Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Ice choco


__ADS_3

...***...


"Aiden akan mengantarkan aku pulang. Jadi kau tidak apa-apa kan jika pulang sendiri?"


"Oh iya, tidak apa-apa. Aku bisa mencari taksi."


"Tidak-tidak! Jangan! Lebih baik kau diantara pulang oleh Frans!" Aiden disana tidak setuju. Di liriknya sahabatnya yang kini berdiri bersebelahan dengan Aphrodite itu. "Frans! Antarkan dia pulang!"


"A-ah, tidak usah! Aku bisa pulang sendiri," tolak Aphrodite cepat.


"Tidak, ini sudah malam dan berbahaya jika kau pulang sendiri malam-malam. Apalagi kau itu perempuan, jadi lebih baik kau pulang dengannya."


"Tidak perlu ak—hmmph"


"Aku akan mengantarkan dia pulang. Jadi kalian tenang saja, lebih baik kalian pulang duluan," potong Fransisco seraya membekap mulut Aphrodite.


"Bagus. Kalau begitu kami duluan."


"Kalau begitu tolong jaga sahabatku, antarkan dia pulang ke rumah dengan selamat dan pastikan dia baik-baik saja sampai di rumah," tutur Jenia.


"Iya," sahut Fransisco cepat.


"Kalau begitu sampai jumpa."


"Iya. Sampai jumpa lagi!" Teriak Fransisco pada Aiden dan Jenia yang kini mulai melangkah pergi dari tempatnya berada saat ini, meninggalkan Aphrodite dan Fransisco berdua di sana.


Sepeninggalan Jenia dan Aiden, Fransisco lantas melepaskan Aphrodite di sana dan berdiri tegap seperti semula.


"Maaf untuk yang tadi, aku hanya tidak ingin membuat ini semakin panjang. Aku benar-benar lelah dan ingin segera pulang," kata Fransisco begitu ia melepaskan bekapan tangannya dari mulut Aphrodite.


"A-ah, ya… tidak apa-apa."


"Omong-omong mau aku antar pulang?"


"Oh, tidak perlu. Biar aku pulang sendiri saja."


"Kau yakin? Akan sulit mencari taksi malam-malam seperti ini."

__ADS_1


"Ya, aku yakin. Kau pulang duluan saja, aku bisa pesan taksi online."


"Baiklah kalau begitu, aku tidak akan memaksamu untuk pulang denganku. Tapi aku mau kau berhati-hati, dan jangan lupa kabari aku jika terjadi sesuatu denganmu."


"Kau tenang saja. Aku bisa jaga diri."


"Kalau begitu aku pulang duluan."


"Iya."


Fransisco beranjak dari sana, hendak pergi. Tapi langkah kakinya lebih dulu terhenti saat ia ingat bahwa ada yang ia lupakan.


"Oh, aku lupa," ucapnya yang kemudian berbalik menghampiri Aphrodite.


Aphrodite menatapnya dengan raut wajah bingung. Pria itu melepaskan jas yang dikenakan olehnya kemudian memakaikannya pada tubuh Aphrodite.


"Di luar sini dingin," tuturnya.


"Ta-tapi… bagaimana dengan—"


"Aku pulang sekarang. Jaga dirimu!" Potongnya cepat. Fransisco beranjak pergi dari sana meninggalkan Aphrodite seorang diri yang kini diam terpaku di tempatnya. Matanya menatap ke arah dimana pria itu menghilang di balik pintu mobilnya yang terparkir tak jauh dari letak dimana bioskop itu berada.


...*...


Perlahan mobil taksi yang di tumpanginya itu berhenti tepat di depan gerbang rumahnya yang kini terbuka sedikit.


Aphrodite melangkahkan kakinya keluar dari dalam taksi setelah membayar sang supir dengan uang cash beberapa lembar seratus ribuan.


Ia menghampiri gerbangnya di sana. Melangkah masuk kemudian tak lupa mengunci pintu gerbang agar tidak ada yang masuk ke dalam rumahnya.


"Hari ini benar-benar melelahkan," Aphrodite memijat pelan bahunya secara bergantian. Rasa pegal begitu melekat di tubuhnya, di tambah lagi rasa lelah dan lemas, menggelayut di tubuhnya.


Aphrodite memasuki rumahnya. Tiba di dalam sana, keadaan sepi menyambut nya pertama kali. Tampaknya Helen dan Erland sudah tidur sejak tadi, tapi mereka sengaja tidak mengunci pintu agar Aphrodite mudah untuk masuk.


Aphrodite menutup pintunya pelan kemudian menguncinya rapat sebelum kemudian ia melangkah menuju kamar tidurnya di sana.


BLAM!

__ADS_1


Di tutupnya pintu kamar itu asal membuat suaranya terdengar cukup keras memecah keheningan yang menyelimuti rumahnya.


Tiba di dalam kamar, Aphrodite segera menghampiri meja riasnya di sana. Menaruh tas yang di bawanya lantas merebahkan tubuhnya di atas ranjang tidurnya di sana.


"Tadi itu benar-benar sesuatu yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Bertemu lagi dengan Fransisco? Aku bahkan tidak pernah menyangka jika kita akan bertemu dalam situasi seperti itu," Aphrodite memonolog. Matanya menerawang jauh menatap langit-langit kamarnya yang kini hanya di terangi oleh cahaya lampu yang baru saja di nyalakan olehnya begitu ia tiba di sana.


"Tapi… melihat sikapnya tadi, tampaknya dia benar-benar sudah berubah," Aphrodite tersenyum simpul ketika dirinya terus teringat akan sikap Fransisco yang berubah terhadapnya. Pria itu menjadi sedikit lebih pengertian di bandingkan sebelumnya, dan dia tampak lebih tenang juga.


"Walaupun dia berubah, aku lebih suka dia yang sekarang," sambungnya.


Tak beberapa lama setelah terbaring beberapa menit di atas ranjang tidurnya, Aphrodite lantas memutuskan untuk beranjak pergi dari sana.


Ia harus mandi dan membersihkan tubuhnya yang saat ini begitu lengket dengan keringat yang membasahi tubuhnya.


...*...


Hari berganti hari, jam berganti jam, dan menit berganti menit. Setelah pertemuan tak terduga nya malam itu dengan Fransisco, Aphrodite akhirnya tidak pernah lagi bertemu dengannya. Ia menjalani kehidupannya seperti biasa, dan Jenia, oh wanita itu kini sudah resmi berpacaran dengan Aiden yang mana merupakan sahabat dari Fransisco sendiri.


Sekarang setiap pulang kerja, Aphrodite selalu pulang sendiri tanpa di temani Jenia. Aiden selalu menjemputnya di kantor dan hal itulah yang membuat dirinya dan Jenia jarang sekali pulang bersama seperti dulu.


"Huft~" Aphrodite menghela napasnya kasar. Ia lantas menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang tengah di duduki olehnya.


"Benar-benar melelahkan," gumamnya pelan. Ia saat ini tengah berada di kantor, di sibukkan dengan setumpuk pekerjaan baru yang harus ia selesaikan sebelum jam tiga sore.


TUK!


Jenia menaruh satu gelas ice choco di atas mejanya membuat Aphrodite seketika menoleh ke arah Jenia yang tampaknya baru saja kembali dari restoran setelah menyantap makan siangnya dengan Aiden. Pria itu tadi tiba-tiba mengabari jika ia berada di lobi kantornya.


"Aku membawakan ini agar kau semangat!" Tuturnya seraya melangkah menghampiri kursi di sampingnya.


"Terima kasih," Aphrodite tersenyum simpul. Membenahi posisi duduknya lantas meminum ice choco yang baru saja di berikan Jenia untuknya. "Omong-omong apakah Aiden sudah kembali ke kantornya?"


"Iya. Sudah, begitu selesai makan siang dia segera mengantarkan aku sampai di lobi setelah itu pamit untuk kembali ke kantor," sahut Jenia tanpa menoleh. Fokus matanya kini menatap pada beberapa berkas yang berada di tangannya.


"Oh begitu ya."


"Iya. Eh bagaimana dengan pekerjaan mu?" Jenia beralih menatapnya.

__ADS_1


"Masih banyak, dan aku harus menyelesaikan semuanya sebelum jam tiga. Aku tidak ingin lembur!"


...***...


__ADS_2