
...***...
Bandara internasional Soekarno—Hatta, Indonesia.
20:52
Aphrodite terduduk di salah satu kursi yang ada di sana, bersandar dengan hanya di temani oleh dua koper miliknya dan Fransisco yang baru saja di bawanya. Sementara itu, saat ini Fransisco tengah pergi ke toilet dan dirinya di minta untuk menunggu.
"Huft~" Aphrodite menghela napasnya panjang, ia benar-benar merasa lelah setelah melakukan perjalanan selama delapan belas jam lamanya di dalam pesawat. "Aku haus," gumam Aphrodite. Ia merasa tenggorokannya kering, mungkin karena ia baru bangun tidur dan belum sempat minum atau makan apa-apa karena terlalu lelah.
"Apakah lebih baik aku membeli minuman dulu?" Aphrodite bergumam. "Coba kita lihat berapa uang yang aku miliki." Aphrodite membuka dompet miliknya, namun di sana ia tidak menemukan sepeserpun uang pecahan rupiah. Yang ada di dalamnya justru adalah uang yang beberapa waktu lalu sempat di berikan oleh Fransisco untuk dirinya saat mereka masih di Paris.
"Oh bagus. Aku lupa kalau aku belum menukarkan uang yang aku miliki. Sekarang lebih baik aku menukarkan uangku lebih dulu, setelah itu aku beli minuman." Aphrodite beranjak bangun dari tempat duduknya. Hendak menukarkan uangnya di money changer, setelah itu rencananya ia ingin membeli minuman guna membasahi tenggorokannya yang kering. Aphrodite menggeret koper itu, membawa bersamanya untuk memastikan bahwa kedua benda itu dalam keadaan aman. Aphrodite tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
"Setelah ini aku hanya perlu membeli minuman," gumamnya. Aphrodite melangkah menghampiri tempat yang di tujunya, tiba di sana ia segera membeli apa yang di butuhkan olehnya.
Aphrodite membuka botol minuman yang kini dalam genggamannya, ia berbalik hendak kembali ke kursi tempat semula ia duduk. Namun sosok pria yang entah sejak kapan berdiri tepat di belakangnya, membuat Aphrodite terkejut dan secara tidak sengaja menjatuhkan minumannya pada pakaian pria itu.
"Oh, astaga. Maafkan aku," tuturnya cepat. Aphrodite panik bukan main, bergegas ia menutup minumannya. Mengubek isi tasnya, hendak mengeluarkan tisu guna membantu pria itu. "Aku tidak, melihatmu barusan," ujar Aphrodite.
"Huh? Oh, tidak apa-apa, ini bukan salahmu. Lagipula aku juga yang salah karena membuatmu terkejut." Bariton pria itu di dengarnya. Suaranya berat, dan terkesan tenang. Aphrodite bahkan tidak dapat mendengar pria itu marah atas kesalahannya.
"Sekali lagi aku minta maaf. Biar aku bantu untuk mengelapnya." Aphrodite mengelap jaket yang kini basah akibat kecerobohannya. Aphrodite berusaha membuat pakaiannya sedikit lebih kering di banding sebelumnya.
"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri," tolak pria itu berusaha untuk menghentikan Aphrodite.
"Biarkan aku membantumu, aku benar-benar tidak enak karena sudah membuat pakaianmu basah." Aphrodite bersikeras.
__ADS_1
"Sungguh tidak apa-apa, lagipula ini juga salahku karena sudah mengejutkanmu."
"Ta-tapi—"
"Sudah aku bilang, biar aku saja." Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Aphrodite untuk membuatnya berhenti. Aphrodite tersentak, ia mendongak menatap wajah pria yang kini berdiri tepat di hadapannya. Pria itu memiliki wajah yang tampan dengan mata biru ke abu-abuan yang indah, serta rambut kecoklatan yang membuatnya tampak seperti orang Eropa.
"A-ah…" Aphrodite bergegas menarik tangannya, melepaskan diri dari cengkeraman tangan pria itu.
"Oh, maaf untuk itu."
"Dia benar-benar orang Indonesia?" Aphrodite membatin, matanya masih menelisik menatap pria di hadapannya. Pria itu benar-benar fasih berbahasa Indonesia.
"Ng… sekali lagi aku minta maaf karena sudah membuat pakaianmu basah," ujar Aphrodite yang masih merasa tidak enak karena sudah membuat pakaian pria itu basah.
"Jangan terus meminta maaf, kau membuatku tidak nyaman. Lagipula sudah aku bilang kalau ini juga salahku yang telah mengejutkanmu."
"O-oh, kalau begitu… aku permisi." Aphrodite memecah keheningan di antara mereka. Rasanya kurang nyaman berada dalam posisi yang terbilang ambigu ini.
"Ah, ya silahkan."
Aphrodite meraih kedua kopernya, berjalan menggeret benda itu pergi dari sana.
"Ng… maaf. Perlu bantuan?" Pria itu membuat langkah Aphrodite seketika terhenti dan menoleh spontan ke arah pria yang kini berdiri di sana sembari memandang dirinya.
"Aku bisa sendiri."
"Kau yakin? Tampaknya kau kesulitan menggeret dua koper itu."
__ADS_1
"Tidak. Aku baik-baik saja, tapi terima kasih telah bertanya. Kalau begitu aku permisi." Aphrodite berbalik lantas melangkah pergi meninggalkan pria itu seorang diri di tempatnya saat ini.
Sepeninggalan Aphrodite, pria itu diam terpaku di tempatnya. Kedua manik mata indahnya menatap punggung Aphrodite lekat, sosoknya semakin menjauh dari tempatnya berdiri saat ini. "Cantik…" gumamnya seraya mengulum senyum memandang Aphrodite yang semakin menjauh sampai akhirnya menghilang dari pandangannya di antara orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya.
...*...
Fransisco melangkah keluar dari dalam toilet pria, ia lantas melenggang menuju arah dimana Aphrodite tengah menunggu dirinya sejak beberapa menit yang lalu.
"Maaf membuatmu menunggu lama," ujar Fransisco begitu ia tiba di hadapan Aphrodite yang kini terduduk dengan menggenggam sebotol minuman yang baru saja di tutup di tangannya. Wanita yang menjadi istrinya itu mendongak menatap ke arah Fransisco yang baru saja tiba.
"Tidak apa-apa, lagipula hanya beberapa menit. Oh ya, omong-omong aku belikan minuman untukmu." Aphrodite menyodorkan sebotol minuman lain yang telah di belinya.
"Terima kasih." Fransisco tersenyum simpul kemudian meraih botol yang baru saja di sodorkan oleh Aphrodite ke arahnya. Ia kemudian membuka dan meneguknya perlahan.
"Sekarang bagaimana kalau kita pulang? Aku sudah lelah dan ingin segera beristirahat," tutur Aphrodite.
"Ayo. Aku juga lelah dan ingin segera beristirahat. Kau juga pasti pegal-pegal karena posisi tidurmu kurang nyaman kan?"
"Ng. Sedikit." Aphrodite menganggukkan kepalanya pelan.
"Kalau begitu ayo kita pulang." Fransisco meraih dua koper di sana dan menggenggamnya erat. Sementara itu, sebelah tangannya terulur ke arah Aphrodite. Berusaha membantunya untuk berdiri.
"Ayo," sahut Aphrodite yang kemudian menerima uluran tangan Fransisco lantas berdiri. Fransisco dan Aphrodite melangkah menuju pintu keluar dengan bergandengan tangan. Berjalan di antara orang-orang yang kini tengah berlalu-lalang menghiasi seisi bandara. Sebagian ada yang masuk, dan ada pula yang keluar dari bandara. Tak jarang juga beberapa di antaranya berkerumun menunggu orang-orang yang hendak mereka jemput berdiri di sana.
Tiba di luar, Fransisco dan Aphrodite di sibukkan menunggu taksi kosong yang akan mengantarkan mereka pulang ke rumah barunya.
...***...
__ADS_1