
...***...
"Aku mohon berikan kami satu kesempatan lagi, jangan usir kami dari rumah. Ini adalah satu-satunya yang kamu miliki," untuk pertama kalinya seorang Helen Guinandra memohon seraya menangis histeris di hadapan orang lain.
"Aku tidak peduli! Tugas kami di sini hanya menyita rumah ini!" Pria di sana memekik di tepisnya Helen yang tengah memohon di sana membuat wanita itu tersungkur jatuh di tanah dengan cukup kasar.
"Akh—" ringisnya kesakitan.
Sementara wanita paruh baya itu tengah sibuk memohon agar beberapa pria itu tidak mengambil rumahnya, beda halnya dengan Erland yang baru saja tiba di sana. Ia begitu terkejut melihat rumahnya yang begitu kacau, barang-barang nya di keluarkan, dan Helen di lihatnya tengah memohon di sana.
"A-apa yang terjadi?" Erland bergegas berlari menghampiri Helen di sana, ia berjongkok di dekatnya.
"Mama!" Pekiknya seraya memeluk wanita itu. "Mama ada apa ini?" Erland panik di sana.
Helen menoleh ke arahnya. Ia lantas memeluk tubuh putranya itu erat dan mulai terisak.
"Kita di usir. Kita sudah tidak memiliki rumah lagi," gumamnya dengan suara bergetar. Berbicara tepat di telinga Erland yang baru saja tiba.
Mendengar hal itu spontan membuat Erland terkejut mendengar nya.
"A-apa?"
"Mereka akan menyita rumah kita. Sekarang kita tidak memiliki tempat untuk tinggal lagi," gumamnya seraya terus menangis.
"Tidak! Ini tidak bisa di biarkan. Jika mereka mengambil rumah kita, kita akan tinggal dimana?" Erland melerai pelukannya, memegangi kedua pundak Helen dan menatapnya lekat. Wanita itu terus menangis di sana.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menyita rumah kita," Erland bangkit hendak melawan beberapa orang pria itu dan menahan mereka agar tidak menyita rumah mereka satu-satunya itu.
Sementara Erland sibuk berdebat dengan mereka sampai kena hajar dan babak belur, beda halnya dengan Helen yang kini hanya bisa menangis meraung-raung di sana seraya berusaha menahan orang-orang itu menyita rumahnya.
...*...
DRRTTTT... DRRTTTT...
Ponselnya yang berada dalam kantong jas yang ia kenakan itu berbunyi membuat Aphrodite mau tidak mau harus mengecek dan menjawab telponnya.
Aphrodite mengeluarkan ponselnya, menatap sekilas untuk melihat siapa yang memanggilnya.
__ADS_1
Di layar kaca ponselnya, Aphrodite dapat melihat sederet huruf yang membentuk nama di sana. Begitu sadar siapa yang tengah berusaha menghubungi nya, Aphrodite bergegas menggeser tombol berwarna hijau di sana yang secara otomatis langsung menyambungkan panggilan telponnya.
"Halo?" Sapa Aphrodite pertama kali begitu sambungan telponnya itu terhubung dengan sang penelepon di seberang sana.
"A-aph… ga-gawwat… me-mereka datang," Helen berucap lirih di seberang sana, membuat Aphrodite bingung.
"Ada apa ma? Bicara pelan-pelan agar aku bisa mendengarnya dengan jelas."
"P-pak Shankara… m-memerintahkan, bawahannya untuk… m-menyita rumah kita…"
"A-apa?" Aphrodite terdiam sesaat mendengarkan ucapan dari Helen di seberang sana.
"Me-mereka mengeluarkan pa-paksa… barang-barang ki-kita…"
"H-huh? Benarkah?"
"I-iya… bisakah kau pulang se-sekarang? J-jika kita di usir, maka kita akan ti-tinggal dimana?"
"B-baiklah, aku akan segera pulang. Sebisa mungkin mama tolong tahan mereka."
"B-baiklah… kalau begitu cepat."
"Kau menangis?" Tanya pria itu yang spontan membuat Aphrodite tersadar dari lamunannya. Bergegas ia menyeka air mata yang membasahi kedua pipi mulusnya itu.
"A-ah tidak pak," ucap Aphrodite.
"Cih, jangan berpura-pura. Aku bisa melihatnya dengan jelas," tutur pria yang kini duduk bersebelahan dengannya itu.
Aphrodite terdiam, ia menundukkan kepalanya sejenak.
"Sayang sekali waktu yang kau miliki benar-benar sudah habis, dan sepertinya perjanjian yang telah kita sepakati. Maka aku harus menjalankan prosedurnya," tuturnya.
Aphrodite beralih menatap ke luar jendela, enggan rasanya untuk bertatapan langsung dengan pria di sampingnya itu. Pria kejam yang telah membuat keluarganya kesusahan.
"Huft~" pria itu menghela napas panjang. Fokusnya beralih pada ponsel pintar miliknya yang baru saja ia keluarkan dari balik kantong jas yang di kenakan olehnya. "Terima kasih karena kau sudah membuat keputusan yang tepat."
"Kalau begitu, bapak harus tepati janji bapak," sahut Aphrodite dengan mata yang berkaca-kaca ia menoleh ke arah sosok pria yang sejak tadi di ajaknya bicara. Pria itu terkekeh pelan lantas berkutat sejenak dengan ponselnya.
__ADS_1
"Haha, kau tenang saja. Aku akan menghubungi mereka untuk berhenti," katanya yang lantas menekan tombol panggilan di sana yang secara otomatis langsung terhubung dengan nomor yang di tujunya.
Begitu sambungan telponnya terhubung, pria itu lantas menaruh ponselnya di telinga sebelah kirinya.
"Ya. Langsung ke intinya saja," pria itu melirik sekilas pada Aphrodite di sampingnya.
"Aku ingin kalian menghentikan semua itu."
"…"
"Jangan banyak bertanya, aku perintahkan kalian berhenti ya berhenti!"
"…"
"Bagus. Tunggu aku sampai di sana."
"…" Sahut seseorang di seberang sanan. Pria itu lantas memutus sambungan telponnya secara sepihak.
"Kau puas sekarang?" Ucapnya pada Aphrodite.
Aphrodite terdiam, lagi-lagi ia menundukkan kepalanya di sana.
"Sekarang giliran aku yang menagih janjimu. Aku sudah memerintahkan mereka berhenti, maka sekarang waktunya aku menagih janjimu," kata pria itu. Ia diam sesaat menjeda kalimatnya.
"Kau bersedia kan?" Tanyanya lagi pada Aphrodite. Untuk sesaat wanita itu tampak ragu dengan keputusan yang telah di buatnya, tapi bagaimana pun juga ia sudah membuat keputusan dan ia sudah bertekad. Lebih baik menyelamatkan keluarganya dibandingkan mementingkan kebahagiaan nya. Bagi Aphrodite untuk saat ini adalah kebahagiaan dari ibu dan adiknya, hanya itu. Karena saat ini yang ia miliki hanyalah mereka, maka dari itu; Aphrodite tidak ingin mengecewakan mereka.
Dengan berat hati Aphrodite menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan apa yang semula telah mereka sepakati.
Mendengar itu membuat pria yang duduk di sampingnya mengulum senyum ke arahnya.
"Keputusan yang bijak, kau mau menerima penawaran terakhir ku," ucapnya lagi.
"Tolong jalan lebih cepat. Aku ingin segera sampai di sana," pria itu berbicara pada supir pribadinya seraya menepuk pelan pundaknya.
"Baik tuan," sang supir menganggukkan kepalanya lantas mempercepat laju mobil yang di kendarai olehnya menuju tempat kemana mereka akan pergi.
Saat itu jam telah menunjukkan pukul empat lebih lima belas menit. Dan Aphrodite keluar dari kantornya sekitar kurang lebih jam setengah empat. Sisanya, ia menghabiskan waktu untuk memohon dan bernegosiasi dengan pria paruh baya yang kini terduduk tepat bersebelahan dengannya itu. Pria yang paling tidak di sukai oleh nya.
__ADS_1
Aphrodite membenci pria itu, pria yang telah membuat dia dan keluarganya dalam kesusahan.
...***...