
...***...
Aphrodite melangkah keluar dari dalam gedung kantor dengan di temani oleh Mario yang kini berjalan di sisinya, mereka melenggang menghampiri salah satu mobil yang sudah terparkir rapi tepat di depan sana bersama dengan beberapa mobil lainnya.
Mario menghampiri satu mobil dengan Aphrodite dibelakangnya. Mereka kemudian masuk dan duduk di jok depan mobil, bersiap untuk mengikuti mobil di depan mereka.
...*...
Setelah melalui cukup lama perjalanan dari kantor, akhirnya mereka tiba juga di tempat yang mereka tuju.
Aphrodite melangkah keluar dengan Mario bersamaan dengan beberapa orang lain yang memang di tugaskan untuk ikut dengan Jordan mengecek keadaan di lapangan.
Aphrodite menghampiri Mario yang kini berkumpul bersama dengan yang lainnya. Beda halnya dengan yang lain, Aphrodite kini sibuk mengecek ulang semua berkas yang minta di bawa oleh Mario memastikan kalau semuanya tidak tertinggal di dalam mobil.
Sementara dirinya sibuk, Mario yang lainnya kini mulai melangkah mengikuti Jordan yang mulai berjalan masuk menghampiri beberapa orang yang telah menunggunya sejak tadi.
Aphrodite yang menyadari dirinya tertinggal bergegas menghampiri mereka seraya terus mengecek lagi beberapa hal yang ia lewatkan.
Jordan yang sibuk mengobrol dengan kolega yang membantunya tiba-tiba di alihkan dengan suara ponselnya yang berdering di balik kantong jas yang di kenakan oleh-nya.
"Kalian pergi lebih dulu, saya harus angkat telponnya. Ini penting," ujarnya yang diangguki oleh sekertarisnya yang kemudian menuntun mereka masuk dan mengecek semuanya.
Jordan mengangkat telpon yang masuk pada ponselnya dan berbicara beberapa hal dengan seseorang diseberang sana.
Aphrodite terus melangkah sampai kemudian sosok Jordan berhasil menangkap perhatiannya. Ia menghampiri pria itu yang kini baru saja menyelesaikan pembicaraannya ditelpon.
"Jordan?" Pria itu menoleh saat Aphrodite memanggilnya.
"Hai, kau kemari juga?"
"Iya… aku di pilih pak Mario untuk ikut kemari. Omong-omong kau juga?"
"Ya, aku juga."
"Kebetulan sekali kalau begitu. Ayo kita menyusul yang lain." Aphrodite berjalan mengikuti Mario dan yang lainnya yang kini jaraknya sudah cukup jauh dari tempatnya berada. Di sampingnya Jordan berusaha untuk mengimbangi langkah kakinya dan berjalan beriringan bersama Aphrodite yang tampak sangat memperhatikan.
Sementara itu, di sisi lain. Fransisco yang kebetulan memiliki meeting di tempat tidak jauh dari sana menangkap sosok Aphrodite. Namun pria itu sama sekali tidak melihat dengan jelas wajahnya.
"Mungkin hanya perasaanku saja," gumamnya saat ia hanya melihat perawakannya saja dari arah belakang.
"Pak?" Sekertarisnya itu memanggilnya dan berhasil membuat fokusnya beralih pada hal lain. Detik berikutnya mereka beranjak pergi dari sana menghampiri salah satu restoran yang nantinya akan menjadi tempat mereka melakukan meeting bersama dengan salah satu kliennya dari perusahaan yang beberapa waktu lalu memintanya menemui langsung mereka di salah satu restoran yang letaknya cukup jauh dari kantor.
...*...
Aphrodite baru saja kembali dari toilet setelah melakukan beberapa pengecekan akhirnya mereka selesai juga, dan ini sudah waktunya makan siang.
Aphrodite menghampiri Jordan yang masih berdiri di tempat tadi, sementara yang lainnya sudah berjalan lebih dulu pergi menuju restoran yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Dimana yang lain?"
"Kita akan pergi untuk makan siang di restoran di depan."
"Lalu kenapa kau masih disini?"
"Ada beberapa hal yang harus aku lakukan dulu. Kau duluan saja."
"Baiklah kalau begitu sampai jumpa di sana."
"Ya."
Aphrodite berjalan meninggalkan Jordan yang kini beranjak pergi hendak menemui seseorang yang beberapa saat yang lalu menelpon dirinya sebelum ia meminta koleganya untuk makan siang bersama di restoran tak jauh di sana.
Tiba di dalam ruang restoran, Aphrodite segera mencari atasannya. Yaitu Mario dan yang lainnya, begitu menemukan meja yang mereka tempati; Aphrodite segera menghampirinya dan duduk di salah satu meja kosong yang ada di sana.
"Maaf aku terlambat," ujarnya.
"Tidak apa-apa, ayo duduk." Mario menarik kursi di sampingnya yang kebetulan bersebelahan dengan kursi yang di tempati oleh sekertarisnya Jordan.
Aphrodite mengangguk lalu duduk di sana. "Tidak salah aku memilihmu untuk menemaniku, kau benar-benar cepat menangkap apa yang di jelaskan dan kau juga sangat fokus dalam bekerja." Mario tersenyum bangga pada Aphrodite.
__ADS_1
"Seharusnya saya yang berterima kasih karena bapak karena sudah bersedia memilih saya, membuat saya jadi banyak belajar," ujar Aphrodite.
"Bukan masalah."
"Oh ya, bagaimana sementara menunggu pak Presdir kita langsung pesan saja?" Wanita yang menjadi sekertarisnya Jordan itu mengusulkan.
"Kami tidak keberatan, tapi bagaimana dengan pak Presdir sendiri?" Ujar Mario seraya menoleh padanya.
"Beliau sudah menghubungi saya dan beliau setuju."
"Baiklah kalau begitu mari memesan." Mario setuju. Mereka bertiga lantas memutuskan untuk mencari hidangan untuk mereka santap untuk siang ini. Selesai memesan, Aphrodite memutuskan untuk menghubungi Fransisco dan memberitahukan padanya kalau dirinya tidak bisa makan siang bersama dengannya. Belum sempat ia menelpon pria itu, panggilan masuk sudah lebih dulu tampil di depan layar ponselnya.
"Maaf, saya harus mengangkat telpon dulu." Aphrodite beranjak bangun dari sana, berjalan sedikit menjauh untuk mengangkat telpon dari Fransisco tersebut.
"Halo, sayang?"
"Halo? Aku baru saja ingin menghubungimu."
"Kebetulan sekali rupanya, haha…"
"Ya."
"Omong-omong apa yang ingin kau sampaikan padaku?"
"Aku hanya ingin memberitahu kalau aku tidak akan bisa makan siang bersamamu hari ini karena aku memiliki pekerjaan di luar kantor."
"Wow…"
"Kenapa?" Aphrodite mengerutkan keningnya saat kata itu tiba-tiba saja terlontar dari mulut Fransisco di seberang sana.
"Aku juga baru saja ingin berbicara seperti itu, aku tidak bisa makan siang bersamamu karena aku memiliki pekerjaan di luar kantor. Tapi kau sudah lebih dulu bicara."
Sementara Aphrodite mengangkat telpon sedikit menjauh dari tempat dimana Mario duduk, beda halnya dengan Jordan yang baru saja kembali dan duduk di kursi kosong yang tersedia di sana.
...*...
Fransisco beralih pandang ke arah lain, tapi tak sengaja kedua manik matanya menangkap Aphrodite yang tengah menerima telpon darinya.
Ia tersenyum simpul, terus memperhatikan Aphrodite sebelum akhirnya beranjak bangun dari tepat duduknya.
"Ada apa?" Tanyanya di seberang sana.
"Kau sedang dimana sekarang?"
"Aku sedang di restoran, sekarang ini aku sedang menunggu makanan yang kami pesan datang di meja. Memangnya kenapa?"
"Biar aku tebak. Saat ini kau sedang berdiri sambil menatap keluar jendela 'kan?"
"Darimana kau tahu?" Aphrodite mengerutkan keningnya bingung. Fransisco semakin merekahkan senyumannya ia terus berjalan mengikis jarak di antara mereka, melenggang tanpa suara agar tidak menarik perhatian Aphrodite.
"Karena aku melihatmu?"
"Huh? Benarkah?" Aphrodite mengecek ponselnya, menatap layar ponsel di tangannya. Ponselnya menunjukkan layar panggilan suara, bukannya panggilan video. "Bagaimana caranya kau bisa melihatku? Ini 'kan panggilan suara, bukan video. Apakah kau berada di sini?" Aphrodite mengedarkan pandangannya, tapi Fransisco sudah lebih dulu berdiri tepat di belakangnya. Begitu ia menoleh ke belakang, Aphrodite tersentak kaget nyaris tersungkur jatuh. Beruntung Fransisco memiliki refleks yang cepat, ia menangkap tubuhnya sebelum berhasil menyentuh lantai.
"Frans…" Aphrodite terpaku tak bisa berkata-kata saat mendapati pria yang menjadi suaminya itu ternyata sejak tadi berada di satu restoran yang sama dengan dirinya.
Fransisco hanya bisa tersenyum saat mendapati ekspresi Aphrodite yang tampak begitu terkejut saat melihatnya tiba-tiba ada di belakangnya.
"Kau harus lebih berhati-hati. Bagaimana kalau kau terjatuh dan kau terluka?" Tuturnya lembut. Aphrodite termangu, ia lantas membenahi posisinya berdiri tegap di hadapan Fransisco.
"Kenapa kau disini?"
"Bukankah sudah aku bilang kalau aku memiliki pekerjaan di luar? Aku baru saja selesai meeting bersama dengan klien ku di sini, dan karena urusanku sudah selesai aku jadi makan di sini."
"Oh…"
"Kau sendiri memiliki pekerjaan di sekitar sini?"
"Ya, dan aku baru saja selesai. Sekarang kami memutuskan untuk makan bersama, semua kolegaku sedang menunggu di sana." Aphrodite menunjuk ke arah meja yang di tempati oleh Mario dan Jordan yang baru saja tiba. Fransisco menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Aphrodite.
__ADS_1
"Sepertinya kita memiliki ikatan yang kuat sampai-sampai kita bertemu di sini dalam kondisi yang serupa." Fransisco terkekeh geli mengingat apa yang baru saja mereka alami. Aphrodite di hadapannya ikut terkekeh, ia juga tidak menyangka kalau mereka akan bertemu seperti saat ini.
"Omong-omong dimana sekertaris mu? Kau tidak sendirian 'kan?"
"Dia sedang ke toilet. Oh ya, bagaimana kalau kita makan bersama? Kita 'kan sudah bertemu di sini."
"Aku mau, tapi… mungkin aku harus berbicara dulu dengan mereka. Oh, bagaimana kalau aku kenalkan kau dengan yang lain?"
"Huh?"
"Ayo." Aphrodite meraih tangan Fransisco dan menariknya menuju arah meja yang di tempati oleh Jordan, Mario dan sekertarisnya.
Tiba di meja yang mereka duduki, perhatian Aphrodite lebih dulu tersita oleh Jordan yang sebelumnya tidak ada di sana.
Jordan mendongak menatap Fransisco yang tiba dengan Aphrodite.
"Kau sudah kembali?" Ucap Aphrodite begitu ia tiba di hadapannya. Sementara itu sekertarisnya dan Mario di buat melongok dengan Aphrodite yang baru saja berbicara seperti itu dengan atasannya, di tambah lagi wanita itu berbicara dengan sangat santai layaknya berbicara dengan teman yang sudah sangat akrab dengannya.
"Ya, aku baru selesai." Sahut Jordan dengan tanggapan santainya.
"Omong-omong ini Fransisco, dia…"
"Pak Jordan, tidak di sangka kita bisa bertemu di sini." Fransisco lebih dulu memotong kalimatnya menjabat tangan Jordan seraya tersenyum.
"Kebetulan sekali, apakah anda baru saja selesai meeting?" Jordan menyapanya hangat. Hal itu membuat semua orang di meja itu melongo termasuk Aphrodite yang terkejut dengan mereka yang ternyata saling kenal satu sama lain.
"Betul, saya baru saja selesai melakukan meeting bersama dengan salah satu klien di sini."
"Tunggu, kalian… sudah saling kenal?" Aphrodite mengerutkan keningnya bingung.
"Tentu saja, dia ini yang aku ceritakan sayang. Kau ingat perkataan ku beberapa waktu lalu? Aku pernah bilang kalau aku kenal dengan Presdir J Company." Fransisco menjawab. Aphrodite terdiam, pikirannya menelisik mencari memori itu dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati teka-teki yang tiba-tiba saja terjawab.
"J untuk Jordan…" pikirnya saat menyadari makna huruf J pada awalan nama perusahaan tempat kerjanya.
Sementara Aphrodite tampak tengah mengingat tanpa bisa berkata-kata, beda halnya dengan Jordan yang terkejut sekaligus heran dengan panggilan Fransisco pada Aphrodite. "Sayang?" Jordan menaikkan sebelah alisnya menatap bergantian antara Aphrodite dan Fransisco, ia baru menyadari pakaian yang mereka gunakan memiliki warna yang serupa.
"O-oh… jadi…" Aphrodite menoleh ke arah Jordan, pria itu balik menatapnya. Aphrodite malu di buatnya, setelah berminggu-minggu ia bekerja di perusahaannya dan ia baru tahu kalau ternyata pria yang di anggapnya teman ini adalah atasan di tempat kerjanya.
"Oh astaga, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak tahu kalau ka—maksud saya bapak adalah pak Presdir." Aphrodite membungkuk panik meminta maaf.
Jordan tersenyum simpul. "Tidak perlu meminta maaf, lagipula aku lebih nyaman kalau kau memanggilku dengan nama."
"Tapi tetap saja, anda adalah atasan saya. Jadi rasanya kurang sopan kalau saya memanggil anda dengan nama saya. Maaf karena kelancangan saya tadi karena berani memanggil bapak dengan nama saja."
"Aku jadi merasa tidak nyaman karena harus berbicara sopan seperti ini," gumam Jordan.
"Oh ya, omong-omong kalian juga saling kenal?" Jordan mengalihkan topik pembicaraan.
"Kita lebih dari saling kenal." Fransisco menarik Aphrodite mendekat ke arahnya. "Aphrodite ini istriku," ujarnya membuat semua orang di meja itu kembali terkejut.
"Kalian… suami istri?"
Fransisco meraih tangan Aphrodite, menggenggamnya membuat cincin pernikahan mereka terlihat jelas. Jordan semakin terkejut, begitu pula dengan Mario dan sekertarisnya yang tak kalah terkejutnya.
"Kau tidak memberitahu mereka kalau kau sudah menikah?" Fransisco menoleh ke arah Aphrodite yang kini berdiri di sampingnya.
"Apa motivasi ku?" Aphrodite mengedikan bahunya. "Tidak semua orang perlu tahu dengan pernikahan kita 'kan? Lagipula aku selalu memakai cincinnya. Jadi tidak perlu aku jelaskan pada semua orang juga 'kan?"
"Memang benar, tapi semua orang jadi menganggap mu masih lajang." Jordan menjawab, ia terkekeh pelan ketika Aphrodite menjawab dengan wajah polos tak berdosanya. Memang benar apa yang ia ucapkan, ia tidak memiliki motivasi untuk menjelaskan hubungan pribadinya pada orang lain. Apalagi yang tidak memiliki sangkut paut erat dengan kehidupannya.
"Oh ya, omong-omong bagaimana kalau anda makan bersama kami?" Jordan mengalihkan perhatiannya pada Fransisco.
"Tadinya saya ingin meminta izin untuk membawa Aphrodite makan siang bersama saya. Tapi setelah saya pikir-pikir sepertinya lebih baik kalau saya dan sekertaris saya bergabung untuk makan bersama di sini."
"Bagus. Kalau begitu silahkan duduk."
"Saya akan memanggil sekertaris saya lebih dulu, mungkin dia sedang kebingungan mencari saya yang tiba-tiba tidak ada di meja."
Fransisco beranjak pergi sebentar dari arah sana menghampiri wanita yang menjadi sekertaris nya itu. Ia tampak kebingungan saat mendapati Fransisco tiba dari meja lain. Fransisco segera mengajak sekertarisnya untuk pindah ke meja yang di tempati Aphrodite.
__ADS_1
...***...