Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Mansion


__ADS_3

...***...


Atensi mereka seketika beralih saat secara tiba-tiba Adrien datang dengan dua koper milik Francisco dan Aphrodite yang telah di keluarkan olehnya dari dalam bagasi mobil. Pria itu tiba dengan menggeret keduanya hingga di ruang tengah.


"J'ai apporté tous les bagages, mère. Maintenant où dois-je le mettre?" Tanya Adrien pada Bertha yang tidak lain adalah ibunya.


(J'ai apporté tous les bagages, mère. Maintenant où dois-je le mettre?/ Aku sudah mengeluarkan semua kopernya, ibu. Sekarang aku harus meletakkannya dimana?)


Bertha beralih menatapnya ketika pria itu tiba dan langsung bertanya padanya.


"Oh, puis il suffit de le mettre dans la pièce au deuxième étage. Vous connaissez bien la pièce principale?" Sahut Bertha. Adrien menganggukkan kepalanya pertanda ia mengerti, ia lantas beranjak dari tempatnya saat ini berada. Mengangkat dua koper itu menuju tangga yang langsung membawanya menuju lantai dua dimana kamar utama berada.


(Oh, puis il suffit de le mettre dans la pièce au deuxième étage. Vous connaissez bien la pièce principale?/ Oh, langsung taruh saja di kamar utama di lantai dua. Kau tahu kamar utamanya kan?)


Sepeninggalan nya Adrien, fokus Bertha kembali beralih pada Aphrodite dan Fransisco yang kini terduduk di hadapannya.


Tak lama, seorang maid tiba dengan nampan berisi camilan dan minuman yang baru saja selesai ia buatkan. Wanita itu menghampiri meja di sana lantas menaruh minuman dan makanan dalam nampannya itu ke atas meja.


"Selamat menikmati tuan muda, nona," ujar wanita itu dalam bahasa Inggris. Ia membungkuk sebelum kemudian melangkah undur diri dari hadapan mereka.


"Terima kasih atas hidangannya Cammy," tutur Bertha pada wanita itu, membuatnya seketika berhenti dan menoleh. Ia mendapati Bertha yang tengah tersenyum ke arahnya.


"Sama-sama madame," tuturnya balas tersenyum, detik berikutnya ia melangkah pergi dari sana.


Aphrodite meraih cangkir berisi teh manis yang dibuatkan oleh maid bernama Cammy itu. Aroma dari teh yang di seruputnya begitu harum dan berhasil membuatnya merasa tenang.


"Ini sangat enak," puji Aphrodite. Ia kemudian menaruh kembali cangkir di tangannya ke atas tatakan gelas yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Terima kasih, itu adalah teh yang paling di sukai oleh nyonya Fanny. Dan beliau sering meminta saya untuk menyediakan nya. Maka dari itu, begitu saya mendengar kabar dari nyonya bahwa nona dan tuan muda akan datang kemari, saya segera mempersiapkan semuanya. Saya kira nona dan tuan muda akan datang dengan nyonya Fanny, tapi ternyata tidak," tutur Bertha.


"Mama masih sibuk dengan urusan lain, jadi dia tidak bisa datang kemari," sahut Fransisco yang kemudian menaruh kembali cangkir nya.


"Begitu rupanya." Bertha menanggapi.


"Iya."


"Oh ya, nona dan tuan muda pasti sangat lelah kan? Bagaimana kalau kalian istirahat? Saya sudah siapkan kamar utamanya, membersihkan kamarnya dan mengganti seprei nya dengan seprei yang baru."


"Ng… iya, tampaknya Aphrodite kelelahan, jadi lebih baik kami istirahat."


"Kalian ini sudah menjadi suami istri, tapi kalian berbicara dengan menyebut nama masing-masing. Kalian begitu kaku, apakah saat kalian berpacaran, kalian memang terbiasa menyebut nama masing-masing?" Tanya Bertha yang sejak tadi merasa bahwa sebutan mereka satu sama lain terdengar amat kaku, seakan-akan mereka bukanlah sepasang suami istri. Kalau orang lain mendengar cara mereka memanggil satu sama lain, orang pasti akan mengira kalau mereka hanyalah teman biasa.


Aphrodite dan Fransisco tertegun, entah bagaimana mereka harus menjelaskannya pada Bertha. Pasalnya terlalu panjang dan rumit untuk bisa di mengerti, apalagi oleh Bertha yang notabene nya memang tidak tahu menahu mengenai hubungan mereka dan alasan mereka menikah.


"A-ah, begitu rupanya. Itu menjelaskan semuanya."


"Ya begitulah."


"Apakah ini semacam… cinta pada pandangan pertama?" Bertha tersenyum ke arah mereka.


"A-ahahahaha, ya semacam itulah." Fransisco terkekeh mendengarnya, sejenak ia berpikir bahwa Bertha akan mengira yang lain atas alasan mereka menikah, tapi ternyata tidak.


"Pantas saja kalian tampak sangat kaku satu sama lain," Bertha terkekeh.


"Ibu, aku sudah menaruhnya di dalam kamar utama," ujar Adrien dalam bahasa Prancis yang secara tiba-tiba membuat fokus mereka beralih ke arah pria yang kini telah tiba di sana.

__ADS_1


"Oh, baiklah."


"Kalau begitu aku permisi." Adrien membungkuk memberikan hormat pada Aphrodite dan Fransisco yang duduk di sana.


"Iya. Terima kasih," ujar Bertha. Adrien hanya mengangguk sebagai jawaban, ia lantas berbalik. Beranjak dari tempatnya berada saat ini, meninggalkan Aphrodite, Fransisco, dan Bertha bertiga diruang tengah.


"Kalau begitu mari saya antar menuju kamar utama," kata Bertha sembari beranjak bangun dari duduknya. Aphrodite dan Fransisco ikut bangun bersamanya, mereka lantas melangkah mengikuti kemana Bertha mengantarkan mereka.


Perlahan mereka berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Sejak tadi, setibanya mereka di mansion itu. Fokus Aphrodite tak lepas dari indahnya setiap desain ruangan itu.


Di dalam sana, Aphrodite melihat banyak sekali barang-barang mewah yang tampaknya berharga ratusan juta, belum lagi beberapa lukisan dan figuran berisi foto Fransisco dengan anggota keluarganya.


"Nah, ini adalah kamarnya." Bertha menghentikan langkah kakinya di sana. Di depan sebuah pintu besar dengan ukiran indah di permukaan pintunya.


"Kalau tuan muda dan nona memerlukan apa-apa, jangan lupa untuk memberitahu saya atau maid yang lainnya. Kami akan senantiasa membantu kalian."


"Iya. Terima kasih Bertha." Fransisco tersenyum kearahnya. Aphrodite pun tersenyum hangat padanya.


"Bukan masalah tuan muda. Kalau begitu saya permisi, akan saya siapkan bahan-bahan makanan untuk kalian sarapan. Sekarang lebih baik kalian istirahat saja lebih dulu, sementara menunggu. Dan begitu sarapannya sudah siap, saya akan memanggil kalian."


"Iya," sahut Fransisco.


"Saya pamit." Bertha membungkuk memberikan hormat, ia lalu beranjak pergi dari tempatnya berada saat ini. Meninggalkan Fransisco dan Aphrodite berdua di tempatnya berada berdiri sekarang.


Sepeninggalan nya Bertha, Fransisco kemudian membukakan pintu kamarnya dan mempersilahkan Aphrodite untuk masuk kemudian di ikuti olehnya dari belakang.


Tiba di dalam Aphrodite di sungguhi dengan sebuah pemandangan kamar yang amat luas. Ada sofa di dalam sana lengkap dengan meja kacanya, sementara itu tidak jauh dari jendela terdapat sebuah ranjang tidur besar yang sangat empuk. Dan disudut lain kamarnya terdapat pintu menuju beranda kamarnya. Tidak lupa didalamnya juga ada lemari dan kamar mandi pribadi.

__ADS_1


...***...


__ADS_2