Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Open your mouth


__ADS_3

...***...


Hening. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu yang dapat mereka dengar sejak beberapa menit yang lalu.


Aphrodite masih terdiam memperhatikan Fransisco yang kini tampak menikmati hidangan sarapan yang telah ia buat. Ia memperhatikan Fransisco dengan seksama, dan Aphrodite semakin cemas begitu melihat pria itu yang benar-benar tampak pucat tapi bersikeras untuk pergi ke kantor karena harus menghadiri meeting penting dengan klien dari Singapura nya.


"Kau yakin akan pergi?" Tanya Aphrodite yang berhasil membuat atensi Fransisco beralih padanya.


"Iya," sahutnya kemudian seraya menganggukkan kepalanya.


"Tapi kau kurang sehat, kau demam. Suhu tubuhmu juga tinggi, kalau kau memaksa bekerja… aku takut terjadi apa-apa denganmu di kantor."


Fransisco menghentikan kegiatannya, meraih gelas berisi air putihnya lalu meneguknya perlahan. Ia tersenyum simpul menatap Aphrodite yang kini menatapnya penuh cemas.


Fransisco meraih tangan Aphrodite, menggenggamnya guna membuat wanita itu sedikit lebih tenang.


"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Siang nanti kondisiku akan kembali seperti semula, aku hanya perlu meminum vitamin sebelum bekerja. Aku pasti baik-baik saja."


"Jangan terlalu menyepelekan keadaan mu Frans, kalau kau memaksakan untuk bekerja dalam kondisi tubuh yang seperti ini… nantinya kau akan semakin bertambah sakit. Seharusnya kau tinggal di rumah dan beristirahat seharian, dengan begitu tubuhmu memiliki jeda sejenak dari kesibukan kantor."


"Aku sudah cukup istirahat."


"Tapi Frans…"


"Sudahlah, lebih baik sekarang kita fokus makan. Setelah ini aku akan memakan vitamin agar kondisiku seperti semula, lalu aku akan berangkat. Meeting nya akan di lakukan pagi ini, jadi aku harus tiba sebelum mereka datang untuk mempersiapkan segala hal yang akan aku bahas dalam meeting ini."


"Baiklah jika kau berkeras. Tapi ingat satu hal! Kau harus langsung istirahat begitu kau merasa kalau kau mulai kelelahan dan tubuhmu mulai terasa tidak enak. Jangan pedulikan pekerjaan kantor dan fokuskan pada kondisimu. Jangan membuatku cemas, oke?"


Fransisco kembali menarik senyum, baru kali ini dirinya melihat Aphrodite yang tengah berada dalam keadaan cemas, dan ini adalah pertama kalinya ia melihat Aphrodite begitu mencemaskan dirinya. Dia terlihat manis saat bersikap seperti saat ini.


"Baiklah, aku mengerti," sahutnya seraya menganggukkan kepalanya.


"Kalau terjadi sesuatu segera hubungi aku. Aku akan menjemputmu dan membawamu untuk pulang."


"Iya, sayang… kau itu jadi cerewet kalau dalam keadaan cemas seperti ini ya, kau jadi terlihat menggemaskan."


"Bagaimana mungkin aku tidak cemas. Kau ini sakit, dan kau malah bersikeras untuk pergi ke kantor. Dan lagi… dalam keadaan seperti ini, kau masih bisa berkata-kata manis, ya?" Aphrodite mendelik menanggapi perkataan Fransisco.


Fransisco hanya terkekeh pelan mendengar Aphrodite berkata seperti itu membuatnya geli.


...*...


Pertemuannya dengan salah satu kliennya itu baru saja di mulai, di ruang rapat kantornya ia duduk bersama dengan orang-orang yang memang terlibat dalam projects yang di garapnya kali ini.


Fransisco baru saja hendak bangun dari tempat duduknya, hendak melakukan presentasi di hadapan semua orang yang duduk berkumpul mengisi setiap kursi yang ada di meja besar tersebut. Tapi begitu sempat dirinya melangkah, rasa pusing secara tiba-tiba menyerang kepalanya membuat Fransisco kembali terduduk di kursi yang semula di duduknya.


"Pak, anda baik-baik saja?" Tanya sekertaris nya yang duduk di sampingnya itu dengan raut wajah cemas. Fransisco hanya diam tak menjawab, ia masih berusaha untuk mengontrol dirinya. Rasa pusingnya malah semakin hebat ia rasakan, pandangannya mulai mengabur dan ia kesadarannya mulai menurun secara perlahan.


"Pak?" Wanita itu memastikan, menepuk pelan pundak atasannya guna mengecek apakah dia baik-baik saja atau tidak.


"Kepalanya saya hanya pusing, tapi saya tetap bisa persentasi," lirihnya.


"Kelihatannya kesehatan bapak semakin menurun. Kalau begitu biar saya saja yang meng-handle persentasinya, lagipula saya sempat membaca dan memahami materinya." Ia beranjak bangun dari tempat duduknya, secepatnya mengambil alih persentasi yang seharusnya di lakukan oleh Fransisco.


Semua pasang mata dalam sekejap beralih menatap wanita yang kini berdiri di depan layar proyektor putih dengan menampakkan gambar prestasi yang telah ia dan timnya persiapkan lebih dulu. Detik berikutnya ia mulai menjelaskan seluruh isi materi yang telah di persiapkan nya. Semua orang terdiam menyimak persentasinya, sesekali wanita itu menanyakan pada kliennya apakah ada yang ingin mereka tanyakan atau tidak mengenai semua hal yang telah di sampaikan nya dalam persentasi tersebut.


...*...


Aphrodite terdiam di sofa yang berada di ruang tengah, duduk di depan televisi yang kini dalam keadaan mati. Wajah cemasnya sejak Fransisco berangkat tak bisa hilang, pikirannya terus di penuhi dengan rasa khawatirnya terhadap Fransisco yang kini berada di kantor.


"Frans baik-baik saja, tidak, ya?" Aphrodite bergumam pelan. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja yang ada di hadapannya.


"Apakah aku telpon saja, untuk memastikan dia baik-baik saja atau tidak?" Aphrodite diam sejenak, menimbang-nimbang apakah harus menelpon Fransisco atau tidak guna mencari tahu keadaannya.


"Tapi kalau aku telpon pasti akan mengganggunya. Bagaimana kalau dia masih dalam meeting bersama dengan kliennya?"

__ADS_1


"Tapi kalau aku tidak menelponnya, aku akan merasa semakin cemas. Aku takut kondisi Frans semakin buruk karena memaksa untuk bekerja. Tadi pagi saja, wajahnya begitu pucat."


Aphrodite menyalakan ponsel dalam genggamannya, menatap layar yang kini menyala menampakkan wallpaper lock screen ponselnya.


"Telpon atau tidak, ya?" Gumamnya lagi tampak menimbang-nimbang.


...*...


"Pak, ini laporan yang bapak minta," ujar sekretarisnya itu membuat fokus Jordan beralih menatapnya. Ia lantas meraih dokumen di tangan wanita di hadapannya, membukanya secara perlahan guna memeriksa semuanya.


"Oke, terima kasih."


"Saya permisi pak."


Ia berbalik bersiap untuk melangkah pergi. "Oh ya, saya ingin tanya mengenai perencanaan merekrut pegawai baru, apakah kalian sudah memasang iklannya?"


Wanita itu berhenti, ia lantas menoleh ke arahnya. "Mengenai hal itu sudah kami urus semuanya pak, kami sudah pasang iklan di internet. Kami juga pasang satu selebaran di depan pintu masuk. Jadi kita hanya tinggal menunggu para pelamar kerja berdatangan, setelah itu kita bisa lakukan interview-nya."


"Bagus. Saya suka dengan cara kerja kalian yang cepat."


"Ya, terima kasih."


"Sekarang kau boleh kembali bekerja."


"Baik pak."


Sejurus kemudian wanita itu beranjak pergi dari dalam ruang kerja Jordan, membiarkan pria yang menjadi atasannya itu kembali fokus dengan pekerjaannya sendiri.


"Semoga saja dalam waktu cepat, sudah ada pegawai baru. Dengan begitu, projects ini bisa lebih cepat di selesaikan," gumam Jordan, ia lalu kembali mengecek isi dokumen yang telah di berikan sekretarisnya tadi, dan kembali di sibukkan dengan pekerjaannya.


...*...


TUK!


Fransisco menaruh gelas berisi air putih di tangannya itu ke atas meja, menutup lagi gelasnya dengan tutup gelas yang ada.


"Ada apa denganku ini, kenapa tubuhku terasa lemas? Aku seperti kehilangan energi untuk bekerja."


"Aku tidak bisa fokus bekerja," gumamnya seraya memejamkan kedua matanya dengan tangan yang masih memijat keningnya yang terasa pening.


"Tubuhku juga terasa panas." Fransisco menempelkan punggung tangannya di kening, berusaha memastikan suhu tubuhnya.


"Ternyata memang panas, bukan hanya perasaanku saja."


Pintu ruangannya tiba-tiba di buka, membuat atensinya beralih pada wanita yang baru saja melangkah masuk dengan raut wajah yang tampak begitu cemas.


"Astaga, Frans…" Aphrodite mempercepat langkah kakinya, bergegas menghampiri Fransisco yang kini terduduk di kursi kebesarannya. Ia menaruh tas yang di bawanya ke atas meja, ia lalu bergegas mengecek keadaan Fransisco yang tampak tengah dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


"Frans, kau baik-baik saja?" Aphrodite menepuk-nepuk pipinya pelan. Fransisco membuka kedua matanya perlahan.


"Kenapa kau kemari?" Lirihnya.


"Aku kemari karena cemas dengan keadaan mu. Astaga, tubuhmu panas." Aphrodite menempelkan punggung tangannya di kening Fransisco.


Fransisco meraih tangan Aphrodite, menggenggamnya seraya tersenyum. "Terima kasih karena sudah mencemaskan ku. Tapi aku baik-baik saja," gumamnya.


"Berhenti mengelak, kau sakit. Sekarang juga kita keluar dari sini, aku akan membawamu ke dokter." Aphrodite meraih tangan Fransisco, mengalungkan tangan pria itu berusaha untuk membantunya bangun.


"Aku baik-baik saja."


"Kau harus ke dokter, akan aku panggilkan asisten mu." Aphrodite bergegas beranjak dari sana, melangkah tergesa mencari keberadaan asistennya. Tak lama mereka tiba di sana, ia bergegas membantu Fransisco untuk bangun.


"Aku bisa bangun sendiri," ujar Fransisco yang lantas bangun perlahan.


"Kau yakin?"

__ADS_1


"Ya," lirihnya.


"Kalau begitu biar saya siapkan mobilnya dulu," asistennya itu beranjak pergi dari dalam sana dan secepatnya mempersiapkan mobil untuk membawa Fransisco menuju dokter untuk di periksa. Sementara itu Aphrodite masih berusaha membantu pria itu berjalan.


"Sudah aku bilang aku bisa berjalan." Fransisco menoleh ke arah Aphrodite yang kini menuntun tangannya.


"Tapi tetap saja, kau bisa saja pingsan ketika sedang berjalan." Aphrodite balas menatapnya. Fransisco hanya diam seraya tersenyum menanggapi sikap Aphrodite, entah kenapa tapi ia suka dengan perhatian Aphrodite yang seperti saat ini.


Tiba di tempat parkir, Aphrodite segera meminta asistennya yang mengemudikan mobil itu untuk segera mengantarkan mereka ke rumah sakit terdekat guna mengecek keadaan Fransisco.


"Aku tidak ingin ke rumah sakit. Kita pulang saja," tolak Fransisco begitu Aphrodite meminta asistennya itu untuk berangkat menuju rumah sakit.


Aphrodite yang duduk di sampingnya itu menoleh ke arahnya. "Kau harus di periksa oleh dokter!" Tukas Aphrodite.


"Tapi aku tidak mau di cek ke dokter, lebih baik kita pulang ke rumah saja. Aku hanya butuh istirahat yang cukup, tidak perlu sampai ke dokter segala. Jadi kita ke rumah, ya?" Fransisco menatap Aphrodite lantas beralih sekilas pada asistennya yang hanya mengangguk ketika di perintahnya.


"Tidak, kita ke rumah sakit," kata Aphrodite sembari melirik pria yang mengemudi itu. Ia lagi-lagi hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Ke rumah, ikuti saja perintah ku." Tukas Fransisco.


"Frans…" Aphrodite mendelik ke arahnya kesal, ke keras kepalanya pria ini benar-benar tidak berubah.


"Aku hanya ingin tinggal di rumah dan di rawat olehmu." Fransisco menyandarkan kepalanya di bahu Aphrodite, memejamkan kedua matanya secara perlahan.


"Tapi…"


"Aku mohon, aku tidak nyaman kalau harus ke rumah sakit." Potongnya cepat.


"Huft~" Aphrodite menghela napasnya kasar. Sementara itu asistennya menoleh lewat kaca spion tengah yang ada, menatap Aphrodite yang kini balik menatapnya.


"Jadi… kita kemana?" Tanya asistennya yang meminta kejelasan dari keduanya.


"Kita ke rumah saja," ujar Aphrodite menyetujui.


"Baiklah."


Pria itu lantas memfokuskan diri untuk menyetir. Ia terus melajukan mobilnya menuju apartemen tempat Fransisco dan Aphrodite tinggal.


...*...


Fransisco membuka kedua matanya pelan, ia merasakan keningnya yang terasa dingin yang berasal dari handuk kecil yang di gunakan untuk mengompres demamnya.


Fransisco mengalihkan perhatiannya ke sekeliling, mencari keberadaan istrinya yang tidak ada di dalam sana.


Fransisco beranjak bangun secara perlahan, terduduk di atas ranjangnya. Menaruh handuk di keningnya ke dalam baskom kecil berisi air yang tampaknya adalah air kompresan.


"Berapa lama aku tertidur?" Gumamnya pelan. Fransisco mendongak menatap jam yang tergantung di dinding kamarnya. Jam itu menunjukkan pukul delapan malam. Sudah hampir berjam-jam lamanya setelah ia tiba di rumah dan di periksa oleh dokter pribadi yang di panggilkan asistennya, dan setelah ia di periksa serta makan obat yang di berikan. Fransisco tertidur lelap sampai-sampai ia lupa waktu.


CKLEK!


Pintu kamarnya terbuka membuat atensinya beralih pada Aphrodite yang tiba dengan nampan berisi makanan yang telah ia buat.


"Oh, kau sudah bangun ternyata…" Aphrodite tertegun begitu mendapati Fransisco yang kini sudah duduk di atas ranjangnya.


Ia berjalan menghampirinya, menaruh nampan di tangannya ke atas meja nakas yang ada di tepi ranjang.


"Seharusnya kau tidak boleh bangun. Kau masih sakit." Aphrodite membenarkan posisi bantal yang semula menjadi penyangga kepalanya. "Sekarang kau harus tetap beristirahat dan jangan pikirkan apa-apa." Aphrodite meminta Fransisco untuk bersandar pada bantal yang telah ia ubah posisinya.


"Kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Aphrodite seraya duduk di tepi ranjang, menatap Fransisco yang masih diam dan kini memandanginya.


"Aku sudah merasa lebih baik," lirihnya.


"Benarkah? Biar aku cek dulu suhu tubuhmu." Aphrodite beranjak untuk mengambil termometer guna mengecek suhu tubuh Fransisco dan memastikan suhu tubuhnya sudah turun dari sebelumnya. Tak lama ia kembali dan segera mengecek suhu tubuhnya. "Walaupun masih tinggi, tapi setidaknya tidak setinggi sebelumnya," gumamnya seraya menatap termometer di tangannya.


"Baiklah, sekarang kau harus makan. Semenjak setelah kau di periksa, kau belum makan lagi." Aphrodite menaruh termometer di tangannya, meraih mangkuk berisi makanan yang telah ia buatkan. Fransisco hanya diam seraya memandanginya, ia tersenyum memperhatikan setiap gerak-gerik Aphrodite yang kini tengah sibuk menyendok makanan yang ada di piring lalu menyodorkan makanan di sendok itu ke arahnya.

__ADS_1


"Aaaaa… buka mulutmu," ujarnya.


...***...


__ADS_2