Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
101. Tanpa judul


__ADS_3

Max menatap tumpukan dokumen dengan datar. Laki-laki itu tersenyum kecut, ingatan saat masa-masa menjadi seorang model menari indah di kepalanya. Semua sudah beubah, semuanya, tidak terkecuali.



Setetes air mata jatuh membasahi pipinya, semua kenangan indah berputar di otaknya, dan berakhir di gambaran darah yang berceceran membuat pipi laki-laki itu semakin basah.



Netra hitam itu memerah, menatap figora kecil yang menggambarkan foto makam yang indah itu. Tangan kekarnya meraih dan mendekapnya erat.


“Maafkan Papa, Nak. Papa akan membalas mereka semua, akan Papa buat mereka membayar mahal, terlebih wanita jahat itu.” Max bersumpah dengan mata yang semakin memerah.


Di ruagan yang gelap itu, Max mengeluarkan seluruh tangisan dan kerinduannya. Sosok laki-laki jahat itu nyatanya hanya pria yaang yang merasakan sakitnya dikecewakan.



Hidup tanpa cinta dan kasih sayang membuatnya tenggelam dalam kegelapan. Sekali mendapat cahaya, cahaya itu malah membakarnya, membuat ia hangus di dalam rasa kecewa dan sakit yang tidak ada ujungnya.



Laki-laki rapuh itu memilih untuk menjadi seorang antagonis dalam hidupnya saat ini. Dia terlalu lama menjadai pri lemah, dan menutup mata hanya untuk cahayanya itu. Kini ia akan menjadi sebuah kegelapan yang akan menghancurkan cahayanya itu.


****


“Ahh, tolong, pergi, pergi dari sini. Jangan menggigit.” Salsha berteriak dengan tubuh yang memberontak kuat.


Laki-laki yang sudah menunggunya mengerjapkan mata terkejut, dengan cepat memegang tangan Salsha yang terlihat ingin mencakar tubuhnya sendiri.


“Nona, Nona, sadarlah!” Pria itu menggoyangkan tubuh Salsha dengan sebelah tangan.


Bukannya berhenti, wanita itu tambah berteriak dengan keras, membuat siapa pun yang berjalan di luar ruangan terperanjat kaget.



Pria itu merasa semua usaha yang ia lakukan sia-sia, terlebih melihat infus yang sudah terlepas dengan darah yang tersebar kemana-mana.



Tanpa menunggu lama, laki-laki itu memencet tombol yang berada di dekat brankar dengan wajah panik. Beberapa menit kemudian, datanglah kawanan manusia berbaju putih berlari memasuki ruangan dengan raut wajah tak biasa.


“Maaf Tuan, anda bisa keluar terlebih dahulu.” Seorang perawat dengan tai lalat di pipi memberi perintah pria itu untuk keluar. Dengan lemas, laki-laki itu menuruti perintah dan berjalan dengan gontai.


Wajah laki-laki yang tertutup masker itu terlihat sendu namun, kesenduan itu hanya bertahan beberapa menit saja, dan berganti dengan senyum rumit.


****


“Bagaiamana dengan Nyonya Raisya Tuan?” Ricard menatap Farel serius.

__ADS_1


Farel terdiam, mencoba mempertimbangkan beberapa hal. “Akan aku bawa Raisya bersamaku, jad kau siapakan semuanya, jangan lupa keamanan harus lebih diperketat.”


Ricard membungkukkan tubuhnya, meminta izin untuk pamit mengurus semua keperluan atasannya itu.



Farel menatap datar punggung Ricard yang mulai mengecil, kemudian tertelan pintu. Helaan nafas laki-laki itu keluarkan, netra coklatnya menatap beberapa berkas yang masih tertinggal di meja.


“Enghh.”


Lenguhan itu membuat perhatian Farel teralih, netranya menatap sosok wanita yang mengerjap pelan dengan tangan yang mengusap lembut matanya.



Senyum lembut Farel sunggingkan, kemudian berjalan mendekat untuk memberikan elusan dan sapaan untuk sang wanita.


“Sudah bangun?”


Raisay mengerjapkan mata pelan, menatap sosok laki-laki tampan yang tersenyum itu.


“Hmm, apa sudah sore?”


“Ya, kau sudah ingin pulang?”


Raisya mengangguk dengan cepat yang mengundang kekehan dari Farel. “Baiklah, apa pun untuk Ratuku, sekarang kita siap-siap untuk pulang.” Farel mengangkat tubuh Raisya, membawa wanita itu memasuki kamar mandi untuk berganti pakaian.


“Kenapa kau senang sekali mencekikku.”


“Kau juga, kenapa senang sekali mengangkat tubuhku tiba-tiba.” Raisya mendelik sebal. Tangan yang awalnya berada di kerah itu berubah megalung indah di leher kekar itu.


“He he he.” Farel terkekeh sendiri.


“Dasar! Cepat bawa aku ke kamar mandi.” Raisya menggerutu sebal.


Farel yang gemas memberikan kecupan panjang di pipi Raisya, membuat pipi itu basah saliva. Sedangkan sang pemilik pipi melotot horor Farel.


“Uh, kenapa Istriku manis sekali.”


“Ya, ya terserah!” Raisya menjawab dengan malas yang mengundang tawa keras Farel. Tawa yang tidak di perlihatkan ke siapa pun.


“Perlu bantuan?” Farel menurunkan Raisya pelan-pelan di lantai yang dingin.


Raisya menggeleng pelan, berjalan ke arah kaca kecil yang berada di pojok ruangan. Kepalanya meoleh sebentar, menatap Farel dan memberikan kode laki-laki itu untuk keluar.


“Kenapa kau tidak ingin aku temani, padahal akan lebih mudah kalau aku turut membantu.” Farel menggerutu kesal.


“Hmm, kalau kau di sini bukan tambah cepat selesai, tapi malah tambah lama.” Raisya menggumam dengan tangan yang menutup pintu kamar mandi.

__ADS_1


Farel berdiri di depan pintu yang tertutup itu. Senyum lembut terlihat di wajah tampannya. Saat-saat seperti ini cukup menumbuhkan rasa senang di hatinnya. Melihat wajah sebal Raisya, menggodanya, dan mendengar gerutuannya sungguh membuat laki-laki itu merasa sangat bahagia.


Ceklek!


Raisya berjalan pelan, netra hijaunya menatap Farel yang masih tidak menyadari kehadirannya itu. Laki-laki bernetra coklat itu seperti memikirkan sesuatu yang menyenangkan, terlihat dari mata yang berbinar dan bibir yang melengkung indah.


“Farel.”


Farel terperanjat. “Eh, kau sudah selesai?”


Raisya memutar mata malas. Pertanyaan yang sangat aneh. “Belum.” Jawabnya datar.


Farel mengernyit. “Jika belum selesai, kenapa kau keluar?”


“Kau bodoh!” Raisya mendengus sebal, berjalan meninggalkan Farel yang terlihat shock itu.


“Hay, ulangi sekali lagi, minta ku hajar bibirmu dengan bibirku,” seru Farel tidak terima.


“Terserah, hajar saja bibir kucing dengan bibirmu.” Raisya mendudukan tubuhnya di sofa, mengabaiakan Farel yang terlihat uring-uringan itu.


“Raisya, Nenek sedang sakit.” Farel menceletuk tiba-tiba setelah melakukan aksi marahnya yang tidak di respon sama sekali oleh Raisya.


Raisya menatap Farel yang terlihat sedih itu. Ia paham bagaiamana perasaan Farel, dengan senyum lembut, wanita itu mendekat dan mengelus lembut lengan Farel.



Farel mendongak, menatap Raisya dengan mata yang sudah berembun. “Aku akan pergi besok ke luar negri.”



Elusan tangan di lengan Farel terhenti, mata Rasya menatap Farel bingung. Nmaun, dengan cepat wajah bingng tu berubah menjadi datar.


“Pergilah.”


“Kau mengizinkanku?”


“Apa hakku melarangmu?” Raisya menatap datar Farel.


Jawaban itu mengundang ketidak sukaan di hati Farel. Ia tidak ingin mendengar pertanyaan seperti itu. Pertanyaan itu seakan memberitahu Farel jika Raisya bukan siapa-siapanya, dan pertanyaan itu sekan menunjukan jika Raisya tidak mengakui statusnya.


“Kau Istriku, Raisya.”


Raisya tersenyum. Seorang Istri yang tidak bisa mengakui statusnya. “Apa semua orang tahu? Tidak ada yang tahu, status kita hanya kita dan beberapa orangmu saja yang tahu.”


Farel terdiam, menatap Raisya dengan pandangan rumit. “Sebentar lagi, akan ku buat mereka semua tahu siapa dirimu, dan statusmu.”


Raisya terdiam, bingung bagaiaman harus merespon pernyataan itu. Farel yang melihat Raisya hanya terdiam menghela nafas pelan, tangan kekarnya mengelus pelan rambut coklat itu, membuat sang pemilik mendongak.

__ADS_1


“Ikutlah denganku, ikutlah denganku untuk bertemu Nenek.”


__ADS_2