
...***...
Aphrodite melangkah masuk ke dalam supermarket hendak membeli barang-barang yang ia butuhkan, sementara itu Fransisco saat ini tengah sibuk mengurus rumahnya. Sudah seminggu lamanya semenjak mereka berkunjung ke restoran tempat Laura bekerja, dan semenjak saat itu mereka telah di sibukkan dengan hari-hari bekerjanya di kantor lalu, Aphrodite sendiri seminggu kebelakang lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan Laura untuk belajar memasak dengannya. Semakin lama, tanpa terasa mereka semakin dekat satu sama lain. Bahkan Aphrodite sekarang sudah menganggap Laura sebagai sahabatnya. Kemudian di weekend ini ia dan Fransisco memutuskan untuk hanya berada di rumah dan bekerjasama untuk membereskan rumah. Aphrodite membagi tugasnya, meminta Fransisco untuk membereskan rumah sementara dirinya pergi berbelanja. Fransisco sempat menolak karena ia tidak bisa mengurus rumah sendiri, tapi karena paksaan dari Aphrodite akhirnya ia mau melakukannya. Ya… walaupun mereka sempat saling negosiasi, Fransisco bernegosiasi untuk berbelanja sementara Aphrodite membereskan rumah. Tapi karena Aphrodite yakin Fransisco tidak akan mengerti cara memilah-milah bahan makanan, akhirnya Aphrodite tegaskan untuk Fransisco saja yang di rumah. Lalu mau tidak mau akhirnya Fransisco menuruti permintaannya.
"Baiklah apa yang harus aku beli lagi." Aphrodite bergumam pelan ia membaca kembali isi daftar belanjaan yang telah ia buat dan mengecek semuanya.
"Ini sudah, lalu yang ini…" Aphrodite mengecek juga barang belanjaan yang dibawanya dan menyamakannya dengan yang ada di daftar. Bagus, hanya ada beberapa bahan saja yang ia butuhkan dalam daftarnya.
Aphrodite beranjak, mendorong troli belanja di tangannya menuju area lain di supermarket yang dikunjunginya itu. Saat tengah sibuk mencari rak berisi bahan makanan yang dicarinya secara tidak troli belanjanya menabrak troli milik orang lain yang melaju dari arah lain. Aphrodite tersentak kaget saat ia menabrak troli itu secara tidak sengaja.
"Maaf," ucapnya cepat tapi begitu melihat siapa pemiliknya ia begitu terkejut.
"Aphrodite?"
"Laura?"
"Oh astaga, kita bertemu lagi. Padahal beberapa hari yang lalu kita baru saja bertemu." Laura terkekeh saat ia kembali bertemu dengan Aphrodite dalam ketidak sengajaan seperti saat ini, bisa di bilang ini adalah yang ketiga atau keempat kalinya mereka bertemu secara tidak sengaja.
"Kau berbelanja juga?"
"Iya. Karena bahan-bahan masakan di restoran sudah habis jadi aku di minta untuk berbelanja. Biasanya kami menghubungi supplier makanan langganan kami, tapi karena beliau sedang memiliki halangan jadi terpaksa aku yang harus kemari dan membeli semua bahannya. Untung saja restoran sedang tidak terlalu ramai, jadi hanya sedikit bahan saja yang aku beli."
"Begitu rupanya."
"Omong-omong kau terbiasa berbelanja di sini?"
"Iya, supermarket ini jaraknya cukup dekat dengan apartemenku 'kan, jadi aku sering kemari."
"Oh iya juga ya, aku baru sadar kalau supermarket ini dekat dengan tempat tinggalmu."
"Karena kebetulan kita bertemu di sini, sekalian saja kita belanja bersama."
"Ide yang bagus, ayo."
Aphrodite dan Laura melangkah untuk berbelanja bersama, membeli bahan-bahan makanan yang mereka butuhkan untuk memasak. Sesekali mereka mengobrol, membicarakan beberapa hal yang lucu yang mengundang tawa mereka. Tak jarang juga Laura menceritakan lelucon yang berhasil membuat Aphrodite tertawa terbahak-bahak.
Setelah selesai memasukkan semua bahan-bahan yang mereka butuhkan, Aphrodite dan Laura lantas beranjak menuju arah kasir untuk membayar semua barang belanjaan mereka. Mereka berdua berdiri di belakang beberapa orang yang mengantre di kasir.
Laura merogoh tas yang ia bawa untuk mengeluarkan dompet milikinya, gelang yang ia gunakan berhasil membuat perhatian Aphrodite tersita. Gelang yang tampak cantik.
"Gelang mu bagus," ujar Aphrodite membuat Laura menoleh padanya.
"Oh, ini?"
"Iya. Dimana kau membelinya, aku belum pernah melihat gelang seindah ini. Kau membuatnya sendiri?"
"Huh? Tidak, ini dari seseorang yang istimewa. Dulu saat kami masih bersama dia memesankan gelang istimewa ini khusus untuk diriku."
"Oh ya? Siapa dia? Apakah dia pacarmu?"
"Ng…" Laura terdiam sejenak, air wajahnya berubah sedikit murung. Ia bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Aphrodite. "Sepertinya tidak penting, aku tidak perlu menjelaskannya. Hubunganku dengannya terlalu rumit."
"Begitu rupanya…"
Laura dan Aphrodite bergerak, berjalan mengikuti laju antrean di hadapan mereka.
Setelah membayar semua bahan belanjaan mereka, Laura dan Aphrodite lalu keluar dari dalam supermarket dengan beberapa kantong plastik besar di sisi kiri dan kanan tangan mereka.
"Baiklah sepertinya kita harus berpisah di sini." Laura berdiri berhadapan dengan Aphrodite. Mereka baru saja keluar dari dalam sana dan kini berdiri di trotoar.
__ADS_1
"Ya, kalau begitu aku pergi. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya."
"Sampai jumpa. Hubungi aku kalau kau senggang dan ingin belajar memasak lagi."
"Siap. Kalau begitu sampai jumpa lagi."
Aphrodite dan Laura berpisah, melenggang ke arah yang berlawanan satu sama lain. Sementara Laura kini berjalan menyusuri trotoar, beda halnya dengan Aphrodite yang sudah menaiki taksi dan pergi dengan di antar taksi.
Laura terus melangkah, untuk bisa menemukan taksi yang langsung mengantarkannya ke tempat tujuan. Ia harus mencarinya di jalan yang cukup jauh, dan untuk bisa tiba di tempat biasa ia mencari taksi untuk bisa tiba di restoran.
...*...
Jordan terdiam di depan salah satu toko buku yang ada di sana, saat ini dirinya tengah kalut karena orang tuanya terus saja berkeras untuk menjodohkan dengan wanita yang sama sekali tidak di cintainya. Dan yang lebih parahnya lagi mereka memaksanya untuk datang ke acara yang telah di buat mereka sedemikian rupa hari ini, lalu ia memilih untuk lari.
Jordan berdiri seraya menatap ke arah kaca jendela besar di hadapannya. Jendela yang memiliki warna gelap itu memantulkan kembali bayangannya di balik sana. Ia terdiam, entah kenapa setiap kali sedang berada dalam keadaan kalut seperti ini, dirinya selalu memilih untuk lari dan mencari tempat yang selalu membuatnya tenang. Dan tempat-tempat yang selalu membuatnya tenang, justru kebanyakan adalah tempat-tempat yang dulu ia kunjungi dengan seseorang dari masa lalunya.
Ia memandangi dirinya lekat, menatap kosong ke arah jendela itu. Semua orang termasuk dirinya dan beberapa pejalan kaki yang bergerak di belakangnya menampakkan bayangan mereka di kaca.
"Setiap kali aku berada di posisi seperti ini, di setiap kali itu juga bayanganmu kembali dalam ingatanku…" inner-nya. Ia merindukan sosoknya, sosok wanita cantik yang selama bertahun-tahun lamanya selalu menghiasi hari-harinya dengan setiap hal-hal indah yang ia hadirkan dalam hidupnya.
Bahkan setelah perpisahannya dengan wanita yang sampai saat ini ia cintai… ia masih belum bisa melupakannya dan sering kali berharap untuknya kembali.
"Aku harap bisa kembali bertemu dengannya…" Jordan menghela napasnya panjang. Sudah bertahun-tahun semenjak perpisahan mereka, sampai saat ini bahkan ia tidak tahu dimana wanita yang dicintainya itu berada, bagaimana keadaannya, dan bagaimana hidupnya. Semakin ia berusaha untuk melupakannya, semakin sosoknya terus menghantui di benaknya.
Jordan terpaku di tempatnya, ia melongo tak berkata-kata saat kedua manik matanya menangkap bayangan wanita itu melintas di belakangnya. Bayangannya tampak jelas terpantul dari kaca hitam di hadapannya, apalagi keadaan sore itu yang begitu cerah membuatnya benar-benar dapat melihat dengan jelas wanita tersebut.
Jordan berbalik cepat, mencari sosok wanita yang di lihatnya dari kaca. Matanya mengedar ke sekeliling, dan di sana. Ia melihatnya, wanita yang tengah ia pikirkan itu berjalan semakin menjauh dari tempatnya berada saat ini. Ia menjinjing beberapa kantong plastik besar ditangannya.
"D-dia…"
Jordan bergegas berlari mengejarnya dengan sekuat tenaga. "Ya… ini pasti benar-benar kau… aku yakin…" Jordan mempercepat langkahnya semakin dekat mengikis jaraknya dengan wanita yang kini terus berjalan di antara orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya.
Ia terbelalak mendapati Jordan yang kini memandanginya intens. Barang belanjaannya sampai terjatuh dari genggamannya.
"Laura…" Jordan mengulum senyum, keduanya matanya berkaca-kaca melihat sosok Laura wanita yang selama ini di rindukan, yang selama ini di carinya, dan selama ini terus berada dalam bayang-bayangnya. Kini berada tepat di hadapannya,.
"J-jordan…" Laura membatin bergegas ia memalingkan wajahnya ke arah lain, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Cepat-cepat ia menepis tangan Jordan.
"Maaf, kau salah orang," ucapnya seraya berjongkok memunguti barang-barangnya.
"Aku tidak mungkin, salah. Kau adalah Laura."
"Bukan, aku bukan Laura." Laura bergegas berbalik, bersiap untuk melangkah tapi Jordan menahan langkahnya.
"Tunggu."
"Aku bukan Laura!" Tukasnya menekan setiap kata yang terlontar dari bibirnya, ia menepis tangan Jordan bergegas lari menjauh darinya.
"T-tidak, Laura!" Jordan mengejarnya cepat, tapi orang-orang yang berlalu-lalang di sana membuat langkahnya terhalang.
Laura berbelok ke jalan lain, mempercepat langkahnya. Sementara di belakangnya masih berusaha untuk mengejarnya, seraya mengunci pandangannya pada Laura ia terus berlari mengikuti kemana arah wanita itu pergi.
"Aku tidak boleh sampai kehilangan dia lagi!" Jordan merapalkan kalimat itu di benaknya seraya terus berlari dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Langkahnya semakin dekat, hanya beberapa meter lagi. "Laura! Tunggu!" Teriak Jordan yang sama sekali tak di dengarnya.
"Aku mohon, Laura!"
Laura berhenti di lampu merah. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia harus secepatnya melarikan diri dari Jordan dan ia jangan sampai tertangkap olehnya.
__ADS_1
Begitu lampu berubah merah, bergegas ia berlari menyeberangi jalan bersama dengan beberapa pejalan kaki yang hendak menyeberang lainnya.
Jordan ingin ikut mengejarnya tapi begitu ia hendak menyeberang lampu sudah lebih dulu berubah hijau membuat langkahnya terhenti dalam sekejap.
"Laura!" Jordan kembali memanggilnya, ia masih bisa melihat sosoknya di antara mobil yang berlalu-lalang disekelilingnya. Tapi saat bus besar melintas, sosok Laura tidak dapat lagi di lihatnya.
Jordan menunggu lampu merah berikutnya, menyeberangi jalan berharap masih bisa menemukannya. Tapi setibanya di seberang sana. Ia sama sekali tidak dapat menemukan Laura di manapun.
Jordan hanya bisa menghela napas pasrah. Ia berusaha untuk mengatur napasnya yang tersengal. Jordan diam terpaku di tempatnya, ia menunduk dengan wajah murung. Air matanya hampir saja menetes.
"Lagi-lagi… aku gagal mengejarnya," gumamnya pelan dengan perasaan berkecamuk.
Atensinya tersita saat sesuatu bergelantungan di lengan bajunya. Jordan meraih benda itu, melepaskannya dari lengan bajunya dan menatapnya.
"Ini…" Jordan terdiam memandangi gelang dalam genggamannya.
"Ternyata… dia masih menyimpan gelang yang aku berikan untuknya. Bahkan… dia tidak pernah melepaskannya…"
Jordan mengepalkan tangannya, menggenggam gelang yang tak sengaja lepas dan mengait pada bajunya itu.
...*...
Laura menghela napasnya lega saat ia berhasil melarikan diri dengan menggunakan taksi yang kebetulan kosong, saat ini dirinya tengah berada dalam perjalanan. Meminta sang supir untuk mengantarkannya ke restoran tempatnya bekerjanya.
"Kenapa dia ada di sana? Kenapa kita harus bertemu lagi?" Laura membatin, matanya masih berkaca-kaca; berusaha menahan tangisnya.
"Padahal sudah bertahun-tahun semenjak saat itu…"
"Kenapa kita harus di pertemukan lagi?"
"Aku pikir setelah lama tidak bertemu… dia akan bisa melupakan aku."
"Tapi ternyata… dia masih terus mengingatku, bahkan dia masih mengenaliku."
Laura tak kuat menahan tangisnya, air matanya mengalir perlahan membasahi pelupuk matanya.
Ia memalingkan wajahnya keluar jendela, menatap orang-orang yang berjalan di sekeliling jalan yang di lewati olehnya.
Laura terdiam dalam lamunannya, ia masih menangis. Hatinya seakan kembali tergores luka ketika ia harus kembali di pertemukan dengan Jordan, pria yang dulu sempat hadir di hidupnya dan mengajarkannya arti saling melengkapi. Tapi itu dulu, sebelum hubungan mereka di tentang keras oleh kedua orang tuanya hanya karena perbedaan kasta yang mereka miliki.
Taksi yang di tumpangi olehnya itu lantas berhenti di tempat tujuan. Laura masih terdiam di tempatnya, pandangan matanya kosong menatap keluar jendela sementara otaknya kini terus di paksa untuk kembali mengingat apa yang pernah di alaminya. Semua itu berputar begitu saja bagaikan sebuah film yang di tonton nya berulang kali.
"Nona?" Supir taksi itu kembali memanggilnya setelah menunggu sesaat tapi sama sekali tidak ada jawaban darinya. Ia memanggilnya sekali lagi, dan baru ketiga kalinya Laura tersadar dari lamunannya.
"Kita sudah sampai," ujar si supir.
"Oh, ya…" Laura mengusap kedua pipinya yang basah, ia lantas membuka pintu taksi dan turun perlahan dengan membawa semua barang bawaan yang telah di beli olehnya.
Laura mengeluarkan dompetnya untuk membayar ongkos taksi yang ia tumpangi, selesai membayar ia lalu memasukkan kembali dompetnya ke dalam tas yang di bawanya. Tapi menyadari gelangnya hilang berhasil membuatnya panik.
Laura mengecek ulang kedua pergelangan tangannya, tapi tidak ada, ia kemudian mengobrak-abrik isi tasnya dan benar-benar tidak dapat ia temukan di manapun.
"Benar-benar tidak ada…" ujarnya yang mulai resah. Salah satu temannya melangkah keluar dari dalam restoran.
"Laura, kau sudah mendapatkan semua bahannya?" Tanyanya pada Laura. Laura beralih pandang padanya.
"Tolong bawa semuanya kedalam, aku harus mencari barangku yang hilang. Mungkin terjatuh di sekitar supermarket atau di perjalanan saat aku pulang."
...***...
__ADS_1