Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Where we go?


__ADS_3

...***...


"Sebenarnya kita akan kemana?" Tanya Aphrodite pada Fransisco yang kini tengah merapikan rambutnya di depan cermin yang tersedia di sana. Saat ini mereka sudah mengenakan pakaian yang amat rapi, sedang bersiap untuk pergi ke luar dan menikmati jalan-jalan di kota Paris yang indah.


Fransisco menoleh ke arahnya sekilas sembari tersenyum simpul menanggapi Aphrodite yang tampaknya sangat penasaran kemana ia akan membawanya.


"Kau akan tahu begitu kita tiba nanti."


"Huft~" Aphrodite menghela napasnya pelan, sudah entah yang ke berapa kalinya setiap kali ia bertanya pasti jawaban dari Fransisco selalu seperti itu. "Tidak bisakah kau memberitahukannya langsung padaku?"


"Tidak. Karena ini kejutan, dan kau pasti akan sangat senang begitu kita tiba di sana."


"Baiklah kalau kau memang benar-benar tidak ingin memberitahu ku," gumam Aphrodite pelan. Ia lantas beranjak bangun dari tempat duduknya. Berjalan menghampiri tasnya yang telah ia persiapkan sejak awal.


Fokusnya beralih pada ponselnya yang baru saja ia isi daya hingga penuh dan saat ini dalam keadaan menyala.


"Oh ya, omong-omong saat keluar nanti kita mampir untuk membeli nomor baru dulu ya? SIM card ku tidak dapat di gunakan di sini, tampak mungkin karena kita berada di luar negeri."


"Tentu saja, aku akan mengantarmu dan membantumu mencari nomor telpon yang bagus."


"Eh, tapi omong-omong kita kan di Paris, lalu kenapa nomormu bisa di gunakan? Bukankah itu aneh?"


"Kau ingat apa yang aku bicarakan?" Tanya Fransisco seraya menoleh ke arahnya dan tersenyum. Aphrodite mengerutkan keningnya bingung.


"Yang mana?"


"Mama adalah orang yang teliti."


"O-oh, ya. Aku ingat lalu…" Aphrodite menggantungkan ucapannya. Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya otaknya sudah lebih dulu menangkap maksud dari perkataan Fransisco. "A-ah, aku mengerti. Jadi itu alasannya kau bisa menelpon?"


"Iya. Mama memberikan nomor miliknya untuk aku gunakan, jadi aku bisa menghubungi mama dan keluarga kita yang lainnya."


"Begitu rupanya, pantas saja."


"Oh ya, kau sudah selesai bersiap?"

__ADS_1


"Iya. Memangnya kita akan pergi sekarang?"


"Tentu. Melihatmu berdandan seperti ini benar-benar tampak cantik, bahkan rasanya lebih cantik di bandingkan sebelumnya." Fransisco tersenyum simpul.


"Ya, terima kasih atas pujiannya," sahut Aphrodite datar. Ia lantas meraih tasnya.


"Sepertinya dia masih belum merasakan apapun bahkan saat aku memujinya dia berbicara dengan intonasi yang biasa." Batinnya.


"Frans!" Aphrodite menyadarkan pria yang malah melamun sembari menatap dirinya itu.


"Ah ya?"


"Ayo, bukankah kau bilang kita akan pergi sekarang?"


"O-oh, ya. Ayo." Fransisco meraih tangan Aphrodite, menggenggamnya kemudian menuntunnya keluar dari dalam kamar mereka. Aphrodite tak menolak, ia sebisa mungkin berusaha untuk menjalankan perannya dengan baik. Ya… setidaknya untuk saat ini.


Fransisco dan Aphrodite keluar dari lantai satu, menuruni lantai bawah agar bisa tiba di depan pintu keluar. Tiba di pintu keluar, mereka bertemu dengan Bertha yang kini tampak tengah berdiri menunggu mereka di ambang pintu.


"Apakah semuanya sudah siap?" Tanya Fransisco pada Bertha begitu mereka tiba di hadapannya.


"Baiklah, terima kasih. Kalau begitu kami pergi dulu."


"Baik tuan. Hati-hati di jalan."


"Iya."


"Sampai jumpa Bertha," Aphrodite melambaikan tangannya ke arah wanita paruh baya itu.


"Selamat bersenang-senang nona," Bertha balas melambaikan tangan ke arah Aphrodite sembari tersenyum. Mereka berdua kemudian melangkah menuruni tangga, dan begitu tiba di anak tangga terakhir, mereka melihat Adrien yang saat ini sedang berdiri di depan sebuah mobil mewah berwarna hitam yang sangat amat mengkilap yang telah di siapkan olehnya sesuai permintaan dari Fransisco.


"Ini kuncinya tuan," Adrien menyodorkan kunci mobil di tangannya pada Fransisco. Sebelumnya, Fransisco memang memintanya untuk tidak mengantarkan mereka dan membiarkan mereka berdua pergi bersama.


"Terima kasih," kata Fransisco.


"Sama-sama tuan."

__ADS_1


"Kalau begitu kau bisa kembali. Aku dan istriku akan pergi dulu."


"Baik, selamat menikmati perjalanannya nona, tuan muda." Adrien tersenyum ke arah Fransisco dan Aphrodite.


Aphrodite hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Fransisco menghampiri pintu mobil, membukanya kemudian mempersilahkan Aphrodite untuk masuk dan duduk di dalam sana. Setelah memastikan istrinya itu duduk dengan tenang, Fransisco lantas berjalan mengitari bagian depan mobil dan duduk tepat di kursi pengemudi yang berada di sampingnya.


"Kau siap?" Tanya Fransisco pada Aphrodite. Ia baru saja selesai mengenakan seat belt.


"Ng." Aphrodite menganggukkan kepalanya.


Fransisco menyalakan mesin mobilnya, melajukan mobilnya perlahan pergi dari tempatnya semula. Bergerak keluar dari dalam mansion dan melaju perlahan menuju tempat yang mereka tuju.


Sepanjang perjalanan, fokus Aphrodite tak dapat berdiam pada satu hal. Ia terus mengedarkan pandangannya, menatap ke sekeliling jalan yang mereka lewati.


Paris adalah kota yang indah, ia benar-benar menyukainya. Bukan hanya itu, banyak sekali hal-hal menarik di kota yang memiliki ciri khas Eiffel tower ini.


"Apakah kau senang?" Tanya Fransisco sembari menoleh ke arah Aphrodite. Aphrodite terkejut di buatnya, apalagi sejak tadi ia terus fokus pada pemandangan keramaian kota yang ada di sekelilingnya.


"Iya, aku senang," sahut Aphrodite melirik ke arahnya sekilas kemudian kembali fokus pada sekeliling.


"Tunggu sampai aku membawa mu ke tempat yang kita tuju," kata Fransisco. Ia menghentikan mobilnya saat lampu lalulintas di sana menunjukkan warna merah.


"Kita akan pergi kemana?"


"Aku akan tunjukkan tempat-tempat yang indah. Aku yakin kau akan menyukainya."


"Tempat yang indah?"


"Ng." Fransisco menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Tidak lama menunggu, akhirnya lampunya kembali berubah hijau. Mereka lalu melajukan mesin mobilnya kembali, beranjak dari tempat semula menuju entah kemana. Aphrodite tidak tahu, yang pasti Fransisco bilang kalau ia akan mengantarkannya menuju tempat yang indah. Dan Aphrodite bisa di bilang cukup penasaran dengan kemana Fransisco akan mengajaknya pergi.


Fransisco sesekali melirik ke arah Aphrodite yang fokus matanya terus tersita oleh pemandangan kota Paris yang indah, ia tersenyum saat melihat sesuatu yang menarik di matanya.


"Ini langkah awal ku untuk meluluhkan hatimu. Aku harap kau bisa merasa senang dan perlahan bisa luluh dengan setiap usaha yang aku lakukan." Fransisco membatin. Matanya menatap lekat Aphrodite yang kini duduk dengan tenang di samping nya. Melihat Aphrodite yang tampak sangat senang seperti saat ini, membuat Fransisco tersenyum ke arahnya. Ia senang Aphrodite bisa tersenyum seperti saat ini, dan ia harap. Ia bisa membuat Aphrodite terus tersenyum senang seperti saat ini. Atensi nya kembali beralih. Fransisco lantas mulai kembali fokus pada jalanan yang dilalui olehnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2