Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Love lock bridge


__ADS_3

...***...


"Ada dua kafe disini, kau mau yang mana?"


"Memang apa bedanya?" Tanya Aphrodite sembari mengerutkan kening.


"Kau lihat yang disana? Itu memiliki dua lantai, jadi kita bisa pilih mau makan di outdoor atau indoor." Fransisco menunjuk ke arah salah satu kapal yang diisi oleh beberapa orang yang tengah menikmati hidangan diatas kapal.


"Kalau begitu ayo ke sana. Sepertinya melihat pemandangan dari atas kapal lebih menyenangkan apalagi sambil ditemani oleh dessert yang lezat."


"Ide yang bagus. Kalau begitu ayo pergi."


Fransisco dan Aphrodite menghampiri kapal yang beralih fungsi menjadi kafe tersebut. Mereka menikmati dessert yang mereka beli dilantai dua. Di bagian outdoor yang kini hanya diisi oleh beberapa orang pengunjung saja. Sambil menikmati dessert, mereka juga ditemani dengan pemandangan sungai Seine yang begitu indah.


"Pemandangannya indah, di tambah lagi makanannya juga enak," gumam Aphrodite yang kemudian kembali melahap makanan yang sejak tadi telah tersaji di hadapannya.


"Kau benar, makannya enak." Fransisco meraih gelas berisi minuman yang dipesannya, kemudian meneguknya. "Kau tahu? Biasanya ada kapal khusus yang melintas kemari untuk para wisatawan."


"Benarkah? Wah, tampaknya menyenangkan kalau bisa jalan-jalan menyusuri sungai Seine ini."


"Kau mau mencobanya?"


"Lain kali saja, soalnya ini sudah hampir sore dan kalau kita jalan-jalan menyusuri sungai Seine lebih dulu, takutnya kita pulang terlalu malam."


"Ng… kalau begitu bagaimana jika besok kita kemari lagi?"


"Besok?"

__ADS_1


"Ya. Kita jalan-jalan menyusuri sungai Seine, bagaimana?"


"Baiklah, ayo," sahut Aphrodite.


"Oke. Kalau begitu besok kita kemari dan jalan-jalan bersama menyusuri sungai Seine."


"Iya." Aphrodite dan Fransisco kembali di sibukkan dengan dessert yang tengah mereka nikmati. Setelah menikmati dessert bersama, Fransisco kemudian mengajak Aphrodite ke tempat lain yang telaknya tidak terlalu jauh dari sana. Mereka pergi ke sana dengan berjalan kaki, menaiki tangga agar bisa tiba di jalan raya yang semula mereka lewati. Keduanya berjalan sebentar sampai kemudian tiba di sebuah jembatan yang begitu lebar. Banyak orang-orang yang berfoto di atas jembatan itu, tak jarang juga yang hanya menikmati kebersamaan nya dengan kekasih masing-masing.


"Kau kenapa?" Tanya Fransisco pada Aphrodite yang tampak diam tak berkata-kata di tempatnya. Aphrodite beralih pandang pada dirinya di sana.


"Tidak apa-apa, hanya saja… aku seperti pernah melihat tempat ini sebelumnya, tapi aku tidak ingat dimana," gumam Aphrodite yang kemudian mengerutkan keningnya berusaha untuk mengingat-ingat dimana ia pernah melihat tempat yang saat ini ia datangi.


Fransisco tersenyum simpul mendengarnya. "Tentu saja kau pernah melihatnya."


"Huh? Benarkah?" Aphrodite menoleh ke arahnya dengan raut wajah tidak percaya.


"Iya."


"Semua orang tahu mengenai jembatan ini. Dan mereka pasti pernah mendengar nya."


"Benarkah? Memangnya jembatan apa ini?"


"Gembok cinta."


"H-huh?"


"Iya. Jembatan gembok cinta yang sangat terkenal itu."

__ADS_1


"Tapi… kenapa terlihat berbeda, dan dimana gembok-gembok nya?"


"Semuanya sudah mengalami perubahan karena beberapa alasan yang membuat pemerintah setempat akhirnya memutuskan untuk melepas dan membuang semua gemboknya."


"Benarkah? Ah, sangat di sayangkan."


"Ya, begitulah. Oh ya, kau mau berfoto di sana?"


"Yeah, tentu. Ayo!" Aphrodite berjalan lebih dulu. Melangkah memimpin di depan dengan diikuti oleh Fransisco dari arah belakang. Saat ini mereka tengah berada di jembatan Pont Des Arts, atau jembatan yang lebih dikenal dengan sebutan jembatan gembok cinta. Karena dulunya jembatan ini populer dengan kebiasaan para pasangan yang mengukir inisial pasangan mereka dalam sebuah gembok, mengunci gembok itu pada sisi jembatan dan membuang kuncinya. Sebagian orang percaya bahwa kisah cinta mereka akan abadi saat mereka mengukir namanya dalam gembok tersebut dan membuang kuncinya.


The Pont des Arts atau Passerelle des Arts adalah sebuah jembatan penyeberangan di Paris yang melintasi Sungai Seine. Ini menghubungkan Institut de France dan alun-alun pusat (cour carrée) dari Palais du Louvre, (yang telah disebut "Palais des Arts" di bawah Kekaisaran Prancis Pertama).


Antara 1802 dan 1804, di bawah pemerintahan Napoleon Bonaparte, sebuah jembatan logam sembilan lengkung untuk pejalan kaki dibangun di lokasi yang sekarang disebut Pont des Arts; ini adalah jembatan logam pertama di Paris. Para insinyur Louis-Alexandre de Cessart dan Jacques Dillon awalnya menyusun jembatan yang akan menyerupai taman gantung, dengan pohon, tepian bunga, dan bangku. Melintasi jembatan pada waktu itu memakan biaya satu sou.


Pada 17 Maret 1975, Kementerian Kebudayaan Prancis mendaftarkan Pont des Arts sebagai monumen bersejarah nasional.


Pada tahun 1976, Inspektur Jembatan dan Jalan Lintas (Ponts et Chaussées) melaporkan beberapa kekurangan pada jembatan tersebut. Lebih khusus lagi, dia mencatat kerusakan yang disebabkan oleh dua pemboman udara yang terjadi selama Perang Dunia I dan Perang Dunia II dan kerusakan yang diakibatkan oleh beberapa tabrakan yang disebabkan oleh kapal. Jembatan akan ditutup untuk sirkulasi pada tahun 1977 dan, pada tahun 1979, mengalami keruntuhan 60 meter setelah sebuah tongkang menabraknya.


Jembatan saat ini dibangun antara tahun 1981 dan 1984 "identik" menurut rencana Louis Arretche, yang telah memutuskan untuk mengurangi jumlah lengkungan dari sembilan menjadi tujuh, memungkinkan tampilan jembatan lama di pertahankan sambil menyelaraskan kembali struktur baru dengan yang Pont Neuf. Pada tanggal 27 Juni 1984, jembatan yang baru direkonstruksi ini di resmikan oleh Jacques Chirac, saat itu walikota Paris.


Jembatan ini terkadang berfungsi sebagai tempat pameran seni, dan saat ini menjadi "studio en plein air " bagi para pelukis, seniman, dan fotografer yang tertarik pada sudut pandangnya yang unik. Pont des Arts juga sering menjadi tempat piknik selama musim panas.


Penulis Argentina, Julio Cortázar, berbicara tentang jembatan ini dalam bukunya Rayuela. Ketika Horacio Oliveira pergi dengan pythia dan ini memberitahu dia bahwa jembatan untuk La Maga adalah "Ponts des Arts."


Pada tahun 1991, UNESCO mendaftarkan seluruh tepi sungai Paris, dari Menara Eiffel hingga ujung Ile Saint Louis, sebagai Situs Warisan Dunia. Oleh karena itu, Pont des Arts sekarang menjadi bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO ini.


Sejak akhir 2008, wisatawan mulai memasang gembok (gembok cinta) dengan nama depan tertulis atau terukir di pagar atau jeruji di sisi jembatan, kemudian melemparkan kunci ke sungai Seine di bawah, sebagai isyarat romantis. Gerakan ini dikatakan mewakili komitmen cinta pasangan. Meskipun ini bukan tradisi Prancis dan baru berlangsung di Paris sejak akhir 2008, dengan kunci kadang-kadang dipotong oleh pekerja kota, sejak 2012 jumlah kunci yang menutupi jembatan menjadi sangat banyak, dengan kunci yang di cabut. terpasang pada kunci lainnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2