
Raisya rlihat merenung di dalam kamar. Wanita itu masih terinat dengan perkataan tun Dawal terkait dengan kesehatan Salsha. Apa ia termasuk wanita jahat, karena tidak rela sang suami mendatangi mantan istrinya?
“Sayang ...”
Raisya mengerjap,mendengar panggilan dengan nada sedikit menggerutu, wanita itu segera menatap sang suami, Farel.
“Iya, kenapa, Farel?”
“Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Kau kenapa? Kenapa dari tadi terlihat banyak pikiran?” farel menelisik seluruh wajah Raisya, seakan mencarai apa yang sedang dipikirkan sang istri.
Raisya hanya memberikan senyum lembut, kemudian tangan ramping itu mengelus pelan bahu Farel.
“Tidak apa-apa, aku hanya merasa menjadi wanita jahat,” Raisya berucap dengan ada lirih.
Farel yang melihat tu membelalakkan mata terkejut. “Apa maksudmu? Kau bukan wanita jahat. Kau adalah wanita terbaik selain Nenek ku yang aku temui.”
Senyum miris tersungging di wajah Raisya, membuat Farel semakin merasa gusar.Inilah yang laki-laki itu takutkan, kedatangan ayah Salsha hanya akan membuat hubungan mereka renggang, dan sekarang terbukti. Raisya mulai merasa dia telah merebutnya dari wanita lain.
“Raisya sayang, dengarkan aku. Jangan kau pikirkan ucapan pria tua itu.”
“Apa kau tidak ingin menemui Salsha?” Raiya bertanya dengan pelan.
Farel terlihat mendengus, kemudian menyugar rambutnya ke belakang. “Sudah aku katakan, aku tidak kan meemi Salsha. Untuk apa aku ke sna, dia sakit, dan yang dibutuhkan dokter, bukan aku.”
“Tapi__”
“Sayang, sudahi pembicaraan tentang Salsha. Aku hanya ingin hidup tenang bersma keluarga kecil kita.” Farel memegang bahu Raisya.
Raisya terdiam, perasaan gusarnya tidak bisa hilang dengan begitu saja. Entah kenpa, ia merasa harus membuat Farel menemui Salsha, tapi ia juga merasa tidak rela.
“Besok, kita akan membuat resepsi pernikahan.”
Raisay yang masih sibuk dnegan pikirannya mendongka, matanya menatap farel dengan tanda tanya besar.
“Kenapa tiba-tiba?”
“Tidak, sayang. Ini bukan tiba-tiba. Seharusnya kita lakukan pernikaha selayaknya pasangan di luar sana. Maafkan aku yang memperlakukanmu buruk, bahkan aku memaksamu untuk menikahiku.” Farel menyentuh tangan Raisya, memberikan kecupan hangat beberapa kali, seakan menyalurkan perasan menyesalnya dari kecupan itu.
“Baiklah, tapi apa tidak masalah?”
“Apa yang kau takutkan? Tidak akan ada masalah, semua sudah beres, dan kini saatnya aku menunjukan siapa Nyonya Wiratman sesungguhnya.” Farel mengerlingkan mata genit.
Raisya terkekh. Merayakan pesta pernikahan di saat ada masa lalu suaminya yang sedang berjuan melawan kematian, apa itu baik-baik saja?
__ADS_1
“Sayang, aku ingin.” Farel mentap Raisya dengan tatapa aneh.
Raisya yang mendengar ucapan itu menatap Farel aneh. “Ingin apa?”
Berdahem sebentar, kemudain tangan kekar Farel mengelus perut buncit sang istri dengan gerakan memutar.
“Aku ingin menjenguk Baby,” Farel berucap dengan suara yang sudah sedikit serak.
Raisya melotot, meskipun ia juga menginginkan, tapi tidak harus sekarang. Di saat sang suami baru saja tiba, dan ia yakin tubuh kekar itu pasti masih lelah.
“Farel, apa kau tidak lelah?” Raisaya menatap Farel dengan gugup.
Farel terlihat menyeringai, bahkan laki-laki itu tanpa aba-aba langsung mengungkung tubuh Raisya, membuat wanita hamil itu terlentang dengan wajah terkejut, dan jantung berdebar cepat.
“Tidak ada kata lelah saat bersamamu, apalagi untuk menjenguk Baby.” Farel mengerlingkan mata genit.
Kecupan basah mulai di berikan Farel tepat di kening Rasya, membuat wanita itu memejamkan mata, dan berusaha untuk tenang.
Farel yang menyadari tubuh Raisya yang tegang berusaha dengan keras membuat sang wanita merasa nyaman. Membubuhkan beberapa cumbuan di tempat yang sudah ia hapal betul.
Bulan terlihat bersinar terang, bahkan sang bintang juga tidak ngin kalah. Mereka seakan berebut untuk menunjukan keindahan masingmasing. Sedangkan kedua pasangan itu telah salin berebut untuk meneguk manisnya penyatuan.
Sebelum benar-benar menyatu, Raisya menghentikan gerakan Farel dngan wajah yang sudah memerah.
“Farel, apa ini akan baik-baik saja?” Raisya menatap Farel cemas.
Farel yang paham dengan kecemasana sang istri tersenyum lembut. Tangannya mengusap peluh yang membasaih kenng sang wanita, bahkan peluh itu mengalir deras.
“Tidak apa-apa. Selama kita melakukannya dengan pelan, Baby akan baik-baik saja.”
Raisya yang mendengar itu merasalega. Senyun lembut wanita itu berikan, seakan memberikan kode sang lelaki untuk segera memulai.
Farel yang paham dengan kode itu dengan cepat melanjutka aksi 21\+ yang semapt tertunda itu.
__ADS_1
***
Zakiel mengeratkan cengkaraman tangannya yang berada di atas setir mobil. Matanya menatap rumah besar yang menjadi tempat tinggal sahabatnya itu.
“Kak, apa yang harus aku lakukan. Jika aku diam saja dan menutupi fakta ini dari Raisya, apa aku akan menjadi sahabat yang jahat? Sedangkan, kau sudah berpesan untuk menutup rapat fakta ini.” Zakiel menatap map hitam yang sudah berada rapi di atas kursi.
Ingatan tentang detik-detik kematian Jhonatan membuat dadanya sesak. Bahkan ia tidak bisa membawa Raisya untuk menemui sang Kakak.
“Apa yang harus aku lakukan?”
Tok ... Tok ....
Zaikiel yang tengah merenug terlonjak kaget, matanya menatap sosok laki-laki dengan seragam hitam. Ia yakin, laki-laki itu seorang pengawal. Mengusap wajah sebentar, zakiel mulai membuka kaca mobil.
“Ya, ada apa Pak?”
“Maaf, Mas. Anda ada keperluan apa ya? kenpa berhenti tepat di depan gerbang Mansion atasan saya?” Pengawal itu menatap Zakie penuh curiga.
Rasa penasaran dan waspada muncul saat melihat sebuah mobil mewah yang terparkir apik di depan Mansion Farel. Pemikiran tentang sosok yang ingin memata-matai rmah atasannya, terlebih ingin membuat kerusuhan membuat pengawala itu memilih mendatangi pemilik mobil, sekaligus mempertanyakan mksudnya.
“Oh, saya ingin bertemu dengan Raisya. Apa dia ada di dalam.” Zakile tersenyum sopan.
Pengawal itu semakin memicingkan mata. Malam-malam bertamu di rumah orag, terlebih menanyakan sang Nyonya yang sedang mengandung.
“Maaf, jika boleh saya tahu, siapa anda?”
“Oh, saya Zakiel, Sahabat Raisya.” Zakiel masih tetap memperthankan senyumnya.
Laki-laki itu sadar, tindakannya salah. Apalagi, ia bertamu di jam istirahat. Tapi apa boleh buat, ia tidak punya pilian lain. Ia harus melakukannya sekarang.
“Sahabat? Setahu saya Nyonya tidak memiliki sahabat laki-laki?” Pengawal itu memamsang wajah garang. Ia semakin curiga.
“Saya sahabat lama Pak, bertahu saja Raisya, jika Zakiel datang. Pasti dia akan mempersilahkan aku masuk.”
“Mas, seharusnya anda tahu waktu. Jam segini Nyonya sudah pasti istirahat, terlebih saat ini Nyonya sedang mngandung.” Pengawal itu menatap zakiel tidak habis pikir.
Zakiel yang mendengar kehamilan Raisya tidak bisa menutupi wajah terkejutnya. Mata hitam itu seketika melotot, sekan tidak percaya.
“lebih baik Mas pulang. Datanglah besok.” Pengawal itu memberi solusi.
Zakiel masih terdiam. Rasa-rasanya ia tidak bisa menerima fakta itu. Pikiran tentang Raisya yang dipaksa, hingga membuahkan hasil di dalam perut membuat ia menggeram marah. Apalagi ia belum tahu status Raisya saat ini, laki-laki itu masih berpikir jika Raisya masih menjadi tawanan.
***
__ADS_1