
...***...
"Semoga kerja sama kita lancar." Jordan tersenyum simpul seraya menjabat tangan Fransisco yang kini berada di hadapannya.
"Ya. Terima kasih karena sudah mempercayakan projects ini pada perusahaan kami. Kami janji akan bekerja sekuat tenaga kami agar membuat perusahaan anda puas dengan hasilnya nanti. Dan saya harap kerja sama kita bisa terus berlanjut hingga projects-projects berikutnya."
"Saya juga harap kita bisa terus bekerja sama. Omong-omong kami harus pergi sekarang."
"Oh, apakah tidak lebih baik kita makan siang bersama dulu?"
"Maaf tapi sepertinya tidak bisa karena setelah ini masih ada meeting yang harus saya hadiri."
"Begitu ya."
"Mungkin lain kali."
"Ya, tidak masalah."
"Baiklah, kalau begitu kami permisi."
"Ya silahkan."
Jordan beranjak pergi dari sana dengan sekertaris di sampingnya. Melangkah menuju pintu keluar gedung kantor milik Fransisco, ia baru saja selesai membahas projects barunya dengan perusahaan milik Fransisco.
...*...
Aphrodite meminta sang supir untuk berhenti tepat di depan gedung kantor Fransisco. Ia beranjak turun setelah membayar ongkos taksi dengan beberapa lembar uang seratus ribuan. Ia memasuki pintu utama, berjalan dengan sebelah tangannya menggenggam tas berisi bekal makan siang untuk Fransisco.
Aphrodite mengecek ulang isi tas yang di bawanya begitu ia merasa tidak nyaman dengan posisinya, sementara itu ia terus melangkah tanpa memperhatikan jalan. Tanpa sadar ia menabrak Jordan yang datang dari arah lain.
"Oh, maaf aku tidak memperhatikan jalan," ujar Aphrodite meminta maaf seraya terus fokus membenahi posisi kotak bekal makan siangnya.
"Tidak apa-apa," sahut Jordan. Aphrodite mendongak, air mukanya berubah terkejut begitu mendapati sosok Jordan yang kini berdiri di hadapannya. "Huh?"
"Kau…" Jordan sama terkejutnya dengan Aphrodite.
"Sekali lagi aku minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Kau tidak apa-apa, 'kan?" Tanya Aphrodite memastikan.
__ADS_1
"Ya. Aku baik-baik saja."
"Kalau begitu aku permisi, aku sedang buru-buru." Aphrodite bergegas pergi dari sana meninggalkan Jordan yang menatap mengikuti arah geraknya.
"Dia lagi… tapi kenapa dia menatapku seperti tidak kenal? Apakah dia lupa denganku?" Jordan membatin, sebelah alisnya terangkat bingung dengan respon Aphrodite barusan.
"Pak?" Wanita itu memanggilnya membuat Jordan spontan tersadar dari lamunannya.
"Ya?"
"Kita harus bergegas," katanya.
"Baik." Jordan berbalik, berjalan cepat bersama dengan sekertaris nya hendak melanjutkan pekerjaan mereka, setelah ini ia memiliki meeting lain dengan perusahaan lain.
...*...
Fransisco melirik jam di pergelangan tangannya, sudah hampir waktunya makan siang. Tapi Aphrodite belum di lihatnya.
"Sepertinya dia terlambat," gumamnya pelan seraya tersenyum tipis. "Aku harap dia terlambat, jadi aku bisa bertemu dengannya dan menghabiskan waktu istirahat ku bersama dengannya."
Fransisco beranjak menghampiri mejanya. Merapikan beberapa berkas yang terbuka, menutup dan menumpuknya menjadi satu.
Pintu lift terbuka bersamaan dengan bunyi ‘ting’ yang di dengarnya. Beberapa orang pegawai berhamburan keluar dari dalam lift hingga tampak kosong. Berikutnya Aphrodite melangkah masuk ke dalam sana dan menekan nomor lantai yang di tujunya. Pintu lift kembali tertutup begitu tombolnya di tekan, Aphrodite hanya tinggal menunggu lift itu mengantarkannya hingga tiba di lantai yang seharusnya.
Ia termenung. Diam seribu bahasa dengan pikiran yang kini mulai melayang entah kemana.
"Karena terlalu asik dengan kegiatanku, aku sampai lupa kalau harus membuatkan makan siang untuk Frans. Aku harap belum terlambat, semoga saja dia masih diruangannya dan belum keluar untuk makan siang diluar karena aku terlambat." Aphrodite bergumam pelan, ia mengecek ulang isi tas yang di genggamnya. Posisi kotak bekal makan siangnya dalam keadaan yang tampak baik, lebih baik di bandingkan sebelumnya yang hampir saja tumpah karena ia menaruhnya dengan posisi tidak benar, saking terburu-buru nya.
Aphrodite kembali termenung, kali ini pikirannya tiba-tiba saja disita oleh kejadian tidak di sengaja ketika ia hendak pergi menuju lift. Pertemuannya dengan pria yang tak sengaja di tabraknya itu tampak tak asing. Entah kenapa rasanya seperti sebuah déjà vu saat ia bertemu dengannya.
"Entah kenapa tapi aku merasa seperti pernah bertemu dengan pria tadi. Tapi dimana?" Aphrodite mengerutkan keningnya berusaha untuk mengingat dimana ia pernah melihat pria itu.
"Aku benar-benar tidak bisa mengingatnya. Apakah hanya perasaanku saja?"
"Sepertinya begitu…" gumamnya lagi memonolog dengan dirinya sendiri.
Pintu lift terbuka di lantai tempat ruang kerja Fransisco berada. Aphrodite melangkah keluar, berjalan menyusuri sepanjang koridor hingga tiba di tempat dimana sekertaris suaminya itu berada.
__ADS_1
"Selamat siang," sapa Aphrodite begitu tiba di sana. Wanita itu menoleh ke arah datangnya suara lantas tersenyum ramah begitu mendapati Aphrodite yang kini berdiri di hadapannya.
"Siang. Anda baru tiba?"
"Ya. Omong-omong apakah…"
"Pak direktur masih di dalam, anda bisa langsung temui beliau. Kebetulan beliau juga sudah menunggu anda sejak tadi." Potong wanita itu cepat.
"Huh? Benarkah?"
"Ya."
"Baiklah kalau begitu saya masuk."
"Silahkan," ujarnya mempersilahkan. Aphrodite melenggang masuk ke dalam ruangan Fransisco. Atensi pria itu beralih dalam sekejap saat mendapati Aphrodite yang baru saja tiba di dalam ruangannya. Ia mengulas senyum.
"Akhirnya kau tiba juga," kata Fransisco sembari menghampirinya.
"Maaf aku terlambat karena ada beberapa hal yang menghambat."
"Tidak masalah, lagipula aku senang kau terlambat seperti ini. Karena dengan begini aku bisa menghabiskan waktu istirahat ku denganmu." Fransisco menarik tangan Aphrodite memintanya untuk duduk di sofa yang sudah tersedia di sana.
"Kau membuatkan apa untuk makan siang ku hari ini?" Fransisco menatap berbinar tas yang di bawa oleh Aphrodite. Aphrodite menaruh tas yang di bawanya dan mengeluarkan isinya, menaruh semua itu di atas meja kaca yang ada di hadapannya.
"Aku sudah tidak sabar untuk makan," ujarnya.
"Sebentar." Aphrodite membuka kotak bekal itu dan menyodorkan semuanya pada Fransisco lengkap dengan sendoknya. "Makanlah," kata Aphrodite seraya tersenyum.
"Baiklah, akan aku makan." Fransisco meraih sendok yang di sodorkan oleh Aphrodite, ia lalu menyuapkan makanan yang telah tersaji di hadapannya. "Nyam…" Fransisco tampak sangat menikmati makanan yang di buatkan oleh Aphrodite.
"Enak. Oh ya, apakah kau sudah makan?" Tanya Fransisco.
"Karena buru-buru aku jadi tidak sempat makan siang. Tapi bisa makan sepulang dari sini."
"Kalau begitu makan bersamaku saja, biar aku suapi." Fransisco menyendok makanan di dalam sana dan menyodorkan makanannya pada Aphrodite. "Aaaa…" Fransisco mengintruksikan pada Aphrodite untuk membuka mulutnya.
"Aku bisa makan nanti. Sekarang kau makan saja dulu, habiskan semua."
__ADS_1
...***...