodite.

__ADS_1


"Kalian adalah pasangan yang cocok," gumam Bertha dalam bahasa Prancis yang spontan membuat perhatian Aphrodite dan Fransisco beralih ke arahnya.


"Eh?" Aphrodite tertegun. Ia baru sadar bahwa masih ada Bertha di sana. Berdebat seperti saat ini dengan Fransisco membuatnya malu sendiri.


"Oh ya, maaf atas kelalaian saya tadi karena tidak ada di sini untuk melayani kalian. Tadi saya sedang beristirahat dengan para maid yang lain yang baru saja selesai bekerja di paviliun." Bertha membungkuk meminta maaf, ia berbicara dengan bahasa Inggris.


"Oh, tidak apa-apa. Lagipula aku mengerti kalian juga membutuhkan istirahat, apalagi kalian pasti sudah sangat bekerja keras untuk membuat penyambutan untuk kami," ujar Aphrodite.


"Terima kasih nona telah memaafkan saya dan yang lainnya."


"Iya."


"Oh ya, Bertha. Apakah kau sudah membuatkan sarapan untuk kami?" Tanya Fransisco.


"Tadi ada beberapa bahan yang saya lupa untuk membelinya jadi saya menyuruh Giza untuk membeli bahan-bahannya. Dan sekarang semua bahannya sudah siap, apakah anda ingin makan sekarang?"


"Iya. Siapkan semuanya."


Tiba di ruang makan, mereka mendapati beberapa orang maid yang tengah menyiapkan semua bahan makanan untuk sarapan mereka.


Fransisco menghampiri satu kursi di dekat meja makan, menarik kursinya dan mempersilahkan Aphrodite untuk duduk di sana. Begitu wanita yang menjadi istrinya itu telah duduk dengan nyaman, Fransisco lalu mengambil duduk tepat di hadapannya.


"Mohon menunggu sebentar ya," ujar Bertha yang kemudian berjalan menghampiri dapur. Mengkoordinasikan tim dapurnya untuk segera bersiap di posisi masing-masing.


"Apa yang sedang mereka lakukan?" Tanya Aphrodite pada Fransisco.


"Tentu saja mereka sedang menyiapkan sarapan untuk kita, tapi sementara kita menunggu. Mereka akan membuat sebuah pertunjukan kecil yang bisa menghibur kita selama menunggu dan menonton mereka memasak."


"Benarkah?"


"Iya. Dan ini seru. Bertha dan tim dapurnya sangat ahli membuat atraksi pertunjukan memasak mereka menjadi menarik bagi kita."


"Woah, aku sudah tidak sabar untuk menontonnya," gumam Aphrodite sembari tersenyum. Fransisco menoleh sekilas ke arah Aphrodite, ia tersenyum simpul saat melihat Aphrodite yang tampaknya mulai merasa nyaman dan tidak terlalu kaku untuk berdekatan dan berbicara dengannya.

__ADS_1


Fokus mereka kemudian beralih pada Bertha dan timnya, mereka memulai atraksi selama mereka memasak. Membuat waktu menunggu Aphrodite dan Fransisco jadi menarik. Aphrodite sesekali terkagum-kagum saat melihat mereka membuat pertunjukan di ruang dapur, tak jarang juga Aphrodite memberikan tepuk tangan untuk mereka.


Setelah pertunjukan yang tidak terlalu memakan waktu, akhirnya hidangan sarapan sudah tersaji di hadapan mereka. Sebuah hidangan mewah menghiasi seisi meja makan.


"Ummm… baunya sangat harum dan tampak sangat menggiurkan," gumam Aphrodite dengan kedua mata berbinar menatap hidangan makanan yang ada di hadapannya.


"Eh, tapi tunggu… bukankah di Eropa tidak memakan nasi sebagai makanan pokok, ya?" Tanya Aphrodite yang baru sadar bahwa yang tersaji di hadapannya adalah hidangan Asia. Ia menoleh pada Bertha yang kini berdiri di samping meja makan bersama dengan teman-teman nya.


"Oh, itu… madame Fanny yang meminta agar kami membuatkan hidangan Asia untuk menyambut tuan muda dan nona, karena madame Fanny cemas kalau nona merasa tidak terbiasa sarapan dengan hidangan Eropa," jelas Bertha.


"O-oh begitu rupanya. Omong-omong mama begitu teliti ya," gumam Aphrodite. Entah kenapa semenjak kemari dari awal ia mempersiapkan pernikahan nya hingga saat ini, Fanny tak luput dari telinganya. Namanya selalu di sebut-sebut mulai dari mempersiapkan pernikahan, pakaian untuk berbulan madu, tiket pesawat, paspor, mansion, hingga hidangan sarapan pun. Semuanya telah Fanny persiapkan. Aphrodite benar-benar tercengang di buatnya.


"Begitulah, mama adalah orang yang perfeksionis jadi jangan heran kalau mama begitu teliti dalam hal sekecil ini pun," sahut Fransisco.


"Begitu ya…. Aku baru menyadarinya," Aphrodite tersenyum.


"Sudahlah, ayo kita sarapan. Setelah kini kita pergi."


"Pergi? Kemana?"


"Kita jalan-jalan menikmati keindahan kota Paris."


"Tapi, apakah tidak terburu-buru? Kita baru saja sampai dan kau juga pasti masih lelah kan? Apakah tidak lebih baik kalau kita istirahat dulu seharian ini?"


"Aku baik-baik saja. Lagipula ada banyak tempat yang ingin aku kunjungi bersama denganmu di kota ini. Jadi setelah ini kita pergi, oke?"


"Baiklah," sahut Aphrodite sembari menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu ayo makan."


"Iya." Aphrodite meraih sendok dan garpu nya. Ia kemudian mulai disibukkan menikmati sarapannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2