Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Good morning


__ADS_3

...***...


SREKKK!


Aphrodite menyibak tirai yang menutupi jendela kamarnya itu, membiarkan sorot cahaya matahari pagi yang begitu cerah menerobos masuk ke dalam kamarnya yang masih tampak berantakan.


Sudah satu Minggu semenjak terakhir kali mereka bekerja sama membuka semua hadiah pernikahan yang mereka dapat, dan ini adalah hari baru di Minggu baru yang akan menjadi permulaan hidup normal mereka.


Fransisco masih tergelung di atas ranjang tidurnya, selama hampir sebulan lamanya Aphrodite tinggal satu atap dengan Fransisco yang kini menjadi suaminya, ia baru mengetahui satu hal dari seorang Fransisco yang ternyata memiliki kebiasaan tidur hanya dengan mengenakan celana tidurnya saja tanpa bajunya. Dan Aphrodite baru tahu di hari kedua Minggu kemarin saat mereka baru saja pulang dari Prancis.


Tidur Fransisco yang nyenyak mulai terusik saat sorot cahaya matahari begitu menyilaukan kedua matanya. Ia membuka kedua manik matanya perlahan dan mendapati wajah Aphrodite yang kini terduduk di sana seraya tersenyum ke arahnya.


"Pagi," sapanya.


"Argh… kenapa kau membuka tirainya? Aku masih mengantuk," tuturnya dengan suara serak yang terdengar malas, jujur Fransisco enggan beranjak dari alam mimpinya secepat ini. Ia menutupi wajahnya dengan lengan besar berototnya.


"Ini sudah pagi, kau harus bangun. Kau harus bekerja, liburan sudah berakhir."


"Aku malas berangkat ke kantor," gumamnya pada Aphrodite, ia memejamkan kedua matanya berusaha kembali ke alam mimpinya.


"Kau tidak boleh malas, ayo bangun." Aphrodite meraih tangan Fransisco berusaha membuat pria itu terbangun dari tidurnya.


"Aku tidak mau…" Fransisco berucap lirih tapi Aphrodite tidak menyerah begitu saja dan terus menarik-narik tangannya berusaha membuat Fransisco bangun, tapi usahanya berakhir gagal ketika tenaganya tak kuat membangunkan Fransisco yang notabenenya memiliki tubuh yang lebih besar di bandingkan dirinya.


"Huft~" Aphrodite menghela napasnya panjang. "Jadi kau tidak ingin bangun?"


"Sebentar lagi, lima menit lagi saja," jawabnya, Fransisco mengubah posisi tidurnya membelakangi Aphrodite.


Aphrodite menggeleng pelan, ia lantas terdiam berusaha memikirkan cara agar bisa membuat suaminya itu bangun dari tempat tidurnya. Ia tersenyum simpul saat otaknya mendapatkan sebuah ide. Ia beranjak naik ke atas tempat tidur dan duduk di belakangnya.


"Frans… ayo bangun, aku sudah siapkan sarapan untukmu. Jika kau tidur terus, nanti makanannya dingin," ucapnya lembut.

__ADS_1


"Hanya lima menit lagi, aku mohon… setelah itu aku janji akan bangun." Fransisco memohon dengan suara yang tidak terlalu jelas.


Aphrodite mendapatkan ide lain, ia lalu mendekatkan wajahnya tepat ke telinga Fransisco dan berbisik pelan di sana.


"Ayo bangun sayang," bisiknya pelan.


"Sebentar lag—tunggu, apa?" Fransisco membuka kedua matanya spontan, kedua matanya melihat ke arah Aphrodite yang kini terdiam di belakangnya. "Apa katamu tadi?" Tanya Fransisco dengan raut wajah yang tampak terkejut dengan kata ajaib yang baru saja terlontar dari bibirnya.


Fransisco bangun dan duduk berhadapan dengan Aphrodite, "katakan sekali lagi," ucapnya pada Aphrodite.


"Huh?" Aphrodite menaikkan sebelah alisnya berlagak tak mengerti dengan yang di maksud Fransisco.


"Ayo katakan sekali lagi," kata Fransisco sembari mengguncang bahu Aphrodite seperti anak umur lima tahun yang mengguncang tangan ibunya ketika berusaha meminta es krim.


"Katakan apa?"


"Yang baru saja kau katakan."


"Ayolah katakan sekali lagi." Fransisco heboh.


"Oh, maksudmu adalah sa…" Aphrodite menggantungkan kalimatnya sementara Fransisco tersenyum tak dapat menyembunyikan ke bahagianya. Ini adalah pertama kalinya Aphrodite memanggilnya dengan kata itu selama mereka saling kenal, dan rasanya benar-benar seperti sebuah mimpi yang menjadi nyata. Fransisco sudah menunggu-nunggu kata itu terucap dari mulutnya.


"…Sarapannya nanti dingin, ayo cepat bangun," sambungnya seraya mengusap pelan pipi Fransisco. Mendengar ucapan Aphrodite membuat Fransisco seketika mengubah air mukanya.


Aphrodite beranjak dari tempat duduknya. "Kau berani mengerjaiku, jangan harap kau bisa lari." Fransisco beranjak bangun dari tempat duduknya, Aphrodite yang mendengar itu bergegas berlari ke arah pintu keluar. Gerakan Fransisco yang cepat berhasil lebih dulu menangkap tubuhnya.


"Hahaha tidak, Frans… lepaskan aku…" Aphrodite berusaha membebaskan diri tapi gagal. Rasanya geli ketika Fransisco memeluknya dan bersikap seperti anak kucing yang minta di belai majikannya.


"Aku tidak akan melepaskan mu, kau harus tanggung jawab," ujar Fransisco mengeratkan pelukannya.


...*...

__ADS_1


BLAM!


Fransisco menutup pintu kamar mandinya membuat fokus Aphrodite beralih padanya yang kini hanya mengenakan kimono mandi yang bagian kerahnya terbuka menampakkan tubuh indahnya yang kini masih tampak basah karena baru saja selesai mandi.


"Kau sudah selesai?"


"Iya," sahutnya seraya menghampiri Aphrodite yang kini sibuk memilihkan dasi untuk di pakai olehnya. Aphrodite meraih satu dasi kemudian melihat ke arah cermin, ia tampak tengah menyerasikan dasi dengan jas untuk Fransisco.


Fransisco menghampiri Aphrodite dan merangkul tubuhnya dari arah belakang.


"Frans, basah…" Aphrodite menggerakkan tubuhnya memberikan isyarat pada Fransisco untuk sedikit menjauh darinya.


"Aku tidak peduli, yang pasti aku ingin memelukmu sepuasnya sebelum aku berangkat ke kantor."


"Tapi kau sudah melakukannya sejak tadi, bahkan sebelum kau mandi. Lagipula kau itu hanya akan pergi ke kantor, nanti kita juga akan bertemu lagi."


"Aku akan sangat merindukanmu," bisik Fransisco tepat di telinganya. Fransisco menenggerkan kepalanya pada bahu Aphrodite dan menatap dirinya lewat pantulan cermin yang ada di hadapannya.


"Kau terlalu berlebih, seakan-akan kita tidak akan pernah bertemu untuk waktu yang lama."


"Tapi sungguh, aku akan merindukanmu."


"Sudahlah cepat pakai pakaianmu setelah itu kita sarapan. Aku sudah siapkan makanannya di meja makan," Aphrodite melepaskan diri dari Fransisco kemudian menyodorkan pakaian yang telah ia siapkan padanya.


Fransisco menerima pakaian yang di berikan Aphrodite. Matanya memandangi Aphrodite yang kini beranjak keluar dari ruangan tersebut, meninggalkannya seorang diri. Begitu sosoknya menghilang di balik pintu keluar, Fransisco terdiam. Senyuman terukir di wajah tampannya, kupu-kupu serasa berterbangan di dalam hatinya. Ia benar-benar senang pagi ini.


"Tadi itu adalah pertama kalinya dia menyebutku dengan sebutan 'sayang' aku benar-benar senang hari ini. Argh sial, aku kurang cepat. Coba saja kalau aku tahu Aphrodite akan menyebutkan kata itu aku pasti sudah merekamnya dan aku dengarkan setiap saat." Wajah Fransisco bersemu pria itu kini sibuk bergelut dengan perasaan yang hinggap di dadanya, membuat paginya seketika di penuhi dengan warna-warni dunia yang berkilauan.


"Lain kali aku harus lebih cepat," gumamnya seraya menoleh ke arah cermin dan menatap dirinya sendiri lewat pantulan cermin yang di lihatnya. Detik berikutnya ia mulai di sibukkan dengan mengenakan pakaian yang sebelumnya telah di persiapkan oleh Aphrodite. Jas yang dikenakannya hari ini adalah jas teristimewa, karena Aphrodite yang memilihkannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2