Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Next morning


__ADS_3

...***...


"ARGGHHH!!!!" Aphrodite menjerit keras didalam kamarnya, membuat Helen dan Erland tersentak kaget karena suaranya yang keras.


Mereka yang mendengarnya bergegas berlari menuju kamar Aphrodite berusaha memastikan jika ia baik-baik saja didalam sana.


"Aph? Kau kenapa? Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Helen dibalik pintu sana, panik.


"Iya, apakah kau baik-baik saja?" Tanya Erland yang tak kalah panik. Mereka panik bukan karena mereka simpati, tapi karena mereka tidak ingin Aphrodite sampai kenapa-kenapa dan membuat keadaan mereka semakin kacau. Jika Aphrodite kenapa-kenapa, maka utang tiga milyar mereka tidak akan terbayar lunas.


...*...


"Apakah kau hanya akan memelototi makanannya seperti itu?" Ujar Helen pada Aphrodite yang sejak duduk dimeja makan hanya diam seraya mengaduk-aduk makanan yang berada dihadapannya dengan sendok ditangannya. Helen kesal, pasalnya sejak tadi Aphrodite hanya diam dan tampak tidak bersemangat sama sekali. Sudah dua hari berlalu, semenjak Aphrodite pulang dan tiba-tiba menjerit membuatnya terkejut, seharian kemarin mengurung diri tanpa makan atau keluar kamar sekalipun. Pintu kamarnya dikunci rapat yang membuatnya tidak bisa masuk. Selama seharian kemarin, Aphrodite bahkan tidak masuk kerja dengan alasan sakit.


Erland disampingnya menoleh kearah Aphrodite yang tampak kacau. Mata wanita itu sekarang benar-benar sembab. Kantung matanya membuat Aphrodite tampak kesulitan untuk melihat dengan pupil matanya. Kedua matanya seperti orang yang mengalami sakit mata yang parah, padahal hanya akibat dia terlalu banyak menangis.


"Aph! Apakah kau baik-baik saja? Setidaknya kau harus menjelaskan pada kami jangan buat kami bingung," tutur Helen yang bahkan tidak mendapatkan respon sama sekali dari Aphrodite.


"Benar apa yang mama bilang. Kau itu harus jelaskan pada kita, jangan buat kita bingung. Oh, dan kau juga harus banyak makan! Bagaimanapun juga kau sebentar lagi menikah, dan jangan sampai kau tampak seperti tengkorak hidup ketika kau menikah nanti, hanya karena kau tidak makan!" Erland menimpali dengan ucapan sarkasme yang malah mendapatkan pelototan Helen.


Helen menatapnya dengan kedua bola mata yang hampir keluar, membuat Erland bergidik ngeri. Dibawah meja, Helen menendang kaki Erland namun tidak membuatnya kesakitan sama sekali.


"Kaki yang mama tendang itu kakiku," gumam Aphrodite yang membuat Helen terkejut.

__ADS_1


"Ah apa? Maaf aku tidak sengaja. Aku hanya berusaha memperbaiki posisi dudukku," ucap Helen gelagapan.


"Huft~" Aphrodite menghela napas, ia lantas menaruh sendok ditangannya keatas piring lalu beranjak bangun dari tempat duduknya. "Sudahlah, aku tidak ***** makan. Aku ingin kembali ke kamar," Aphrodite melangkah pergi dari sana.


"Lho, Aph! Makananmu belum habis," ujar Helen berusaha menghentikan langkahnya, namun gagal. Aphrodite tidak menggubris ucapannya dan terus melangkah dengan sebelah kakinya yang diseret membuatnya seperti orang pincang.


Sepeninggalannya Aphrodite, Helen kini menoleh pada Erland yang cekikikan berusaha menahan tawa; menertawakan Helen yang salah menendang kaki Aphrodite, bukan kakinya. Helen yang melihat Erland cekikikan lalu memukulnya dengan sendok ditangannya membuatnya mengaduh kesakitan.


"Seharusnya kau tidak berbicara seperti itu!" Bisik Helen pada Erland seraya melotot.


"Memangnya apa aku salah berbicara seperti itu? Memang benar kan, jika dia tidak makan dia bisa kurus, aduuh…" Erland mengusap bagian kepalanya yang baru saja dipukul oleh Helen.


"Jelas kau salah! Jika kau berbicara seperti itu, sama artinya dengan kau membuat dia merasa seperti kerbau yang kita urus sebaik mungkin sebelum akhirnya kita jual!"


"Aish anak bodoh ini, apa ingin aku pukul lagi kepalamu dengan benda yang lebih keras?!" Kesal Helen padanya. Tangannya mengangkat centong nasi disana.


"A-ahh! Ahhh jangan!" Erland melindungi kepalanya dengan kedua tangannya.


"Kapan kau akan bisa lebih pintar!" Kesal Helen yang lalu menaruh kembali centong nasinya.


"Sekarang bagaimana caranya agar aku bisa membuat Aph mau menceritakan semuanya?" Gumamnya pelan tapi dapat didengar Erland. Erland mendongak menatap Helen.


"Kenapa mama harus repot-repot untuk membuatnya bicara?" sahut Erland seraya menyuapkan kembali makanannya. Helen melirik padanya.

__ADS_1


"Kau ini benar-benar bodoh! Dengarkan aku! Jika Aph mau bicara, maka akan lebih mudah untuk kita membujuknya mau menikah dengan Frans. Ditambah lagi, jika Aph terus seperti ini, yang ada uang tabunganku habis hanya untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari, bisa-bisa aku tidak bisa pergi shopping," tutur Helen. Erland mendelik, ia kemudian menaruh sendok ditangannya keatas piring yang kini tampak kosong. Menyambar gelas air minumnya lalu meneguknya hingga tandas.


"Yang ada dipikiran mama hanya belanja," komentarnya membuat Helen kesal. Helen yang mendengarnya lalu memukul kepala Erland dengan sendok ditangannya dengan lebih keras dibandingkan sebelumnya, hal itu membuat Erland mengaduh kesakitan.


"Berani sekali kau berkomentar! Aph saja bahkan hanya memikirkan caranya mencari uang, dia bahkan tidak pernah berpikiran untuk mengajakku berbelanja atau sebagainya. Jika aku tidak peduli pada diriku, lalu siapa yang akan peduli? Kau saja bahkan kerjaannya hanya bisa menghamburkan uang untuk bersenang-senang dengan pacar sialanmu itu!" Emosinya.


"Argh, kenapa mama jadi harus bawa-bawa Keyla? Dia tidak salah, enak saja mama membawa-bawa namanya. Lagipula dia tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kita."


"Tidak ada sangkut pautnya kau bilang? Apakah perlu aku ingatkan apa yang sudah pacar sialanmu itu perbuat?! Jika saja kau mau mendengarkan aku untuk tidak berpacaran dengan perempuan ular matre seperti dia, mungkin sekarang kau sudah bisa membeli barang-barang yang kau inginkan. Seharusnya kau tidak memanjakan perempuan itu, lagipula kalian itu hanya berpacaran dan bisa saja dia meminta putus darimu setelah kau tidak bisa lagi dia manfaatkan!"


"Berhenti menjelek-jelekkan Keyla ma!" Erland menekankan.


"Astaga, berani sekali kau berbicara dengan intonasi seperti itu padaku. Ingin aku pukul kau?!"


"Sudahlah aku lelah, sekarang aku ingin istirahat," Erland beranjak bangun, tak mengindahkan ucapan dari Helen yang tampak sangat kesal.


"Aish, dasar menyebalkan! Dia memang benar-benar tidak bisa aku andalkan," gerutu Helen ketika putranya itu hilang dibalik pintu kamarnya.


"***** makanku jadi hilang gara-gara menghadapi mereka," Helen meraih gelas minumnya lalu meneguknya hingga habis.


"Sekarang yang harus aku pikirkan adalah bagaimana caranya agar aku bisa membuat Aph mau berbicara, dengan begitu akan lebih mudah untuk aku membujuknya menikah dengan Frans. Bagaimana pun caranya mereka harus menikah!" Helen mulai memikirkan cara untuk membuat mood Aphrodite berubah. Detik berikutnya sebuah ide terlintas dibenaknya.


"Benar, aku harus memanfaatkannya," Helen bergegas menyambar ponselnya dan berkutat sebentar dengan benda itu mencari nomor telpon yang dicarinya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2