
...***...
BLAM!
Aphrodite menutup pintu kamarnya lantas melangkah menuju arah ruang tengah. Sementara di ruang tengah, Helen yang tengah sibuk memandangi undangan pernikahan putrinya di tangan kemudian mengalihkan perhatiannya pada Aphrodite yang kini melangkah menghampiri dirinya.
"Lihat! Ini benar-benar bagus kan?" Tuturnya seraya menunjukkan undangan pernikahan milik Aphrodite di tangannya. Wanita yang di ajaknya bicara justru terdiam sejenak, ia terkejut saat mendapati beberapa undangan tersusun di atas meja.
"Mama, ini apa?" Gumam Aphrodite.
"Apa maksudmu? Sudah jelas-jelas ini adalah undangan pernikahan mu dengan Frans, apakah matamu buta?" Tukas Helen yang kemudian memilih fokus pada undangan di tangannya. Berbicara dengan Aphrodite malah membuatnya kesal, apalagi wanita itu sama sekali tidak merespon ucapannya dan malah mengalihkan pembicaraan ke arah lain.
"Tidak, bukan begitu. Maksudku adalah kenapa ada begitu banyak undangan? Memangnya siapa yang akan kita undang?" Aphrodite memperjelas maksud dari pertanyaan yang semula ia ajukan.
"Oh, nyonya Fanny tadi menelpon dan beliau bilang kalau beliau sudah mengirimkan orang kepercayaan nya untuk mengantarkan beberapa ratus undangan untuk keluarga kita, siapa tahu ada yang ingin kita undang jadi beliau memberikannya."
"Tapi, kenapa mama tidak tolak saja? Lagipula, siapa yang akan kita undang? Kita bahkan hanya tinggal bertiga saja, dan tidak memiliki kerabat lain. Jadi untuk apa menerima undangan sebanyak ini?"
"Enak saja kau berkata seperti itu! Dengar! Mama menerima semua undangan ini karena mama ingin memberikan semua undangan ini pada teman-teman mama. Mama ingin pamer pada mereka kalau lelaki yang menjadi calon menantu mama nanti adalah anak orang kaya. Maka dari itu, mama menerima semua ini! Oh, kau juga boleh ambil satu untuk si brengsek yang kau cintai itu," Helen beranjak bangun meraih tangan Aphrodite kemudian meminta Aphrodite menggenggam undangan yang ia berikan.
"S-si brengsek?" Ulang Aphrodite tidak mengerti dengan siapa yang di maksud oleh Helen. Ia menatap secara bergantian antara undangan pernikahan nya dan Helen di hadapannya.
"Iya, si brengsek Vier yang sangat kau cintai itu! Berikan satu padanya, tunjukan pada dia kalau kau bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik di bandingkan dirinya!"
"A-aku rasa tidak perlu." Aphrodite memberikan kembali undangan di tangannya pada Helen. "Hidup kami sekarang sudah berbeda, kami sudah memiliki kehidupan masing-masing dan aku tidak ingin mengganggu kehidupan nya yang sudah beristri, jadi lebih baik aku tidak mengundangnya."
"Tidak! Kau harus mengundangnya! Oh, mama hampir lupa. Bawa satu lagi, jadi kau ambil dua! Tidak mungkin kan, kau menikah tanpa mengundang Jen?" Helen meraih satu undangan lagi dan memberikan undangan tersebut pada Aphrodite, kini di tangannya ada dua undangan yang baru saja di berikan oleh Helen padanya.
__ADS_1
"Kalau Jenia, aku tidak masalah. Aku memang berencana untuk mengundangnya, tapi kalau Vier… aku rasa tidak perlu. Toh mungkin saja dia sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya sekarang, jadi aku tidak mau mengganggunya ma."
"Tidak! Tidak! Tidak! Mama tidak setuju! Pokoknya kau harus mengundangnya. Titik! Dan jangan berani membantah. Ingat itu!" Helen menekankan kalimatnya.
Aphrodite terdiam. Ia menunduk menatap dua undangan pernikahan yang di genggamnya. Sebenarnya ia benar-benar malas kalau harus kembali di pertemuan dengan Xavier, bahkan lukanya saat ini saja masih belum sembuh sepenuhnya dan masih cukup sedih baginya setiap kali mengingat apa yang pernah ia alami. Tapi apa boleh buat, Helen terus mendesak dan memaksanya untuk mengundang pria itu.
"Kau paham?" Tanya Helen yang berhasil membuatnya seketika tersadar dari lamunannya. Aphrodite mendongak, menatap Helen di hadapannya. Ia lalu menganggukkan kepalanya perlahan sebagai jawaban.
"Bagus kalau kau paham." Helen beranjak dari tempatnya, berjalan menghampiri sofa di sana kemudian duduk sembari mengurusi semua undangan yang ada di hadapannya.
...*...
Aphrodite melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Jam itu kini menunjukkan pukul empat tiga puluh. Dan sahabat baiknya, Jenia masih tak kunjung juga tiba di restoran tempatnya menunggu saat ini. Setelah batal bertemu dengan Fanny, Aphrodite segera meminta Jenia untuk bertemu dengannya karena ada hal yang perlu ia sampaikan dan ada sesuatu yang harus ia berikan pada sahabat terbaik nya itu.
Seperti apa yang telah di minta oleh Helen, Aphrodite mau tidak mau harus mengikuti permintaan nya. Mengirimkan undangan pernikahannya itu untuk Jenia dan… Xavier.
"Dite!" Panggilnya. Aphrodite mendongak, menoleh ke arah datangnya suara dan mendapati Jenia yang baru saja tiba tengah berjalan menghampiri dirinya.
Aphrodite mengulum senyum saat pada akhirnya ia bisa bertemu dengan sahabatnya lagi. Sudah lama mereka tidak bertemu, apalagi setelah Aphrodite terlalu sibuk membantu Fanny mengurusi semua persiapan pernikahannya.
"Maaf aku terlambat," tuturnya yang kemudian duduk di kursi kosong di sana.
"Tidak apa-apa. Oh ya, kau mau pesan sesuatu?"
"Nanti saja. Omong-omong apa yang ingin kau bicarakan padaku? Apakah kau ingin memberikan aku undangan pernikahan mu?"
"Eh? Darimana kau tahu?"
__ADS_1
"Haha, bukankah sudah jelas? Kita lama tidak berjumpa karena kau sibuk mengurus pernikahan mu, jadi kau memintaku datang pasti untuk itu kan?"
"Iya, kau benar. Oh, dan ini." Aphrodite menyodorkan satu undangan pada Jenia.
"Wah, undangannya bagus sekali," tutur Jenia seraya meraih undangan tersebut dan memandanginya, namun mimik wajahnya seketika berubah saat bukan namanya yang tertera di sampul undangan tersebut.
"Tunggu, kau mengundang Xavier?" Tanya Jenia seraya mendongak. Aphrodite menatapnya dengan raut wajah terkejut, sejurus kemudian Jenia menunjukkan undangan yang dipegangnya dan nama pria itu tertera di sana.
"Oh, maaf. Aku salah memberikan." Aphrodite meraih kembali undangannya dan memberikan undangan dengan nama Jenia di sampulnya.
"Kenapa kau undang dia?"
"Bukan aku yang menginginkannya, tapi mama."
"Apa? Tante Helen yang memintamu mengundangnya? Untuk apa?"
"Mama bilang, aku harus tunjukkan padanya kalau aku bisa mendapatkan yang lebih baik dibandingkan dia."
"Dan kau menyetujuinya?"
"Aku sudah menolaknya, tapi mama memaksaku. Aku tidak punya pilihan lain, kalau aku tidak memberikannya maka mama akan marah."
Jenia terdiam, ia tidak habis pikir dengan Helen yang meminta Aphrodite memberikan undangan pernikahan itu untuk mantan kekasihnya yang sudah jelas-jelas telah menyakitinya dan meninggalkan nya begitu saja.
"Ya, sudahlah. Jangan pikirkan hal itu. Lebih baik sekarang kita habiskan waktu kita bersama, mumpung ini kita bertemu jadi kita habiskan waktu kita bersama."
"Baiklah."
__ADS_1
...***...