Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Let me go


__ADS_3

...***...


Sudah saatnya semua yang mereka jalani itu berakhir. Apalagi jika mengingat bahwa pria yang sangat dicintai olehnya itu, sekarang sudah berstatus suami orang lain. Tentu saja Aphrodite tidak ingin di cap sebagai pelakor atau wanita penggoda oleh orang lain. Aphrodite lebih memilih membebaskan pria itu, walaupun ia harus terjebak dalam lubang derita yang entah kapan akan berakhir. Dan Aphrodite lebih memilih untuk membesarkan anak dalam kandungannya itu sendiri tanpa bantuan ayah kandungnya, toh bagaimana pun; tidak ada yang tahu bahwa selama ini dirinya mengandung anak dari Xavier.


"Mulai hari ini juga…" Aphrodite mendongak menatap Xavier didepan sana dengan penuh keberanian. Walau sesaknya semakin parah ia rasa saat menatap wajah pria tampan itu. Namun bagaimana pun juga, Aphrodite harus memandangnya untuk yang terakhirkali dan memandangnya untuk membuat pria itu yakin jika perkataannya sungguh-sungguh. "…Kita putus," sambungnya setelah menjeda sesaat kalimat akhirnya.


Apa yang diucapkan oleh Aphrodite berhasil membuat Xavier terkejut bukan main. Pria itu benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja terlontar dari bibir wanita yang menjadi kekasihnya. Rasanya sakit, apalagi ketika mendapati kenyataan bahwa Aphrodite lah yang memintanya lebih dulu. Xavier melangkah, mengikis jarak antara dirinya dengan wanita pujaannya itu.


"Tidak. Aku tidak ingin putus denganmu," tolaknya seraya menghampiri Aphrodite. Sementara itu, Aphrodite melangkah mundur secara perlahan. Enggan untuk berdekatan dengan Xavier yang telah menghancurkan hati dan cintanya.


"Tapi kita harus! Sekarang statusmu bukan lagi milikku, karena kau sudah memilih wanita lain untuk bersanding denganmu di altar pernikahan. Maka dari itu, lepaskan aku dan biarkan aku bahagia dengan pria lain."


"Tidak, aku tidak bisa melepaskanmu. Aku benar-benar cinta padamu Dite!"


"Tapi kau tidak bisa! Dan aku tidak ingin dengan aku terus berhubungan denganmu, hatiku akan terus merasa hancur. Aku tidak ingin merasakan hal itu. Maka dari itu biarkan aku pergi, dan lebih baik sekarang kau fokus pada kehidupanmu sendiri serta berhenti untuk memikirkan ataupun mencintaiku. Hapus semua tentangku dari ingatanmu!" Aphrodite menekankan kalimat akhirnya.


"Tidak! aku tidak mau!"

__ADS_1


"Dan sebelum aku pergi, satu hal yang ingin aku sampaikan padamu," Aphrodite mengusap air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya itu. "Selamat atas pernikahanmu. Aku harap, kau bahagia dengan pilihanmu, dan selamat tinggal. Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi untuk selamanya," Aphrodite beranjak dari sana, ia ingin segera meninggalkan tempat itu sejak tadi, namun Xavier yang terus meminta waktu untuk menjelaskan terus membuatnya tertahan.


"Dite! Tunggu!" Xavier mencengkram pergelangan tangan Aphrodite, membuat langkah wanita itu terhenti dalam seketika. Xavier menatap ke arah Aphrodite dengan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca sejak tadi, tampak jelas jika pria itu berusaha untuk menahan air matanya agar tidak keluar.


Aphrodite tak ingin menghiraukan semua itu. Hatinya telah berkeras, dan tekadnya sudah benar-benar bulat. Seperti apa yang diucapkan oleh Jenia padanya, bahwa pria brengsek seperti dia tidak perlu dipikirkan, karena suatu saat Aphrodite akan bertemu dengan gantinya. Dan saat gantinya hadir, dialah yang akan menyembuhkan luka hati yang tengah ia rasakan saat ini.


Ditepisnya keras tangan pria itu, membuat cengkeraman tangannya lepas begitu saja. Aphrodite berjalan dengan langkah besar, dengan kepala tertunduk dan air mata yang sejak tadi tidak berhenti keluar. Ia melangkah dengan cepat, meninggalkan Xavier dibelakangnya.


Xavier yang melihat Aphrodite yang melangkah pergi menjauh darinya, bergegas ia bergerak untuk mengejarnya; namun sesuatu membuat langkahnya terhenti. Dan ia mengurungkan niatnya untuk mengejar Aphrodite, dan hanya memandanginya sampai sosok wanita itu benar-benar hilang diantara kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang disana.


"Berhenti disini saja pak," ucap Aphrodite pada supir taksi yang ia tumpangi. Supir itu lantas mengangguk seraya menghentikan laju mobilnya dijalanan yang tidak terlalu ramai, Aphrodite lantas beranjak keluar setelah membayar. Setelah Aphrodite keluar, supir taksi itu kembali melajukan mobil yang dikendarai olehnya menjauh dari tempat semula Aphrodite turun.


Aphrodite perlahan melangkah dijalanan yang kini tampak tidak terlalu sepi. Hanya beberapa orang yang tinggal disana yang saling berlalu disekitarnya. Aphrodite tidak menghiraukan mereka dan memutuskan untuk terus melangkah. Jam sekarang sudah menunjukkan pukul setengah empat. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari taman menuju rumah, akhirnya Aphrodite memutuskan untuk berhenti beberapa blok dari tempat dimana ia tinggal. Aphrodite sengaja berhenti beberapa blok dari rumahnya, karena ia ingin pergi dengan berjalan kaki. Hitung-hitung untuk menyembunyikan kegundahan hatinya dari mama dan adik tirinya.


Aphrodite berbelok kearah kanan ketika bertemu pertigaan dihadapannya. Ia kini melangkah dijalanan yang sepi. Tidak ada orang yang berlalu disana, hanya dirinya seorang yang kini berjalan dibawah cahaya lampu-lampu jalan yang terang.


Hatinya masih terasa hancur, dan air matanya sejak tadi terus keluar; tapi setidaknya air matanya kali ini tidak sederas sebelumnya. Sekarang penampilannya benar-benar kacau, make-up yang ia kenakan bahkan luntur dan matanya sembab akibat menangis selama berjam-jam lamanya.

__ADS_1


Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Aphrodite bisa melihat rumahnya disana. Aphrodite melangkah memasuki gerbang rumahnya lalu segera masuk ke dalam rumahnya yang masih belum terkunci disana.


BLAM!


Aphrodite menutup pintu rumahnya asal, detik berikutnya ia melenggang menuju arah kamarnya. Diruang keluarga, Aphrodite melihat adik tiri dan ibu tirinya. Ia tak menghiraukannya dan terus melangkah.


"Kau sudah pulang?" Ucap Helen ketika wanita itu melangkah masuk ke dalam rumah dan pergi begitu saja menuju kamarnya tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Ya," sahut Aphrodite malas tanpa menoleh. Ia terus melangkah sampai tiba di depan pintu kamarnya.


BLAM!


Di tutupnya pintu kamar itu secara kasar, menciptakan suara yang cukup keras. Tiba didalam, Aphrodite lantas terdiam. Masih berdiri dipintu dengan bersandar pada pintu yang kini tertutup itu. Dan kini, setelah semua yang telah terjadi; akhirnya ia kembali menangis. Menangis dengan tangisan yang lebih lepas dibandingkan sebelumnya. Ia duduk merosot dilantai dengan bersandar pada pintu masuk disana. Air matanya yang semula hampir mengering, seakan kembali sederas sebelumnya ketika ia menyaksikan kekasihnya itu bersanding diatas altar pernikahan dengan wanita lain.


Masih sesak dan berat rasanya saat mengingat jika kisah cintanya harus berakhir dengan rasa sesakit ini. Dadanya benar-benar sesak dan ia terus terisak. Hancur, benar-benar hancur seakan tak bersisa; begitulah yang ia rasakan dihatinya. Yang membuatnya semakin hancur bukanlah tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh Xavier terhadapnya, tapi juga mengenai fakta yang harus menamparnya. Membuatnya terus teringat jika ia hamil.


...***...

__ADS_1


__ADS_2