Wanita Simpanan

Wanita Simpanan
45. 99 Tangkai bunga mawar


__ADS_3

Farel menutup kedua mata Raisya. Tanganya dengan lembut menuntun Raisya memasuki tempat yang sudah ia persiapakan itu.



Raisya hanya terdiam mengikuti semua perintah Farel. Bahkan saat matanya tertutup oleh sapu tangan hitam, ia tetap diam. Semua itu ia lakukan untuk melancarkan rencana yang sudah ia buat matang-matang.



Farel tersenyum melihat tempat yang sesuai dengan harapanya. Dengan lembut tanganya membawa Raisya ke arah ayunan yang sudah ia sulap menjadi sangat indah. Ya, tempat yang ia kunjungi saat ini adalah taman.


Tangan Farel dengan lembut memegang bahu Rasiya, dan mendudukan tubuh ramping itu di sana. Posisinya yang awalnya tepat di belakang Raisya dengan cepat ia rubah menjadi di depanya.


“Aku akan membuka penutup matamu, tapi kau jangan buka matamu sebelum aku yang memerintah.” Farel mengingatkan Raisya.


Sedangkan Raisya hanya menganggukkan kepalanya, enggan untuk menjawab.



Farel tersenyum. Tanganya degan lembut membuka penutup mata itu, tapi ia tetap setia berada di depanya.



Raisya yang merasa tidak ada penghalang lagi di matanya bernafas lega, tapi tetap menutup matanya.


“Sekarang, buka matamu.”


Raisya mengerjap pelan, matanya terasa buram namun, semua itu tidak bertahan lama. Netra hijaunya menatap Farel bingung. Ia pikir Farel menyediakan sesuatu yang spesaial, tapi apa? Ia hanya melihat pemandangan tubuh laki-laki itu yang menjulang tinggi mengungkung dirinya dengan senyum lebar.


“Bagaimana?” Farel bertanya dengan wajah berbinar. Berharap mendapat pujian dari Raisya atas kejutan yang diberikannya.


“Apanya yang bagaimana? Kau mau aku menilai dirimu?” Raisya mengangkat sebelah alisnya. Tanganya bersidekap di dada.


Farel melotot mendengar ucapan Raisya. Apa maksud dari ucapanya itu? kenapa ia harus menilai dirinya?


“Bukan itu maksudku.”


“Terus apa? Yang ku lihat hanya tubuhmu yang menjulang di depanku. Tidak aa pemandangan apa pun yang terlihat dari sini!” Raisya menggertakkan giginya.


Seakan tersadar, Farel segera menyingkir dari depan Raisya, dan beralih kebelakang. Senyum konyol terlihat di wajah tampan itu.



Raisya yang hendak mengeluarkan umpatanya terhenti, matanya menatap berbinar taman dengan ribuan bunga yang berwarna-warni berjajar rapi di depanya. Bukan hanya itu, jajaran anak kecil yang membawa bunga mawar merah berdiri di setiap sisi taman.


“Farel_” Raisya tercekat. Bahkan kata-katanya tersangkut di tenggorokanya. Ia pecinta bunga dan anak-anak. Mendapat kejutan seperti ini membuat perasaanya membuncah.


“Sembilan puluh sembilan tangkai bunga mawar. Beberap orang mengatakan jumlah itu cocok untuk menggambarkan cinta tulus kita untuk orang terkasih.” Farel berucap dengan nada tenang. Tanganya dengan pelan mengelus lembut rambut coklat Raisya.


Raisya hanya bisa terharu mendengar penuturan Farel. Apakah laki-laki itu benar-benar mencintainya? Tapi ia harus sadar, ia tidak ingin memiliki hubungan dengan seseorang dalam status yang rawan dan sulit.

__ADS_1


“Terimakasih.” Raisya berucap dengan tulus. Tanganya mengepal erat, mencoba menahan kebahagian yang melonjak.


Farel memberikan kode kepada anak-anak itu. Dengan cepat mereka berjalan ke depan, memberikan bunga yang mereka pegang untuk Raisya.



Raisya terperangah mendengar setiap ucapan dari anak-anak polos itu.


“Aku doakan, kakak cantik selalu bahagia dengan kakak tampan.”


“Kakak, Terima cinta Kakak tampan ya!”


“Kakak, harus bisa menerima Kakak Tampan!”


“Kakak, nanti kalau Kalian sudah menikah undang aku ya.”


“Kakak, Kakak tampan sangat mencintaimu.”


“Kakak, maafkan segala kesalahan Kakak Tampan.”


“Kakak, aku mau melihat anak kalian nanti, jadi kalian harus menikah.”


Raisya membuka mulut terperangah. Sedangkan Farel kupingnya memerah, kali ini ia harus memberikan bonus lebih untuk Ricard, karena pekerjaanya yang sangat memuaskan.



Tangan ramping itu terlihat penuh oleh mawar, bahkan beberap mawar ia letakkan di samping keranjang yang entah sejak kapan sudah berada di sampingnya.




Mungkin jika ia tidak mengenal Farel dalam kedaan yang seperti ini, ia yakin ia akan dengan mudah luluh dan jatuh cinta. Sekarang ia hanya bisa memberikan kata termakasih untuk Farel sebagai apresiasi atas usahanya itu, tapi tidak dengan memberikan cinta. Butuh perjuangan yang besar untuk mendapatkan itu.



Farel berdahem canggung, tanganya mengelus pelan lengan Raisya, mencoba meminta perhatianya.


“Kenapa?” Raisya mendongak menatap Farel dari bawah.


“Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau hanya diam setelah anak-anak itu pergi?”


Raisya tersenyum tipis. “aku hanya terkejut. Tidak menyangka anak sekecil mereka bisa merangakia kata-kata yang luar biasa!” Raisya berucap dengan nada sarkas.


Farel menggaruk tengkuknya. Kenapa dengan kata-kata mereka, ia malah senang mendengarnya.


“Bukankah semua ucapan mereka terdengar indah.” Farel berucap dengan nada lirih tapi masih di dapat didengar Raisya.


“Ya, indah bagimu, tidak bagiku.” Raisya bangkit meninggalkan Farel.

__ADS_1


Farel yang melihat punggung Raisya menjauh mendengus. Butuh perjuangan besar untuk meluluhkan wanitanya.



Raisya mentap lurus hamparan bunga yang indah. Bahkan wangi bunga itu dapat ia cium dari kejauhan. Kaki jenjangnya dengan cepat berjalan ke tengah-tengah, merasakan hembusan angin yang mengusik ketenangan rambutnya tapi memberikan kenyamanan.



Netra hijau itu terpejam mencoba merasapi keindahan alam dengan memejamkan matanya. Tanganya dengan sendirinya mengelus lembut setiap bunga yang ada di depanya.



Farel yang melihat Raisya dari kejauahan menyunggingkan senyum lebar. Sepertinya perjuangan besar sepadan jika ia berikan untuk wanita seperti Raisya.



Dengan pasti, kaki kekarnya melangkah, memasuki hamparan bunga. Farel mengamati keindahan itu dari jarak dekat. Bahkan indahnya bunga yang bermekaran tidak ada apa apanya dibandingkan keindahan yang ada di depan matanya saat ini. Wanitanya itu sungguh ambang keindahan yang luar biasa.



Raisya masih memejamkan matanya, tubuhnya dengan sendirinya berputar-putar. Rasa takut untuk terjatuh tidak ia hiraukan sama sekali, bahkan ia menantikan jatuh di atas hamparan bunga yang bermekaran. membayangkan saja membuatnya ingin cepat-cepat merasakannya.


Dug!


Raisya dengan cepat membuka matanya. Ia terkejut dada bidang yang terbalut kemeja biru lah yang pertama ia lihat. Bayangan tentang jatuh di atas hamparan bunga seketika lenyap. Bagiaman bisa dada bidang ini berada di belakangnya, mengganggu saja!



Farel terkejut mendapatkan Raisya yang sudah ada di pelukanya, bahkan tubuhnya hampir oleng jika ia tidak memiliki keseimbangan yang bagus.


“Kenapa kau ada di sini?” Raisya mendongak. Matanya menata sinis Farel.


Farel terkekeh, tanganya dengan erat merengkuh pinggang itu membuat tubuh mereka semakin menempel.


“Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau lari kepelukanku?” Farel tersenyum.


Wajah Raisya memerah, menyadari jika kesalahan ini tidak sepenuhnya salah Farel, bahkan bisa disebut jika ia yang salah di sini! Tapi egonya sebagai wanita sangat tinggi untuk mengakui kesalahanya.


“Kau yang tiba-tiba di sini. Kau mengganggu bayanganku saja.” Raisya berusaha melepaskan pelukan Farel.


Farel menatap Raisya dengan penasaran. Bayangan?


“Apa yang kau bayangkan.” Farel bertanya mengabaikan usaha Raisya yang ingin terlepas dari rengkuhanya itu.


Raisya menghembuskan nafas kasar, merasa usahanya untuk terlepas sia-sia.


“Aku membayangkan jatuh di atas hamparan bunga, pasti menyenangkan.” Raisya tersenyum sendiri membayangkanya.


“Sepertinya ide itu tidak terlalu buruk. Tapi lebih bagus jika kita jatuh bersama-sama.” Farel menarik tubuhnya bersama Raisya. Mereka secara bersamaan jatuh di atas hamparan bunga yang bermekaran membuat tubuh mereka tertutup dengan bung-bunga.

__ADS_1


Raisya yang terkejut berteriak. Untung bunga di sana memiliki tangkai yang lunak dan tidak berduri. Bisa kalian bayangkan jika bunga-bunga itu memiliki duri yang tajam, bukanya tercipta suasana yang romantais, tapi malah tragis.


__ADS_2