Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Jordan?


__ADS_3

...***...


Aphrodite melangkah gontai keluar dari dalam kantor. Sudah beberapa Minggu berlalu semenjak ia bekerja di J Company, dan selama seminggu terakhir pekerjaannya begitu banyak sampai-sampai ia cukup kewalahan mengerjakan semua pekerjaannya. Tapi beruntung ia bisa mengatasi semuanya walaupun ia harus membawa semua pekerjaan yang tengah di garapnya itu ke rumah dan mengerjakan semuanya di rumah, begadang bersama dengan Fransisco yang sama sibuknya dengan dirinya.


Aphrodite memegangi keningnya yang terasa sedikit pening, ia berhenti sejenak di luar. Sebelah tangannya bersandar pada dinding.


"Kau baik-baik saja? Apakah kau sakit?" Tanya Tina yang senantiasa menemani dirinya.


"Aku baik-baik saja," jawab Aphrodite lirih.


"Kau yakin? Tampaknya kau sedang kurang sehat, lebih baik besok kau tidak perlu masuk kerja. Kau harus istirahat dan memulihkan dirimu agar kau tidak semakin parah." Tina tampak cemas dengan wanita yang kini menjadi teman dekatnya itu.


"Aku sungguh baik-baik saja, sepertinya tadi pagi aku salah makan." Aphrodite memijat perlahan keningnya yang terasa pening.


"Yakin?"


"Ya. Kau tenang saja, lebih baik kau pulang saja. Tidak perlu cemaskan aku."


"Tapi bagaimana denganmu? Kau akan pulang sendiri dalam keadaan seperti ini?"


"Aku sedang menunggu jemputan. Jadi pulanglah, kau tidak perlu mencemaskan aku."


"Kau pulang di jemput?"


"Iya."


"Baiklah kalau kau memang pulang di jemput. Setidaknya ada yang akan menjagamu dan memastikan kau pulang dengan selamat. Setidaknya aku jadi tenang."


"Ya, jadi pulanglah. Rumahmu 'kan jauh, kalau kau malah menungguku di sini kau malah pulang kemalaman."


"Kalau begitu aku pamit. Kalau besok kau masih sakit hubungi aku saja, jangan terlalu paksakan dirimu untuk bekerja. Apalagi keadaan mu saat ini sedang kurang baik seperti saat ini."


"Baiklah."


"Aku pulang."


"Hati-hati di jalan."


"Ya. Kau juga." Tina beranjak pergi dari sana. Melangkah menuju sisi jalan mencari kendaraan umum kosong yang nantinya akan mengantarkan dirinya hingga tiba di rumah.


Sepeninggalan Tina, Aphrodite masih berusaha menguasai dirinya dan meredakan rasa pening yang melanda kepalanya.


Perhatian Aphrodite dalam seketika tersita oleh kedatangan mobil Fransisco yang tiba di sana dan menghentikan mobilnya tepat di depan hadapannya. Aphrodite berusaha untuk tenang dan menguasai dirinya. Ia tidak ingin Fransisco sampai cemas apalagi kalau melihat dirinya tengah dalam keadaan seperti saat ini.


Fransisco membuka kaca jendela mobilnya menatap Aphrodite yang masih berada di luar mobil.


"Hey! Ayo masuk," teriaknya dari dalam mobil. Aphrodite tersenyum sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam sana dan duduk di samping kursi pengemudi.


Setelah mendapati istrinya telah duduk dengan tenang di sampingnya, Fransisco lalu melajukan mesin mobilnya pergi dari tempatnya berada saat ini.


Sepanjang perjalanan Fransisco terus fokus pada jalanan, sesekali dirinya membahas beberapa hal kecil mengenai apa yang di lalui oleh dirinya dan menanyakan bagaimana Aphrodite menjalani pekerjaan nya di kantor dan lain sebagainya. Aphrodite masih berusaha tenang walaupun entah kenapa pening nya masih dapat ia rasakan bersamaan dengan itu ia merasa sedikit mual namun berhasil di tahannya.


Fransisco menghentikan mesin mobilnya begitu mereka tiba di apartemen tempat mereka tinggal. Fransisco segera menaruh mobilnya di basemen, setelah memastikan mobilnya dalam keadaan aman. Fransisco dan Aphrodite lalu melangkah pergi menuju lantai tempat dimana mereka tinggal.


Agar bisa tiba di sana, mereka menggunakan lift agar bisa tiba di sana.


Tiba di dalam rumah, Aphrodite dan Fransisco terhenyak duduk di sofa ruang tengah. Duduk bersama serata bersandar pada sandaran sofa yang mereka duduki.


"Hari ini benar-benar hari yang melelahkan," gumam Fransisco yang menenggerkan kepalanya menatap langit-langit ruang tengahnya. Sementara itu Aphrodite di sampingnya memejamkan kedua matanya, berharap dengan begitu pening yang melanda kepalanya bisa sedikit berkurang.


Fransisco melirik ke arah Aphrodite di sampingnya. Wanita yang menjadi istrinya itu tampak sangat kelelahan di bandingkan dirinya.

__ADS_1


"Dite?" Fransisco memanggilnya, tapi tak ada jawaban sama sekali dari Aphrodite. Pria itu menepuk pelan pipinya, tapi Aphrodite sama sekali tak merespon. "Tampaknya kau benar-benar kelelahan sampai-sampai kau tertidur," gumam Fransisco yang kemudian memindahkan kepala Aphrodite dan menenggerkan nya di bahunya.


...*...


Fransisco mengubah posisi tidurnya jadi menyamping, menghadap ke arah dimana Aphrodite semula terbaring di sampingnya. Namun perhatiannya dalam seketika tersita oleh apa yang ia rasakan, kesadarannya merasakan ruang kosong yang di pegang tangannya.


Fransisco membuka kedua matanya perlahan, dalam kegelapan ruang tidurnya ia tidak dapat menemukan Aphrodite terbaring di sampingnya. Fransisco mengerjap kan kedua matanya beberapa kali berusaha memperjelas penglihatannya.


Keningnya berkerut begitu menyadari memang Aphrodite yang seharusnya ada di sampingnya itu tidak ada. Fransisco mendongak menatap ke sisi kiri dan kanannya, tapi hanya gelap yang lagi-lagi ia jumpai.


Fransisco menyalakan lampu tidurnya, menatap jam di dinding kamarnya yang kini menunjukkan pukul satu dini hari.


"Dite?" Panggilnya yang tak ada jawaban sama sekali. Atensinya beralih saat secara samar-samar ia mendengar suara keran air di wastafel kamar mandinya itu menyala, bersamaan dengan itu ada suara aneh seperti seseorang yang tengah muntah-muntah.


Rasa cemas menggerayangi hatinya. Bergegas Fransisco bangkit dari ranjang tidur yang menjadi pembaringannya itu. Berjalan perlahan menuju arah pintu kamar mandi yang kini menyisakan sedikit celah hingga membuatnya mampu melihat ke arah dalam.


Fransisco terdiam sejenak memperhatikan ke arah dalam, di sana kedua matanya menangkap Aphrodite yang tengah berdiri di depan wastafel sembari muntah-muntah.


Fransisco buru-buru membuka pintu kamar mandinya, berjalan menghampiri Aphrodite dengan raut wajah cemas.


"Dite? Sayang? Kau kenapa?" Paniknya.


Aphrodite beralih pandang pada Fransisco yang baru saja tiba di hadapannya. Ia mengelap air yang membasahi bibirnya dengan menggunakan punggung tangannya, menatap Fransisco yang kini hanya mengenakan celana piyamanya; menatap dirinya dengan raut wajah yang tampak sangat cemas.


"Kau pasti terbangun gara-gara aku berisik, ya?" Lirihnya.


"Tidak. Aku bangun karena kau tidak ada di sampingku, tapi kau kenapa? Kau baik-baik saja? Apakah kau sakit?" Tanyanya runtut.


"Aku baik-baik saja, sepertinya aku salah makan tadi siang. Makannya aku muntah-muntah."


"Kau yakin? Kau tidak sakit 'kan?"


"Sungguh, aku tidak sakit."


Fransisco mendudukkan Aphrodite di atas ranjang tidurnya. "Tunggu di sini sebentar, biar aku ambilkan kau air hangat." Fransisco beranjak pergi dari dalam kamarnya, berjalan menuruni tangga untuk bisa tiba di ruang dapur dan mengambil air hangat untuk Aphrodite. Tak lama ia kembali dengan gelas berisi air putih hangat di tangannya.


"Minum ini agar kau lebih baik," ucapnya sembari menyodorkan gelas di tangannya.


"Terima kasih." Aphrodite meneguknya perlahan. Fransisco kemudian menaruh gelasnya itu ke atas meja nakas yang ada di samping tempat tidurnya. Tidak lupa ia menutupnya dengan tutup gelas yang di bawanya.


"Sekarang lebih baik kau tidur lagi."


Aphrodite beranjak dari posisinya, kini ia dalam posisi berbaring di atas ranjang tidurnya. Fransisco menarik selimut guna menutupi tubuhnya, setelah itu ia menyusul berbaring di sampingnya.


"Tidurlah. Besok kau juga harus bekerja 'kan?" Aphrodite menatap Fransisco yang kini memandanginya intens dari jarak yang amat dekat.


"Kalau kondisi mu kurang baik seperti ini, lebih baik besok kau tidak usah pergi ke kantor. Kau istirahat di rumah saja dan pulihkan keadaan mu," kata Fransisco.


"Aku baik-baik saja. Besok pagi aku juga akan sembuh dan sudah bisa pergi bekerja lagi, jadi kau jangan cemaskan aku. Sekarang kita tidur saja."


"Baiklah. Tapi kalau kondisi mu seperti ini hingga besok, lebih baik jangan kau paksakan. Oke?"


"Iya." Jawab Aphrodite yang kemudian memejamkan kedua matanya. Fransisco mematikan lampu tidurnya lebih dulu sebelum akhirnya ikut tertidur di sampingan.


...*...


"Kau yakin tidak apa-apa?" Tanya Fransisco cemas seraya menempelkan punggung tangannya di kening Aphrodite yang kini terduduk di hadapannya. Saat ini mereka berdua tengah berada di ruang makan, hendak sarapan bersama sebelum pergi ke kantor. Keduanya sudah mengenakan pakaian yang rapi, tapi sebelum berangkat Fransisco terus saja mencemaskan keadaan Aphrodite dan memastikan kalau istrinya itu baik-baik saja. Kejadian tadi malam benar-benar berhasil membuatnya cemas bukan main.


"Sudah aku bilang, aku tidak apa-apa Frans." Aphrodite tersenyum meraih tangan Fransisco yang semula menempel di keningnya dan menggenggamnya. "Sekarang lebih baik kita sarapan. Setelah itu kita berangkat ke kantor, ini sudah hampir waktunya."


Fransisco menghampiri kursi tempat duduknya sementara itu Aphrodite mulai mengambilkan piringnya dan mengisinya dengan nasi dan semua lauk yang ada.

__ADS_1


"Kalau nanti saat di kantor kau merasa kurang enak badan atau kau sakit, langsung minta izin saja untuk pulang lebih awal. Setelah itu telpon aku, aku akan menjemputmu dan mengantarkan kau pulang. Jangan sampai kau tidak memperdulikan kesehatan mu juga."


"Iya." Aphrodite menganggukkan kepalanya.


...*...


Aphrodite terduduk di depan komputer nya, berkutat dengan semua pekerjaan kantornya yang semakin banyak saja. Ia fokus dengan beberapa berkas yang di tanganinya. Sementara itu, Tina; wanita itu juga sama sibuknya dengan Aphrodite.


Keadaan di dalam ruangan itu amat tentram, bahkan sepanjang waktu hanya detak jarum jam dan keyboard komputer saja yang terdengar mendominasi seisi ruangan.


Aphrodite terdiam sejenak, ia rasa mual yang sempat hilang darinya itu kini kembali membuat fokusnya terganggu dan ia tidak bisa bekerja dengan baik.


Ia berhenti sejenak. Aphrodite beranjak bangun dari tempat duduknya, melangkah menuju arah toilet ketika mual yang di rasakan olehnya itu mulai semakin menjadi.


Tina yang sejak tadi terus memandangi layar komputer nya itu lalu beralih pandangan saat Aphrodite pergi lewat pintu keluar dan berjalan menuju toilet.


"Aphrodite baik-baik saja 'kan? Aku cemas dia sampai seperti kemarin," busuknya pelan memonolog dengan dirinya sendiri, ia masih berusaha untuk berpikir positif tapi tetap saja ia merasa cemas dengan keadaan teman baiknya itu apalagi ketika ia melihat keadaan nya kemarin yang kurang baik; membuatnya semakin cemas. Tina terdiam sesaat dari pekerjaan nya. Matanya masih menatap ke arah pintu keluar.


"Kenapa dia tidak kembali juga? Apakah ada sesuatu yang terjadi dengannya?" Gumamnya cemas.


...*...


Aphrodite melangkah keluar dari dalam toilet wanita. Beruntung toiletnya kosong, jadi tidak ada orang yang mengetahui kalau dirinya baru saja muntah.


Kepalanya terasa berat, pening tiba-tiba saja melanda nya membuat ia langkah kakinya sedikit gontai. Aphrodite berjalan perlahan menyusuri koridor agar bisa tiba di ruang divisi nya, sebelah tangannya bertumpu pada dinding yang di lalui nya.


Aphrodite berhenti sejenak dan berusaha menyadarkan dirinya. Ia berdiri seraya bersandar pada dinding, setelah terdiam beberapa saat ia lalu kembali berjalan seperti biasa. Pening nya sudah mulai mereda, dan ia bisa kembali bekerja.


Aphrodite masuk ke dalam ruang divisi nya berada tapi ia berhenti di ambang pintu masuk ketika ia berpapasan dengan salah satu rekannya yang hendak mengirimkan sebuah berkas di tangannya.


"Maaf, tapi bisakah kau tolong antara kan berkas ini pada pak Mario? Aku ingin pergi ke toilet, aku benar-benar sudah tidak tahan. Berkas ini harus segera di antar padanya. Kalau tidak dia bisa marah."


"Baiklah. Akan aku berikan berkas ini padanya."


"Terima kasih. Kau adalah penyelamat ku." Wanita itu menyodorkan berkas di tangannya pada Aphrodite setelah itu ia berlari menuju arah toilet dengan langkah tergesa-gesa.


Aphrodite terdiam di tempatnya memperhatikan wanita itu yang semakin menjauh hingga akhirnya hilang di balik pintu semula dirinya datang.


"Sepertinya dia sakit perut," gumam Aphrodite seraya memperhatikan nya. Aphrodite mengalihkan perhatiannya pada berkas dalam genggamannya, menatap berkas di tangannya dengan seksama sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana untuk mengirimkan berkas tersebut pada Mario yang di maksud.


...*...


Jordan melangkah menyusuri koridor, ia hendak menemui salah satu bawahannya untuk mengecek beberapa hal.


Perhatiannya tersita saat secara tidak sengaja kedua manik matanya menangkap sosok wanita yang berjalan di sepanjang koridor dengan langkah gontai.


Jordan terdiam memperhatikan gerak geriknya dari arah belakang, bergegas ia mempercepat langkahnya saat melihat wanita itu hampir saja terjatuh. Beruntung ia tepat waktu dan berhasil menangkap tubuhnya agar tidak jatuh.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Jordan cemas seraya menatap sosoknya. Ia tertegun begitu mendapati kenyataan bahwa wanita itu adalah Aphrodite.


"Aphrodite?" Ujarnya dengan raut wajah yang berubah terkejut.


"J-jordan?" Aphrodite tak kalah terkejutnya dengan Jordan yang baru saja menolongnya. Aphrodite bergegas membenahi posisinya, berdiri tegak di hadapannya.


"Kau kenapa? Apakah kau sakit?" Tanya Jordan yang masih tampak cemas, pria itu memperhatikan Aphrodite dari atas sampai bawah dan memastikan kalau tidak ada sesuatu yang terjadi padanya.


"Aku baik-baik saja. Kepalaku hanya sedikit pusing, tapi aku tidak apa-apa," ujarnya.


"Kau yakin? Jalanmu saja tadi tidak benar seperti itu, kalau kau sakit lebih baik kau pulang dan beristirahat di rumah."


"Sungguh. Aku baik-baik saja, tapi omong-omong terima kasih karena kau sudah menolongku."

__ADS_1


"Ya. Bukan masalah. Oh ya, kau mau pergi kemana?" Tanyanya.


...***...


__ADS_2